Alergi Makanan Non-IgE, Alergi Makanan Campuran, dan Gangguan Gastrointestinal Fungsional: Hubungan Patofisiologi dari Bayi hingga Dewasa
Reaksi merugikan terhadap makanan (adverse food reactions, AFRs) merupakan masalah klinis yang sering dijumpai pada bayi, anak, maupun dewasa. AFR dibedakan menjadi intoleransi makanan yang tidak melibatkan sistem imun dan alergi makanan yang dimediasi oleh respons imun. Berdasarkan mekanisme imunologinya, alergi makanan diklasifikasikan menjadi alergi yang dimediasi IgE, non-IgE, dan campuran (mixed IgE/non-IgE). Berbeda dengan alergi IgE yang umumnya mudah dikenali melalui manifestasi akut dan pemeriksaan IgE spesifik, alergi makanan non-IgE dan campuran masih menjadi tantangan diagnostik karena gejalanya dominan pada saluran cerna, berkembang lebih lambat, dan belum memiliki biomarker yang spesifik. Bukti terbaru menunjukkan bahwa sebagian pasien yang selama bertahun-tahun didiagnosis sebagai gangguan gastrointestinal fungsional (functional gastrointestinal disorders, FGIDs), seperti irritable bowel syndrome (IBS) dan dispepsia fungsional, sebenarnya memiliki mekanisme inflamasi imun lokal yang menyerupai alergi makanan non-IgE. Perubahan permeabilitas usus, aktivasi eosinofil, sel mast, limfosit T, disbiosis mikrobiota, dan gangguan sawar mukosa diduga menjadi mekanisme patofisiologi yang menghubungkan kedua kondisi tersebut. Artikel ini mengulas konsep terbaru mengenai hubungan alergi makanan non-IgE, alergi makanan campuran, dan FGIDs berdasarkan bukti ilmiah terkini serta implikasinya terhadap diagnosis dan tata laksana.
Reaksi merugikan terhadap makanan merupakan istilah yang mencakup seluruh respons abnormal setelah mengonsumsi makanan, minuman, bahan tambahan pangan, maupun suplemen. Secara umum, kondisi ini dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu intoleransi makanan dan alergi makanan. Intoleransi makanan terjadi tanpa keterlibatan sistem imun dan biasanya bergantung pada jumlah makanan yang dikonsumsi, misalnya akibat defisiensi enzim laktase, efek farmakologis kafein, alkohol, atau gangguan metabolisme zat gizi tertentu. Sebaliknya, alergi makanan merupakan respons imun yang dapat muncul secara konsisten setiap kali seseorang terpapar alergen yang sama.
Berdasarkan mekanisme imunologinya, alergi makanan dibedakan menjadi tiga kelompok. Alergi yang dimediasi IgE ditandai oleh keterlibatan antibodi imunoglobulin E dan biasanya menimbulkan gejala akut seperti urtikaria, angioedema, muntah, atau anafilaksis. Alergi makanan non-IgE melibatkan mekanisme imun seluler tanpa peran dominan IgE, sedangkan alergi makanan campuran melibatkan kombinasi respons IgE dan respons imun seluler. Berbeda dengan alergi IgE, manifestasi alergi non-IgE dan campuran terutama mengenai saluran cerna, berkembang perlahan, serta sering kali tidak terdeteksi melalui pemeriksaan skin prick test maupun IgE spesifik.
Diagnosis alergi makanan non-IgE dan campuran masih menjadi tantangan dalam praktik klinis. Kecuali pada food protein-induced enteropathy (FPE) dan eosinophilic gastrointestinal disorders (EGIDs) yang memerlukan konfirmasi histopatologi, sebagian besar diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat klinis, perbaikan setelah eliminasi makanan, serta kekambuhan gejala setelah provokasi ulang. Hingga saat ini, double-blind placebo-controlled food challenge (DBPCFC) masih dianggap sebagai baku emas untuk menegakkan diagnosis seluruh jenis alergi makanan, termasuk alergi non-IgE dan campuran.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemahaman mengenai gangguan gastrointestinal fungsional mengalami perubahan yang cukup mendasar. Dahulu, pasien dengan sindrom iritasi usus (IBS), dispepsia fungsional, atau keluhan gastrointestinal kronis tanpa kelainan endoskopi dianggap tidak memiliki proses inflamasi organik. Namun, berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan eosinofil, sel mast, sitokin proinflamasi, aktivasi limfosit T, serta gangguan sawar mukosa usus pada sebagian pasien FGIDs. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kelompok pasien ini sebenarnya mengalami inflamasi derajat ringan yang tidak dapat dikenali melalui pemeriksaan histopatologi rutin.
Gangguan integritas sawar usus (intestinal barrier dysfunction), peningkatan permeabilitas usus (leaky gut), dan disbiosis mikrobiota merupakan mekanisme penting yang menghubungkan alergi makanan non-IgE dengan FGIDs. Perubahan tersebut memungkinkan antigen makanan dan produk mikroba menembus mukosa usus sehingga memicu aktivasi sistem imun lokal. Aktivasi eosinofil, sel mast, dan limfosit T menghasilkan berbagai mediator inflamasi yang menyebabkan gangguan motilitas, hipersensitivitas viseral, dan gejala gastrointestinal kronis.
Penelitian menggunakan confocal laser endomicroscopy (CLE) memberikan bukti yang semakin kuat mengenai hubungan tersebut. Pada lebih dari separuh pasien yang sebelumnya didiagnosis sebagai IBS, paparan langsung terhadap protein makanan seperti gandum, susu sapi, dan kedelai menyebabkan peningkatan permeabilitas mukosa usus secara cepat disertai aktivasi eosinofil dan sel mast. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian pasien IBS kemungkinan sebenarnya mengalami alergi makanan non-IgE yang belum terdiagnosis.
Salah satu contoh yang semakin banyak diteliti adalah non-celiac wheat sensitivity (NCWS). Kondisi ini sebelumnya dimasukkan ke dalam kelompok gangguan gastrointestinal fungsional, namun bukti terbaru menunjukkan adanya aktivasi sistem imun bawaan dan adaptif, peningkatan infiltrasi sel inflamasi, serta gangguan fungsi sawar usus. Oleh karena itu, sebagian ahli mengusulkan agar NCWS lebih tepat diklasifikasikan sebagai bagian dari spektrum alergi makanan non-IgE daripada sebagai FGIDs murni.
Menariknya, sejumlah penelitian longitudinal juga menunjukkan bahwa bayi dengan penyakit alergi saluran cerna memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan gastrointestinal fungsional pada masa anak besar hingga remaja. Temuan ini mengarah pada konsep baru yang dikenal sebagai “allergic gastrointestinal march”, yaitu perjalanan penyakit alergi saluran cerna yang berlangsung sejak masa bayi dan berkembang menjadi gangguan gastrointestinal kronis pada usia yang lebih tua. Konsep ini berjalan paralel dengan “atopic march” yang telah lama dikenal pada dermatitis atopik, alergi makanan, rhinitis alergika, dan asma.
Pemahaman baru mengenai hubungan alergi makanan non-IgE, inflamasi mukosa, disbiosis, dan FGIDs membuka peluang untuk pendekatan diagnosis dan terapi yang lebih tepat sasaran. Identifikasi makanan pencetus melalui eliminasi yang terarah dan oral food challenge dapat membantu menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan sekaligus meningkatkan keberhasilan terapi. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, gastroenterolog, ahli alergi-imunologi, ahli patologi, dan ahli gizi menjadi semakin penting dalam menangani pasien dengan keluhan gastrointestinal kronis yang dicurigai berkaitan dengan alergi makanan.
Daftar Pustaka
- Caio G, et al. Non-IgE/Mixed Food Allergies and Functional Gastrointestinal Disorder: A Common Thread between Childhood and Adulthood. Nutrients. 2022;14(4):835. doi:10.3390/nu14040835.
- Calvani M, et al. Non-IgE- or Mixed IgE/Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies in the First Years of Life. Nutrients. 2021;13:103.
- Muraro A, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines. Allergy. 2014;69:1008-1025.
- Nowak-Wegrzyn A, et al. Work Group Report: Oral Food Challenge Testing. J Allergy Clin Immunol. 2009;123:S365-S383.
- Drossman DA. Functional Gastrointestinal Disorders: History, Pathophysiology, Clinical Features, and Rome IV. Gastroenterology. 2016;150:1262-1279.
- Aziz I, et al. The Spectrum of Non-Celiac Wheat Sensitivity. Nat Rev Gastroenterol Hepatol. 2015;12:516-526.
- Powell N, et al. The Mucosal Immune System and Functional Gastrointestinal Disorders. Gut. 2017;66:1930-1944.
- Barbara G, et al. Activated Mast Cells in Irritable Bowel Syndrome. Gastroenterology. 2004;126:693-702.
- Walker MM, et al. Eosinophils and Functional Gastrointestinal Disorders. Clin Gastroenterol Hepatol. 2010;8:818-823.
- Rome Foundation. Rome IV Diagnostic Criteria for Disorders of Gut-Brain Interaction. Gastroenterology. 2016;150:1257-1261.









Leave a Reply