Alergi Makanan pada Bayi, Anak, dan Remaja. Dampaknya terhadap Otak, Sistem Saraf Pusat, Perkembangan Neurologis, dan Gangguan Perilaku. Tinjauan Patofisiologi Molekuler serta Peran Oral Food Challenge dalam Diagnosis dan Penatalaksanaan Berbasis Bukti
Abstrak
Alergi makanan merupakan penyakit imunologis sistemik yang paling sering terjadi pada bayi, anak, dan remaja. Selain memengaruhi kulit, saluran cerna, dan saluran napas, alergi makanan juga dapat berinteraksi dengan sistem saraf pusat melalui mekanisme gut-brain axis, neuroinflamasi, aktivasi sel mast, sitokin proinflamasi, gangguan mikrobiota usus, serta perubahan metabolisme neurotransmiter. Masa bayi dan anak merupakan periode kritis perkembangan otak sehingga inflamasi kronis, gangguan nutrisi, gangguan tidur, dan gangguan pertumbuhan akibat alergi makanan diduga dapat memengaruhi perkembangan neurologis dan perilaku. Berbagai penelitian eksperimental menunjukkan bahwa alergi makanan meningkatkan aktivasi mikroglia, kadar TNF-α di otak, aktivasi sel mast intrakranial, serta perubahan fungsi hipokampus dan korteks serebri yang berkaitan dengan gangguan belajar, memori, motorik, dan perilaku. Beberapa penelitian observasional juga melaporkan adanya hubungan antara alergi makanan dengan autism spectrum disorder (ASD), attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan belajar, gangguan tidur, dan gangguan emosi. Namun, hingga saat ini bukti ilmiah belum dapat menyimpulkan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung gangguan neurodevelopment tersebut. Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas diagnosis alergi makanan untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala sehingga eliminasi makanan dilakukan secara tepat, aman, dan berbasis bukti.
Pendahuluan
Perkembangan otak pada bayi, anak, dan remaja berlangsung sangat pesat sejak masa prenatal hingga akhir remaja. Pada periode ini terjadi pembentukan sinaps, mielinisasi, pematangan korteks serebri, perkembangan fungsi eksekutif, bahasa, emosi, memori, dan koordinasi motorik. Gangguan nutrisi, inflamasi kronis, infeksi, maupun aktivasi sistem imun pada masa awal kehidupan dapat memengaruhi proses tersebut. Oleh karena itu, berbagai penyakit kronis termasuk alergi makanan mendapat perhatian karena berpotensi memengaruhi perkembangan neurologis melalui berbagai mekanisme biologis.
Alergi makanan merupakan salah satu penyakit alergi yang prevalensinya terus meningkat pada bayi dan anak. Selain manifestasi klasik berupa dermatitis atopik, urtikaria, gangguan saluran cerna, rinitis alergi, dan asma, semakin banyak penelitian yang menunjukkan keterlibatan gut-brain axis dalam perjalanan penyakit. Aktivasi sistem imun akibat alergi makanan dapat memengaruhi fungsi otak melalui pelepasan sitokin inflamasi, aktivasi mikroglia, perubahan mikrobiota usus, gangguan sawar darah otak, perubahan neurotransmiter, serta gangguan metabolisme. Meskipun terdapat hubungan biologis yang masuk akal, bukti klinis pada manusia masih belum cukup untuk menyatakan bahwa alergi makanan merupakan penyebab utama ASD, ADHD, atau gangguan perkembangan saraf lainnya. Sebagian besar penelitian menunjukkan hubungan asosiasi dan komorbiditas, bukan hubungan sebab akibat.
Patofisiologi Molekuler
Protein alergen makanan dipresentasikan oleh sel dendritik mukosa usus kepada limfosit T CD4 sehingga mengaktifkan respons imun T helper 2 melalui peningkatan interleukin-4, interleukin-5, interleukin-13, thymic stromal lymphopoietin, interleukin-25, dan interleukin-33. Jalur ini merangsang pembentukan IgE spesifik terhadap alergen makanan.
Ikatan IgE dengan reseptor FcεRI pada sel mast menyebabkan degranulasi dan pelepasan histamin, triptase, leukotrien, prostaglandin D2, platelet activating factor, TNF-α, interleukin-1β, dan interleukin-6. Mediator inflamasi tersebut meningkatkan permeabilitas mukosa usus, mengganggu gut barrier, serta meningkatkan permeabilitas sawar darah otak sehingga mempermudah terjadinya neuroinflamasi.
Pada model hewan, alergi makanan meningkatkan jumlah mikroglia aktif di korteks serebri dan hipokampus, meningkatkan ekspresi TNF-α, mengaktifkan sel mast intrakranial, meningkatkan ekspresi c-Fos pada pusat emosi, serta mengubah jalur mTOR yang berperan dalam perkembangan neuron dan plastisitas sinaps. Perubahan tersebut berhubungan dengan gangguan memori, belajar, perilaku, koordinasi motorik, dan kecemasan.
Disbiosis mikrobiota usus juga mengubah produksi serotonin, gamma aminobutyric acid (GABA), dopamin, short-chain fatty acids, serta metabolit triptofan yang berperan penting dalam perkembangan otak bayi dan anak. Inflamasi kronis, gangguan tidur, serta defisiensi zat besi, vitamin D, seng, asam lemak esensial, dan mikronutrien akibat eliminasi makanan yang tidak tepat dapat semakin memengaruhi perkembangan neurologis.
Dua Puluh Gangguan Neurologis, Perkembangan, dan Perilaku yang Dapat Berkaitan dengan Alergi Makanan pada Bayi, Anak, dan Remaja
1. Gangguan perhatian.
2. Attention Deficit Hyperactivity Disorder sebagai komorbid pada sebagian anak.
3. Autism Spectrum Disorder dengan komorbid alergi makanan pada sebagian pasien.
4. Gangguan belajar.
5. Gangguan memori.
6. Gangguan konsentrasi.
7. Gangguan regulasi emosi.
8. Mood labil.
9. Kecemasan.
10. Agresivitas.
11. Gangguan tidur.
12. Iritabilitas.
13. Keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa pada sebagian anak dengan gangguan multisistem.
14. Gangguan perkembangan motorik kasar.
15. Gangguan koordinasi motorik.
16. Gangguan fungsi vestibular dan keseimbangan.
17. Migrain pada anak dan remaja.
18. Vertigo.
19. Breath holding spell yang memerlukan evaluasi penyebab lain.
20. Tremor halus atau jitteriness yang memerlukan evaluasi neurologis, metabolik, dan penyebab lain.
Penanganan dengan Oral Food Challenge
Evaluasi dimulai dengan anamnesis yang rinci mengenai hubungan antara konsumsi makanan dengan timbulnya gejala neurologis, perilaku, maupun manifestasi alergi lain seperti dermatitis atopik, gangguan saluran cerna, rinitis alergi, dan asma. Penilaian juga mencakup riwayat pertumbuhan, status gizi, kualitas tidur, perkembangan, prestasi belajar, dan fungsi psikososial.
Pemeriksaan skin prick test maupun IgE spesifik hanya menunjukkan sensitisasi dan tidak dapat digunakan sebagai dasar tunggal untuk diagnosis maupun eliminasi makanan.
Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis alergi makanan dan harus dilakukan secara bertahap di fasilitas kesehatan oleh tenaga medis yang berpengalaman. Eliminasi makanan hanya dilakukan apabila OFC menunjukkan hasil positif sehingga risiko kekurangan protein, energi, zat besi, seng, vitamin D, vitamin B12, asam lemak esensial, dan berbagai mikronutrien yang penting bagi perkembangan otak dapat dihindari.
Pada bayi, anak, dan remaja dengan gangguan perkembangan atau perilaku, evaluasi harus dilakukan secara multidisiplin oleh dokter spesialis anak, ahli alergi-imunologi, neurologi anak, psikiater anak dan remaja, psikolog, ahli gizi, serta terapis tumbuh kembang sesuai indikasi. Tata laksana ASD, ADHD, epilepsi, gangguan belajar, maupun gangguan perkembangan tetap mengikuti pedoman masing-masing penyakit. Terapi alergi makanan diberikan hanya bila diagnosis telah dikonfirmasi secara klinis.
Kesimpulan
Alergi makanan pada bayi, anak, dan remaja dapat memengaruhi fungsi otak melalui interaksi kompleks antara sistem imun, gut-brain axis, mikrobiota usus, sel mast, mikroglia, dan mediator inflamasi. Bukti penelitian menunjukkan adanya hubungan antara alergi makanan dengan berbagai gangguan neurologis, perkembangan, dan perilaku melalui mekanisme neuroinflamasi, gangguan nutrisi, dan disfungsi mikrobiota. Namun, bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung autism spectrum disorder, ADHD, maupun gangguan perkembangan saraf lainnya. Pada pasien dengan manifestasi multisistem yang dicurigai berkaitan dengan makanan, Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas diagnosis untuk memastikan hubungan sebab akibat sehingga terapi eliminasi dapat dilakukan secara tepat, aman, mempertahankan status gizi, serta mendukung tumbuh kembang dan kualitas hidup anak secara optimal.
Daftar Pustaka
1. Zhou L, Chen L, Li X, Li T, Dong Z, Wang YT. Food allergy induces alteration in brain inflammatory status and cognitive impairments. Behav Brain Res. 2019;364:374-382. doi:10.1016/j.bbr.2018.01.011.
2. Basso AS, Pinto FA, Russo M, Britto LR, de Sá-Rocha LC, Palermo Neto J. Neural correlates of IgE-mediated food allergy. J Neuroimmunol. 2003;140(1-2):69-77. doi:10.1016/S0165-5728(03)00166-8.
3. Abdelmoula B, Kharrat N, Abdelhedi R, Bouayed Abdelmoula N. Potential associations of food allergy and altered neurodevelopment in children. Eur Psychiatry. 2023;66(Suppl 1):S334. doi:10.1192/j.eurpsy.2023.732.
4. Costa-Pinto FA, Basso AS. Neural and behavioral correlates of food allergy. Chem Immunol Allergy. 2012;98:222-239. doi:10.1159/000336525.









Leave a Reply