ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

BEDA ALERGI MAKANAN DAN MAKANAN TINGGI HISTAMIN

 

BEDA ALERGI MAKANAN DAN MAKANAN TINGGI HISTAMIN

Alergi makanan dan reaksi terhadap makanan tinggi histamin sering dianggap sama, padahal keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Kesalahpahaman ini menyebabkan banyak orang menghindari berbagai makanan tanpa dasar ilmiah, sehingga berisiko menimbulkan kekurangan gizi dan keterlambatan diagnosis. Penegakan diagnosis alergi makanan harus berdasarkan riwayat klinis dan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan oleh dokter bila diperlukan.

PENDAHULUAN

Histamin adalah zat yang diproduksi tubuh sebagai bagian dari respons imun dan juga terdapat pada beberapa makanan. Sementara itu, alergi makanan adalah respons sistem imun terhadap protein makanan tertentu. Banyak makanan yang dituduh tinggi histamin atau dianggap pasti menyebabkan alergi, padahal bukti ilmiahnya tidak selalu mendukung anggapan tersebut.

10 KONTROVERSI DAN MITOS

1. Semua makanan tinggi histamin menyebabkan alergi.
2. Alpukat, apel, dan pisang adalah makanan tinggi histamin.
3. Semua penderita alergi harus menjalani diet rendah histamin.
4. Histamin adalah penyebab utama semua gejala alergi.
5. Tes alergi saja sudah cukup menentukan makanan penyebab.
6. Hasil IgG makanan dapat mendiagnosis alergi makanan.
7. Makanan yang pernah menimbulkan gejala pasti harus dihindari seumur hidup.
8. Semua ruam kulit setelah makan pasti alergi makanan.
9. Diet eliminasi tanpa diagnosis pasti lebih aman.
10. Semua makanan fermentasi harus dihindari oleh penderita alergi.

PENJELASAN ILMIAH

Alergi makanan merupakan reaksi sistem imun terhadap protein makanan. Mekanismenya dapat dimediasi IgE maupun non-IgE. Gejala dapat mengenai kulit, saluran cerna, saluran napas, hingga menyebabkan anafilaksis. Sebaliknya, reaksi terhadap histamin terjadi karena kandungan histamin dalam makanan atau gangguan metabolisme histamin pada sebagian individu, sehingga mekanismenya berbeda dengan alergi makanan.

Makanan tinggi histamin umumnya berasal dari makanan yang disimpan lama, diawetkan, atau difermentasi, seperti keju tua, ikan asap, ikan asin, makanan kaleng tertentu, yoghurt, cuka, dan minuman fermentasi. Sebaliknya, apel, alpukat, dan pisang bukan termasuk makanan dengan kandungan histamin tinggi berdasarkan bukti ilmiah saat ini, meskipun pada sebagian orang makanan tertentu dapat memicu pelepasan histamin.

Banyak makanan yang sering dituduh sebagai penyebab alergi hanya berdasarkan pengalaman pribadi, hasil tes yang belum tervalidasi, atau informasi di media sosial. Padahal penyebab alergi makanan berbeda pada setiap individu. Menghindari terlalu banyak makanan tanpa diagnosis yang benar dapat mengurangi asupan protein, vitamin, mineral, dan mengganggu pertumbuhan anak.

Standar baku untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab alergi adalah Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan oleh dokter dengan indikasi yang tepat. OFC memberikan kepastian apakah makanan tersebut benar menjadi pemicu atau justru aman dikonsumsi sehingga pembatasan makanan yang tidak perlu dapat dihindari.

SARAN

Jangan mudah menetapkan suatu makanan sebagai penyebab alergi hanya berdasarkan dugaan, cerita orang lain, hasil tes yang belum tervalidasi, atau daftar makanan di internet. Diagnosis alergi makanan harus mempertimbangkan riwayat klinis, pemeriksaan yang sesuai, dan bila diperlukan dikonfirmasi melalui Oral Food Challenge yang dilakukan oleh dokter berpengalaman agar terapi dan diet yang diberikan benar-benar tepat.

KESIMPULAN

Alergi makanan berbeda dengan reaksi terhadap makanan tinggi histamin. Tidak semua makanan yang diduga tinggi histamin menyebabkan alergi, dan tidak semua penderita alergi memerlukan diet rendah histamin. Penegakan diagnosis yang tepat melalui evaluasi klinis dan Oral Food Challenge membantu mencegah salah diagnosis, menghindari pembatasan makanan yang tidak perlu, serta memberikan penanganan yang lebih aman dan berbasis bukti ilmiah.

Referensi:

1. Maintz L, Novak N. Histamine and Histamine Intolerance. American Journal of Clinical Nutrition. 2007;85(5):1185-1196.
2. Reese I, et al. Guideline on Management of Suspected Adverse Reactions to Ingested Histamine. Allergologie Select. 2021;5:305-314.
3. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines.
4. WAO DRACMA Guidelines.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *