ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

KESULITAN MAKAN PADA ANAK DENGAN ALERGI MAKANAN. TINJAUAN SISTEMATIS BERDASARKAN EAACI TASK FORCE REPORT

KESULITAN MAKAN PADA ANAK DENGAN ALERGI MAKANAN. TINJAUAN SISTEMATIS BERDASARKAN EAACI TASK FORCE REPORT

ABSTRAK

Kesulitan makan merupakan salah satu masalah yang sering ditemukan pada anak dengan alergi makanan, tetapi sering tidak dikenali dalam praktik klinis. Istilah ini mencakup berbagai kondisi, mulai dari picky eater, food refusal, food aversion, selective eating, food neophobia, hingga gangguan makan yang lebih berat seperti Pediatric Feeding Disorder (PFD) dan Avoidant Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). Tinjauan sistematis EAACI Task Force yang dipublikasikan tahun 2024 mengevaluasi seluruh bukti ilmiah mengenai prevalensi kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan. Dari 2059 publikasi yang disaring, hanya 10 penelitian memenuhi kriteria inklusi. Prevalensi kesulitan makan berkisar antara 13,6% hingga 40%, dengan angka tertinggi pada anak yang memiliki alergi terhadap beberapa jenis makanan. Penelitian ini juga menunjukkan belum adanya keseragaman definisi maupun alat diagnosis sehingga diperlukan pedoman internasional yang lebih baku. Identifikasi dini sangat penting untuk mencegah gangguan pertumbuhan, kekurangan gizi, serta penurunan kualitas hidup anak dan keluarga.

PENDAHULUAN

Kesulitan makan (feeding difficulties) merupakan istilah umum yang menggambarkan berkurangnya asupan makanan atau perilaku makan yang tidak sesuai dengan usia anak. Spektrumnya sangat luas, mulai dari anak yang makan sedikit, pilih-pilih makanan, takut makan akibat pengalaman buruk, hingga gangguan makan berat yang memerlukan penanganan multidisiplin. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi status gizi, tetapi juga perkembangan motorik oral, perilaku makan, fungsi psikologis, hubungan orang tua dan anak, serta kualitas hidup keluarga.

Anak dengan alergi makanan memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesulitan makan dibandingkan anak sehat. Eliminasi makanan dalam jangka panjang menyebabkan anak memiliki paparan rasa, tekstur, dan variasi makanan yang lebih sedikit. Selain itu, pengalaman nyeri, muntah, tersedak, atau reaksi alergi setelah makan dapat menimbulkan rasa takut terhadap makanan sehingga berkembang menjadi food aversion atau feeding disorder. Oleh karena itu, penanganan alergi makanan tidak hanya berfokus pada eliminasi alergen, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan perilaku makan anak.

DEFINISI KESULITAN MAKAN

Kesulitan makan adalah istilah yang mencakup seluruh kondisi ketika anak tidak mampu mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan usia, baik karena gangguan perilaku makan, gangguan sensorik, gangguan oral motor, kondisi medis, maupun faktor psikososial.

Pada anak dengan alergi makanan, kesulitan makan dapat disebabkan oleh kombinasi inflamasi saluran cerna, pengalaman makan yang menimbulkan nyeri atau ketakutan, pembatasan makanan yang terlalu luas, kecemasan orang tua, serta gangguan perkembangan keterampilan makan.

KLASIFIKASI KESULITAN MAKAN MENURUT EAACI

Jenis Definisi singkat
Picky eating Memilih makanan tertentu dan menolak makanan lain
Food neophobia Takut mencoba makanan baru
Selective eating Hanya mau makanan dengan warna, tekstur, atau bentuk tertentu
Food refusal Menolak sebagian besar makanan yang diberikan
Food aversion Menolak makan akibat pengalaman buruk setelah makan
Behavioral feeding difficulty Gangguan perilaku saat makan, seperti menangis, melempar makanan, atau menolak duduk
Fear of feeding Takut makan karena khawatir timbul nyeri atau reaksi alergi
Pediatric Feeding Disorder (PFD) Gangguan makan yang melibatkan aspek medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial
ARFID Gangguan makan berat dengan variasi makanan sangat terbatas tanpa gangguan citra tubuh

HASIL TINJAUAN SISTEMATIS EAACI

EAACI melakukan pencarian pada delapan basis data internasional hingga Juni 2022 menggunakan metode PRISMA. Sebanyak 2059 artikel berhasil diidentifikasi. Setelah proses seleksi dan penilaian kualitas penelitian, hanya 10 studi memenuhi seluruh kriteria inklusi.

Lima penelitian melaporkan prevalensi kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan sebesar 13,6% hingga 40%. Risiko meningkat pada anak dengan alergi terhadap beberapa jenis makanan, eosinophilic esophagitis, alergi susu sapi, maupun anak yang menjalani diet eliminasi yang luas.

Tinjauan tersebut juga menemukan 12 istilah berbeda untuk menggambarkan feeding difficulties dan 11 instrumen penilaian yang berbeda. Heterogenitas ini menyebabkan hasil antarpenelitian sulit dibandingkan sehingga meta-analisis tidak dapat dilakukan.

EAACI menyimpulkan bahwa kesulitan makan merupakan masalah yang nyata pada anak dengan alergi makanan, tetapi hingga kini belum terdapat definisi, klasifikasi, maupun alat diagnosis yang seragam. Diperlukan penelitian prospektif dan pedoman internasional agar diagnosis dan tata laksana menjadi lebih konsisten.

DAMPAK KLINIS

Kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan dapat menyebabkan:

  • Gangguan pertumbuhan.
  • Berat badan sulit naik.
  • Defisiensi zat besi, kalsium, vitamin D, dan mikronutrien lain.
  • Keterlambatan perkembangan oral motor.
  • Picky eater yang menetap.
  • Kecemasan anak terhadap makanan.
  • Stres orang tua.
  • Penurunan kualitas hidup keluarga.

PENATALAKSANAAN

  • Penanganan harus dilakukan secara multidisiplin melibatkan dokter anak, ahli alergi, ahli gizi, psikolog, dan terapis makan bila diperlukan. Eliminasi makanan harus berdasarkan diagnosis yang benar dan tidak boleh lebih luas daripada yang diperlukan.
  • Diagnosis alergi makanan sebaiknya dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge bila terdapat indikasi. Eliminasi makanan yang tidak diperlukan justru dapat meningkatkan risiko kesulitan makan, kekurangan gizi, dan gangguan tumbuh kembang.
  • Pemantauan berat badan, tinggi badan, status gizi, perilaku makan, serta kualitas hidup anak perlu dilakukan secara berkala agar masalah dapat dikenali lebih dini.

SARAN

Setiap anak dengan alergi makanan yang mengalami picky eater, penolakan makan, berat badan sulit naik, atau keterlambatan perkembangan makan perlu dievaluasi secara menyeluruh. Diet eliminasi sebaiknya hanya diberikan pada makanan yang telah terbukti sebagai penyebab alergi melalui evaluasi klinis dan, bila diperlukan, Oral Food Challenge. Edukasi keluarga mengenai variasi makanan, paparan tekstur sesuai usia, serta pendampingan nutrisi sangat penting untuk mencegah feeding difficulties jangka panjang.

KESIMPULAN

Kesulitan makan merupakan komplikasi yang sering ditemukan pada anak dengan alergi makanan, terutama pada anak dengan alergi terhadap banyak makanan. Berdasarkan EAACI Task Force Report 2024, prevalensi berkisar antara 13,6% hingga 40%. Namun, belum terdapat kesepakatan internasional mengenai definisi dan metode diagnosis sehingga diperlukan penelitian lanjutan. Pendekatan multidisiplin, diagnosis alergi yang tepat, serta penggunaan Oral Food Challenge sesuai indikasi merupakan langkah penting untuk mencegah gangguan nutrisi, gangguan tumbuh kembang, dan penurunan kualitas hidup.

DAFTAR PUSTAKA

  • Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, et al. Feeding Difficulties in Children with Food Allergies. An EAACI Task Force Report. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35:e14119.
  • Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder. Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019.
  • Meyer R, Venter C, Fox AT, et al. Practical Dietary Management of Food Allergy in Children. Pediatric Allergy and Immunology.
  • Muraro A, et al. EAACI Guidelines on the Diagnosis and Management of IgE-Mediated Food Allergy. Allergy. 2022.
  • Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018.
Visited 4 times, 4 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *