
ALERGI MAKANAN DAN INFEKSI BERULANG PADA ANAK: TINJAUAN ILMIAH BERBASIS BUKTI
ABSTRAK
Alergi makanan merupakan penyakit imunologis yang sering dijumpai pada anak dan memiliki manifestasi klinis yang sangat beragam, mulai dari kelainan kulit, saluran cerna, saluran napas, hingga reaksi sistemik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan lebih sering mengalami infeksi saluran napas berulang dibandingkan anak tanpa alergi, meskipun hubungan sebab akibatnya masih terus diteliti. Penelitian Woicka-Kolejwa dkk. melaporkan bahwa lebih dari separuh anak dengan alergi makanan mengalami infeksi saluran napas berulang, dan sensitisasi terhadap β-laktoglobulin meningkatkan risiko hampir empat kali lipat pada anak usia 1 hingga 2 tahun. Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala atau hasil pemeriksaan laboratorium, tetapi harus mempertimbangkan riwayat klinis yang sesuai dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas. Penatalaksanaan yang tepat bertujuan mengendalikan gejala alergi, mempertahankan status gizi, serta menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
PENDAHULUAN
Infeksi saluran napas berulang merupakan salah satu alasan tersering anak datang ke dokter. Sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus yang normal terjadi pada usia dini, terutama pada anak yang mulai bersekolah atau berada di tempat penitipan anak. Namun, pada sebagian pasien, infeksi yang berulang dapat menjadi petunjuk adanya penyakit yang mendasari, seperti alergi, asma, kelainan anatomi, gangguan silia, fibrosis kistik, refluks gastroesofagus, maupun defisiensi imun primer. Oleh karena itu, evaluasi penyebab infeksi berulang harus dilakukan secara menyeluruh.
Dalam beberapa dekade terakhir, perhatian terhadap hubungan antara alergi makanan dan infeksi berulang semakin meningkat. Inflamasi alergi kronis pada mukosa saluran napas diduga mengganggu fungsi pertahanan mukosa sehingga mempermudah terjadinya infeksi. Penelitian retrospektif yang dilakukan Woicka-Kolejwa dan kolega terhadap 280 anak dengan alergi makanan menunjukkan bahwa 54,6% mengalami infeksi saluran napas berulang. Pada kelompok usia 1 sampai 2 tahun, sensitisasi terhadap β-laktoglobulin meningkatkan risiko infeksi saluran napas berulang hampir empat kali lipat. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan epidemiologis, meskipun belum membuktikan hubungan sebab akibat secara langsung.
DEFINISI INFEKSI BERULANG
Infeksi berulang adalah terjadinya episode infeksi yang muncul berulang dalam periode tertentu dengan perbaikan klinis di antara setiap episode. Pada anak, kondisi ini paling sering mengenai saluran napas atas dan bawah. Definisi operasional berbeda menurut lokasi infeksi, tetapi untuk infeksi saluran napas berulang umumnya digunakan kriteria lebih dari enam episode infeksi saluran napas per tahun atau frekuensi yang melebihi angka normal sesuai usia.
Tidak semua infeksi berulang menandakan gangguan sistem imun. Anak usia dini dapat mengalami 6 hingga 8 infeksi virus setiap tahun sebagai bagian dari perkembangan sistem imun yang normal. Namun, infeksi yang sangat sering, berat, berlangsung lama, memerlukan rawat inap, disebabkan oleh kuman yang tidak biasa, atau disertai gangguan pertumbuhan harus dievaluasi lebih lanjut untuk mencari penyebab yang mendasari, termasuk alergi, defisiensi imun, kelainan anatomi, penyakit kronis, maupun faktor lingkungan.
DEFINISI ALERGI MAKANAN
Alergi makanan adalah reaksi hipersensitivitas yang dimediasi sistem imun terhadap protein makanan tertentu. Berdasarkan mekanismenya, alergi makanan dibedakan menjadi reaksi yang dimediasi IgE, non-IgE, dan campuran keduanya. Reaksi IgE biasanya muncul dalam beberapa menit hingga dua jam setelah konsumsi makanan, sedangkan reaksi non-IgE berkembang lebih lambat dan terutama mengenai saluran cerna.
Diagnosis alergi makanan harus ditegakkan berdasarkan kombinasi riwayat klinis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Uji tusuk kulit dan IgE spesifik hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak selalu berarti terdapat alergi klinis. Oleh karena itu, Oral Food Challenge tetap menjadi baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab gejala sehingga eliminasi makanan dapat dilakukan secara tepat dan tidak berlebihan.
GEJALA INFEKSI BERULANG
Infeksi berulang pada anak paling sering mengenai saluran napas atas dan bawah. Gejala yang perlu diperhatikan meliputi pilek lebih dari enam kali dalam setahun, batuk berulang terutama pada malam hari, demam berulang, radang tenggorok, sinusitis, otitis media, bronkitis, pneumonia berulang, serta infeksi yang memerlukan antibiotik berulang atau rawat inap. Pada sebagian anak dapat disertai gangguan pertumbuhan, nafsu makan menurun, berat badan sulit naik, dan aktivitas yang terganggu akibat sering sakit.
Infeksi berulang tidak selalu berarti adanya gangguan sistem imun. Sebagian besar anak usia dini memang mengalami infeksi virus berulang sebagai proses normal pematangan sistem imun. Namun, bila infeksi sangat sering, berat, berlangsung lama, disebabkan oleh kuman yang tidak biasa, tidak membaik dengan terapi yang adekuat, atau disertai gangguan pertumbuhan, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kemungkinan alergi, asma, defisiensi imun primer, kelainan anatomi, refluks gastroesofagus, gangguan silia, maupun penyakit kronis lainnya.
TABEL. TANDA DAN GEJALA ALERGI MAKANAN PADA ANAK
| Sistem tubuh | Manifestasi klinis |
|---|---|
| Kulit | Dermatitis atopik, biduran, ruam merah, gatal, bentol, angioedema, bengkak bibir atau kelopak mata |
| Saluran cerna | Muntah, refluks, nyeri perut, kolik, diare, konstipasi, lendir atau darah pada tinja, kembung, sulit makan |
| Saluran napas atas | Bersin berulang, pilek kronis, hidung tersumbat, berdeham, mendengkur, pembesaran adenoid, rinitis alergi |
| Saluran napas bawah | Batuk kronis, batuk malam, mengi, sesak napas, asma |
| Mata | Mata merah, gatal, berair, bengkak kelopak mata |
| Telinga | Otitis media berulang |
| Rongga mulut | Gatal bibir, gatal lidah, bengkak bibir, kesemutan mulut |
| Pertumbuhan | Berat badan sulit naik, gagal tumbuh, nafsu makan menurun |
| Sistem saraf dan perilaku | Rewel, gangguan tidur, mudah lelah, sulit konsentrasi pada anak yang lebih besar |
| Reaksi sistemik | Anafilaksis, hipotensi, syok |
HUBUNGAN ALERGI MAKANAN DAN INFEKSI BERULANG
Hubungan antara alergi makanan dan infeksi berulang masih menjadi topik penelitian. Inflamasi alergi kronis pada mukosa saluran napas dapat mengganggu fungsi pertahanan epitel, menurunkan efektivitas pembersihan mukosilier, meningkatkan produksi mukus, serta menyebabkan edema mukosa. Keadaan tersebut diduga mempermudah kolonisasi virus dan bakteri sehingga infeksi saluran napas lebih mudah terjadi.
Penelitian Woicka-Kolejwa dan kolega terhadap 280 anak dengan alergi makanan menemukan bahwa 54,6% mengalami infeksi saluran napas berulang. Pada anak usia 1 hingga 2 tahun, sensitisasi terhadap β-laktoglobulin meningkatkan risiko infeksi saluran napas berulang hampir empat kali lipat. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan epidemiologis, namun tidak membuktikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung infeksi berulang.
Berbagai penelitian lain menunjukkan bahwa anak dengan dermatitis atopik, rinitis alergi, atau asma memang lebih sering mengalami infeksi saluran napas dibandingkan populasi umum. Mekanisme yang diduga berperan meliputi gangguan sawar epitel, inflamasi tipe 2, perubahan mikrobiota, serta disfungsi respons imun bawaan. Meskipun demikian, sebagian besar bukti masih berupa studi observasional sehingga diperlukan penelitian prospektif yang lebih kuat untuk memastikan hubungan sebab akibat.
PENATALAKSANAAN
Penanganan dimulai dengan memastikan penyebab infeksi berulang melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Penyebab lain seperti defisiensi imun primer, kelainan anatomi, asma, refluks gastroesofagus, fibrosis kistik, dan paparan asap rokok harus dievaluasi sebelum menyimpulkan bahwa alergi makanan berperan.
Apabila ditemukan riwayat klinis yang konsisten dengan alergi makanan, evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan berbasis bukti. Uji tusuk kulit dan IgE spesifik dapat membantu pada alergi yang dimediasi IgE, tetapi hasil positif hanya menunjukkan sensitisasi dan tidak selalu berarti alergi klinis. Hasil pemeriksaan harus selalu diinterpretasikan bersama riwayat klinis.
Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan apakah makanan tertentu benar menjadi penyebab gejala. OFC membantu mencegah overdiagnosis, menghindari eliminasi makanan yang tidak diperlukan, serta menjaga kecukupan gizi anak. Pemeriksaan ini harus dilakukan oleh dokter yang berpengalaman di fasilitas yang mampu menangani reaksi alergi bila terjadi.
Bila alergi makanan telah terkonfirmasi, eliminasi dilakukan hanya terhadap makanan yang terbukti menjadi pemicu. Pertumbuhan, status gizi, dan perkembangan toleransi harus dievaluasi secara berkala. Penanganan komprehensif juga mencakup edukasi keluarga, tata laksana penyakit alergi penyerta, imunisasi sesuai jadwal, nutrisi yang adekuat, dan pengendalian faktor risiko infeksi.
SARAN
Pada anak dengan infeksi saluran napas berulang, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya adalah alergi makanan. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain. Bila terdapat riwayat klinis yang kuat mengarah ke alergi makanan, diagnosis sebaiknya ditegakkan berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan yang sesuai, dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge. Hindari diet eliminasi yang tidak berdasarkan diagnosis karena dapat menyebabkan gangguan nutrisi dan pertumbuhan.
KESIMPULAN
Alergi makanan merupakan salah satu kondisi yang dapat berhubungan dengan infeksi saluran napas berulang pada sebagian anak. Bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan epidemiologis, terutama pada anak usia dini dengan sensitisasi terhadap protein susu sapi tertentu, namun hubungan sebab akibat masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Diagnosis alergi makanan harus berbasis riwayat klinis dan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge bila diperlukan. Pendekatan ini membantu memberikan terapi yang tepat, menghindari overdiagnosis, dan mencegah pembatasan makanan yang tidak perlu.
DAFTAR PUSTAKA
- Woicka-Kolejwa K, et al. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016;33(2):109-113.
- Muraro A, et al. EAACI Guidelines on IgE-mediated Food Allergy. Allergy. 2022.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. J Allergy Clin Immunol. 2018.
- Fiocchi A, et al. World Allergy Organization Position Paper: Oral Food Challenge Testing. World Allergy Organ J.
- Boyce JA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. J Allergy Clin Immunol. 2010.
- NIAID-Sponsored Expert Panel. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy. J Allergy Clin Immunol. 2010.









Leave a Reply