
ALERGI MAKANAN PADA ANAK: GEJALA, DIAGNOSIS BERBASIS ORAL FOOD CHALLENGE (OFC), OVERDIAGNOSIS, DAN PENATALAKSANAAN BERBASIS BUKTI
ABSTRAK
Alergi makanan merupakan salah satu penyakit alergi yang paling sering dijumpai pada anak dan menjadi penyebab berbagai keluhan pada kulit, saluran cerna, saluran napas, hingga reaksi sistemik. Namun, angka overdiagnosis masih tinggi karena diagnosis sering hanya didasarkan pada gejala klinis, hasil pemeriksaan IgE, atau tes yang belum tervalidasi tanpa konfirmasi klinis. Kondisi ini menyebabkan banyak anak menjalani diet eliminasi yang tidak diperlukan sehingga meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, kekurangan zat gizi, dan penurunan kualitas hidup. Saat ini, Oral Food Challenge (OFC) merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi. Artikel ini membahas konsep terkini mengenai alergi makanan pada anak, diagnosis berbasis bukti, peran OFC, masalah overdiagnosis, serta prinsip penatalaksanaan berdasarkan rekomendasi EAACI, WAO, AAAAI, NIAID, dan DRACMA Guidelines.
PENDAHULUAN
Alergi makanan adalah respons imun yang abnormal terhadap protein makanan yang sebenarnya tidak berbahaya. Reaksi dapat dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE), mekanisme non-IgE, maupun kombinasi keduanya. Manifestasi klinis sangat beragam, mulai dari dermatitis atopik, urtikaria, muntah, diare, nyeri perut, batuk, mengi, hingga anafilaksis. Prevalensi yang dilaporkan berdasarkan kuesioner masyarakat mencapai 10 hingga 15%, tetapi angka yang telah dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge hanya sekitar 2 hingga 5%, menunjukkan masih tingginya overdiagnosis.
Dalam praktik sehari-hari, banyak anak didiagnosis alergi makanan hanya berdasarkan dugaan orang tua, hasil pemeriksaan IgE positif, atau panel alergi tanpa korelasi klinis. Padahal sensitisasi tidak selalu berarti alergi klinis. Akibatnya, anak sering menjalani pembatasan berbagai makanan selama bertahun-tahun tanpa bukti bahwa makanan tersebut benar-benar menjadi penyebab gejala. Pendekatan diagnosis berbasis bukti sangat diperlukan agar terapi menjadi tepat sasaran.
DIAGNOSIS ALERGI MAKANAN
1. Riwayat Klinis Merupakan Dasar Diagnosis
Riwayat klinis merupakan langkah terpenting dalam menegakkan diagnosis. Dokter harus mengevaluasi hubungan antara konsumsi makanan dengan munculnya gejala, waktu timbulnya reaksi, jumlah makanan yang dikonsumsi, konsistensi kejadian, tingkat keparahan, serta adanya faktor lain seperti infeksi virus, olahraga, obat-obatan, atau penyakit penyerta.
Gejala yang muncul berulang setiap kali mengonsumsi makanan tertentu memiliki nilai diagnostik yang jauh lebih tinggi dibandingkan hasil pemeriksaan laboratorium semata.
2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang direkomendasikan meliputi:
- • Skin Prick Test (SPT)
- • Serum specific IgE
- • Component Resolved Diagnostics (CRD) bila tersedia
Pemeriksaan tersebut membantu memperkirakan kemungkinan adanya sensitisasi, tetapi tidak dapat memastikan alergi makanan.
Sebaliknya, pemeriksaan berikut tidak direkomendasikan untuk diagnosis alergi makanan:
- • IgG atau IgG4 makanan
- • Tes bioresonansi
- • Vega test
- • Applied kinesiology
- • Hair analysis
- • Electrodermal testing
- • Leukocytotoxic test
- • Pulse test
Semua metode tersebut telah dinyatakan tidak memiliki bukti ilmiah yang memadai oleh EAACI, WAO, AAAAI, dan Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology.
3. Overdiagnosis Alergi Makanan
Overdiagnosis terjadi ketika seseorang dinyatakan menderita alergi makanan padahal sebenarnya tidak mengalami alergi klinis.
Penyebab overdiagnosis antara lain:
- • hanya berdasarkan gejala
- • hanya berdasarkan IgE positif
- • menggunakan panel IgG makanan
- • hasil pemeriksaan tanpa riwayat klinis
- • interpretasi hasil laboratorium yang berlebihan
Akibat overdiagnosis meliputi:
- • diet eliminasi yang tidak diperlukan
- • gangguan pertumbuhan
- • kekurangan protein
- • defisiensi kalsium
- • defisiensi vitamin D
- • gangguan psikologis keluarga
- • meningkatnya biaya pengobatan
ORAL FOOD CHALLENGE (OFC)
1. OFC Merupakan Baku Emas Diagnosis
Seluruh pedoman internasional menempatkan Oral Food Challenge sebagai gold standard untuk memastikan apakah makanan tertentu benar-benar menyebabkan alergi.
OFC dilakukan dengan memberikan makanan yang dicurigai secara bertahap dalam dosis yang meningkat di bawah pengawasan tenaga medis yang berpengalaman dengan kesiapan penanganan reaksi alergi bila diperlukan.
2. Tujuan OFC
Tujuan OFC meliputi:
- • memastikan diagnosis
- • menyingkirkan diagnosis yang salah
- • mengetahui apakah alergi sudah sembuh
- • mengevaluasi perkembangan toleransi
- • menentukan jumlah makanan yang masih dapat ditoleransi
- • mengurangi pembatasan makanan yang tidak diperlukan
3. Indikasi OFC
OFC dipertimbangkan bila:
- • riwayat klinis tidak jelas
- • hasil IgE tidak sesuai dengan gejala
- • ingin mengevaluasi toleransi setelah diet eliminasi
- • terdapat dugaan overdiagnosis
- • diperlukan kepastian diagnosis sebelum eliminasi jangka panjang
4. Jenis OFC
Jenis OFC meliputi:
- • Open Oral Food Challenge
- • Single-Blind Oral Food Challenge
- • Double-Blind Placebo-Controlled Food Challenge (DBPCFC)
DBPCFC merupakan standar penelitian, sedangkan open OFC paling banyak digunakan dalam praktik klinis sehari-hari.
5. Keamanan OFC
OFC harus dilakukan:
- • oleh dokter yang berpengalaman
- • dengan indikasi yang tepat
- • di fasilitas yang memiliki obat emergensi
- • dengan observasi hingga reaksi dipastikan tidak muncul
Sebagian besar reaksi selama OFC bersifat ringan hingga sedang. Anafilaksis dapat terjadi tetapi jarang bila prosedur dilakukan sesuai pedoman.
6. Manfaat OFC
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak yang dicurigai alergi ternyata dapat kembali mengonsumsi makanan setelah OFC menunjukkan hasil negatif.
Manfaat OFC meliputi:
- • mengurangi diet eliminasi
- • memperbaiki status gizi
- • meningkatkan kualitas hidup
- • mengurangi kecemasan keluarga
- • menurunkan biaya pengobatan
- • meningkatkan akurasi diagnosis
PENATALAKSANAAN
- Penatalaksanaan dimulai dengan eliminasi hanya terhadap makanan yang telah terbukti menyebabkan alergi melalui evaluasi klinis dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan OFC. Eliminasi makanan yang tidak terbukti sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi, terutama protein, kalsium, zat besi, vitamin D, dan berbagai mikronutrien penting bagi pertumbuhan anak.
- Anak dengan alergi makanan memerlukan pemantauan pertumbuhan secara berkala meliputi berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, serta evaluasi kecukupan nutrisi. Bila terdapat pembatasan makanan utama, konsultasi dengan dokter dan ahli gizi diperlukan untuk memastikan kebutuhan energi dan zat gizi tetap terpenuhi.
- Pada anak dengan riwayat reaksi berat atau anafilaksis, keluarga harus mendapat edukasi mengenai pengenalan gejala awal, penghindaran alergen yang telah terbukti, serta penanganan kegawatdaruratan. Edukasi kepada sekolah dan pengasuh juga penting untuk mengurangi risiko paparan yang tidak disengaja.
- Evaluasi berkala perlu dilakukan karena banyak alergi makanan pada anak, terutama terhadap susu sapi, telur, gandum, dan kedelai, dapat menghilang seiring bertambahnya usia. OFC ulang sesuai indikasi membantu menentukan kapan makanan dapat diperkenalkan kembali secara aman.
KESIMPULAN
Alergi makanan pada anak memerlukan diagnosis yang cermat karena gejalanya menyerupai banyak penyakit lain. Riwayat klinis tetap menjadi dasar utama diagnosis, sedangkan Skin Prick Test dan serum specific IgE hanya membantu menilai sensitisasi dan tidak dapat berdiri sendiri untuk menegakkan diagnosis. Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab alergi. Pendekatan berbasis bukti membantu mengurangi overdiagnosis, mencegah pembatasan makanan yang tidak diperlukan, mempertahankan status gizi, serta meningkatkan kualitas hidup anak dan keluarganya.
DAFTAR PUSTAKA
- Muraro A, et al. EAACI Guidelines on the Diagnosis and Management of IgE-Mediated Food Allergy. Allergy.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018.
- Boyce JA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2010.
- Fiocchi A, et al. World Allergy Organization DRACMA Guidelines.
- World Allergy Organization. Oral Food Challenge Position Paper.
- NIAID-Sponsored Expert Panel. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy.
- Nowak-Węgrzyn A, et al. Work Group Report: Oral Food Challenge Testing. Journal of Allergy and Clinical Immunology.
- EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines.
- WAO Position Paper on Food Allergy Diagnosis and Management.
- AAAAI Practice Parameters for Food Allergy Diagnosis and Oral Food Challenge.









Leave a Reply