ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

ORAL FOOD CHALLENGE (OFC) TERBUKA SEDERHANA PADA ANAK Metode Praktis Baku Emas Diagnosis Alergi Makanan

ORAL FOOD CHALLENGE (OFC) TERBUKA SEDERHANA PADA ANAK

Metode Praktis Baku Emas Diagnosis Alergi Makanan

ABSTRAK

Oral Food Challenge (OFC) merupakan baku emas untuk menegakkan maupun menyingkirkan diagnosis alergi makanan. Riwayat klinis, uji tusuk kulit, dan pemeriksaan IgE spesifik hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak selalu berarti seseorang benar-benar alergi terhadap makanan tersebut. OFC dilakukan dengan memberikan makanan yang dicurigai secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis untuk memastikan apakah makanan tersebut benar menimbulkan reaksi alergi. Metode OFC terbuka sederhana merupakan teknik yang paling banyak digunakan dalam praktik klinis sehari-hari karena mudah dilakukan, aman pada pasien dengan indikasi yang tepat, serta memiliki akurasi tinggi bila dikombinasikan dengan riwayat klinis yang baik.

Alergi makanan memengaruhi sekitar 2 sampai 10% anak, tetapi angka yang telah dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge jauh lebih rendah dibandingkan diagnosis berdasarkan dugaan, kuesioner, atau hasil pemeriksaan laboratorium saja. Banyak anak menjalani diet eliminasi bertahun-tahun tanpa konfirmasi diagnosis sehingga berisiko mengalami gangguan nutrisi, pertumbuhan, dan kualitas hidup.

Berbagai organisasi internasional seperti World Allergy Organization (WAO), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), dan NIAID menegaskan bahwa Oral Food Challenge merupakan standar emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar menjadi penyebab alergi. Pemeriksaan IgE spesifik maupun skin prick test tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.

APA ITU ORAL FOOD CHALLENGE TERBUKA?

Open Oral Food Challenge adalah prosedur pemberian makanan secara bertahap, di mana dokter, pasien, dan keluarga mengetahui jenis makanan yang sedang diuji.

Metode ini digunakan untuk:

• Memastikan diagnosis alergi makanan.
• Menyingkirkan dugaan alergi makanan.
• Menilai apakah alergi sudah menghilang.
• Menghindari diet eliminasi yang tidak diperlukan.
• Menentukan makanan yang aman dikonsumsi.

INDIKASI OFC

OFC dipertimbangkan bila:

• Riwayat klinis tidak jelas.
• Hasil IgE atau skin prick test tidak sesuai dengan gejala.
• Ingin mengetahui apakah anak sudah toleran terhadap makanan.
• Akan menghentikan diet eliminasi.
• Diduga terjadi overdiagnosis alergi makanan.

KONTRAINDIKASI

OFC sebaiknya ditunda bila terdapat:

• Anafilaksis yang belum stabil.
• Asma tidak terkontrol.
• Infeksi akut.
• Demam tinggi.
• Dermatitis atopik berat yang sedang kambuh.
• Penyakit sistemik yang belum stabil.

PERSIAPAN

Sebelum OFC dilakukan:

• Jelaskan prosedur kepada orang tua.
• Dapatkan informed consent.
• Hentikan antihistamin sesuai rekomendasi.
• Pastikan anak dalam kondisi sehat.
• Siapkan adrenalin, oksigen, infus, antihistamin, kortikosteroid, bronkodilator, dan alat resusitasi.

PROTOKOL OFC TERBUKA SEDERHANA

PEMANTAUAN

Setelah dosis terakhir:

• Observasi minimal 2 jam.
• Lebih lama bila dicurigai reaksi lambat.
• Edukasi orang tua mengenai kemungkinan reaksi yang muncul beberapa jam kemudian.

HASIL OFC

Positif

Muncul gejala objektif seperti:

• Biduran.
• Angioedema.
• Muntah berulang.
• Mengi.
• Sesak napas.
• Penurunan tekanan darah.
• Anafilaksis.

Negatif

  • Tidak muncul gejala alergi selama maupun setelah observasi.
  • Anak dapat mulai mengonsumsi makanan tersebut secara rutin sesuai anjuran dokter.

KELEBIHAN OFC TERBUKA

• Mudah dilakukan.
• Biaya lebih rendah.
• Praktis.
• Akurat pada sebagian besar pasien.
• Mengurangi overdiagnosis alergi makanan.
• Mengurangi diet eliminasi yang tidak perlu.

KETERBATASAN

• Tidak dibutakan sehingga dapat dipengaruhi harapan pasien atau dokter, terutama pada gejala subjektif.
• Tidak cocok untuk penelitian yang membutuhkan kontrol bias yang ketat.
• Double-blind placebo-controlled food challenge tetap menjadi baku emas untuk penelitian, tetapi lebih rumit dan jarang diperlukan dalam praktik sehari-hari.

KESIMPULAN

Open Oral Food Challenge merupakan metode sederhana, aman, dan berbasis bukti untuk memastikan diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan ini membantu membedakan sensitisasi dari alergi yang benar-benar bermakna secara klinis, sehingga mencegah overdiagnosis, mengurangi pembatasan makanan yang tidak perlu, mempertahankan status gizi, dan meningkatkan kualitas hidup anak. Sesuai rekomendasi WAO, EAACI, AAAAI, dan NIAID, OFC tetap menjadi baku emas dalam diagnosis alergi makanan bila dilakukan oleh tenaga medis yang berpengalaman dengan fasilitas penanganan reaksi alergi yang memadai.

DAFTAR PUSTAKA

  • Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an Oral Food Challenge. Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice. 2020.
  • Fiocchi A, Assa’ad A, Bahna S, et al. World Allergy Organization Position Paper. Oral Food Challenge Testing. World Allergy Organization Journal.
  • Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI Guidelines on the Diagnosis and Management of IgE-Mediated Food Allergy. Allergy.
  • Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2010.
  • Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018.
  • Nowak-Wegrzyn A, Assa’ad AH, Bahna SL, et al. Work Group Report: Oral Food Challenge Testing. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2009.
  • World Allergy Organization. DRACMA Guidelines for Cow’s Milk Allergy. Latest Update.
Visited 4 times, 4 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *