MIGRAIN DAN ALERGI MAKANAN PADA ANAK: TINJAUAN ILMIAH BERBASIS BUKTI TERKINI
ABSTRAK
Migrain merupakan salah satu penyebab tersering nyeri kepala berulang pada anak dan remaja yang dapat mengganggu kualitas hidup, prestasi belajar, serta aktivitas sehari-hari. Berbagai faktor diketahui dapat memicu serangan migrain, termasuk stres, kurang tidur, perubahan hormonal, dan makanan tertentu. Selama beberapa dekade, alergi makanan juga diduga berperan sebagai salah satu pencetus migrain, namun hingga saat ini hubungan tersebut masih menjadi kontroversi. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok pasien tertentu, eliminasi makanan yang terbukti memicu gejala dapat mengurangi frekuensi migrain. Sebaliknya, sebagian besar pedoman internasional tidak merekomendasikan pembatasan makanan secara luas tanpa evaluasi klinis yang tepat. Artikel ini membahas definisi migrain, penyebab, manifestasi klinis, mekanisme hubungan antara alergi makanan dan migrain, bukti ilmiah terbaru, serta pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan berbasis bukti.
Migrain merupakan gangguan neurologis primer yang ditandai dengan serangan nyeri kepala berulang disertai berbagai gejala neurologis dan otonom. Diperkirakan sekitar 8 sampai 12% anak usia sekolah mengalami migrain, dengan prevalensi yang meningkat pada masa remaja. Penyakit ini tidak hanya menyebabkan nyeri kepala, tetapi juga menurunkan kualitas hidup, prestasi akademik, aktivitas sosial, serta meningkatkan angka absensi sekolah.
Hubungan antara makanan dan migrain telah lama menjadi perhatian. Banyak pasien melaporkan bahwa makanan tertentu memicu serangan migrain. Namun, tidak semua reaksi terhadap makanan merupakan alergi makanan. Sebagian besar merupakan intoleransi, sensitivitas individual, atau sekadar faktor pencetus nonspesifik. Oleh karena itu, diagnosis alergi makanan tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan dugaan, tetapi memerlukan evaluasi klinis yang sistematis.
DEFINISI MIGRAIN
Migrain adalah penyakit neurologis kronis dengan serangan nyeri kepala episodik yang biasanya berlangsung 2 hingga 72 jam pada anak. Nyeri umumnya berdenyut, dapat mengenai satu atau kedua sisi kepala, bertambah berat saat aktivitas fisik, serta disertai mual, muntah, fotofobia, atau fonofobia.
Menurut International Classification of Headache Disorders 3rd Edition (ICHD-3), diagnosis migrain ditegakkan berdasarkan karakteristik klinis. Pemeriksaan laboratorium maupun pencitraan otak tidak diperlukan secara rutin kecuali terdapat tanda bahaya yang mengarah pada penyebab sekunder.
TANDA DAN GEJALA MIGRAIN
Gejala migrain pada anak dapat berbeda dibandingkan orang dewasa.
Tabel. Manifestasi klinis migrain pada anak
| Sistem | Manifestasi |
|---|---|
| Kepala | Nyeri berdenyut, nyeri sedang hingga berat |
| Saluran cerna | Mual, muntah, nyeri perut, abdominal migraine |
| Mata | Fotofobia, pandangan kabur, aura visual |
| Pendengaran | Fonofobia |
| Neurologis | Aura, kesemutan, gangguan bicara sementara |
| Perilaku | Mudah marah, lelah, sulit konsentrasi |
| Tidur | Mengantuk, tidur memperbaiki keluhan |
| Otonom | Pucat, berkeringat, wajah dingin |
PENYEBAB MIGRAIN
- Migrain merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan faktor genetik dan lingkungan. Aktivasi sistem trigeminovaskular menyebabkan pelepasan Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP), substansi P, neurokinin, serta mediator inflamasi neurogenik yang menyebabkan vasodilatasi, sensitisasi saraf, dan timbulnya nyeri.
- Berbagai faktor dapat memicu migrain, antara lain kurang tidur, stres emosional, dehidrasi, perubahan hormon, aktivitas fisik berat, cahaya terang, bau menyengat, perubahan cuaca, serta beberapa jenis makanan. Namun pencetus berbeda pada setiap individu sehingga tidak ada satu makanan yang terbukti menyebabkan migrain pada semua pasien.
ALERGI MAKANAN DAN MIGRAIN
1. Apakah alergi makanan dapat menyebabkan migrain?
- Hubungan antara alergi makanan dan migrain telah diteliti sejak beberapa dekade. Penelitian klasik yang diterbitkan di Lancet tahun 1980 melaporkan bahwa sekitar dua pertiga pasien migrain berat mengalami perbaikan setelah menjalani diet eliminasi dan uji tantang makanan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pada sebagian pasien memang terdapat hubungan antara makanan tertentu dan serangan migrain. Namun, penelitian ini melibatkan jumlah subjek yang terbatas dan menggunakan metode diagnosis yang berbeda dengan standar saat ini.
2. Mekanisme imunologis yang mungkin terjadi
- Pada sebagian kecil pasien, paparan protein makanan dapat memicu respons imun yang menyebabkan pelepasan histamin, leukotrien, prostaglandin, sitokin proinflamasi, dan mediator lainnya. Mediator tersebut dapat mengaktivasi sistem trigeminovaskular sehingga memicu serangan migrain. Aktivasi sel mast dan peningkatan permeabilitas mukosa usus juga diduga berkontribusi melalui sumbu usus dan otak.
3. Bukti ilmiah terkini
- Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara alergi makanan dan migrain jauh lebih kompleks dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Sebagian besar penelitian observasional menemukan prevalensi penyakit alergi seperti dermatitis atopik, rinitis alergi, dan asma lebih tinggi pada penderita migrain. Namun, hubungan sebab akibat antara alergi makanan dan migrain belum dapat dipastikan karena kualitas bukti masih terbatas dan hasil penelitian belum konsisten.
4. Tidak semua makanan pemicu merupakan alergi
- Cokelat, keju tua, makanan fermentasi, monosodium glutamat (MSG), minuman berkafein, atau makanan tinggi histamin sering dilaporkan sebagai pencetus migrain. Akan tetapi, pada sebagian besar kasus mekanismenya bukan alergi makanan. Faktor seperti kandungan tiramin, histamin, nitrat, perubahan metabolisme, atau sensitivitas individu lebih mungkin berperan dibandingkan respons imun alergi.
5. Diagnosis harus berbasis bukti
- Pedoman dari European Academy of Neurology, American Headache Society, dan International Headache Society tidak merekomendasikan pemeriksaan alergi rutin pada semua pasien migrain. Evaluasi alergi hanya dipertimbangkan bila terdapat riwayat yang jelas bahwa konsumsi makanan tertentu selalu diikuti gejala alergi yang konsisten, seperti urtikaria, angioedema, muntah akut, mengi, atau anafilaksis. Bila dicurigai alergi makanan, diagnosis harus ditegakkan melalui riwayat klinis, pemeriksaan IgE spesifik bila diindikasikan, dan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge yang dilakukan oleh dokter sesuai indikasi.
PENATALAKSANAAN
- Penatalaksanaan utama migrain pada anak meliputi edukasi keluarga, tidur yang cukup, hidrasi yang baik, olahraga teratur, pengelolaan stres, dan menghindari pencetus yang telah terbukti secara individual. Parasetamol dan ibuprofen tetap menjadi terapi lini pertama untuk serangan akut sesuai rekomendasi berbagai pedoman internasional.
- Diet eliminasi tidak boleh dilakukan secara luas hanya berdasarkan hasil tes yang belum tervalidasi atau daftar makanan dari internet. Eliminasi hanya dilakukan bila terdapat hubungan klinis yang konsisten dan telah dievaluasi secara menyeluruh.
- Apabila terdapat dugaan alergi makanan, pendekatan diagnosis meliputi riwayat klinis, pemeriksaan alergi yang sesuai indikasi, kemudian Oral Food Challenge sebagai baku emas bila diperlukan. Pendekatan ini membantu mencegah overdiagnosis dan pembatasan makanan yang tidak perlu.
- Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, ahli alergi imunologi, ahli gizi, dan keluarga memberikan hasil terbaik, terutama pada anak dengan migrain kronis disertai penyakit alergi.
KESIMPULAN
- Migrain pada anak merupakan penyakit neurologis kompleks dengan berbagai faktor pencetus. Hubungan antara alergi makanan dan migrain memang telah dilaporkan dalam sejumlah penelitian, tetapi bukti ilmiah saat ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pasien yang benar-benar mengalami migrain yang berkaitan dengan alergi makanan. Sebagian besar makanan yang diduga memicu migrain bekerja melalui mekanisme nonalergi. Oleh karena itu, diagnosis alergi makanan harus dilakukan secara sistematis berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan yang sesuai, dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge. Pendekatan berbasis bukti membantu mencegah pembatasan makanan yang tidak diperlukan serta memberikan terapi yang lebih tepat.
DAFTAR PUSTAKA
- Monro J, Brostoff J, Carini C, Zilkha K. Food allergy in migraine. Lancet. 1980;2:1-4.
- Olesen J, et al. International Classification of Headache Disorders, 3rd Edition. Cephalalgia. 2018.
- Hassan A, Elmazny A, Elgenidi A, et al. Management of migraine in children and adolescents: A systematic review of guidelines and practice recommendations. Cephalalgia. 2026;46(2).
- American Headache Society. Evidence-Based Guidelines for Pediatric Migraine.









Leave a Reply