ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Hubungan Hipertrofi Adenoid, Rinitis Alergi, dan Alergi Makanan pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Bukti Klinis

Hubungan Hipertrofi Adenoid, Rinitis Alergi, dan Alergi Makanan pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Bukti Klinis

Abstrak

Hipertrofi adenoid merupakan salah satu penyebab utama obstruksi hidung kronis pada anak. Kondisi ini sering dikaitkan dengan infeksi berulang, namun semakin banyak bukti menunjukkan bahwa rinitis alergi dan alergi makanan juga berperan dalam proses inflamasi kronis jaringan adenoid. Anak dengan rinitis alergi cenderung memiliki hipertrofi adenoid yang lebih berat, kadar imunoglobulin E (IgE) yang lebih tinggi, serta gejala yang menetap meskipun telah menjalani adenoidektomi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terapi antialergi dapat mengurangi gejala, memperbaiki kualitas hidup, serta menurunkan kebutuhan tindakan operasi pada sebagian pasien. Artikel ini membahas hubungan hipertrofi adenoid, rinitis alergi, dan alergi makanan berdasarkan bukti klinis serta implikasinya terhadap diagnosis dan penatalaksanaan.

Kata kunci: hipertrofi adenoid, rinitis alergi, alergi makanan, IgE, anak.

Hipertrofi adenoid merupakan penyebab tersering sumbatan hidung kronis pada anak dan sering menimbulkan napas melalui mulut, mendengkur, gangguan tidur, otitis media berulang, serta penurunan kualitas hidup. Selama ini pembesaran adenoid lebih sering dikaitkan dengan infeksi saluran napas berulang. Namun, penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa inflamasi alergi juga berperan penting dalam pembesaran jaringan adenoid. Anak dengan rinitis alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertrofi adenoid dibandingkan anak tanpa alergi. Oleh karena itu, evaluasi alergi perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan tindakan pembedahan.

Hipertrofi Adenoid

Adenoid merupakan jaringan limfoid yang terletak di nasofaring dan menjadi bagian dari cincin Waldeyer. Organ ini berfungsi sebagai pertahanan imun mukosa dengan menghasilkan limfosit B, imunoglobulin A, dan berbagai mediator imun terhadap antigen yang masuk melalui saluran napas. Pembesaran adenoid terjadi akibat stimulasi antigen yang berlangsung terus-menerus, baik karena infeksi maupun proses alergi. Hipertrofi adenoid dapat menyebabkan obstruksi hidung, gangguan ventilasi telinga tengah, gangguan tidur, serta obstructive sleep apnea pada anak.

Rinitis Alergi

Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis mukosa hidung yang dimediasi oleh imunoglobulin E setelah pajanan alergen. Gejala utama meliputi bersin berulang, hidung tersumbat, rinore, dan hidung gatal. Inflamasi kronis menyebabkan edema mukosa, peningkatan produksi mukus, serta infiltrasi eosinofil dan sel mast. Karena mukosa hidung dan adenoid merupakan satu kesatuan sistem imun saluran napas atas, proses inflamasi pada hidung dapat meluas ke jaringan adenoid sehingga menyebabkan hipertrofi.

Hubungan Hipertrofi Adenoid dan Rinitis Alergi

Hubungan antara hipertrofi adenoid dan rinitis alergi didukung oleh berbagai penelitian. Inflamasi alergi yang berlangsung kronis menyebabkan aktivasi limfosit Th2, peningkatan produksi IL-4, IL-5, IL-13, serta sintesis IgE. Mediator tersebut mengaktivasi eosinofil dan sel mast sehingga terjadi edema jaringan, proliferasi limfoid, dan pembesaran adenoid. Penelitian Gupta dkk. tahun 2024 terhadap 130 anak menunjukkan bahwa pasien dengan riwayat rinitis alergi dan kadar IgE tinggi memiliki volume adenoid yang lebih besar serta skor Visual Analog Scale yang lebih buruk dibandingkan kelompok tanpa alergi. Setelah adenoidektomi, perbaikan gejala juga lebih baik pada kelompok tanpa alergi, menunjukkan bahwa inflamasi alergi tetap berlangsung meskipun jaringan adenoid telah diangkat.

Peran Alergi Makanan

Hubungan antara alergi makanan dan hipertrofi adenoid belum sekuat hubungan dengan rinitis alergi, tetapi beberapa bukti menunjukkan adanya keterkaitan melalui konsep allergic march. Alergi makanan yang muncul pada awal kehidupan meningkatkan risiko berkembangnya penyakit alergi lain seperti dermatitis atopik, asma, dan rinitis alergi. Sensitisasi makanan dapat memicu respons imun sistemik yang meningkatkan inflamasi mukosa saluran napas atas. Melalui mekanisme tersebut, alergi makanan diduga berkontribusi secara tidak langsung terhadap pembesaran adenoid pada sebagian anak, terutama yang memiliki penyakit atopi multipel.

Alergi makanan merupakan salah satu penyakit imunologis yang dapat memengaruhi berbagai organ, tidak hanya saluran cerna dan kulit, tetapi juga saluran pernapasan. Pada anak yang rentan secara genetik, pajanan alergen makanan dapat memicu respons imun yang didominasi jalur T helper 2 (Th2), dengan peningkatan produksi sitokin seperti interleukin (IL)-4, IL-5, dan IL-13 serta aktivasi sel mast dan eosinofil. Respons inflamasi yang berlangsung berulang menyebabkan gangguan homeostasis mukosa, meningkatkan permeabilitas epitel, dan mempermudah terjadinya inflamasi kronis pada saluran napas atas. Melalui konsep allergic march, alergi makanan pada awal kehidupan diketahui meningkatkan risiko berkembangnya penyakit atopi lain, terutama rinitis alergi dan asma, pada usia berikutnya.

Inflamasi alergi yang berlangsung kronis pada mukosa hidung menyebabkan edema mukosa, hipersekresi mukus, gangguan pembersihan mukosiliar, dan obstruksi hidung persisten. Kondisi ini mempermudah kolonisasi mikroorganisme dan meningkatkan risiko infeksi saluran napas atas berulang, termasuk rinosinusitis, otitis media, dan faringitis. Selain itu, sumbatan hidung kronis menyebabkan anak bernapas melalui mulut sehingga fungsi filtrasi, pelembapan, dan pemanasan udara oleh hidung menjadi berkurang. Akibatnya, mukosa saluran napas lebih mudah terpapar patogen dan iritan lingkungan. Pada banyak anak, infeksi berulang bukan disebabkan oleh gangguan sistem imun primer, melainkan oleh inflamasi alergi kronis yang mengganggu fungsi pertahanan mukosa.

Jaringan adenoid merupakan bagian dari cincin Waldeyer yang berfungsi sebagai organ imun mukosa pertama dalam menghadapi antigen yang masuk melalui saluran napas. Pajanan antigen yang berlangsung terus-menerus, baik akibat alergen maupun infeksi berulang, menyebabkan stimulasi kronis jaringan limfoid sehingga terjadi hiperplasia dan hipertrofi adenoid. Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan rinitis alergi memiliki volume adenoid yang lebih besar, kadar imunoglobulin E yang lebih tinggi, serta infiltrasi eosinofil yang lebih banyak dibandingkan anak tanpa alergi. Pembesaran adenoid selanjutnya memperburuk sumbatan hidung, meningkatkan gangguan ventilasi telinga tengah, mempertahankan inflamasi mukosa, dan membentuk suatu lingkaran patofisiologi yang menyebabkan gejala menetap atau berulang.

Meskipun hingga saat ini belum terdapat bukti yang menyimpulkan bahwa alergi makanan secara langsung menyebabkan hipertrofi adenoid, berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan biologis yang masuk akal melalui mekanisme inflamasi sistemik, allergic march, dan gangguan fungsi sawar mukosa. Anak dengan alergi makanan lebih sering mengalami penyakit atopi lain, termasuk rinitis alergi, yang merupakan faktor risiko penting hipertrofi adenoid. Oleh karena itu, pada anak dengan hipertrofi adenoid yang disertai rinitis alergi, infeksi saluran napas berulang, atau riwayat penyakit atopi, evaluasi terhadap kemungkinan alergi makanan dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari pendekatan klinis yang komprehensif. Pendekatan ini bertujuan mengidentifikasi faktor pencetus yang dapat dimodifikasi sehingga inflamasi kronis saluran napas dapat dikendalikan secara lebih optimal.

Bukti Klinis

Colavita dan kolega pada tahun 2015 mengevaluasi 404 anak dengan rinitis alergi dan menemukan bahwa sekitar 22% mengalami hipertrofi adenoid derajat sedang hingga berat. Sebagian besar anak yang menjalani adenoidektomi masih mengalami gejala rinitis atau kekambuhan sumbatan hidung karena inflamasi alergi tetap berlangsung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terapi antialergi sebaiknya menjadi langkah awal sebelum mempertimbangkan operasi.

Gupta dan kolega pada tahun 2024 juga melaporkan bahwa anak dengan kadar IgE tinggi memiliki hipertrofi adenoid yang lebih berat dan perbaikan pascaoperasi yang lebih rendah dibandingkan anak tanpa alergi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kontrol inflamasi alergi sangat memengaruhi keberhasilan terapi.

Tinjauan Al-Abri dan kolega pada tahun 2018 menyimpulkan bahwa alergi makanan pada usia dini merupakan salah satu faktor risiko berkembangnya rinitis alergi di kemudian hari sesuai konsep allergic march. Walaupun hubungan langsung dengan hipertrofi adenoid masih memerlukan penelitian lebih lanjut, alergi makanan diduga berkontribusi melalui inflamasi kronis saluran napas atas.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan hipertrofi adenoid harus mempertimbangkan adanya penyakit alergi yang mendasari. Terapi medikamentosa berupa kortikosteroid intranasal, antihistamin, irigasi saline, dan pengendalian pajanan alergen merupakan pilihan utama pada anak dengan rinitis alergi. Evaluasi alergi dapat dipertimbangkan pada pasien dengan gejala persisten, riwayat atopi, atau kekambuhan setelah adenoidektomi. Operasi adenoidektomi tetap menjadi pilihan pada obstruksi berat, obstructive sleep apnea, atau komplikasi telinga tengah, tetapi tidak mengatasi proses inflamasi alergi sehingga terapi antialergi tetap diperlukan bila terdapat indikasi.

Penatalaksanaan hipertrofi adenoid pada anak harus dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan adanya penyakit alergi yang mendasari, terutama rinitis alergi, dermatitis atopik, asma, maupun dugaan alergi makanan. Terapi medikamentosa meliputi kortikosteroid intranasal, antihistamin generasi kedua, irigasi saline, serta pengendalian pajanan alergen lingkungan. Penanganan inflamasi alergi yang optimal terbukti dapat mengurangi sumbatan hidung, memperbaiki kualitas tidur, mengurangi frekuensi infeksi saluran napas atas, dan pada sebagian pasien dapat menurunkan ukuran adenoid sehingga kebutuhan tindakan operasi dapat berkurang.

Pada anak dengan gejala saluran cerna yang mengarah ke alergi makanan, seperti muntah berulang, diare kronis, konstipasi persisten, nyeri perut berulang, refluks yang tidak membaik, darah pada tinja, atau gangguan pertumbuhan yang disertai penyakit atopi, evaluasi alergi makanan perlu dipertimbangkan. Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan kadar IgE atau hasil skin prick test karena keduanya menunjukkan sensitisasi dan bukan selalu alergi klinis. Bila riwayat klinis mendukung, eliminasi makanan secara terarah dapat dilakukan, kemudian dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge (OFC) yang hingga saat ini merupakan baku emas untuk menegakkan maupun menyingkirkan diagnosis alergi makanan. Pendekatan ini membantu menghindari overdiagnosis serta pembatasan makanan yang tidak diperlukan.

Apabila OFC mengonfirmasi adanya alergi makanan, eliminasi hanya dilakukan terhadap makanan yang terbukti menimbulkan reaksi klinis, dengan tetap menjaga kecukupan gizi sesuai usia anak. Pengendalian alergi makanan yang tepat dapat menurunkan inflamasi sistemik dan inflamasi mukosa saluran napas pada sebagian pasien, sehingga diharapkan dapat mengurangi kekambuhan rinitis alergi, infeksi saluran napas atas berulang, serta stimulasi kronis jaringan adenoid. Namun, bukti ilmiah yang secara langsung menunjukkan bahwa eliminasi makanan dapat mengecilkan hipertrofi adenoid masih terbatas sehingga diperlukan penelitian prospektif lebih lanjut.

Adenoidektomi tetap menjadi terapi pilihan pada anak dengan obstruksi nasofaring berat, obstructive sleep apnea, otitis media efusi persisten, atau komplikasi lain yang tidak membaik dengan terapi konservatif. Meskipun demikian, operasi hanya mengatasi pembesaran jaringan adenoid dan tidak menghilangkan proses inflamasi alergi yang mendasarinya. Oleh karena itu, pada anak dengan rinitis alergi atau alergi makanan yang telah dikonfirmasi, terapi antialergi dan pengendalian faktor pencetus tetap harus dilanjutkan setelah operasi untuk mengurangi gejala yang menetap, mencegah kekambuhan inflamasi, serta mengoptimalkan luaran jangka panjang.

Kesimpulan

Hipertrofi adenoid dan rinitis alergi memiliki hubungan yang erat melalui mekanisme inflamasi tipe 2 yang dimediasi IgE, eosinofil, dan sitokin Th2. Anak dengan rinitis alergi cenderung mengalami pembesaran adenoid yang lebih berat dan memberikan respons pascaoperasi yang kurang optimal apabila inflamasi alergi tidak dikendalikan. Alergi makanan diduga berkontribusi secara tidak langsung melalui mekanisme allergic march, meskipun bukti ilmiah mengenai hubungan langsung masih terbatas. Oleh karena itu, evaluasi dan tata laksana alergi merupakan bagian penting dalam pendekatan komprehensif terhadap anak dengan hipertrofi adenoid.

Daftar Pustaka

  • Gupta N, Saraf N, Saraf A, et al. Allergy and Adenoids: Is There any Correlation? Indian Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery. 2024;76:4554-4558.
  • Colavita L, Miraglia Del Giudice M, Stroscio G, et al. Allergic Rhinitis and Adenoid Hypertrophy in Children: Is Adenoidectomy Always Really Useful? Journal of Biological Regulators and Homeostatic Agents. 2015;29(Suppl 1):58-63.
  • Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, et al. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to Future Research. Sultan Qaboos University Medical Journal. 2018;18:e30-e33.

 

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *