ALERGI MAKANAN PADA LANSIA: DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN BERBASIS BUKTI
Alergi makanan merupakan penyakit imunologis yang juga dapat ditemukan pada kelompok lansia, meskipun prevalensinya lebih rendah dibandingkan usia muda. Perubahan sistem imun akibat penuaan, perubahan fungsi saluran cerna, penggunaan berbagai obat, serta adanya penyakit penyerta dapat memengaruhi manifestasi klinis alergi makanan pada lansia. Gejalanya dapat melibatkan berbagai organ, mulai dari kulit, saluran cerna, saluran napas, sistem saraf, muskuloskeletal, hormonal, hingga reaksi sistemik yang mengancam jiwa. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis yang cermat, pemeriksaan penunjang sesuai indikasi, dan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas bila tidak terdapat kontraindikasi. Penatalaksanaan bertujuan mengendalikan gejala, mempertahankan status gizi, mencegah komplikasi, dan menghindari eliminasi makanan yang tidak diperlukan.
Jumlah populasi lansia terus meningkat sehingga penyakit alergi pada kelompok usia ini semakin sering dijumpai. Walaupun banyak alergi makanan berawal sejak masa kanak-kanak, sebagian dapat menetap hingga usia lanjut atau bahkan muncul pertama kali pada lansia. Penurunan fungsi sawar mukosa saluran cerna, perubahan mikrobiota usus, imunosenescence, penyakit kronis, serta penggunaan obat-obatan tertentu diduga berperan dalam meningkatkan kerentanan terhadap reaksi alergi makanan.
Diagnosis alergi makanan pada lansia sering lebih sulit karena gejalanya menyerupai penyakit degeneratif, efek samping obat, intoleransi makanan, maupun penyakit saluran cerna. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan diagnosis yang sistematis agar tidak terjadi salah diagnosis maupun overdiagnosis.
Alergi makanan merupakan respons imun abnormal terhadap protein makanan yang dimediasi oleh mekanisme IgE, non-IgE, atau campuran keduanya. Reaksi yang dimediasi IgE umumnya timbul dalam beberapa menit hingga dua jam setelah konsumsi makanan, sedangkan reaksi non-IgE berkembang lebih lambat dan lebih sering mengenai saluran cerna. Pada lansia, manifestasi klinis sering lebih kompleks karena dipengaruhi penyakit penyerta dan perubahan fisiologis akibat proses penuaan.
Tabel. Manifestasi Alergi Makanan pada Lansia Berdasarkan Sistem Organ
| Sistem organ | Manifestasi klinis |
|---|---|
| Kulit | Dermatitis, urtikaria, pruritus, ruam, angioedema, eksim |
| Saluran cerna | Mual, muntah, refluks, nyeri perut, kembung, diare, konstipasi, disfagia, gangguan nafsu makan |
| Saluran napas atas | Bersin berulang, rinitis alergi, hidung tersumbat, rinore, sinusitis berulang, postnasal drip |
| Saluran napas bawah | Batuk kronis, mengi, sesak napas, eksaserbasi asma |
| Mata | Mata gatal, merah, berair, edema kelopak mata |
| Telinga, hidung, tenggorok | Gatal tenggorok, suara serak, telinga penuh, otitis berulang |
| Rongga mulut | Sindrom alergi oral, bibir gatal, lidah bengkak, kesemutan pada mulut |
| Sistem imun | Inflamasi kronis, infeksi saluran napas berulang, common cold berulang, influenza berulang, rinosinusitis berulang, penyembuhan infeksi lebih lambat |
| Sistem saraf | Pusing, sakit kepala, gangguan konsentrasi, gangguan memori, kelelahan, gangguan tidur |
| Psikologis dan perilaku | Ansietas, perubahan suasana hati, iritabilitas, penurunan kualitas hidup |
| Endokrin dan hormonal | Perburukan kontrol diabetes, perubahan metabolisme, penurunan toleransi stres fisiologis |
| Muskuloskeletal | Nyeri otot, nyeri sendi, kelemahan otot, penurunan aktivitas fisik |
| Tulang | Peningkatan risiko osteopenia dan osteoporosis akibat eliminasi makanan jangka panjang yang tidak tepat |
| Nutrisi | Malnutrisi, sarkopenia, penurunan berat badan, defisiensi protein, kalsium, vitamin D, vitamin B12, zat besi |
| Kardiovaskular | Hipotensi, sinkop, syok anafilaksis |
| Reaksi sistemik | Anafilaksis dengan keterlibatan multiorgan yang memerlukan terapi segera |
Diagnosis alergi makanan pada lansia tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala atau hasil pemeriksaan laboratorium. Riwayat hubungan antara konsumsi makanan dan timbulnya gejala tetap menjadi dasar utama evaluasi. Skin prick test dan pemeriksaan IgE spesifik membantu mengidentifikasi sensitisasi, tetapi tidak selalu menunjukkan alergi yang bermakna secara klinis. Oral Food Challenge tetap menjadi baku emas untuk memastikan diagnosis pada pasien yang memenuhi syarat, dengan mempertimbangkan kondisi klinis dan risiko anafilaksis.
Penatalaksanaan meliputi eliminasi makanan yang telah terbukti menyebabkan reaksi, edukasi pasien dan keluarga, pemantauan status gizi, serta evaluasi berkala terhadap perkembangan toleransi. Eliminasi makanan sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil evaluasi klinis dan, bila memungkinkan, konfirmasi melalui Oral Food Challenge. Pada lansia, perhatian khusus perlu diberikan terhadap pencegahan malnutrisi, sarkopenia, dan defisiensi mikronutrien. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, ahli alergi-imunologi, ahli gizi, dan dokter geriatri dapat membantu mengoptimalkan hasil terapi.
KESIMPULAN
Alergi makanan pada lansia merupakan penyakit multisistem yang dapat memengaruhi berbagai organ dan sering sulit dibedakan dari penyakit degeneratif maupun efek samping obat. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis yang cermat dan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge bila memungkinkan. Penatalaksanaan yang tepat bertujuan mengendalikan gejala, mempertahankan status gizi, mencegah komplikasi, serta menjaga fungsi fisik dan kualitas hidup lansia.
DAFTAR PUSTAKA
- Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018.
- Muraro A, et al. EAACI Guidelines on the Diagnosis and Management of IgE-Mediated Food Allergy. Allergy.
- Boyce JA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2010.
- Fiocchi A, et al. World Allergy Organization Position Paper. Oral Food Challenge Testing.
- World Allergy Organization. DRACMA Guidelines for Cow’s Milk Allergy.
- NIAID-Sponsored Expert Panel. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy.
- Turner PJ, Campbell DE, Boyle RJ, Levin ME. Primary Care Management of Food Allergy. BMJ. 2022.
- EAACI Task Force on Food Allergy. Food Allergy in Older Adults: Current Perspectives. Allergy.









Leave a Reply