TANDA DAN GEJALA ALERGI MAKANAN PADA DEWASA
Manifestasi klinis alergi makanan pada orang dewasa sangat beragam, mulai dari gejala ringan yang hanya mengenai satu organ hingga reaksi sistemik berupa anafilaksis yang mengancam jiwa. Gejala umumnya muncul dalam beberapa menit sampai dua jam setelah mengonsumsi makanan penyebab pada alergi yang dimediasi IgE. Namun, pada beberapa kondisi tertentu, seperti alpha-gal syndrome, reaksi dapat muncul 3 sampai 6 jam setelah mengonsumsi daging mamalia. Pada reaksi non-IgE, gejala biasanya berkembang lebih lambat dan didominasi kelainan saluran cerna.
MANIFESTASI PADA KULIT
Kulit merupakan organ yang paling sering terkena pada alergi makanan. Keluhan dapat berupa gatal, kemerahan, urtikaria, bentol, ruam, hingga angioedema pada bibir, wajah, kelopak mata, lidah, tangan, atau kaki. Pada sebagian penderita, kelainan kulit merupakan satu-satunya manifestasi, tetapi pada reaksi yang lebih berat sering disertai gangguan saluran napas atau kardiovaskular. Dermatitis atopik juga dapat memburuk setelah pajanan makanan tertentu pada sebagian kecil pasien yang telah terbukti memiliki alergi makanan.
MANIFESTASI PADA MULUT DAN TENGGOROKAN
Reaksi pada rongga mulut dan saluran napas atas sering muncul sangat cepat setelah makanan dikonsumsi. Pasien dapat mengeluhkan gatal pada bibir, lidah, langit-langit mulut, atau tenggorokan, disertai pembengkakan bibir dan lidah. Sebagian penderita mengalami suara serak, rasa mengganjal di tenggorokan, sulit menelan, atau sensasi tenggorokan menyempit. Pada pollen food allergy syndrome, gejala biasanya terbatas pada rongga mulut dan muncul setelah mengonsumsi buah atau sayuran mentah yang memiliki reaktivitas silang dengan serbuk sari.
MANIFESTASI SALURAN CERNA
Gejala gastrointestinal merupakan manifestasi yang sering dijumpai, terutama pada alergi makanan IgE maupun non-IgE. Keluhan meliputi mual, muntah, nyeri perut, kram, kembung, diare, konstipasi, refluks gastroesofageal, rasa penuh setelah makan, serta peningkatan frekuensi buang angin. Pada eosinophilic esophagitis dapat ditemukan disfagia kronis, impaksi makanan, dan nyeri dada. Pada food protein-induced enterocolitis syndrome dewasa, muntah berat dan diare dapat muncul beberapa jam setelah konsumsi makanan pemicu.
MANIFESTASI SALURAN PERNAPASAN
Keterlibatan sistem pernapasan dapat mengenai saluran napas atas maupun bawah. Gejala meliputi bersin, pilek, hidung tersumbat, hidung gatal, batuk, suara mengi, sesak napas, stridor, peningkatan kerja napas, dan eksaserbasi asma. Gangguan jalan napas merupakan salah satu tanda reaksi alergi berat yang memerlukan penanganan segera karena dapat berkembang menjadi anafilaksis.
MANIFESTASI MATA
Reaksi alergi dapat menyebabkan mata merah, gatal, berair, sensasi terbakar, dan pembengkakan kelopak mata. Gejala ini sering muncul bersamaan dengan rinitis alergi atau manifestasi kulit.
MANIFESTASI TELINGA
Sebagian pasien mengalami gatal pada liang telinga, rasa penuh pada telinga, atau ketidaknyamanan di sekitar telinga sebagai bagian dari respons alergi sistemik. Walaupun tidak spesifik, keluhan ini dapat membantu mengenali reaksi alergi bila disertai gejala pada organ lain.
MANIFESTASI KARDIOVASKULAR
Pada reaksi yang berat dapat terjadi hipotensi, takikardia, jantung berdebar, pusing, hampir pingsan, sinkop, hingga syok anafilaktik. Manifestasi kardiovaskular menunjukkan keterlibatan sistemik dan memerlukan pemberian adrenalin intramuskular sesegera mungkin.
MANIFESTASI NEUROLOGIS DAN PERILAKU
Sebagian penderita mengalami sakit kepala, pusing, lemas, mengantuk, sulit berkonsentrasi, gelisah, atau perubahan perilaku selama reaksi alergi. Manifestasi ini sering terjadi bersamaan dengan gangguan sistem organ lain dan dapat menjadi tanda awal anafilaksis.
MANIFESTASI OTOT DAN SENDI
Walaupun lebih jarang, beberapa pasien melaporkan nyeri otot, pegal, nyeri sendi, atau kelemahan umum setelah mengonsumsi makanan penyebab. Gejala ini biasanya merupakan bagian dari respons inflamasi sistemik.
MANIFESTASI SALURAN KEMIH DAN REPRODUKSI
Keluhan pada sistem urogenital relatif jarang. Beberapa pasien dapat mengalami peningkatan frekuensi berkemih, rasa tidak nyaman saat berkemih, atau gatal pada area genital. Manifestasi ini umumnya muncul bersamaan dengan reaksi sistemik dan bukan merupakan gejala utama.
ANAFILAKSIS
Anafilaksis merupakan bentuk paling berat dari alergi makanan dan dapat berkembang sangat cepat. Kondisi ini ditandai oleh keterlibatan dua atau lebih sistem organ, atau penurunan tekanan darah setelah pajanan alergen. Gejalanya meliputi urtikaria luas, angioedema, sesak napas, mengi, hipotensi, penurunan kesadaran, kolaps sirkulasi, hingga henti jantung. Anafilaksis merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan pemberian adrenalin intramuskular segera, diikuti observasi dan penanganan lanjutan di fasilitas kesehatan.
Tabel. Manifestasi Klinis Alergi Makanan pada Dewasa Berdasarkan Organ Tubuh
| Organ/Sistem | Gejala Klinis |
|---|---|
| Kulit | Gatal, urtikaria, ruam, kemerahan, bentol, angioedema |
| Mulut dan Tenggorokan | Gatal bibir, lidah, tenggorokan, bengkak, suara serak, sulit menelan |
| Saluran Cerna | Mual, muntah, nyeri perut, kram, kembung, diare, konstipasi, refluks |
| Saluran Napas Atas | Bersin, pilek, hidung tersumbat, hidung gatal |
| Saluran Napas Bawah | Batuk, mengi, sesak napas, dada terasa berat, asma |
| Mata | Gatal, merah, berair, bengkak kelopak mata |
| Telinga | Gatal liang telinga, rasa penuh |
| Jantung dan Pembuluh Darah | Berdebar, hipotensi, pusing, sinkop, syok |
| Saraf | Sakit kepala, lemas, pusing, mengantuk, sulit konsentrasi |
| Psikologis | Gelisah, cemas, panik, perubahan perilaku |
| Otot dan Sendi | Nyeri otot, nyeri sendi, pegal |
| Saluran Kemih | Frekuensi berkemih meningkat, rasa tidak nyaman |
| Sistem Reproduksi | Gatal atau bengkak genital, jarang |
| Reaksi Sistemik | Anafilaksis, kolaps, penurunan kesadaran, henti napas, henti jantung |
INTERPRETASI KLINIS
Manifestasi alergi makanan pada dewasa sangat bervariasi sehingga diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala. Riwayat hubungan yang konsisten antara konsumsi makanan dan timbulnya keluhan merupakan dasar utama evaluasi. Skin prick test dan pemeriksaan IgE spesifik hanya menunjukkan sensitisasi dan tidak dapat membedakan sensitisasi tanpa gejala dengan alergi makanan yang benar. Oleh karena itu, oral food challenge tetap menjadi baku emas untuk mengonfirmasi diagnosis apabila riwayat klinis dan hasil pemeriksaan penunjang belum memberikan kepastian. Pendekatan berbasis bukti ini penting untuk menghindari overdiagnosis, pembatasan makanan yang tidak diperlukan, gangguan nutrisi, serta penurunan kualitas hidup pasien.









Leave a Reply