ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

ALERGI MAKANAN DAN RINITIS ALERGI

ALERGI MAKANAN DAN RINITIS ALERGI

Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Bukti Terkini

ABSTRAK

Rinitis alergi dan alergi makanan merupakan dua penyakit atopik yang sering ditemukan bersamaan. Walaupun hubungan antara alergi makanan dengan dermatitis atopik dan asma telah banyak diteliti, keterkaitan dengan rinitis alergi masih terus berkembang. Bukti menunjukkan bahwa alergi makanan pada awal kehidupan dapat meningkatkan risiko munculnya rinitis alergi di kemudian hari sebagai bagian dari perjalanan penyakit atopik. Pada orang dewasa, sebagian besar kasus rinitis yang berhubungan dengan makanan terjadi akibat reaktivitas silang antara alergen serbuk sari dan protein makanan, dikenal sebagai pollen food allergy syndrome. Artikel tinjauan ini membahas mekanisme patogenesis, hubungan epidemiologi, manifestasi klinis, perjalanan penyakit, diagnosis, serta implikasi klinis hubungan alergi makanan dan rinitis alergi berdasarkan bukti ilmiah terkini.

Kata kunci: alergi makanan, rinitis alergi, atopic march, pollen food allergy syndrome, IgE, oral food challenge.

PENDAHULUAN

Rinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi kronis tersering di dunia dan memengaruhi kualitas hidup, produktivitas kerja, prestasi belajar, serta kualitas tidur. Penyakit ini sering muncul bersamaan dengan asma, dermatitis atopik, dan alergi makanan sebagai bagian dari spektrum penyakit atopik.

Hubungan antara alergi makanan dan rinitis alergi bersifat kompleks. Pada bayi dan anak, alergi makanan sering menjadi manifestasi awal penyakit atopik yang kemudian berkembang menjadi rinitis alergi pada usia yang lebih besar. Sebaliknya, pada remaja dan dewasa, rinitis alergi sering mendahului munculnya gejala alergi terhadap buah, sayur, atau kacang akibat reaktivitas silang dengan alergen serbuk sari. Perbedaan mekanisme ini penting dipahami agar diagnosis dan penatalaksanaan lebih tepat.

DEFINISI

Alergi makanan merupakan reaksi imunologis terhadap protein makanan yang dimediasi IgE, non-IgE, atau kombinasi keduanya. Reaksi dapat mengenai kulit, saluran cerna, saluran napas, maupun sistem kardiovaskular.

Rinitis alergi adalah inflamasi mukosa hidung yang dimediasi IgE setelah pajanan alergen inhalan sehingga menimbulkan bersin, rinore, hidung tersumbat, dan hidung gatal. Pada sebagian pasien, makanan tertentu dapat memperberat gejala melalui mekanisme alergi primer maupun reaktivitas silang.

EPIDEMIOLOGI

Rinitis alergi mengenai sekitar 10 hingga 30% populasi dunia. Penyakit ini sering menetap hingga dewasa dan merupakan faktor risiko berkembangnya asma.

Pada anak dengan alergi makanan, risiko mengalami rinitis alergi lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Beberapa studi kohort menunjukkan sekitar sepertiga hingga hampir setengah anak dengan alergi makanan mengalami rinitis alergi pada usia sekolah. Risiko meningkat pada pasien dengan alergi terhadap susu sapi, telur, kacang tanah, atau memiliki lebih dari satu alergi makanan.

Pada orang dewasa, hubungan antara alergi makanan dan rinitis alergi lebih sering disebabkan pollen food allergy syndrome dibandingkan alergi makanan primer.

PATOGENESIS

Hubungan alergi makanan dan rinitis alergi melibatkan interaksi faktor genetik, lingkungan, sawar epitel, mikrobiota, dan sistem imun.

Pada alergi makanan primer, protein makanan melewati sawar mukosa yang terganggu sehingga memicu pembentukan IgE spesifik. Pajanan ulang menyebabkan aktivasi sel mast dan basofil dengan pelepasan histamin, leukotrien, prostaglandin, serta sitokin inflamasi.

Pada pollen food allergy syndrome, IgE terhadap protein serbuk sari mengenali protein homolog pada buah atau sayuran sehingga muncul gatal mulut, bibir, tenggorokan, atau kadang disertai gejala hidung setelah makan.

Gangguan toleransi oral, disfungsi sawar epitel, perubahan mikrobiota usus, serta predisposisi genetik juga berkontribusi terhadap perkembangan kedua penyakit tersebut.

ATOPIC MARCH

Konsep atopic march menjelaskan perjalanan alami penyakit atopik yang umumnya dimulai dengan dermatitis atopik dan alergi makanan pada awal kehidupan, kemudian berkembang menjadi asma dan rinitis alergi pada usia berikutnya.

Walaupun tidak semua pasien mengikuti pola tersebut, berbagai studi longitudinal menunjukkan bahwa alergi makanan dini merupakan salah satu prediktor kuat berkembangnya penyakit alergi saluran napas.

Model terbaru menunjukkan perjalanan penyakit atopik lebih heterogen dibandingkan konsep klasik. Tidak semua pasien mengalami urutan penyakit yang sama sehingga faktor genetik dan lingkungan tetap berperan penting.

PENGARUH ALERGI MAKANAN TERHADAP RINITIS ALERGI

Alergi makanan jarang menyebabkan rinitis alergi sebagai satu-satunya manifestasi. Sebagian besar pasien juga mengalami kelainan kulit, saluran cerna, atau saluran napas bawah.

Pada anak, alergi makanan meningkatkan risiko berkembangnya rinitis alergi beberapa tahun kemudian.

Pada dewasa, hubungan yang paling sering ditemukan adalah pollen food allergy syndrome. Pasien yang telah memiliki alergi serbuk sari mengalami gejala setelah mengonsumsi buah, sayuran, atau kacang tertentu akibat reaktivitas silang protein alergen.

POLLEN FOOD ALLERGY SYNDROME

Sindrom ini merupakan bentuk alergi makanan sekunder yang paling sering ditemukan pada penderita rinitis alergi.

Protein pada apel, pir, persik, kiwi, wortel, seledri, hazelnut, almond, dan beberapa buah lain memiliki struktur yang menyerupai protein serbuk sari sehingga dikenali oleh IgE yang sama.

Manifestasi umumnya berupa gatal pada bibir, lidah, rongga mulut, langit-langit mulut, dan tenggorokan segera setelah makan. Sebagian besar reaksi bersifat ringan, tetapi reaksi sistemik tetap dapat terjadi meskipun lebih jarang.

MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis dapat mengenai berbagai organ secara bersamaan.

Sistem Organ Manifestasi
Hidung Bersin, pilek, hidung gatal, hidung tersumbat
Mata Mata gatal, merah, berair
Mulut Bibir gatal, lidah gatal, pembengkakan bibir, oral allergy syndrome
Kulit Biduran, gatal, angioedema
Saluran cerna Mual, muntah, nyeri perut, diare
Paru Batuk, mengi, sesak napas
Sistemik Anafilaksis pada sebagian kecil pasien

DIAGNOSIS

Diagnosis diawali dengan anamnesis rinci mengenai hubungan antara konsumsi makanan dan timbulnya gejala.

Pemeriksaan skin prick test dan IgE spesifik membantu mengidentifikasi sensitisasi, tetapi tidak dapat memastikan bahwa makanan tersebut benar-benar menyebabkan gejala klinis.

Component-resolved diagnostics dapat membantu membedakan alergi primer dengan reaktivitas silang pada kasus tertentu.

Oral Food Challenge tetap menjadi baku emas untuk memastikan diagnosis alergi makanan apabila riwayat klinis dan pemeriksaan penunjang belum memberikan kepastian.

DIAGNOSIS BANDING

Beberapa kondisi yang perlu dibedakan meliputi intoleransi makanan, rinitis nonalergi, infeksi virus saluran napas atas, refluks gastroesofageal, sinusitis kronis, vasomotor rhinitis, serta efek iritan makanan pedas.

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan meliputi identifikasi makanan penyebab, edukasi pasien, penghindaran makanan yang telah terbukti menimbulkan reaksi, serta pengobatan rinitis alergi sesuai pedoman.

Antihistamin, kortikosteroid intranasal, dan irigasi hidung merupakan terapi utama rinitis alergi.

Pada pasien dengan risiko anafilaksis diperlukan edukasi mengenai pengenalan gejala dini serta penggunaan epinefrin auto-injector bila tersedia.

Imunoterapi alergen inhalan dapat memperbaiki gejala rinitis alergi dan pada sebagian pasien pollen food allergy syndrome juga dapat mengurangi gejala akibat reaktivitas silang.

ARAH PENELITIAN MASA DEPAN

Masih diperlukan penelitian prospektif berskala besar untuk menjelaskan hubungan kausal antara alergi makanan dan rinitis alergi.

Penelitian mengenai mikrobiota usus, epigenetik, metabolomik, biomarker toleransi oral, serta mekanisme reaktivitas silang diperkirakan akan memperjelas patogenesis kedua penyakit dan membuka peluang terapi yang lebih tepat sasaran.

KESIMPULAN

Alergi makanan dan rinitis alergi merupakan penyakit atopik yang saling berhubungan melalui berbagai mekanisme imunologis. Pada anak, alergi makanan dapat menjadi faktor risiko berkembangnya rinitis alergi sebagai bagian dari perjalanan penyakit atopik. Pada dewasa, hubungan yang paling sering ditemukan adalah pollen food allergy syndrome akibat reaktivitas silang antara serbuk sari dan protein makanan. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis yang baik dan didukung pemeriksaan alergi yang sesuai, sedangkan Oral Food Challenge tetap menjadi baku emas untuk memastikan alergi makanan. Pemahaman hubungan kedua penyakit ini akan meningkatkan ketepatan diagnosis, mencegah overdiagnosis, dan memperbaiki kualitas hidup pasien.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to Future Research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018;18(1):e30-e33. doi:10.18295/squmj.2018.18.01.005.
  2. Cingi C, Demirbas D, Songu M. Allergic rhinitis caused by food allergies. Eur Arch Otorhinolaryngol. 2010;267(9):1327-1335. doi:10.1007/s00405-010-1280-5.
  3. Warren CM, Nimmagadda SR, Gupta RS, Levin ME. The epidemiology of food allergy in adults. Ann Allergy Asthma Immunol. 2023;130(3):276-287. doi:10.1016/j.anai.2022.11.026.
  4. Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *