ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Bayi Usia 9 Bulan Susah Makan, Punya Alergi dan Asma. Apakah Penyebabnya Hanya Picky Eater?

Bayi Usia 9 Bulan Susah Makan, Punya Alergi dan Asma. Apakah Penyebabnya Hanya Picky Eater?

Pertanyaan

Dok, saya mau bertanya. Bayi saya sekarang berusia 9 bulan. Sejak mulai MPASI makannya susah sekali. Paling hanya mau beberapa sendok, setelah itu langsung menutup mulut atau menangis. Lebih sering maunya minum susu. Kalau dicoba daging, ikan, telur, atau makanan dengan tekstur yang lebih kasar, hampir selalu ditolak, bahkan kadang dimuntahkan lagi. Berat badannya juga susah naik. Selain itu, bayi saya punya eksim sejak usia 3 bulan, sering batuk berbunyi ngik-ngik dan dokter pernah bilang mengarah ke asma, hidung juga sering tersumbat dan bersin. Setelah makan tertentu kadang perutnya kembung, sering gumoh, BAB kadang keras, dan tidurnya sering gelisah. Saya jadi bingung, apakah anak saya memang hanya sedang fase picky eater, atau sebenarnya ada alergi makanan atau gangguan pencernaan yang membuatnya tidak nyaman saat makan?

Jawaban

Pada bayi usia 9 bulan, penolakan terhadap makanan memang dapat terjadi sebagai bagian dari proses adaptasi terhadap MPASI. Namun, bila kesulitan makan disertai berat badan yang sulit naik, penyakit alergi seperti dermatitis atopik atau eksim, mengi berulang yang mengarah ke asma, serta keluhan saluran cerna, kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih mendalam. Menurut konsensus Pediatric Feeding Disorder (PFD), gangguan makan yang memengaruhi status gizi, pertumbuhan, kesehatan medis, atau perkembangan keterampilan makan tidak lagi dianggap sebagai variasi perkembangan normal. Pada kondisi seperti ini, dokter tidak hanya menilai perilaku makan, tetapi juga mencari apakah terdapat penyakit yang menjadi penyebab anak menolak makan.

Hubungan antara alergi makanan dan gangguan makan telah banyak dilaporkan dalam penelitian. Pada sebagian bayi, alergi makanan tidak hanya menimbulkan bentol atau bengkak, tetapi juga menyebabkan peradangan kronis pada saluran cerna. Reaksi imun tersebut dapat menyebabkan refluks, muntah, perut kembung, nyeri perut, konstipasi, diare, atau rasa tidak nyaman setiap kali makan. Bayi kemudian belajar menghubungkan makan dengan rasa tidak nyaman sehingga secara perlahan mulai mengurangi jumlah makanan, menolak tekstur tertentu, atau hanya mau makanan yang dianggap aman. Kondisi ini dikenal sebagai secondary feeding aversion, yaitu penolakan makan yang muncul akibat pengalaman makan yang tidak menyenangkan.

Riwayat eksim dan asma juga meningkatkan kemungkinan adanya penyakit alergi secara keseluruhan. Dalam konsep “atopic march”, dermatitis atopik sering menjadi manifestasi pertama, kemudian dapat diikuti alergi makanan, asma, dan rinitis alergi pada sebagian anak yang memiliki predisposisi genetik. Walaupun tidak semua bayi dengan eksim atau asma mengalami alergi makanan, keberadaan beberapa penyakit atopi secara bersamaan meningkatkan kemungkinan bahwa gejala saluran cerna berkaitan dengan proses alergi. Oleh karena itu, dokter akan menilai hubungan antara makanan tertentu dengan munculnya gejala, riwayat keluarga yang memiliki penyakit alergi, pola pertumbuhan, dan perkembangan bayi secara menyeluruh.

Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan pemeriksaan IgE spesifik atau skin prick test. Kedua pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak selalu berarti makanan tersebut benar-benar menyebabkan gejala. Sebaliknya, pada alergi non-IgE, hasil pemeriksaan tersebut dapat tetap normal meskipun bayi mengalami keluhan saluran cerna yang jelas. Karena itu, diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis yang rinci, pemeriksaan fisik, eliminasi makanan yang dilakukan secara terarah, serta Oral Food Challenge sebagai baku emas bila diperlukan. Pendekatan berbasis bukti ini membantu menghindari overdiagnosis maupun pantangan makanan yang tidak perlu, yang justru dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi.

Selain alergi makanan, dokter juga harus mempertimbangkan penyebab lain, seperti penyakit refluks gastroesofageal, gangguan oral motor, eosinophilic esophagitis, defisiensi zat besi, infeksi kronis, maupun gangguan penyerapan nutrisi. Semua kondisi tersebut dapat menyebabkan bayi merasa nyeri atau tidak nyaman ketika makan sehingga muncul perilaku menolak makan. Oleh sebab itu, pemberian vitamin penambah nafsu makan, penggantian susu berulang kali, atau pemaksaan makan sering kali tidak memberikan hasil apabila penyebab utamanya belum diatasi.

Apabila penyebab yang mendasari berhasil ditemukan dan ditangani, sebagian besar bayi menunjukkan perbaikan yang nyata. Peradangan pada saluran cerna berkurang, rasa tidak nyaman saat makan menghilang, bayi mulai menerima lebih banyak jenis makanan dan tekstur, nafsu makan meningkat, kualitas tidur membaik, serta berat badan kembali mengikuti kurva pertumbuhan yang sesuai. Penanganan yang optimal memerlukan pendekatan multidisiplin yang mencakup dokter anak, ahli gizi, dan bila diperlukan terapis makan. Dengan diagnosis yang tepat dan terapi berbasis bukti, sebagian besar bayi dengan kesulitan makan akibat alergi atau gangguan pencernaan dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *