ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Sindrom Kandung Kemih Alergi pada Anak: Konsep Baru Hubungan Penyakit Alergi, Overactive Bladder, dan Gangguan Berkemih

Sindrom Kandung Kemih Alergi pada Anak: Konsep Baru Hubungan Penyakit Alergi, Overactive Bladder, dan Gangguan Berkemih Berdasarkan Bukti Ilmiah

Sindrom Kandung Kemih Alergi (Allergic Bladder Syndrome) merupakan konsep yang menggambarkan gangguan fungsi kandung kemih yang berkaitan dengan aktivasi sistem imun alergi, pelepasan histamin, dan inflamasi kronis. Walaupun belum menjadi diagnosis resmi dalam klasifikasi International Children’s Continence Society (ICCS) maupun International Classification of Diseases (ICD), semakin banyak bukti menunjukkan bahwa penyakit alergi seperti rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, alergi makanan, dan peningkatan kadar imunoglobulin E (IgE) berhubungan dengan meningkatnya kejadian Overactive Bladder (OAB), urgensi berkemih, frekuensi berkemih meningkat, serta nokturnal enuresis pada anak. Aktivasi sel mast pada dinding kandung kemih menyebabkan pelepasan histamin, leukotrien, prostaglandin, dan sitokin yang meningkatkan sensitivitas saraf kandung kemih dan kontraksi otot detrusor. Selain itu, alergi non-IgE saluran cerna dan konstipasi kronis dapat memperburuk gangguan berkemih melalui mekanisme inflamasi dan penekanan mekanis terhadap kandung kemih. Artikel ini mengulas konsep Sindrom Kandung Kemih Alergi berdasarkan bukti ilmiah terkini serta implikasinya terhadap diagnosis dan tata laksana anak dengan gangguan berkemih. (PubMed Central (PMC))

Perubahan Paradigma Gangguan Berkemih pada Anak

Selama bertahun-tahun Overactive Bladder dianggap sebagai gangguan yang terutama berasal dari disfungsi otot detrusor atau gangguan kontrol saraf kandung kemih. Namun, penelitian dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa sistem imun juga berperan dalam patogenesis gangguan berkemih. Pada anak dengan penyakit alergi ditemukan angka kejadian OAB yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum, sehingga muncul konsep bahwa pada sebagian pasien terdapat suatu “Sindrom Kandung Kemih Alergi”. Konsep ini bukan merupakan diagnosis resmi, tetapi merupakan istilah fisiopatologis yang membantu menjelaskan keterkaitan antara inflamasi alergi dan disfungsi kandung kemih. (PubMed Central (PMC))

Dasar Ilmiah

Penelitian Yin dan kolega menganalisis 918 anak dengan Overactive Bladder dan menemukan hubungan bermakna antara OAB dengan penyakit alergi, terutama rinitis alergi, batuk alergi, dermatitis atopik, peningkatan IgE, dan riwayat atopi. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pemberian antihistamin desloratadin memperbaiki gejala OAB pada sebagian besar anak yang memiliki penyakit alergi, sehingga memperkuat dugaan adanya peran mediator alergi dalam patogenesis gangguan kandung kemih. (PubMed Central (PMC))

Patofisiologi Sindrom Kandung Kemih Alergi

Sel mast terdapat pada urotelium, lamina propria, dan otot detrusor kandung kemih. Ketika alergen memicu respons imun, sel mast mengalami degranulasi dan melepaskan histamin, leukotrien, prostaglandin, triptase, serta berbagai sitokin proinflamasi. Histamin berikatan dengan reseptor H1 pada kandung kemih sehingga meningkatkan kontraksi otot detrusor, menurunkan ambang rangsang saraf sensorik, dan meningkatkan sensitivitas kandung kemih. Akibatnya, anak merasakan keinginan berkemih walaupun volume urin masih sedikit. (PubMed Central (PMC))

Selain respons IgE, inflamasi yang dimediasi limfosit T pada alergi non-IgE juga diduga berkontribusi melalui pelepasan sitokin yang mempertahankan inflamasi sistemik. Walaupun bukti langsung pada kandung kemih masih terbatas, mekanisme ini dianggap berpotensi memengaruhi fungsi saraf otonom dan otot polos kandung kemih. (MDPI)

Penyakit Alergi yang Berhubungan dengan Sindrom Kandung Kemih Alergi

Penyakit yang paling sering dilaporkan meliputi:

  • rinitis alergi
  • asma
  • dermatitis atopik
  • urtikaria
  • alergi makanan
  • peningkatan kadar IgE
  • alergi non-IgE saluran cerna
  • aktivasi sel mast

Rinitis alergi memiliki hubungan yang paling konsisten karena inflamasi sistemik dan gangguan tidur akibat hidung tersumbat dapat meningkatkan risiko urgensi berkemih dan mengompol saat tidur malam. (PubMed Central (PMC))

Gejala Klinis

Anak dengan dugaan Sindrom Kandung Kemih Alergi dapat mengalami:

  • urgensi berkemih
  • frekuensi berkemih meningkat
  • nokturia
  • mengompol pada siang hari
  • mengompol saat tidur malam
  • buang air kecil sedikit tetapi sering
  • sering berlari ke toilet
  • manuver menahan kencing
  • rasa berkemih tidak tuntas

Keluhan tersebut sering disertai:

  • bersin berulang
  • hidung tersumbat
  • batuk malam
  • asma
  • eksim
  • gatal-gatal
  • konstipasi
  • refluks gastroesofageal
  • muntah
  • nyeri perut
  • diare berulang
  • sulit makan
  • berat badan sulit naik

Peran Alergi Makanan dan Konstipasi

Alergi makanan, terutama bentuk non-IgE, dapat menyebabkan inflamasi kronis saluran cerna, refluks, konstipasi, diare, dan gangguan makan. Konstipasi kronis menyebabkan rektum penuh oleh tinja sehingga menekan kandung kemih, menurunkan kapasitas fungsional kandung kemih, dan meningkatkan urgensi maupun inkontinensia urin. Oleh karena itu, evaluasi OAB harus selalu mencakup penilaian fungsi saluran cerna. (PubMed Central (PMC))

Tabel. Perbandingan Overactive Bladder Konvensional dan Dugaan Sindrom Kandung Kemih Alergi

Karakteristik OAB konvensional Dugaan Sindrom Kandung Kemih Alergi
Urgensi berkemih Ya Ya
Frekuensi berkemih meningkat Ya Ya
Nokturnal enuresis Dapat terjadi Sering ditemukan
Rinitis alergi Tidak khas Sering
Asma Tidak khas Sering
Dermatitis atopik Tidak khas Sering
Alergi makanan Tidak khas Sering
Konstipasi Dapat terjadi Sering menyertai
IgE meningkat Tidak khas Dapat ditemukan
Respons terhadap terapi alergi Tidak konsisten Dapat membaik pada sebagian pasien

Diagnosis

Saat ini belum terdapat kriteria diagnostik resmi untuk Sindrom Kandung Kemih Alergi. Diagnosis dilakukan dengan mengidentifikasi gejala OAB, menyingkirkan infeksi saluran kemih dan kelainan anatomi, kemudian mengevaluasi penyakit alergi yang menyertai. Pemeriksaan dapat meliputi urinalisis, ultrasonografi bila diperlukan, evaluasi konstipasi, penilaian riwayat atopi, serta pemeriksaan alergi sesuai indikasi klinis. Pada dugaan alergi makanan, diagnosis sebaiknya mengikuti pedoman internasional, termasuk eliminasi makanan yang terarah dan Oral Food Challenge bila diindikasikan, karena pemeriksaan IgE dan skin prick test tidak dapat menyingkirkan alergi non-IgE. (PubMed Central (PMC))

Tata Laksana

Pendekatan terapi bersifat multidisiplin dan meliputi:

  • uroterapi
  • pengobatan konstipasi
  • pengendalian rinitis alergi
  • pengendalian asma
  • tata laksana dermatitis atopik
  • evaluasi alergi makanan
  • terapi OAB sesuai indikasi
  • edukasi keluarga

Pada sebagian anak dengan penyakit alergi, pengendalian inflamasi alergi dapat diikuti oleh perbaikan gejala berkemih. Namun, bukti saat ini masih menunjukkan hubungan asosiasi dan belum membuktikan hubungan sebab akibat secara pasti. Diperlukan penelitian prospektif lebih lanjut untuk menetapkan apakah Sindrom Kandung Kemih Alergi merupakan entitas klinis tersendiri. (PubMed Central (PMC))

Kesimpulan

Sindrom Kandung Kemih Alergi merupakan konsep fisiopatologis yang semakin didukung oleh bukti penelitian mengenai hubungan penyakit alergi dengan Overactive Bladder pada anak. Aktivasi sel mast, pelepasan histamin, dan inflamasi kronis diduga menjadi mekanisme utama yang menghubungkan rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, alergi makanan, alergi non-IgE, dan konstipasi dengan gangguan fungsi kandung kemih. Walaupun istilah ini belum diakui sebagai diagnosis resmi, dokter perlu mempertimbangkan penyakit alergi sebagai komorbid penting pada anak dengan OAB atau nokturnal enuresis agar evaluasi dan penatalaksanaan menjadi lebih komprehensif. (PubMed Central (PMC))

Daftar Pustaka

  • Yin L, Zhang Z, Zheng Y, et al. Clinical Correlation Between Overactive Bladder and Allergy in Children. Front Pediatr. 2022;9:813161. (PubMed Central (PMC))
  • Austin PF, Bauer SB, Bower W, et al. The Standardization of Terminology of Lower Urinary Tract Function in Children and Adolescents. Neurourol Urodyn. 2016;35:471-481.
  • Franco I. Overactive Bladder in Children. Part 1. Pathophysiology. J Urol. 2007;178:761-768.
  • European Association of Urology. EAU Guidelines on Paediatric Urology. Latest edition.
  • Chang SJ, Van Laecke E, Bauer SB, et al. Treatment of Daytime Urinary Incontinence in Children. J Pediatr Urol. 2017.
Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *