Pemeriksaan Diagnosis Alergi yang Direkomendasikan dan Tidak Direkomendasikan: Tinjauan Berbasis Bukti Berdasarkan Pedoman WAO, EAACI, AAAAI, CSACI, ASCIA, dan NICE
Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Abstrak
Diagnosis alergi yang akurat merupakan dasar utama dalam menentukan tata laksana yang tepat, mencegah pembatasan makanan yang tidak diperlukan, serta menghindari overdiagnosis maupun underdiagnosis. Berbagai pemeriksaan laboratorium dan metode alternatif saat ini tersedia untuk membantu evaluasi alergi. Namun, tidak seluruh pemeriksaan memiliki validitas, reliabilitas, dan manfaat klinis yang telah dibuktikan melalui penelitian berkualitas tinggi. Organisasi internasional, termasuk World Allergy Organization (WAO), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology (CSACI), Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA), serta National Institute for Health and Care Excellence (NICE), secara konsisten merekomendasikan penggunaan pemeriksaan yang telah tervalidasi secara ilmiah dan tidak menganjurkan penggunaan metode yang belum terbukti akurasinya.
Pendekatan diagnosis alergi harus diawali dengan anamnesis yang komprehensif dan pemeriksaan fisik, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang yang dipilih berdasarkan dugaan klinis. Pada alergi yang diperantarai imunoglobulin E (IgE), skin prick test (SPT) dan pemeriksaan serum specific IgE (sIgE) merupakan pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan. Component-resolved diagnostics (CRD) dapat digunakan pada indikasi tertentu untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan stratifikasi risiko. Pada dugaan alergi makanan, oral food challenge (OFC) tetap menjadi baku emas untuk memastikan atau menyingkirkan diagnosis. Sebaliknya, berbagai metode seperti panel IgE tanpa indikasi klinis, pemeriksaan IgG makanan, bioresonansi, electrodermal testing, applied kinesiology, hair analysis, iridology, pulse testing, dan leukocytotoxic test (ALCAT) tidak direkomendasikan karena belum memiliki bukti ilmiah yang memadai mengenai validitas diagnostik maupun manfaat klinis. Artikel ini merangkum pemeriksaan yang direkomendasikan dan yang tidak direkomendasikan berdasarkan pedoman internasional terkini.
Pendahuluan
Alergi merupakan penyakit yang terjadi akibat respons imun terhadap alergen yang pada individu sehat umumnya tidak menimbulkan reaksi. Manifestasi klinis alergi sangat beragam, meliputi dermatitis atopik, urtikaria, rinitis alergi, asma, gangguan saluran cerna, hingga anafilaksis. Karena gejala tersebut juga dapat dijumpai pada berbagai penyakit lain, diagnosis alergi harus dilakukan secara sistematis menggunakan pendekatan berbasis bukti.
Kemajuan teknologi telah menghasilkan berbagai pemeriksaan laboratorium dan metode alternatif yang diklaim mampu mendiagnosis alergi secara cepat. Meskipun demikian, suatu pemeriksaan hanya dapat digunakan dalam praktik klinis apabila telah menunjukkan validitas, reliabilitas, sensitivitas, spesifisitas, serta manfaat klinis yang memadai. Seluruh organisasi alergi internasional menekankan bahwa pemeriksaan laboratorium tidak boleh menggantikan anamnesis dan pemeriksaan fisik sebagai dasar diagnosis.
Hingga saat ini hanya sebagian kecil pemeriksaan yang telah terbukti bermanfaat dalam diagnosis alergi. Sebaliknya, sejumlah metode alternatif masih dipasarkan kepada masyarakat meskipun tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat dan berpotensi menyebabkan salah diagnosis, diet eliminasi yang tidak diperlukan, peningkatan biaya pelayanan kesehatan, serta keterlambatan diagnosis penyakit lain.
Prinsip Diagnosis Alergi Berbasis Bukti
Diagnosis alergi merupakan proses bertahap yang mengintegrasikan informasi klinis dengan pemeriksaan penunjang yang tepat. Langkah pertama adalah anamnesis yang rinci mengenai jenis gejala, waktu timbulnya reaksi, hubungan dengan pajanan alergen, riwayat atopi pasien dan keluarga, serta faktor pencetus. Pemeriksaan fisik kemudian dilakukan untuk menilai manifestasi klinis dan kemungkinan diagnosis banding.
Apabila terdapat dugaan alergi yang diperantarai IgE, pemeriksaan skin prick test atau serum specific IgE dipilih sesuai alergen yang dicurigai. Pemeriksaan tersebut bukan merupakan alat skrining terhadap seluruh alergen dan hasilnya harus selalu diinterpretasikan bersama gambaran klinis. Pada kasus tertentu, component-resolved diagnostics dapat membantu meningkatkan akurasi diagnosis, terutama dalam membedakan sensitisasi primer dengan reaktivitas silang serta memperkirakan risiko reaksi sistemik.
Pada alergi makanan, oral food challenge merupakan baku emas karena mampu memastikan hubungan sebab akibat antara konsumsi makanan dan munculnya gejala. Sebaliknya, pemeriksaan yang belum tervalidasi tidak boleh digunakan sebagai dasar diagnosis maupun penentuan terapi.
Tabel 1. Pemeriksaan Diagnosis Alergi yang Direkomendasikan dan Tidak Direkomendasikan Menurut WAO, EAACI, AAAAI, CSACI, ASCIA, dan NICE
| Pemeriksaan | Status | Keterangan |
|---|---|---|
| Riwayat klinis (anamnesis) | Direkomendasikan | Dasar utama diagnosis alergi. Menentukan hubungan antara pajanan alergen dan timbulnya gejala. |
| Pemeriksaan fisik | Direkomendasikan | Menilai manifestasi klinis dan membantu diagnosis banding. |
| Skin Prick Test (SPT) | Direkomendasikan | Pemeriksaan pilihan untuk alergi yang diperantarai IgE bila terdapat dugaan klinis. Harus diinterpretasikan bersama riwayat klinis. |
| Serum specific IgE (sIgE) | Direkomendasikan | Dipilih berdasarkan alergen yang dicurigai. Tidak digunakan sebagai pemeriksaan skrining. |
| Component-Resolved Diagnostics (CRD) | Direkomendasikan pada indikasi tertentu | Membantu meningkatkan akurasi diagnosis dan stratifikasi risiko pada kasus kompleks. |
| Oral Food Challenge (OFC) | Direkomendasikan | Baku emas untuk memastikan atau menyingkirkan alergi makanan. |
| Atopy Patch Test | Direkomendasikan terbatas | Hanya pada kondisi klinis tertentu. Tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin alergi makanan. |
| Total IgE | Tidak direkomendasikan sebagai alat diagnosis tunggal | Tidak memiliki sensitivitas maupun spesifisitas yang cukup untuk menegakkan diagnosis alergi. |
| Panel IgE makanan tanpa indikasi klinis | Tidak direkomendasikan | Meningkatkan risiko overdiagnosis dan diet eliminasi yang tidak diperlukan. |
| Pemeriksaan IgG atau IgG4 makanan | Tidak direkomendasikan | Mencerminkan pajanan atau toleransi terhadap makanan, bukan alergi makanan. |
| Bioresonansi | Tidak direkomendasikan | Tidak memiliki validitas maupun akurasi diagnostik yang didukung bukti ilmiah. |
| Electrodermal testing (Vega test) | Tidak direkomendasikan | Tidak mampu membedakan penderita alergi dari individu sehat secara konsisten. |
| Applied kinesiology | Tidak direkomendasikan | Tidak memiliki dasar biologis maupun validasi ilmiah. |
| Hair analysis | Tidak direkomendasikan | Tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis alergi. |
| Iridology | Tidak direkomendasikan | Tidak memiliki hubungan dengan mekanisme imunologi alergi. |
| Pulse testing | Tidak direkomendasikan | Tidak didukung oleh bukti ilmiah yang memadai. |
| Leukocytotoxic test (ALCAT) | Tidak direkomendasikan | Akurasi rendah, reproduksibilitas buruk, dan belum tervalidasi. |
Pemeriksaan yang Direkomendasikan
Pemeriksaan yang direkomendasikan merupakan metode yang telah melalui proses validasi ilmiah dan terbukti memberikan manfaat klinis. Skin prick test dan serum specific IgE memiliki sensitivitas yang baik untuk mendeteksi sensitisasi terhadap alergen yang diperantarai IgE, tetapi keduanya tidak dapat berdiri sendiri sebagai dasar diagnosis. Hasil positif hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan harus dikaitkan dengan riwayat klinis.
Component-resolved diagnostics merupakan perkembangan terbaru yang memungkinkan identifikasi protein alergen secara lebih spesifik. Pemeriksaan ini terutama bermanfaat pada pasien dengan hasil pemeriksaan yang kompleks, dugaan reaktivitas silang, atau untuk memperkirakan risiko reaksi berat.
Oral food challenge tetap merupakan standar acuan karena mampu membuktikan secara langsung hubungan antara konsumsi makanan dan timbulnya gejala alergi.
Pemeriksaan yang Tidak Direkomendasikan
Seluruh organisasi alergi internasional sepakat bahwa berbagai metode yang belum tervalidasi tidak boleh digunakan sebagai dasar diagnosis alergi. Pemeriksaan IgG makanan sering disalahartikan sebagai pemeriksaan alergi, padahal peningkatan IgG atau IgG4 justru mencerminkan pajanan berulang dan perkembangan toleransi imun terhadap makanan.
Panel IgE makanan yang dilakukan tanpa dugaan klinis juga tidak dianjurkan karena meningkatkan kemungkinan hasil positif yang tidak bermakna secara klinis. Kondisi ini dapat menyebabkan pembatasan makanan yang tidak diperlukan serta meningkatkan risiko gangguan nutrisi, khususnya pada anak.
Metode alternatif seperti bioresonansi, electrodermal testing, applied kinesiology, hair analysis, iridology, pulse testing, dan leukocytotoxic test hingga kini belum memiliki bukti ilmiah yang menunjukkan validitas diagnostik maupun manfaat klinis. Sebagian besar penelitian menunjukkan akurasi yang rendah, reproduksibilitas yang buruk, serta hasil yang tidak konsisten apabila dibandingkan dengan pemeriksaan standar.
Kesimpulan
Pedoman WAO, EAACI, AAAAI, CSACI, ASCIA, dan NICE secara konsisten merekomendasikan pendekatan diagnosis alergi yang berbasis anamnesis, pemeriksaan fisik, serta penggunaan pemeriksaan penunjang yang telah tervalidasi sesuai indikasi klinis. Skin prick test, serum specific IgE, component-resolved diagnostics pada indikasi tertentu, dan oral food challenge merupakan pemeriksaan yang memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Sebaliknya, pemeriksaan seperti panel IgE tanpa indikasi klinis, IgG makanan, bioresonansi, electrodermal testing, applied kinesiology, hair analysis, iridology, pulse testing, dan leukocytotoxic test tidak direkomendasikan karena belum memiliki validitas diagnostik yang memadai. Penggunaan metode tersebut berpotensi menyebabkan salah diagnosis, pembatasan makanan yang tidak diperlukan, peningkatan biaya pelayanan kesehatan, serta keterlambatan penanganan penyakit yang sebenarnya.
Daftar Pustaka
- Ansotegui IJ, Melioli G, Canonica GW, Caraballo L, Villa E, Ebisawa M, et al. IgE allergy diagnostics and other relevant tests in allergy: A World Allergy Organization position paper. World Allergy Organ J. 2020;13(2):100080. doi:10.1016/j.waojou.2019.100080.
- Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, Roberts G, Beyer K, Bindslev-Jensen C, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: Diagnosis and Management of Food Allergy. Allergy. 2014;69(8):1008-1025. doi:10.1111/all.12429.
- Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, Jones SM, Sampson HA, Wood RA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(6 Suppl):S1-S58. doi:10.1016/j.jaci.2010.10.007.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy: A Review and Update on Epidemiology, Pathogenesis, Diagnosis, Prevention, and Management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
- Carr S, Chan ES, Lavine E, Moote W, Waserman S. CSACI position statement on the testing of food-specific IgG. Allergy Asthma Clin Immunol. 2012;8(1):12. doi:10.1186/1710-1492-8-12.
- National Institute for Health and Care Excellence. Food allergy in under 19s: assessment and diagnosis. NICE Clinical Guideline CG116. Updated 2024.
- Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy. Skin Prick Testing for the Diagnosis of Allergic Disease. ASCIA Manual for Health Professionals.
- Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy. Unorthodox Techniques for the Diagnosis and Treatment of Allergy. ASCIA Position Statement.
- Lewith GT, Kenyon JN, Broomfield J, Prescott P, Goddard J, Holgate ST. Is electrodermal testing as effective as skin prick tests for diagnosing allergies? A double blind, randomized block design study. BMJ. 2001;322(7279):131-134. doi:10.1136/bmj.322.7279.131.









Leave a Reply