Alergi Makanan dan Gangguan Telinga, Hidung, Tenggorok, serta Kepala-Leher: Tinjauan Berbasis Bukti
Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Abstrak
Alergi makanan merupakan salah satu penyakit imunologis yang dapat menimbulkan manifestasi pada berbagai organ, termasuk telinga, hidung, tenggorok, dan kepala-leher. Meskipun hubungan antara alergi makanan dengan beberapa penyakit THT telah lama dilaporkan, bukti ilmiah menunjukkan bahwa tidak semua kelainan THT disebabkan oleh alergi makanan. Manifestasi yang paling kuat meliputi sindrom alergi oral, edema laring pada anafilaksis, dan eosinophilic esophagitis. Sementara itu, hubungan dengan rinitis, otitis media dengan efusi, sinusitis kronis, dan hipertrofi adenoid hanya ditemukan pada sebagian pasien dan memerlukan evaluasi klinis yang cermat. Diagnosis harus didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, skin prick test atau serum specific IgE bila diindikasikan, serta oral food challenge sebagai baku emas pada alergi makanan. Artikel ini mengulas hubungan alergi makanan dengan penyakit THT berdasarkan pedoman WAO, EAACI, ARIA, DRACMA, dan konsensus internasional terbaru.
Kata kunci: alergi makanan, THT, eosinophilic esophagitis, oral allergy syndrome, anafilaksis.
Alergi makanan merupakan reaksi imunologis yang terjadi setelah tubuh mengenali protein makanan tertentu sebagai zat yang berbahaya, meskipun pada individu normal makanan tersebut tidak menimbulkan gangguan. Respons imun ini dapat melibatkan mekanisme yang diperantarai imunoglobulin E (IgE), mekanisme non-IgE, maupun kombinasi keduanya. Manifestasi klinis alergi makanan sangat beragam, mulai dari gangguan kulit seperti urtikaria dan dermatitis atopik, gangguan saluran cerna seperti muntah, nyeri perut, diare, hingga gangguan sistem pernapasan seperti mengi dan anafilaksis. Selain organ tersebut, alergi makanan juga dapat berhubungan dengan berbagai keluhan pada area telinga, hidung, tenggorok, serta kepala-leher melalui proses inflamasi mukosa, aktivasi sel mast, pelepasan mediator alergi, dan infiltrasi sel inflamasi seperti eosinofil. Keluhan yang dapat muncul antara lain rasa gatal pada rongga mulut, edema bibir, sensasi mengganjal di tenggorok, perubahan suara, gangguan menelan, hingga reaksi berat berupa edema laring pada anafilaksis.
Meskipun alergi makanan dapat berperan pada beberapa gangguan THT, sebagian besar penyakit telinga, hidung, tenggorok, dan kepala-leher tidak disebabkan oleh alergi makanan. Kondisi seperti rinitis kronis, sinusitis, otitis media, atau gangguan tenggorok memiliki berbagai penyebab lain, termasuk infeksi, faktor anatomi, paparan lingkungan, refluks, dan gangguan fungsional. Oleh karena itu, diagnosis alergi makanan tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan gejala yang tidak spesifik atau hasil pemeriksaan laboratorium tanpa korelasi klinis. Pendekatan berbasis bukti diperlukan dengan mengintegrasikan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan alergi yang tervalidasi, serta konfirmasi melalui pemeriksaan seperti oral food challenge bila diperlukan. Pendekatan yang tepat dapat mencegah overdiagnosis, menghindari eliminasi makanan yang tidak diperlukan, mempertahankan kecukupan nutrisi, dan memastikan pasien mendapatkan terapi sesuai penyebab yang sebenarnya.
Manifestasi Alergi Makanan pada Organ THT
| Organ | Manifestasi | Kekuatan bukti |
|---|---|---|
| Rongga mulut | Sindrom alergi oral, gatal, edema bibir | Sangat kuat |
| Faring | Gatal tenggorok, rasa mengganjal | Kuat |
| Laring | Edema laring, suara serak, stridor pada anafilaksis | Sangat kuat |
| Esofagus | Eosinophilic esophagitis | Sangat kuat |
| Hidung | Rinitis setelah konsumsi makanan tertentu | Sedang |
| Sinus | Sinusitis kronis pada sebagian pasien | Terbatas |
| Telinga | Disfungsi tuba Eustachius, otitis media dengan efusi | Terbatas |
| Adenoid | Hipertrofi adenoid pada anak atopik | Terbatas |
Imunopatofisiologi Alergi Makanan dan Gangguan Telinga, Hidung, Tenggorok, serta Kepala-Leher
Alergi makanan terjadi akibat respons imun yang abnormal terhadap protein makanan yang sebenarnya tidak berbahaya. Pada alergi yang diperantarai imunoglobulin E (IgE), paparan awal terhadap alergen makanan menyebabkan aktivasi sel penyaji antigen, diferensiasi limfosit T helper 2 (Th2), dan produksi IgE spesifik oleh sel B. IgE kemudian berikatan dengan reseptor FcεRI pada sel mast dan basofil. Pada pajanan berikutnya, alergen akan menghubungkan IgE yang telah terikat sehingga terjadi degranulasi sel mast dan pelepasan mediator inflamasi seperti histamin, triptase, leukotrien, prostaglandin, serta sitokin. Mediator tersebut menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, edema mukosa, kontraksi otot polos, peningkatan produksi mukus, dan stimulasi saraf sensorik yang dapat memengaruhi organ THT dan kepala-leher.
Pada saluran napas atas, respons inflamasi alergi menyebabkan aktivasi epitel mukosa, infiltrasi eosinofil, limfosit Th2, dan pelepasan sitokin seperti interleukin-4 (IL-4), IL-5, dan IL-13. Kondisi ini dapat berkontribusi terhadap gejala hidung seperti kongesti, rinore, bersin, serta rasa gatal pada sebagian pasien dengan alergi makanan tertentu, terutama melalui mekanisme reaksi silang seperti pollen-food allergy syndrome. Pada jaringan faring dan laring, pelepasan mediator inflamasi dapat menyebabkan sensasi mengganjal, edema, perubahan suara, hingga edema laring pada reaksi alergi berat atau anafilaksis. Pada telinga, inflamasi alergi dapat memengaruhi fungsi tuba Eustachius melalui edema mukosa nasofaring, sehingga pada kelompok pasien tertentu dapat berhubungan dengan gangguan ventilasi telinga tengah dan otitis media dengan efusi.
Selain mekanisme IgE, alergi makanan juga dapat melibatkan mekanisme imun non-IgE yang terutama berkaitan dengan aktivasi sel T, eosinofil, dan inflamasi kronis jaringan. Mekanisme ini berperan penting pada penyakit seperti eosinophilic esophagitis (EoE), yaitu inflamasi kronis esofagus yang sering berhubungan dengan sensitisasi makanan. Aktivasi imun menyebabkan infiltrasi eosinofil, kerusakan epitel, remodeling jaringan, dan gangguan fungsi esofagus yang dapat muncul sebagai keluhan di daerah kepala-leher seperti disfagia, rasa makanan tersangkut, nyeri dada, atau gangguan makan pada anak. Oleh karena itu, hubungan alergi makanan dengan gangguan THT dan kepala-leher harus dipahami sebagai proses imun kompleks yang melibatkan interaksi antara sistem imun, mukosa epitel, dan organ target, dengan diagnosis tetap harus berdasarkan korelasi klinis dan pemeriksaan yang tervalidasi.
Hubungan dengan Penyakit THT
- Rinitis alergi. Alergi makanan jarang menjadi penyebab utama rinitis kronis. Gejala hidung setelah makan lebih sering berkaitan dengan alergi serbuk sari yang bereaksi silang dengan buah atau sayuran tertentu pada sindrom alergi oral.
- Otitis media dengan efusi. Beberapa penelitian menunjukkan prevalensi alergi lebih tinggi pada anak dengan otitis media berulang, tetapi hubungan sebab akibat belum dapat dipastikan. Pedoman internasional tidak merekomendasikan pemeriksaan alergi secara rutin pada semua pasien.
- Sinusitis kronis. Peran alergi makanan masih terbatas. Sebagian besar kasus lebih berkaitan dengan rinitis alergi, infeksi, atau kelainan anatomi.
- Laring dan faring. Alergi makanan dapat menyebabkan gatal tenggorok, suara serak, edema laring, hingga obstruksi jalan napas pada anafilaksis. Kondisi ini memerlukan penanganan segera.
- Eosinophilic esophagitis. Merupakan penyakit inflamasi kronis yang berhubungan erat dengan alergi makanan. Keluhan berupa sulit menelan, makanan sering tersangkut, nyeri dada, atau muntah berulang. Diagnosis ditegakkan melalui endoskopi dan biopsi.
Hubungan Alergi Makanan dengan Gangguan THT dan Infeksi Berulang
| Kondisi THT | Mekanisme yang Diduga Berhubungan dengan Alergi Makanan | Hubungan Bukti Ilmiah | Manifestasi Klinis |
|---|---|---|---|
| Infeksi saluran napas berulang | Inflamasi mukosa kronis, gangguan pertahanan mukosiliar | Terbatas | Batuk pilek berulang, hidung tersumbat, sekret hidung |
| Hipertrofi adenoid | Inflamasi kronis jaringan limfoid, stimulasi imun lokal | Terbatas | Napas mulut, mendengkur, tidur terganggu, suara sengau |
| Hipertrofi tonsil | Aktivasi inflamasi mukosa dan jaringan limfoid | Terbatas | Tonsil membesar, sulit menelan, sleep apnea |
| Otitis media akut (OMA) | Gangguan fungsi tuba Eustachius akibat edema nasofaring | Terbatas | Nyeri telinga, demam, gangguan pendengaran |
| Otitis media dengan efusi | Obstruksi tuba Eustachius akibat inflamasi mukosa | Sedang pada pasien atopik | Rasa penuh di telinga, gangguan pendengaran |
| Hipertrofi konka inferior | Inflamasi mukosa hidung, edema vaskular | Lebih kuat pada alergi inhalan | Hidung tersumbat kronis |
| Rinitis kronis | Inflamasi Th2 dan mediator alergi | Sedang, terutama bukan alergi makanan primer | Bersin, rinore, gatal hidung |
| Sinusitis kronis | Edema mukosa dan gangguan drainase sinus | Terbatas | Nyeri wajah, sekret purulen, hidung tersumbat |
| Eosinophilic esophagitis | Inflamasi eosinofil akibat respons terhadap makanan | Sangat kuat | Disfagia, makanan tersangkut, muntah |
Peran Alergi Makanan pada Adenoid, Tonsil, dan Infeksi THT Berulang
Pada anak dengan keluhan infeksi THT berulang, evaluasi harus membedakan antara infeksi akibat paparan patogen yang sering terjadi pada masa kanak-kanak dengan inflamasi akibat penyakit alergi. Alergi makanan dapat menjadi salah satu faktor yang mempertahankan inflamasi mukosa, tetapi jarang menjadi satu-satunya penyebab pembesaran adenoid, tonsil, atau infeksi berulang. Sebagian besar hipertrofi adenoid dan tonsil terjadi akibat respons imun lokal terhadap paparan antigen berulang pada saluran napas.
Anak dengan hipertrofi adenoid, tonsil besar, rinitis kronis, dan gejala alergi perlu dievaluasi secara menyeluruh. Pemeriksaan alergi makanan hanya dilakukan bila terdapat riwayat reaksi yang konsisten setelah konsumsi makanan tertentu, gangguan kulit, gangguan cerna, atau gejala sistemik yang mendukung. Pemeriksaan IgE tanpa indikasi klinis dapat menghasilkan diagnosis alergi palsu dan menyebabkan pembatasan makanan yang berlebihan.
Pendekatan Klinis pada Anak dengan Alergi Makanan dan Gangguan THT
| Keluhan Utama | Evaluasi yang Dipertimbangkan |
|---|---|
| Infeksi THT berulang | Riwayat infeksi, imunodefisiensi, alergi inhalan, anatomi jalan napas |
| Mendengkur dan tidur terganggu | Pemeriksaan adenoid, tonsil, berat badan, sleep apnea |
| Hidung tersumbat kronis | Rinitis alergi, hipertrofi konka, polip, kelainan anatomi |
| Otitis media berulang | Fungsi tuba Eustachius, adenoid, faktor alergi |
| Sinusitis berulang | Evaluasi rinitis, anatomi sinus, inflamasi kronis |
| Gejala setelah makanan tertentu | Skin prick test, serum specific IgE, oral food challenge bila diperlukan |
Diagnosis
Diagnosis alergi makanan harus dimulai dengan anamnesis yang komprehensif dan pemeriksaan fisik yang sistematis. Anamnesis mencakup hubungan antara konsumsi makanan tertentu dengan munculnya gejala, waktu timbulnya reaksi, jumlah makanan yang memicu keluhan, pola kekambuhan, riwayat penyakit alergi lain seperti dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, serta riwayat alergi dalam keluarga. Pada pasien dengan keluhan THT, perlu dilakukan evaluasi terhadap gejala seperti hidung tersumbat, bersin berulang, rasa gatal di tenggorok, suara serak, gangguan menelan, sensasi makanan tersangkut, atau episode edema laring. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menilai tanda inflamasi alergi sekaligus menyingkirkan penyebab lain seperti infeksi, kelainan anatomi, atau gangguan fungsional.
Pada dugaan alergi makanan yang diperantarai imunoglobulin E (IgE), pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan adalah skin prick test (SPT) dan pemeriksaan serum specific IgE terhadap makanan yang dicurigai berdasarkan riwayat klinis. Kedua pemeriksaan tersebut bertujuan mendeteksi sensitisasi imunologis, tetapi hasil positif tidak selalu menunjukkan adanya alergi klinis sehingga harus diinterpretasikan bersama gejala pasien. Pada kasus tertentu, component-resolved diagnostics (CRD) dapat membantu mengidentifikasi protein alergen spesifik, membedakan sensitisasi primer dengan reaktivitas silang, serta memperkirakan risiko reaksi berat. Pada dugaan penyakit seperti eosinophilic esophagitis, evaluasi juga dapat memerlukan endoskopi dan biopsi untuk memastikan adanya inflamasi eosinofilik.
Pada alergi makanan, oral food challenge (OFC) tetap menjadi baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara konsumsi makanan dan munculnya gejala. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pemberian makanan secara bertahap dalam pengawasan tenaga medis untuk menilai muncul atau tidaknya reaksi klinis. Sebaliknya, pemeriksaan seperti IgG makanan, IgG4 makanan, bioresonance, electrodermal testing, applied kinesiology, hair analysis, dan berbagai metode alternatif lainnya tidak direkomendasikan oleh organisasi alergi internasional karena belum memiliki validitas diagnostik dan manfaat klinis yang terbukti. Penggunaan pemeriksaan yang tidak tepat dapat menyebabkan diagnosis alergi yang berlebihan, diet eliminasi yang tidak diperlukan, risiko gangguan nutrisi, serta keterlambatan penanganan penyakit lain yang mendasari keluhan pasien.
Kesimpulan
Alergi makanan dapat menimbulkan berbagai manifestasi pada organ THT dan kepala-leher, tetapi hanya beberapa kondisi yang memiliki hubungan ilmiah yang kuat, yaitu sindrom alergi oral, edema laring pada anafilaksis, dan eosinophilic esophagitis. Hubungan dengan otitis media, sinusitis kronis, atau hipertrofi adenoid masih terbatas dan tidak mendukung pemeriksaan alergi secara rutin. Diagnosis harus mengikuti pendekatan berbasis bukti dengan mengintegrasikan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan IgE yang sesuai indikasi, serta oral food challenge bila diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
- Missal SC. Food allergy in ear, nose, and throat disease. Otolaryngol Clin North Am. 1971;4(3):479-490.
- Ferguson BJ, Golla S. Allergic disorders interface with ear, nose, and throat disorders. Otolaryngol Clin North Am. 2011;44(3):xv-xvi. doi:10.1016/j.otc.2011.04.002.
- Cardona V, Ansotegui IJ, Ebisawa M, El-Gamal Y, Fernandez Rivas M, Fineman S, et al. World Allergy Organization anaphylaxis guidance 2020. World Allergy Organ J. 2020;13(10):100472. doi:10.1016/j.waojou.2020.100472.
- Muraro A, Worm M, Alviani C, Cardona V, DunnGalvin A, Garvey LH, et al. EAACI guidelines: Anaphylaxis. Allergy. 2022;77(2):357-377. doi:10.1111/all.15032.
- Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, Jones SM, Sampson HA, Wood RA, et al. Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States: Report of the NIAID-sponsored expert panel. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(6 Suppl):S1-S58. doi:10.1016/j.jaci.2010.10.007.
- Sampson HA, Aceves S, Bock SA, James J, Jones S, Lang D, et al. Food allergy: A practice parameter update 2014. J Allergy Clin Immunol. 2014;134(5):1016-1025.e43. doi:10.1016/j.jaci.2014.05.013.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
- Fiocchi A, Brożek J, Schünemann HJ, Bahna SL, von Berg A, Beyer K, et al. World Allergy Organization (WAO) Diagnosis and Rationale for Action against Cow’s Milk Allergy (DRACMA) Guideline Update. World Allergy Organ J. 2023;16(9):100799. doi:10.1016/j.waojou.2023.100799.
- Venter C, Brown T, Meyer R, Walsh J, Shah N, Nowak-Węgrzyn A, et al. Better recognition, diagnosis and management of non-IgE-mediated food allergy in childhood. Clin Transl Allergy. 2023;13:e12234. doi:10.1002/clt2.12234.
- Dellon ES, Liacouras CA, Molina-Infante J, Furuta GT, Spergel JM, Zevit N, et al. Updated international consensus diagnostic criteria for eosinophilic esophagitis: Proceedings of the AGREE Conference. Gastroenterology. 2018;155(4):1022-1033.e10. doi:10.1053/j.gastro.2018.07.009.
- Hirano I, Chan ES, Rank MA, Sharaf RN, Stollman NH, Stukus DR, et al. AGA Institute and the Joint Task Force on Allergy-Immunology Practice Parameters Clinical Guidelines for the Management of Eosinophilic Esophagitis. Gastroenterology. 2020;158(6):1776-1786. doi:10.1053/j.gastro.2020.02.038.
- Dellon ES, Muir AB, Katzka DA, Furuta GT, Falk GW, Gonsalves N, et al. ACG Clinical Guideline: Diagnosis and Management of Eosinophilic Esophagitis. Am J Gastroenterol. 2025;120(1):31-59. doi:10.14309/ajg.0000000000003194.
- Wise SK, Orlandi RR, Alt JA, et al. International Consensus Statement on Allergy and Rhinology: Allergic Rhinitis. Int Forum Allergy Rhinol. 2023;13(Suppl 1):S1-S126. doi:10.1002/alr.23090.
- Peters AT, Spector S, Hsu J, et al. Diagnosis and management of rhinosinusitis: Practice parameter update. Ann Allergy Asthma Immunol. 2022;128(1):5-32. doi:10.1016/j.anai.2021.09.004.
- Brożek JL, Bousquet J, Agache I, Agarwal A, Bachert C, Bosnic-Anticevich S, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) guidelines, 2020 revision. J Allergy Clin Immunol. 2020.









Leave a Reply