ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

MPASI pada Bayi dengan Riwayat Alergi Makanan atau Berisiko Tinggi Alergi

MPASI pada Bayi dengan Riwayat Alergi Makanan atau Berisiko Tinggi Alergi

Banyak orang tua khawatir memberikan MPASI kepada bayi yang memiliki eksim, riwayat alergi makanan, atau keluarga dengan riwayat alergi. Padahal, berdasarkan rekomendasi WHO, EAACI, WAO, ESPGHAN, dan IDAI, bayi dengan risiko tinggi alergi tetap dianjurkan mulai mendapatkan MPASI pada usia sekitar 6 bulan. Menunda pemberian makanan yang berpotensi menyebabkan alergi, seperti telur, ikan, kacang tanah, atau gandum, tidak terbukti dapat mencegah alergi dan justru dapat meningkatkan risiko alergi pada sebagian anak.

Apabila bayi memiliki eksim sedang hingga berat atau pernah mengalami reaksi alergi terhadap makanan tertentu, pengenalan makanan baru sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter. Makanan diberikan satu jenis setiap kali, dimulai dalam jumlah kecil, kemudian ditingkatkan secara bertahap bila tidak muncul reaksi. Bila terjadi ruam, muntah berulang, bengkak pada bibir atau wajah, sesak napas, atau diare segera setelah makan, pemberian makanan tersebut dihentikan dan bayi harus segera diperiksa oleh dokter.

Tabel. Bayi yang Memiliki Riwayat Alergi Makanan atau Berisiko Tinggi Mengalami Alergi

Kondisi Bayi Termasuk Risiko Tinggi? Penjelasan
Pernah mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi makanan tertentu Ya Misalnya muncul biduran, ruam, muntah berulang, diare, bengkak pada bibir atau wajah, batuk, mengi, atau sesak napas setelah mengonsumsi telur, susu sapi, ikan, kacang, gandum, atau makanan lain.
Sudah didiagnosis alergi makanan oleh dokter Ya Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan yang sesuai, dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan uji provokasi makanan (oral food challenge).
Memiliki dermatitis atopik (eksim) sedang hingga berat Ya Bayi dengan eksim sedang atau berat memiliki risiko lebih tinggi mengalami alergi makanan dibandingkan bayi tanpa eksim.
Memiliki alergi telur yang sudah terbukti Ya Bayi dengan alergi telur memiliki risiko lebih tinggi mengalami alergi terhadap makanan lain, termasuk kacang tanah.
Memiliki lebih dari satu penyakit alergi, seperti eksim disertai alergi makanan Ya Risiko sensitisasi terhadap alergen lain lebih tinggi sehingga pengenalan makanan memerlukan pemantauan lebih cermat.
Saudara kandung memiliki alergi makanan Risiko meningkat Riwayat alergi pada saudara kandung meningkatkan risiko, tetapi bukan berarti bayi pasti mengalami alergi makanan.
Salah satu orang tua memiliki penyakit alergi, seperti asma, rinitis alergi, dermatitis atopik, atau alergi makanan Risiko meningkat Riwayat atopi dalam keluarga meningkatkan risiko terjadinya penyakit alergi pada bayi.
Kedua orang tua memiliki penyakit alergi Risiko lebih tinggi Risiko bayi mengalami penyakit alergi lebih besar dibandingkan bila hanya salah satu orang tua yang memiliki alergi.
Bayi tanpa riwayat alergi dan tanpa riwayat alergi dalam keluarga Tidak MPASI diberikan sesuai jadwal dan semua jenis makanan dapat diperkenalkan secara bertahap sesuai usia.

Keterangan

  • Riwayat alergi dalam keluarga meningkatkan risiko bayi mengalami penyakit alergi, tetapi bukan merupakan alasan untuk menunda pemberian MPASI atau menunda pengenalan makanan yang sering menyebabkan alergi.
  • Bayi dengan eksim sedang hingga berat atau yang pernah mengalami reaksi alergi terhadap makanan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memperkenalkan makanan yang sering menyebabkan alergi, seperti telur atau kacang tanah.
  • Pada sebagian besar bayi, makanan yang sering menyebabkan alergi tetap dianjurkan mulai diperkenalkan sekitar usia 6 bulan, setelah MPASI dimulai, dalam bentuk yang aman dan sesuai tekstur usia.
  • Hindari hanya makanan yang telah terbukti menyebabkan alergi. Pembatasan banyak jenis makanan tanpa diagnosis yang jelas dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi dan menghambat pertumbuhan.

Tabel. Prinsip Pemberian MPASI pada Bayi dengan Riwayat Alergi

Kondisi Bayi Rekomendasi
Tidak memiliki riwayat alergi MPASI dimulai pada usia 6 bulan sesuai jadwal biasa. Semua kelompok makanan dapat dikenalkan secara bertahap.
Memiliki keluarga dengan riwayat alergi MPASI tetap dimulai pada usia 6 bulan. Tidak perlu menunda pemberian telur, ikan, gandum, atau kacang tanah.
Memiliki eksim ringan MPASI diberikan sesuai jadwal. Pengenalan makanan alergen tetap dilakukan secara bertahap.
Memiliki eksim sedang atau berat Konsultasikan dengan dokter sebelum memperkenalkan makanan yang sering menyebabkan alergi, terutama telur dan kacang tanah.
Pernah mengalami reaksi alergi terhadap makanan Hindari makanan penyebab hingga dilakukan evaluasi oleh dokter. Jangan melakukan pembatasan makanan lain tanpa alasan yang jelas.
Alergi makanan sudah terkonfirmasi Hindari hanya makanan yang telah terbukti menyebabkan alergi. Tetap berikan variasi makanan lain agar kebutuhan gizi terpenuhi.

Cara Mengenalkan Makanan yang Sering Menyebabkan Alergi

Jenis Makanan Cara Pengenalan
Telur, ayam Berikan ayam, telur matang sempurna dalam jumlah kecil. Bila tidak ada reaksi, tingkatkan secara bertahap. Bila ada riwayat alergi berat, biduran, dermatitis asma, GERD, telor sebaiknya di coba provokasi usia di atas 1-3=2 tahun
Ikan laut Pilih ikan yang matang sempurna dan bebas duri. Mulai dari porsi kecil. pada bayi dengan riwayat alergi berat dan sering kambuh, ikan laut dicoba di atas usia 1 tahun salom, yuna dan bandeng
Kacang tanah Berikan dalam bentuk selai kacang yang diencerkan atau dicampur bubur. Jangan memberikan kacang utuh karena berisiko tersedak.
Gandum Dapat diberikan dalam bentuk bubur oat atau roti sesuai usia bayi.
Kedelai Dapat dikenalkan melalui tahu atau tempe yang dihaluskan sesuai tekstur usia.
Produk susu sapi Dapat digunakan sebagai bahan makanan, seperti yogurt tanpa gula atau keju dalam jumlah kecil. Susu sapi murni tidak dianjurkan sebagai minuman utama sebelum usia 12 bulan.

Cara Mengenalkan Makanan Baru

Langkah Penjelasan
Berikan satu makanan baru Kenalkan satu jenis makanan baru setiap kali.
Mulai dari jumlah kecil Sekitar 1 sampai 2 sendok teh pada pemberian pertama.
Tingkatkan bertahap Bila tidak ada reaksi, tingkatkan jumlah selama beberapa hari berikutnya.
Amati reaksi Perhatikan selama 2 hingga 3 hari sebelum memperkenalkan makanan baru berikutnya.
Tetap lanjutkan bila aman Bila tidak ada reaksi, makanan tersebut diberikan kembali secara rutin agar toleransi tetap terbentuk.

 

Tanda dan Gejala Alergi Makanan pada Bayi yang Perlu Diwaspadai

Sistem Organ Gejala Ringan hingga Sedang Gejala Berat atau Darurat
Kulit Kemerahan, ruam, biduran, gatal, bengkak ringan pada kelopak mata atau bibir, eksim memburuk setelah makan Bengkak hebat pada bibir, lidah, atau wajah (angioedema), biduran menyeluruh disertai sesak napas
Saluran pencernaan Muntah, mual, gumoh berlebihan, nyeri perut, kembung, kolik, diare, lendir atau darah pada tinja, konstipasi berulang, bayi tampak rewel saat atau setelah makan Muntah berulang terus-menerus, diare berat hingga dehidrasi, muntah disertai lemas, penurunan kesadaran
Hidung dan saluran napas Bersin berulang, hidung berair atau tersumbat, batuk setelah makan, suara serak ringan Sesak napas, napas berbunyi (mengi), napas cepat, tarikan dinding dada, bibir atau ujung jari membiru
Mata Mata merah, gatal, berair, kelopak mata sedikit bengkak Pembengkakan hebat pada kelopak mata sehingga mata sulit dibuka
Gangguan tidur dan perilaku Sulit tidur, sering terbangun malam, rewel, menangis tanpa sebab yang jelas, tampak tidak nyaman setelah makan Sangat lemas, sulit dibangunkan, penurunan kesadaran
Kondisi umum Bayi masih aktif, mau menyusu, gejala hanya mengenai satu sistem organ Reaksi mengenai dua atau lebih sistem organ secara bersamaan, misalnya ruam disertai muntah dan sesak napas. Kondisi ini dapat merupakan anafilaksis dan memerlukan pertolongan medis segera.

Kapan Orang Tua Harus Segera Membawa Bayi ke Dokter atau Instalasi Gawat Darurat

Kondisi Tindakan
Muncul ruam, biduran, atau muntah setelah mengonsumsi makanan baru Hentikan makanan tersebut dan konsultasikan ke dokter anak.
Gejala muncul berulang setiap kali mengonsumsi makanan yang sama Hindari sementara makanan tersebut sampai dilakukan evaluasi oleh dokter.
Bengkak pada bibir, lidah, atau wajah Segera ke instalasi gawat darurat.
Sulit bernapas, mengi, suara serak mendadak, atau bibir membiru Segera ke instalasi gawat darurat.
Muntah berulang disertai lemas atau diare berat Segera ke fasilitas kesehatan.
Bayi tampak sangat lemas, tidak responsif, atau pingsan Segera ke instalasi gawat darurat karena dapat merupakan anafilaksis.

Catatan penting, tidak semua alergi makanan muncul sebagai ruam pada kulit. Pada sebagian bayi, keluhan dapat berupa muntah berulang, diare kronis, konstipasi, batuk berulang, hidung tersumbat, gangguan tidur, atau eksim yang terus kambuh. Oleh karena itu, bila keluhan selalu muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu dan berulang setiap kali makanan tersebut diberikan, bayi perlu dievaluasi oleh dokter untuk memastikan apakah keluhan tersebut benar disebabkan oleh alergi makanan atau penyebab lainnya.

Pesan Penting bagi Orang Tua

  • Bayi dengan riwayat alergi tetap memerlukan MPASI yang bergizi seimbang.
  • Jangan menunda pemberian makanan yang sering menyebabkan alergi tanpa alasan medis yang jelas.
  • Jangan menghindari banyak jenis makanan hanya berdasarkan dugaan atau hasil pemeriksaan yang belum dikonfirmasi.
  • Hindari hanya makanan yang sudah terbukti menyebabkan reaksi alergi melalui evaluasi dokter, termasuk bila diperlukan uji eliminasi dan provokasi makanan atau oral food challenge.
  • Tetap berikan protein hewani setiap hari dari sumber yang aman bagi anak.
  • Pantau pertumbuhan bayi secara berkala agar pembatasan makanan tidak menyebabkan kekurangan gizi.

 

Visited 4 times, 4 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *