Peran Alergi Makanan pada Vernal Keratoconjunctivitis (VKC) dan Atopic Keratoconjunctivitis (AKC): Tinjauan Berbasis Bukti
Vernal Keratoconjunctivitis (VKC) dan Atopic Keratoconjunctivitis (AKC) merupakan bentuk konjungtivitis alergi kronis yang lebih berat dibandingkan konjungtivitis alergi musiman maupun persisten. Kedua penyakit dapat menyebabkan inflamasi kornea, penurunan tajam penglihatan, bahkan kebutaan apabila tidak ditangani secara tepat. Walaupun pasien VKC dan AKC sering memiliki penyakit atopi lain seperti dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, dan alergi makanan, bukti ilmiah menunjukkan bahwa alergi makanan jarang menjadi penyebab utama penyakit mata tersebut. Tetapi bila ada riwayat alergi makanan, , alergi penceernaan, dermatitis dan asma maka peran alergi makanan bisa dilakukan penelusuran klinis. VKC dan AKC merupakan penyakit imunologis kompleks yang melibatkan mekanisme IgE maupun non-IgE, aktivasi sel mast, eosinofil, limfosit Th2, serta berbagai sitokin inflamasi. Evaluasi alergi makanan hanya dianjurkan pada pasien yang memiliki riwayat reaksi sistemik terhadap makanan atau gejala alergi makanan yang jelas. Eliminasi makanan tanpa indikasi maupun tanpa konfirmasi diagnosis tidak direkomendasikan karena dapat menyebabkan pembatasan diet yang tidak diperlukan. Open Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan bila diperlukan.
VKC dan AKC merupakan penyakit inflamasi kronis pada permukaan mata yang berbeda dari konjungtivitis alergi biasa. Kedua penyakit tidak hanya melibatkan konjungtiva, tetapi juga dapat mengenai kornea sehingga berisiko menyebabkan ulkus kornea, jaringan parut, neovaskularisasi, hingga gangguan penglihatan permanen. Karena sebagian besar pasien juga memiliki penyakit alergi lain, sering muncul anggapan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung penyakit mata tersebut. Hingga saat ini, bukti ilmiah tidak mendukung anggapan tersebut.
Sebagian besar pasien VKC dan AKC memang mempunyai kecenderungan atopi yang kuat. Mereka sering mengalami rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, atau alergi makanan secara bersamaan. Hubungan tersebut mencerminkan adanya predisposisi imunologis sistemik, bukan berarti makanan tertentu secara langsung memicu inflamasi mata pada setiap pasien. Oleh karena itu, evaluasi alergi makanan harus dilakukan secara selektif berdasarkan riwayat klinis.
Hubungan Alergi Makanan dengan VKC dan AKC
Alergi makanan bukan merupakan penyebab primer VKC maupun AKC. Pada sebagian kecil pasien, reaksi alergi makanan yang dimediasi IgE dapat menjadi bagian dari respons alergi sistemik yang melibatkan beberapa organ sekaligus, termasuk mata. Namun, kejadian ini relatif jarang dibandingkan paparan alergen inhalan seperti tungau debu rumah, serbuk sari, jamur, dan epitel hewan.
Pada VKC, proses inflamasi didominasi oleh aktivasi eosinofil, sel mast, limfosit Th2, IL-4, IL-5, IL-13, dan berbagai mediator inflamasi lainnya. Sekitar 40 hingga 60% pasien menunjukkan sensitisasi IgE terhadap alergen tertentu, sedangkan sisanya memperlihatkan mekanisme imun non-IgE atau campuran. Hal ini menjelaskan mengapa banyak pasien VKC memiliki hasil pemeriksaan alergi yang negatif meskipun gejala mata sangat berat.
Pada AKC, hubungan dengan penyakit atopik lebih kuat dibandingkan VKC. Sebagian besar pasien memiliki dermatitis atopik kronis disertai rinitis alergi dan asma. Alergi makanan dapat ditemukan sebagai komorbid, terutama pada pasien dengan dermatitis atopik berat, tetapi bukan merupakan penyebab utama inflamasi mata.
Perbandingan VKC dan AKC
| Karakteristik | Vernal Keratoconjunctivitis (VKC) | Atopic Keratoconjunctivitis (AKC) |
|---|---|---|
| Usia tersering | Anak usia 3 sampai 16 tahun | Dewasa 20 sampai 50 tahun |
| Jenis kelamin | Laki-laki lebih sering | Hampir seimbang |
| Pola penyakit | Musiman atau kambuh saat cuaca panas | Kronis sepanjang tahun |
| Mekanisme imun | IgE dan non-IgE | Atopi kronis, IgE dan non-IgE |
| Hubungan dermatitis atopik | Tidak selalu | Sangat kuat |
| Risiko kerusakan kornea | Tinggi | Sangat tinggi |
| Risiko gangguan penglihatan | Tinggi | Sangat tinggi |
| Hubungan dengan alergi makanan | Sebagai komorbid pada sebagian pasien | Lebih sering sebagai komorbid, bukan penyebab utama |
Peran Alergi Makanan
| Aspek | Bukti Ilmiah |
|---|---|
| Penyebab utama VKC | Tidak |
| Penyebab utama AKC | Tidak |
| Komorbid penyakit atopi | Ya |
| Dapat ditemukan bersama dermatitis atopik | Ya |
| Dapat memperberat inflamasi sistemik pada sebagian pasien | Mungkin |
| Eliminasi makanan rutin dianjurkan | Tidak |
| OFC diperlukan bila dicurigai alergi makanan | Ya |
Kapan Evaluasi Alergi Makanan Diperlukan?
- Evaluasi alergi makanan dilakukan bila terdapat riwayat yang mendukung, seperti reaksi berulang setiap kali mengonsumsi makanan tertentu, alergi pencernaan seperti mudah diare, sembelit, nyeri perut, GERD, urtikaria akut, angioedema, muntah segera setelah makan, anafilaksis, dermatitis atopik yang memburuk setelah makanan tertentu, atau gangguan saluran cerna yang konsisten berkaitan dengan makanan. Pada kondisi tersebut, pemeriksaan skin prick test atau specific IgE dapat membantu mengidentifikasi sensitisasi, tetapi hasilnya harus selalu diinterpretasikan bersama riwayat klinis karena sensitisasi tidak selalu berarti alergi yang bermakna secara klinis.
- Apabila hasil anamnesis dan pemeriksaan awal masih meragukan, Open Oral Food Challenge (OFC) merupakan baku emas untuk memastikan apakah makanan benar-benar menyebabkan reaksi alergi. OFC dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis yang berpengalaman karena terdapat risiko terjadinya reaksi alergi selama prosedur.
- Bila Vernal Keratoconjunctivitis (VKC) atau Atopic Keratoconjunctivitis (AKC) terjadi bersamaan dengan manifestasi atopi lain seperti dermatitis atopik, alergi saluran cerna, penyakit refluks gastroesofageal (GERD) yang dicurigai berkaitan dengan alergi, rinitis alergi, dan asma, maka kemungkinan adanya alergi makanan sebagai bagian dari spektrum penyakit atopi perlu dipertimbangkan. Pada kelompok pasien ini, alergi makanan tidak dianggap sebagai penyebab utama penyakit mata, tetapi dapat berperan sebagai komorbid yang mempertahankan aktivasi respons imun sistemik tipe 2. Kecurigaan semakin kuat apabila keluhan saluran cerna, eksim, atau gejala lain berulang secara konsisten setelah mengonsumsi makanan tertentu dan disertai riwayat atopi yang kuat pada anak maupun keluarganya.
- Evaluasi alergi makanan pada kondisi tersebut harus dilakukan secara sistematis melalui anamnesis yang rinci, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan alergi yang sesuai indikasi. Hasil skin prick test atau pemeriksaan IgE spesifik hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak dapat berdiri sendiri untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. Bila riwayat klinis mendukung tetapi diagnosis masih meragukan, Open Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala. Identifikasi serta tata laksana alergi makanan yang terkonfirmasi dapat membantu memperbaiki manifestasi atopi secara keseluruhan, termasuk dermatitis atopik, gangguan saluran cerna, rinitis alergi, dan asma, meskipun manfaat langsung terhadap perbaikan VKC atau AKC belum terbukti secara konsisten dalam berbagai penelitian.
Pemeriksaan Alergi pada VKC dan AKC
| Pemeriksaan | Peran |
|---|---|
| Anamnesis | Pemeriksaan terpenting |
| Pemeriksaan mata | Menentukan tipe dan derajat penyakit |
| Skin Prick Test | Identifikasi sensitisasi IgE |
| Specific IgE | Membantu bila skin test tidak dapat dilakukan |
| Open Oral Food Challenge | Konfirmasi alergi makanan bila dicurigai |
| IgG4 makanan | Tidak direkomendasikan untuk diagnosis alergi makanan |
| Pemeriksaan eosinofil | Dapat mendukung inflamasi alergi, tidak spesifik |
Implikasi Klinis
Sebagian besar pasien VKC dan AKC memerlukan pengendalian inflamasi mata menggunakan antihistamin topikal, penstabil sel mast, kortikosteroid topikal jangka pendek pada kasus berat, serta siklosporin atau takrolimus topikal sebagai terapi hemat steroid. Pengendalian penyakit atopi lain seperti rinitis alergi, asma, dan dermatitis atopik juga penting karena dapat memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan. Namun, eliminasi makanan hanya diberikan bila alergi makanan telah terbukti secara klinis dan, bila diperlukan, dikonfirmasi melalui OFC. Pendekatan ini membantu menghindari pembatasan diet yang tidak perlu dan mencegah kekurangan gizi, terutama pada anak.
Kesimpulan
VKC dan AKC merupakan penyakit inflamasi alergi mata yang kompleks dengan mekanisme imun IgE dan non-IgE. Alergi makanan bukan merupakan penyebab utama kedua penyakit tersebut, meskipun sering ditemukan sebagai bagian dari spektrum penyakit atopi. Evaluasi alergi makanan sebaiknya dilakukan secara selektif berdasarkan riwayat klinis yang kuat. Pemeriksaan skin prick test dan specific IgE membantu mengidentifikasi sensitisasi, sedangkan OFC tetap menjadi baku emas untuk memastikan alergi makanan yang bermakna secara klinis. Pendekatan diagnosis yang tepat dapat mencegah eliminasi makanan yang tidak diperlukan sekaligus memastikan pengendalian penyakit mata berlangsung optimal.
Daftar Pustaka
- Leonardi A, Silva D, Perez Formigo D, et al. Management of ocular allergy. Allergy. 2019;74(9):1611-1630.
- Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA). Allergic conjunctivitis. Clinical Update. 2024.
- Johansson SGO, Bieber T, Dahl R, et al. Revised nomenclature for allergy for global use. Allergy. 2004;59(9):813-824.
- Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines. Allergy. 2014;69(8):1008-1025.
- Dramburg S, Matricardi PM, Kleine-Tebbe J, et al. A WAO–ARIA–GA²LEN consensus document on molecular-based allergy diagnosis (PAMD@): Update 2020. World Allergy Organ J. 2020;13(2):100091.











Leave a Reply