Artritis Alergi. Benarkah Alergi Makanan Dapat Menyebabkan Nyeri dan Radang Sendi? Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Uji Tantangan Makanan Tersamar Ganda
Hubungan antara alergi makanan dan penyakit rematik telah menjadi perdebatan selama beberapa dekade. Sebagian pasien melaporkan nyeri sendi yang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu, sehingga muncul istilah “allergic arthritis” atau artritis alergi. Namun, hingga kini istilah tersebut belum diakui sebagai diagnosis penyakit tersendiri dalam klasifikasi reumatologi maupun alergi. Artikel ini membahas konsep artritis alergi berdasarkan penelitian klasik Panush dkk. yang menggunakan double-blind placebo-controlled food challenge (DBPCFC) sebagai metode konfirmasi, serta membandingkannya dengan bukti ilmiah modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sekitar 30% pasien artritis reumatoid mengaku gejala sendinya dipicu makanan, hanya sekitar 5% yang dapat dibuktikan memiliki hubungan imunologis melalui uji tantangan makanan tersamar ganda. Temuan ini menunjukkan bahwa alergi makanan dapat menjadi pencetus artritis pada sebagian kecil pasien tertentu, tetapi bukan penyebab utama sebagian besar penyakit rematik. Diagnosis harus ditegakkan melalui evaluasi klinis yang sistematis dan konfirmasi dengan oral food challenge bila diperlukan.
Artritis merupakan kelompok penyakit yang ditandai oleh peradangan pada sendi dengan penyebab yang beragam, termasuk autoimun, infeksi, kristal, metabolik, maupun degeneratif. Di sisi lain, alergi makanan adalah respons imun abnormal terhadap protein makanan yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE), mekanisme non-IgE, atau kombinasi keduanya.
Selama bertahun-tahun, sebagian pasien melaporkan bahwa nyeri sendi memburuk setelah mengonsumsi susu sapi, telur, gandum, udang, atau makanan tertentu lainnya. Laporan tersebut memunculkan istilah “food-induced arthritis” atau “allergic arthritis”. Namun, apakah hubungan tersebut benar-benar disebabkan oleh alergi makanan masih menjadi pertanyaan ilmiah.
Penelitian Panush dan kolega pada tahun 1990 menjadi salah satu penelitian pertama yang menggunakan double-blind placebo-controlled food challenge untuk membuktikan secara objektif apakah makanan benar-benar dapat memicu artritis.
Definisi Artritis Alergi
- Artritis alergi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peradangan atau nyeri sendi yang dipicu oleh reaksi imun terhadap makanan atau alergen tertentu dan membaik setelah alergen dihindari.
- Istilah ini bukan diagnosis resmi dalam klasifikasi penyakit internasional maupun pedoman reumatologi. Sebaliknya, istilah ini lebih tepat digunakan sebagai deskripsi klinis pada sebagian kecil pasien yang terbukti mengalami kekambuhan artritis setelah paparan makanan tertentu melalui uji tantangan terkontrol.
Sejarah Istilah Artritis Alergi
Pada dekade 1980-an hingga awal 1990-an, beberapa peneliti mulai mengevaluasi kemungkinan bahwa makanan tertentu dapat memicu artritis.
Penelitian penting meliputi:
| Peneliti | Tahun | Temuan |
|---|---|---|
| Felder dkk. | 1987 | Sebagian besar pasien artritis reumatoid tidak memiliki alergi makanan yang dapat dibuktikan. |
| Panush dkk. | 1990 | Sebagian kecil pasien mengalami artritis yang dapat dipicu makanan dan dikonfirmasi dengan DBPCFC. |
Kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa alergi makanan bukan penyebab utama artritis, tetapi dapat berperan pada kelompok pasien yang sangat terbatas.
Penelitian Panush dkk. Tahun 1990
Tujuan
Penelitian bertujuan:
- mengonfirmasi laporan sebelumnya mengenai pasien dengan artritis akibat alergi susu,
- menentukan prevalensi artritis yang dipicu makanan,
- mengidentifikasi karakteristik klinis dan imunologis pasien tersebut.
Metode
- Sebanyak pasien artritis reumatoid diwawancarai mengenai hubungan makanan dengan gejala rematik.
- Sebanyak 16 pasien menjalani total 19 kali double-blind placebo-controlled food challenge menggunakan kapsul makanan yang disamarkan sehingga baik pasien maupun peneliti tidak mengetahui jenis makanan yang diberikan selama pengujian.
- Metode ini merupakan standar emas untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala klinis.
Hasil Penelitian
Sekitar 30% pasien mengaku mengalami artritis setelah makan makanan tertentu.
Namun, setelah dilakukan DBPCFC:
- hanya 3 pasien yang menunjukkan kekambuhan artritis secara objektif,
- sekitar 80 hingga 90% pasien yang mengaku memiliki artritis akibat makanan ternyata tidak terbukti.
Ketiga pasien tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
Kasus Pertama
Pasien memiliki sensitivitas terhadap susu sapi.
Ditemukan:
- peningkatan IgG4 terhadap alpha-laktalbumin,
- kompleks imun susu,
- reaksi kulit tipe lambat terhadap susu,
- gejala menghilang saat menjalani diet elemental.
Kasus Kedua
- Pasien mengalami sinovitis inflamasi setelah mengonsumsi udang.
- Ditemukan peningkatan antibodi IgG terhadap udang.
Kasus Ketiga
Seorang perawat mengalami kekambuhan nyeri sendi setelah terpajan nitrat.
Seluruh pasien memiliki karakteristik:
- rheumatoid factor negatif,
- gejala bersifat palindromik,
- tidak ditemukan erosi sendi pada radiologi.
Makna Temuan Penelitian
Penelitian ini memberikan beberapa pelajaran penting.
- Pertama, persepsi pasien mengenai makanan pemicu artritis sering kali tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan objektif.
- Kedua, hanya sebagian kecil pasien yang benar-benar memiliki artritis akibat mekanisme imunologis terhadap makanan.
- Ketiga, pemeriksaan antibodi makanan seperti IgG, IgA, IgM maupun IgE terhadap makanan tidak mampu membedakan pasien yang benar-benar mengalami artritis akibat makanan.
Mekanisme yang Diduga
Beberapa mekanisme yang mungkin berperan meliputi:
| Mekanisme | Penjelasan |
|---|---|
| Reaksi IgE | Aktivasi mastosit dan pelepasan histamin. |
| Reaksi non-IgE | Aktivasi limfosit T dan inflamasi kronis. |
| Kompleks imun | Pembentukan kompleks antigen-antibodi yang memicu inflamasi. |
| Aktivasi sitokin | Peningkatan TNF-α, IL-1, IL-6 dan mediator inflamasi lainnya. |
| Perubahan permeabilitas usus | Masuknya antigen makanan ke sirkulasi sehingga meningkatkan respons imun pada individu rentan. |
Tidak semua mekanisme tersebut telah terbukti secara konsisten pada manusia.
Siapa yang Diduga Mengalami Artritis Alergi?
Berdasarkan penelitian Panush, pasien yang mungkin mengalami artritis alergi memiliki karakteristik berikut.
| Karakteristik | Temuan |
|---|---|
| Seronegatif | Ya |
| Gejala hilang saat eliminasi makanan | Ya |
| Gejala kambuh saat DBPCFC | Ya |
| Tidak terdapat erosi sendi | Ya |
| Gejala berulang secara episodik | Ya |
Diagnosis
Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan keluhan pasien.
Pendekatan yang dianjurkan meliputi:
- Anamnesis yang rinci.
- Identifikasi makanan yang dicurigai.
- Diet eliminasi sementara dengan pengawasan.
- Open Oral Food Challenge atau DBPCFC bila diperlukan.
- Menyingkirkan penyebab artritis lainnya.
Pemeriksaan IgG makanan tidak direkomendasikan sebagai alat diagnosis karena tidak memiliki akurasi yang memadai.
Penelitian mengenai hubungan antara artritis reumatoid (RA), makanan, dan alergi berkembang dari pemahaman bahwa penyakit ini merupakan gangguan autoimun yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Dalam tinjauan yang diterbitkan oleh van de Laar dan van der Korst pada tahun 1991, penulis menjelaskan bahwa salah satu petunjuk paling kuat mengenai patogenesis RA adalah keterkaitannya dengan molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas II, khususnya Human Leukocyte Antigen (HLA) kelas II. Molekul ini berperan menyajikan antigen kepada sel T helper sehingga secara biologis memungkinkan antigen dari luar tubuh, termasuk komponen makanan, berpartisipasi dalam memicu atau mempertahankan respons imun pada individu yang memiliki kerentanan genetik.
Berdasarkan telaah terhadap berbagai penelitian yang tersedia saat itu, penulis menemukan bahwa terdapat bukti tidak langsung yang menunjukkan beberapa jenis makanan atau komponen makanan dapat memengaruhi gejala pada sebagian kecil pasien RA. Namun, sebagian besar penelitian masih memiliki keterbatasan metodologis, seperti jumlah sampel yang kecil, tidak adanya kelompok kontrol yang memadai, serta tidak digunakannya uji tantangan makanan tersamar ganda sebagai standar konfirmasi. Oleh karena itu, meskipun beberapa pasien melaporkan perbaikan gejala setelah menjalani diet eliminasi atau menghindari makanan tertentu, bukti ilmiah yang tersedia belum cukup kuat untuk menyatakan bahwa alergi makanan merupakan penyebab utama artritis reumatoid ataupun bahwa diet tertentu efektif bagi seluruh pasien.
Tinjauan ini menyimpulkan bahwa makanan kemungkinan hanya berperan pada subkelompok kecil pasien RA yang memiliki sensitivitas terhadap antigen makanan tertentu, sementara pada sebagian besar penderita faktor autoimun tetap menjadi mekanisme utama penyakit. Penulis menekankan perlunya penelitian prospektif dengan desain yang lebih ketat, termasuk penggunaan double-blind placebo-controlled food challenge, untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara makanan dan aktivitas penyakit. Kesimpulan tersebut masih sejalan dengan bukti ilmiah modern yang menyatakan bahwa alergi makanan bukan penyebab utama artritis reumatoid, tetapi dapat menjadi faktor pencetus pada sebagian kecil pasien yang telah dikonfirmasi melalui evaluasi klinis dan uji tantangan makanan yang terstandar.
Implikasi Klinis
- Pada praktik sehari-hari, dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan alergi makanan bila terdapat hubungan waktu yang konsisten antara konsumsi makanan tertentu dan munculnya artritis, terutama pada pasien dengan artritis seronegatif, gejala palindromik, dan perbaikan nyata setelah eliminasi makanan.
- Namun, sebagian besar pasien artritis tidak memiliki alergi makanan sebagai penyebab penyakitnya. Oleh karena itu, diet eliminasi jangka panjang tanpa konfirmasi dapat menyebabkan kekurangan gizi dan tidak dianjurkan.
Kesimpulan
Istilah artritis alergi menggambarkan kondisi ketika reaksi imun terhadap makanan memicu gejala artritis pada individu tertentu, tetapi bukan merupakan diagnosis penyakit yang diakui secara resmi. Penelitian Panush dkk. menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pasien penyakit rematik, diperkirakan kurang dari 5%, yang benar-benar mengalami artritis akibat alergi makanan yang dapat dibuktikan melalui double-blind placebo-controlled food challenge. Bukti ini menegaskan bahwa alergi makanan memang dapat berperan sebagai pencetus artritis pada kasus tertentu, tetapi bukan penyebab utama artritis reumatoid maupun sebagian besar penyakit rematik. Pendekatan diagnosis harus mengutamakan anamnesis yang cermat, eliminasi makanan yang terarah, dan konfirmasi menggunakan oral food challenge untuk menghindari diagnosis berlebihan maupun pembatasan diet yang tidak diperlukan.
Daftar Pustaka
- Panush RS. Food induced (“allergic”) arthritis: clinical and serologic studies. J Rheumatol. 1990;17(3):291-294.
- van de Laar MA, van der Korst JK. Rheumatoid arthritis, food, and allergy. Semin Arthritis Rheum. 1991 Aug;21(1):12-23. doi: 10.1016/0049-0172(91)90052-2. PMID: 1948097.
- Felder M, De Blecourt AC, Wüthrich B. Food allergy in patients with rheumatoid arthritis. Clin Rheumatol. 1987;6(2):181-184.
- European Academy of Allergy and Clinical Immunology. Food allergy guidelines and diagnosis.
- World Allergy Organization. Diagnosis and rationale for action against cow’s milk allergy and food allergy guidance.











Leave a Reply