ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi Makanan dan Irritable Bowel Syndrome (IBS) pada Anak: Hubungan Klinis, Mekanisme Imunologi, dan Pendekatan Diagnosis Berbasis Bukti Ilmiah

 

Alergi Makanan dan Irritable Bowel Syndrome (IBS) pada Anak: Hubungan Klinis, Mekanisme Imunologi, dan Pendekatan Diagnosis Berbasis Bukti Ilmiah

Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Irritable bowel syndrome (IBS) merupakan salah satu gangguan saluran cerna fungsional yang paling sering dijumpai pada anak maupun dewasa. Penyakit ini ditandai oleh nyeri perut berulang yang berhubungan dengan perubahan pola buang air besar tanpa ditemukan kelainan struktural atau biokimia pada saluran cerna. Dalam beberapa dekade terakhir, perhatian terhadap hubungan antara alergi makanan dan IBS semakin meningkat karena sebagian besar pasien melaporkan bahwa gejala muncul atau memburuk setelah mengonsumsi makanan tertentu. Namun, persepsi bahwa makanan menjadi pencetus gejala tidak selalu menunjukkan adanya alergi makanan yang sesungguhnya. Reaksi terhadap makanan dapat berupa intoleransi makanan yang tidak melibatkan sistem imun maupun alergi makanan yang dimediasi mekanisme imun, baik melalui imunoglobulin E (IgE) maupun mekanisme non-IgE. Artikel ini mengulas bukti ilmiah mengenai hubungan alergi makanan dan IBS pada anak, mekanisme patofisiologi yang mendasarinya, perbedaan antara alergi makanan dan intoleransi makanan, serta pendekatan diagnosis dan tata laksana berdasarkan literatur terkini. Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pasien IBS yang benar-benar mengalami alergi makanan, sehingga eliminasi makanan tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan dugaan, hasil tes alergi semata, atau pengalaman subjektif pasien. Diagnosis harus dilakukan secara sistematis melalui anamnesis, evaluasi klinis, dan bila diperlukan uji eliminasi serta Oral Food Challenge (OFC) sebagai standar emas untuk memastikan hubungan antara makanan dan gejala.

Irritable bowel syndrome (IBS) merupakan gangguan interaksi otak dan usus (disorder of gut-brain interaction) yang ditandai oleh nyeri perut kronis atau berulang disertai perubahan frekuensi maupun konsistensi buang air besar tanpa adanya kelainan organik yang dapat menjelaskan gejala tersebut. Pada anak, IBS dapat muncul dalam bentuk diare, konstipasi, atau kombinasi keduanya, sering disertai kembung, mual, nafsu makan menurun, dan gangguan kualitas hidup. Selain faktor motilitas usus, hipersensitivitas viseral, gangguan mikrobiota usus, dan faktor psikologis, makanan merupakan salah satu pencetus gejala yang paling sering dilaporkan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20–65% pasien IBS meyakini gejalanya dipicu oleh makanan tertentu. Namun demikian, persepsi tersebut tidak selalu mencerminkan adanya alergi makanan yang sebenarnya karena sebagian besar reaksi makanan pada pasien IBS merupakan intoleransi makanan atau sensitivitas terhadap komponen tertentu, seperti laktosa, fruktosa, kafein, makanan tinggi lemak, atau kelompok karbohidrat yang mudah difermentasi (FODMAP).

Secara ilmiah, reaksi merugikan terhadap makanan dibedakan menjadi intoleransi makanan dan alergi makanan (food hypersensitivity). Intoleransi makanan merupakan reaksi nonimunologis, misalnya akibat defisiensi enzim seperti intoleransi laktosa atau efek farmakologis komponen makanan, sedangkan alergi makanan melibatkan respons imun, baik yang dimediasi IgE maupun non-IgE. Pada pasien IBS, perbedaan kedua kondisi ini sangat penting karena pendekatan diagnosis dan tata laksananya berbeda. Studi oleh Choung dan Talley menunjukkan bahwa meskipun lebih dari separuh pasien IBS memiliki hasil tes tusuk kulit (skin prick test) yang positif terhadap beberapa makanan atau alergen inhalan, sebagian besar tidak memiliki gejala klinis khas alergi makanan dan tidak mampu mengidentifikasi makanan pencetus secara konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tes alergi saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis alergi makanan pada pasien IBS.

Hubungan antara alergi makanan dan IBS diduga melibatkan gangguan fungsi sawar usus (intestinal barrier), perubahan mikrobiota usus, aktivasi sistem imun mukosa, serta gangguan toleransi oral terhadap protein makanan. Pada individu sehat, saluran cerna memiliki mekanisme pertahanan yang kompleks berupa lapisan mukus, tight junction epitel, enzim pencernaan, imunoglobulin A sekretori (IgA), sel dendritik, limfosit regulator (Treg), dan berbagai mediator imun yang memungkinkan tubuh mengenali protein makanan sebagai zat yang aman. Bila mekanisme toleransi oral terganggu, paparan antigen makanan dapat memicu aktivasi imun yang berlebihan sehingga menimbulkan gejala saluran cerna. Selain itu, penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa gastroenteritis infeksi merupakan salah satu faktor risiko lingkungan terpenting terjadinya IBS, kemungkinan melalui inflamasi mukosa derajat ringan yang menetap dan gangguan toleransi imun terhadap makanan.

Meskipun demikian, hingga saat ini bukti ilmiah menunjukkan bahwa alergi makanan sejati hanya ditemukan pada sebagian kecil pasien IBS, sedangkan sebagian besar gejala lebih berkaitan dengan intoleransi makanan, hipersensitivitas viseral, perubahan mikrobiota usus, dan gangguan regulasi sumbu otak-usus (gut-brain axis). Oleh karena itu, evaluasi pasien IBS harus dilakukan secara komprehensif untuk membedakan antara alergi makanan, intoleransi makanan, dan gangguan fungsional saluran cerna. Pendekatan diagnosis yang tepat akan membantu menghindari pembatasan makanan yang tidak perlu, mencegah risiko kekurangan gizi, serta memastikan bahwa terapi yang diberikan benar-benar sesuai dengan penyebab gejala.

Irritable Bowel Syndrome (IBS) pada Anak

  • Irritable Bowel Syndrome (IBS) pada anak merupakan gangguan interaksi antara otak dan saluran cerna (disorder of gut–brain interaction) yang ditandai oleh nyeri perut berulang disertai perubahan pola buang air besar, tanpa ditemukan kelainan struktural, infeksi, peradangan, atau kelainan biokimia yang dapat menjelaskan gejala tersebut. Menurut Kriteria Rome IV, diagnosis IBS pada anak ditegakkan apabila nyeri perut terjadi sedikitnya 4 hari setiap bulan selama minimal 2 bulan, disertai hubungan dengan proses buang air besar, perubahan frekuensi buang air besar, atau perubahan bentuk dan konsistensi tinja. IBS bukan merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan usus, tetapi merupakan gangguan fungsi saluran cerna yang dapat mengganggu kualitas hidup, aktivitas sekolah, pola makan, dan kondisi psikologis anak.

Tanda dan Gejala

  • Gejala IBS pada anak dapat bervariasi, namun keluhan utama adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di perut yang berulang, terutama setelah makan atau menjelang buang air besar.
  • Nyeri dapat membaik setelah buang air besar atau justru disertai perubahan pola buang air besar berupa diare, konstipasi, atau kombinasi keduanya.
  • Anak juga dapat mengalami perut kembung, banyak gas, mual, rasa ingin buang air besar yang tidak tuntas, lendir pada tinja, nafsu makan menurun, serta keluhan lain seperti sakit kepala, nyeri punggung, dan kelelahan.
  • Pada sebagian anak, gejala dapat dipicu atau diperberat oleh makanan tertentu, stres, kecemasan, atau infeksi saluran cerna sebelumnya.

Gejala IBS bisa berkaitan dengan dengan alergi makanan,  gangguan sensitivitas usus, perubahan mikrobiota usus, intoleransi terhadap komponen makanan tertentu, atau gangguan komunikasi antara otak dan usus. Oleh karena itu, evaluasi medis diperlukan untuk membedakan IBS dengan penyakit lain seperti penyakit radang usus, penyakit celiac, intoleransi laktosa, infeksi saluran cerna, maupun alergi makanan.

Penanganan dan Peran Oral Food Challenge (OFC)

Penanganan IBS pada anak bersifat individual dan disesuaikan dengan gejala serta faktor pencetus yang ditemukan. Terapi meliputi edukasi keluarga, pola makan seimbang, kecukupan cairan, peningkatan aktivitas fisik, pengelolaan stres dan kecemasan, serta obat-obatan bila diperlukan untuk mengatasi konstipasi, diare, atau nyeri perut. Pada sebagian anak, dokter dapat mempertimbangkan modifikasi pola makan apabila terdapat dugaan bahwa makanan tertentu memperberat gejala.

Bila terdapat kecurigaan kuat terhadap alergi makanan, misalnya gejala selalu muncul setiap kali mengonsumsi makanan tertentu disertai riwayat alergi atau manifestasi alergi lainnya, maka evaluasi harus dilakukan secara sistematis. Pemeriksaan tes alergi seperti skin prick test atau IgE spesifik hanya berfungsi sebagai pemeriksaan penunjang dan tidak dapat digunakan sendiri untuk menegakkan diagnosis alergi makanan, terutama pada anak dengan keluhan saluran cerna. Apabila setelah anamnesis, pemeriksaan fisik, dan uji eliminasi masih terdapat dugaan alergi makanan, maka Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan di bawah pengawasan dokter berpengalaman merupakan standar emas (gold standard) untuk memastikan apakah makanan tersebut benar-benar menjadi penyebab gejala. Pendekatan ini penting untuk mencegah pembatasan makanan yang tidak perlu, menghindari risiko kekurangan gizi, dan memastikan bahwa terapi yang diberikan benar-benar sesuai dengan penyebab keluhan anak.

Daftar Pustaka

  • Choung RS, Talley NJ. Food Allergy and Intolerance in IBS. Gastroenterology & Hepatology (N Y). 2006;2(10):756–760. PMID: 28325993. PMCID: PMC5358086.
  • Drossman DA, Tack J, Ford AC, et al. Rome IV—Functional Gastrointestinal Disorders: Disorders of Gut-Brain Interaction. Gastroenterology. 2016.
  • Hyams JS, Di Lorenzo C, Saps M, et al. Functional Disorders: Children and Adolescents. In: Rome IV Criteria. Raleigh, NC: Rome Foundation; 2016.
  • Venter C, Brown T, Meyer R, et al. Better recognition, diagnosis and management of non-IgE-mediated food allergy in childhood. Clinical and Translational Allergy. 2017;7:26.
  • Nowak-Węgrzyn A, Katz Y, Mehr SS, Koletzko S. Non-IgE-mediated gastrointestinal food allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2015;135(5):1114–1124.
Visited 8 times, 4 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *