Benarkah alergi makanan hanya menyebabkan gatal-gatal atau ruam?

Tanya:
Benarkah alergi makanan pada anak hanya menyebabkan gatal-gatal atau ruam di kulit? Anak saya tidak pernah mengalami biduran atau eksim, tetapi sering batuk-pilek berulang, sulit makan, berat badan sulit naik, sembelit, bahkan beberapa kali dirawat karena bronkitis. Apakah kondisi seperti itu juga bisa berhubungan dengan alergi makanan?

Jawab:
Tidak benar. Banyak orang tua mengira bahwa alergi makanan selalu ditandai dengan gatal, biduran, atau eksim. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan dapat menyerang berbagai organ tubuh, sehingga gejalanya sangat beragam. Pada sebagian anak, terutama bayi dan balita, keluhan pada saluran cerna dan saluran napas justru lebih dominan dibandingkan kelainan kulit. Oleh karena itu, tidak adanya ruam kulit tidak berarti alergi makanan dapat langsung disingkirkan.
Pada saluran cerna, alergi makanan dapat menyebabkan peradangan kronis yang sering tidak disadari. Anak dapat mengalami sulit makan, cepat kenyang, mual, muntah, refluks, perut kembung, kolik, nyeri perut berulang, sembelit, diare, atau feses yang berlendir. Karena proses peradangan berlangsung terus-menerus, penyerapan nutrisi dapat terganggu sehingga berat badan sulit naik dan pertumbuhan menjadi kurang optimal.
Gangguan makan juga sering merupakan dampak dari peradangan tersebut. Anak merasa tidak nyaman setiap kali makan sehingga nafsu makan menurun dan menjadi sangat pemilih terhadap makanan (picky eater). Tidak sedikit anak yang telah mengonsumsi berbagai vitamin, suplemen, penambah nafsu makan, maupun susu tinggi kalori, tetapi berat badannya tetap sulit meningkat karena penyebab utamanya belum ditangani.
Selain saluran cerna, alergi makanan juga dapat memengaruhi saluran napas. Peradangan akibat respons imun dapat membuat mukosa saluran napas lebih sensitif sehingga anak lebih mudah mengalami batuk berulang, pilek berkepanjangan, hidung tersumbat, bersin terutama pada pagi hari, mengi, hingga asma yang sering kambuh. Pada sebagian anak, kondisi ini juga berkaitan dengan pembesaran adenoid, sinusitis, otitis media berulang, atau infeksi saluran napas yang tampak lebih sering dibandingkan anak seusianya.
Alergi makanan juga dapat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh lokal pada saluran napas dan saluran cerna. Mukosa yang mengalami peradangan kronis menjadi lebih rentan terhadap infeksi virus maupun bakteri. Akibatnya, anak tampak “mudah sakit”, batuk-pilek datang berulang, bronkitis atau bronkopneumonia lebih sering terjadi, dan masa penyembuhan menjadi lebih lama dibandingkan anak tanpa peradangan alergi.
Yang perlu dipahami, tidak semua anak dengan batuk berulang atau berat badan sulit naik pasti mengalami alergi makanan. Keluhan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain, seperti infeksi berulang, asma, penyakit tuberkulosis, kelainan saluran cerna, gangguan penyerapan nutrisi, atau penyakit kronis lainnya. Oleh karena itu, diagnosis tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan satu atau dua gejala, tetapi harus melalui evaluasi klinis yang menyeluruh oleh dokter.
Banyak orang tua juga mengandalkan tes darah alergi atau skin prick test untuk memastikan diagnosis. Padahal, kedua pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi terhadap alergen tertentu dan tidak selalu membuktikan bahwa makanan tersebut benar-benar menjadi penyebab keluhan. Sebaliknya, pada beberapa bentuk alergi makanan non-IgE, hasil pemeriksaan tersebut justru dapat normal meskipun anak memang mengalami alergi makanan.
Karena itu, penegakan diagnosis alergi makanan tidak cukup hanya berdasarkan gejala atau hasil tes laboratorium. Diagnosis harus menggabungkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, evaluasi pola gejala, serta bila diperlukan dilakukan eliminasi makanan yang terarah dan oral food challenge (OFC) yang dilakukan secara bertahap di bawah pengawasan dokter yang berpengalaman. OFC hingga saat ini masih merupakan baku emas (gold standard) untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab gejala. Dengan diagnosis yang tepat, terapi dapat difokuskan pada penyebab utama sehingga gejala berulang, gangguan pertumbuhan, dan kualitas hidup anak dapat membaik secara bermakna.
Bila Anda berencana membuat seri edukasi, format ini dapat diterapkan untuk seluruh daftar FAQ lainnya, sehingga setiap pertanyaan memiliki jawaban sekitar 8 paragraf dengan pembahasan yang lebih ilmiah namun tetap mudah dipahami.









Leave a Reply