Alergi Makanan dan Jerawat pada Anak dan Remaja: Apa Kata Penelitian?
Reportase ilmiah berdasarkan penelitian Barilo & Smirnova, 2022
Jerawat (acne vulgaris) selama ini lebih sering dipahami sebagai penyakit multifaktorial yang dipengaruhi oleh faktor genetik, hormonal, lingkungan, dan nutrisi. Namun, penelitian mengenai kemungkinan hubungan antara alergi makanan dan jerawat masih relatif terbatas. Salah satu penelitian yang menarik perhatian dilakukan oleh A.A. Barilo dan S.V. Smirnova, yang diterbitkan dalam Voprosy Pitaniya pada 2022. Penelitian tersebut secara khusus mengevaluasi pola sensitisasi terhadap alergen makanan, serbuk sari, dan jamur pada pasien dengan jerawat papulopustular derajat sedang.
Penelitian pada 57 Pasien: Telur Menjadi Salah Satu Temuan Utama
Penelitian tersebut melibatkan 57 pasien berusia 11–46 tahun dengan jerawat papulopustular derajat sedang. Para peserta menjalani pemeriksaan alergologi spesifik, termasuk skin-prick test terhadap berbagai alergen makanan, serbuk sari, dan jamur. Hasilnya menunjukkan adanya frekuensi sensitisasi yang cukup tinggi terhadap sejumlah bahan makanan. Pada kelompok penelitian tersebut, sensitisasi terhadap telur ayam utuh mencapai 66,7%, protein telur ayam 61,4%, dan daging ayam 52,9%.
Temuan lain menunjukkan sensitisasi terhadap gandum jelai sebesar 50,0%, oat 47,9%, protein susu sapi 43,9%, dan daging sapi 44,2%. Pada kelompok alergen inhalan, rumput padang dan rumput serealia juga cukup sering ditemukan, sedangkan di antara alergen jamur, Alternaria alternata dilaporkan memiliki frekuensi sensitisasi 67,9%. Data tersebut menunjukkan bahwa pada populasi penelitian ini terdapat sensitisasi terhadap berbagai alergen, bukan hanya terhadap telur.
Tabel. Temuan Sensitisasi Alergen pada Penelitian Barilo & Smirnova
| Alergen | Proporsi sensitisasi |
|---|---|
| Telur ayam utuh | 66,7% |
| Protein telur ayam | 61,4% |
| Daging ayam | 52,9% |
| Jelai | 50,0% |
| Oat | 47,9% |
| Daging sapi | 44,2% |
| Protein susu sapi | 43,9% |
| Alternaria alternata | 67,9% |
| Rumput padang | 64,8% |
| Rumput serealia | 62,5% |
Sumber: Barilo & Smirnova, 2022.
Apakah Telur Berarti Penyebab Jerawat?
Di sinilah hasil penelitian harus dibaca secara hati-hati. Ditemukannya sensitisasi terhadap telur tidak otomatis membuktikan bahwa telur menyebabkan jerawat. Skin-prick test menunjukkan adanya sensitisasi imun terhadap suatu alergen, sedangkan diagnosis alergi makanan memerlukan korelasi dengan riwayat gejala dan, bila diperlukan, pemeriksaan lanjutan.
Penelitian Barilo dan Smirnova sendiri menyimpulkan bahwa tingginya frekuensi sensitisasi makanan dan adanya perbaikan manifestasi kulit selama diet eliminasi memungkinkan peneliti mengajukan hipotesis bahwa alergi makanan dapat menjadi salah satu faktor risiko jerawat. Jadi, istilah yang tepat adalah kemungkinan faktor risiko, bukan bukti bahwa alergi telur merupakan penyebab tunggal jerawat.
Diet Eliminasi: Menarik, tetapi Belum Cukup untuk Membuktikan Sebab-Akibat
Dalam penelitian tersebut, 71,9% pasien dilaporkan mengalami regresi manifestasi inflamasi kulit setelah menjalani diet eliminasi. Temuan ini menarik karena menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara faktor makanan dan kondisi kulit pada sebagian pasien. Namun, respons terhadap diet eliminasi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa alergen tertentu merupakan penyebab jerawat.
Hal ini penting terutama pada anak dan remaja. Menghilangkan telur, susu, gandum, atau berbagai makanan lain tanpa indikasi yang kuat dapat menyebabkan pembatasan diet yang tidak perlu dan berisiko mengurangi kecukupan energi maupun zat gizi. Karena itu, apabila alergi makanan dicurigai, pemeriksaan dan diet eliminasi sebaiknya dilakukan secara terarah dan berdasarkan hubungan antara makanan tertentu dengan gejala klinis, bukan berdasarkan hasil satu panel pemeriksaan saja.
Bagaimana dengan Alergi Telur yang Sebenarnya?
Alergi telur merupakan alergi makanan yang memang dikenal dalam praktik klinis, terutama pada anak. Manifestasinya dapat berupa urtikaria, angioedema, muntah, gejala gastrointestinal, eksaserbasi dermatitis tertentu, hingga anafilaksis pada kasus berat. Diagnosis alergi telur tidak cukup hanya berdasarkan dugaan bahwa suatu kelainan kulit muncul setelah mengonsumsi telur.
Evaluasi dapat meliputi anamnesis terperinci, pemeriksaan skin-prick test dan/atau serum specific IgE, sesuai indikasi klinis. Penelitian mengenai alergi telur juga menunjukkan bahwa komponen telur seperti ovalbumin dan ovomucoid dapat menjadi bagian dari evaluasi pada kasus tertentu.
Apakah Anak dengan Jerawat Harus Diperiksa Alergi Telur?
Tidak secara rutin. Jerawat pada anak atau remaja tidak dengan sendirinya menjadi indikasi untuk melakukan pemeriksaan alergi telur. Pemeriksaan alergi lebih rasional apabila terdapat riwayat yang konsisten dan berulang, misalnya keluhan tertentu muncul setiap kali mengonsumsi telur dan terdapat manifestasi yang sesuai dengan reaksi alergi.
Dengan demikian, penelitian Barilo dan Smirnova lebih tepat dipandang sebagai bukti awal yang menghasilkan hipotesis, bukan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa semua anak dengan jerawat harus menghindari telur. Penelitian tersebut juga memiliki ukuran sampel yang relatif kecil dan menggunakan desain yang tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat.
Pesan Klinis
Temuan penelitian ini menarik karena telur merupakan salah satu alergen makanan dengan angka sensitisasi tinggi pada kelompok pasien yang diteliti. Namun, sensitisasi ≠ alergi klinis ≠ penyebab jerawat. Ketiga konsep tersebut harus dibedakan.
Pada anak atau remaja dengan jerawat dan dugaan alergi makanan, pendekatan yang lebih ilmiah adalah melakukan anamnesis makanan-gejala, pemeriksaan klinis, evaluasi alergologi bila terdapat indikasi, serta mempertimbangkan diagnosis banding penyakit kulit lainnya. Diet eliminasi juga sebaiknya dilakukan secara terarah dan tidak menyebabkan pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
Kesimpulan
Penelitian Barilo dan Smirnova tahun 2022 menemukan frekuensi sensitisasi terhadap telur ayam yang tinggi pada kelompok pasien dengan jerawat papulopustular derajat sedang, dengan sensitisasi terhadap telur utuh sebesar 66,7% dan protein telur sebesar 61,4%. Sebanyak 71,9% peserta dilaporkan mengalami perbaikan manifestasi kulit selama diet eliminasi. Namun, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa alergi telur menyebabkan jerawat. Hasilnya lebih tepat dipahami sebagai indikasi bahwa alergi atau sensitisasi makanan mungkin berperan sebagai salah satu faktor pada sebagian pasien, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih kuat.
Daftar Pustaka
- Barilo AA, Smirnova SV. Food allergy as a risk factor for acne. Voprosy Pitaniya. 2022;91(6):68–75. doi:10.33029/0042-8833-2022-91-6-68-75. PMID: 36648184.
- Caubet JC, Wang J. Current understanding of egg allergy. Pediatric Clinics of North America. 2011;58(2):427–443. doi:10.1016/j.pcl.2011.02.014.
- Benhamou AH, Caubet JC, Eigenmann PA, et al. State of the art and new horizons in the diagnosis and management of egg allergy. Allergy. 2010;65(3):283–289. doi:10.1111/j.1398-9995.2009.02251.x.
- Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI food allergy and anaphylaxis guidelines: diagnosis and management of food allergy. Allergy. 2014;69(8):1008–1025. doi:10.1111/all.12429.
- Sumber utama penelitian:









Leave a Reply