Peran Alergi pada Nyeri Perut Fungsional pada Anak: Tinjauan Ilmiah Terkini dan Implikasi Klinis
Abstrak
Nyeri perut fungsional atau Functional Abdominal Pain Disorders (FAPDs) merupakan salah satu gangguan saluran cerna yang paling sering ditemukan pada anak dan remaja. Prevalensinya diperkirakan mencapai sekitar 13,5% di seluruh dunia dan mencakup beberapa kondisi, seperti irritable bowel syndrome (IBS), functional dyspepsia (FD), abdominal migraine, serta functional abdominal pain-not otherwise specified. Selama bertahun-tahun FAPDs dianggap sebagai gangguan fungsional tanpa kelainan organik yang jelas. Namun, penelitian terkini menunjukkan bahwa FAPDs melibatkan interaksi kompleks antara sistem imun, mikrobiota usus, gangguan sawar mukosa usus, sistem saraf enterik, serta faktor psikologis melalui mekanisme gut-brain axis.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap peran alergi makanan dalam FAPDs semakin meningkat. Meskipun sebagian besar pasien tidak menunjukkan alergi makanan yang dimediasi IgE sistemik, berbagai penelitian menunjukkan adanya aktivasi imun lokal di mukosa usus yang melibatkan sel mast, eosinofil, limfosit, dan sitokin proinflamasi. Aktivasi ini dapat meningkatkan permeabilitas usus, menimbulkan hipersensitivitas viseral, serta memicu nyeri perut kronis. Artikel ini membahas bukti ilmiah terkini mengenai hubungan alergi dengan FAPDs pada anak, keterbatasan pemeriksaan alergi konvensional, serta implikasinya terhadap pendekatan diagnosis dan tata laksana.
Kata kunci: Functional abdominal pain disorders, IBS, functional dyspepsia, alergi makanan, sel mast, eosinofil, mikrobiota usus, gut-brain axis.
Pendahuluan
Nyeri perut kronis atau berulang merupakan salah satu alasan tersering anak datang ke dokter anak maupun dokter spesialis gastroenterologi anak. Berdasarkan Kriteria Rome IV, sebagian besar anak dengan nyeri perut kronis memenuhi kriteria Functional Abdominal Pain Disorders (FAPDs). Kelompok penyakit ini meliputi irritable bowel syndrome (IBS), functional dyspepsia (FD), abdominal migraine, dan functional abdominal pain-not otherwise specified. Berbeda dengan penyakit organik, FAPDs tidak disebabkan oleh kelainan struktural yang dapat ditemukan melalui pemeriksaan rutin, tetapi merupakan gangguan interaksi antara saluran cerna dan sistem saraf pusat.
Selama beberapa dekade, FAPDs lebih banyak dikaitkan dengan gangguan motilitas usus dan faktor psikologis. Namun, penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa proses imun juga memiliki peran penting. Aktivasi sel mast, eosinofil, gangguan integritas sawar mukosa usus, perubahan mikrobiota, dan inflamasi derajat rendah ditemukan pada sebagian besar pasien FAPDs. Temuan ini menunjukkan bahwa FAPDs bukan sekadar gangguan fungsional, tetapi merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks antara sistem imun, sistem saraf enterik, mikrobiota usus, dan faktor psikososial.
Karena alergi makanan dan FAPDs sama-sama sering terjadi pada anak, muncul pertanyaan apakah kedua kondisi tersebut saling berhubungan. Tinjauan ilmiah oleh Friesen dan kolega menunjukkan bahwa hubungan tersebut memang ada pada sebagian pasien, meskipun mekanismenya tidak selalu melalui alergi IgE klasik. Hal ini menjelaskan mengapa banyak pasien FAPDs memiliki hasil pemeriksaan skin prick test maupun IgE spesifik yang normal, tetapi tetap mengalami gejala yang dipicu oleh makanan tertentu.
Functional Abdominal Pain Disorders pada Anak
FAPDs merupakan kelompok gangguan saluran cerna yang ditandai oleh nyeri perut kronis atau berulang tanpa adanya kelainan anatomis, metabolik, infeksi, maupun inflamasi yang dapat menjelaskan seluruh gejala pasien.
Tabel 1. Jenis Functional Abdominal Pain Disorders
| Gangguan | Karakteristik |
|---|---|
| Irritable bowel syndrome (IBS) | Nyeri perut disertai perubahan pola buang air besar |
| Functional dyspepsia | Nyeri atau rasa penuh pada ulu hati setelah makan |
| Abdominal migraine | Nyeri perut episodik dengan gejala menyerupai migrain |
| Functional abdominal pain-NOS | Nyeri perut kronis yang tidak memenuhi kriteria gangguan lain |
Mengapa Alergi Diduga Berperan?
Lebih dari 90% anak dengan FAPDs melaporkan sedikitnya satu jenis makanan yang memperberat gejalanya. Banyak keluarga kemudian melakukan diet eliminasi secara mandiri. Namun, tidak semua reaksi terhadap makanan merupakan alergi. Gejala dapat timbul akibat intoleransi makanan, fermentasi karbohidrat, perubahan mikrobiota, aktivasi imun mukosa, maupun hipersensitivitas viseral.
Penelitian menunjukkan bahwa pada sebagian pasien terjadi aktivasi sel mast dan eosinofil di mukosa usus meskipun hasil pemeriksaan IgE spesifik tetap negatif. Aktivasi tersebut menyebabkan pelepasan histamin, triptase, leukotrien, prostaglandin, serta berbagai sitokin yang meningkatkan sensitivitas saraf usus sehingga timbul nyeri perut.
Mekanisme Hubungan Alergi dan FAPDs
Beberapa mekanisme diduga menjelaskan hubungan tersebut.
Tabel 2. Mekanisme yang Menghubungkan Alergi dengan FAPDs
| Mekanisme | Dampak |
|---|---|
| Aktivasi sel mast | Pelepasan histamin dan mediator inflamasi |
| Eosinofil mukosa meningkat | Inflamasi ringan pada usus |
| Gangguan sawar usus | Antigen makanan lebih mudah masuk |
| Disbiosis mikrobiota | Aktivasi sistem imun mukosa |
| Hipersensitivitas viseral | Nyeri lebih mudah timbul |
| Gangguan gut-brain axis | Nyeri dipengaruhi stres dan kecemasan |
Peran Alergi IgE dan Non-IgE
Alergi makanan dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu alergi yang diperantarai IgE dan alergi non-IgE.
Pada alergi IgE, gejala biasanya muncul dalam hitungan menit hingga dua jam setelah mengonsumsi makanan dan sering disertai urtikaria, angioedema, mengi, atau anafilaksis.
Sebaliknya, alergi non-IgE lebih sering menimbulkan gejala saluran cerna yang muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah konsumsi makanan. Karena tidak melibatkan IgE sistemik, hasil skin prick test maupun pemeriksaan IgE spesifik sering kali normal.
Tabel 3. Perbedaan Alergi IgE dan Non-IgE
| Karakteristik | IgE | Non-IgE |
|---|---|---|
| Onset gejala | Menit hingga 2 jam | Beberapa jam hingga hari |
| Skin prick test | Biasanya positif | Umumnya negatif |
| IgE spesifik | Positif | Umumnya negatif |
| Gejala utama | Urtikaria, anafilaksis | Nyeri perut, muntah, diare, konstipasi |
| Dapat ditemukan pada FAPDs | Jarang | Lebih mungkin |
Mengapa Tes Alergi Sering Normal?
Salah satu pesan utama artikel Friesen adalah bahwa pemeriksaan alergi konvensional memiliki keterbatasan pada FAPDs.
Tidak adanya IgE spesifik dalam darah tidak berarti tidak ada proses imun terhadap makanan. Aktivasi imun dapat terjadi secara lokal di mukosa usus tanpa menghasilkan peningkatan IgE sistemik yang dapat dideteksi oleh pemeriksaan laboratorium.
Tabel 4. Mengapa Pemeriksaan IgE Dapat Negatif?
| Penyebab | Penjelasan |
|---|---|
| Aktivasi imun lokal | Terjadi hanya di mukosa usus |
| Alergi non-IgE | Tidak menghasilkan IgE spesifik |
| Sel mast mukosa aktif | Tidak selalu meningkatkan IgE darah |
| Pemeriksaan hanya mendeteksi IgE sistemik | Tidak menilai imun mukosa |
Implikasi Klinis
Evaluasi anak dengan FAPDs tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis tetap dimulai dengan anamnesis rinci mengenai hubungan makanan dengan gejala, pemeriksaan fisik, penilaian pola makan, pertumbuhan, status gizi, serta identifikasi tanda bahaya yang mengarah pada penyakit organik.
Bila ditemukan dugaan alergi makanan, pemeriksaan skin prick test atau IgE spesifik dapat dilakukan secara selektif berdasarkan riwayat klinis. Pada kasus tertentu dapat dipertimbangkan diet eliminasi terarah yang diikuti dengan reintroduksi makanan atau Oral Food Challenge untuk memastikan hubungan sebab akibat.
Pendekatan empiris berupa eliminasi banyak makanan hanya berdasarkan hasil tes laboratorium atau dugaan tanpa evaluasi klinis tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan kekurangan zat gizi dan memperburuk kualitas hidup anak.
Tabel 5. Pendekatan Diagnosis FAPDs yang Diduga Berkaitan dengan Alergi
| Tahapan | Tujuan |
|---|---|
| Riwayat klinis | Menentukan hubungan makanan dan gejala |
| Pemeriksaan fisik | Menilai penyakit organik |
| Evaluasi pertumbuhan | Menilai dampak nutrisi |
| Skin prick test atau IgE spesifik | Bila ada dugaan alergi IgE |
| Diet eliminasi terarah | Kasus terpilih |
| Oral Food Challenge | Konfirmasi bila diperlukan |
Kesimpulan
Functional Abdominal Pain Disorders pada anak merupakan gangguan multifaktorial yang melibatkan interaksi antara sistem imun, mikrobiota usus, sawar mukosa, sistem saraf enterik, dan gut-brain axis. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa alergi berperan pada sebagian pasien, terutama melalui mekanisme imun lokal dan alergi non-IgE, bukan semata-mata melalui alergi IgE klasik. Oleh karena itu, hasil skin prick test atau IgE spesifik yang normal tidak selalu menyingkirkan keterlibatan alergi pada FAPDs. Pendekatan diagnosis harus bersifat komprehensif dengan mengintegrasikan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, evaluasi nutrisi, pemeriksaan penunjang yang tepat sasaran, serta diet eliminasi dan Oral Food Challenge pada kasus yang sesuai. Pendekatan ini memungkinkan diagnosis yang lebih akurat dan menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
Daftar Pustaka
- Friesen C, Colombo J, Schurman J. Update on the Role of Allergy in Pediatric Functional Abdominal Pain Disorders: A Clinical Perspective. Nutrients. 2021;13(6):2056. doi:10.3390/nu13062056.
- Rome IV Functional Gastrointestinal Disorders for Children and Adolescents
Hyams JS, Di Lorenzo C, Saps M, Shulman RJ, Staiano A, van Tilburg M. Functional Disorders: Children and Adolescents. In: Drossman DA, Chang L, Chey WD, Kellow J, Tack J, Whitehead WE, editors. Rome IV Functional Gastrointestinal Disorders: Disorders of Gut-Brain Interaction. 4th ed. Raleigh (NC): Rome Foundation; 2016. - European Academy of Allergy and Clinical Immunology
Vandenplas Y, Koletzko S, Isolauri E, Hill D, Oranje AP, Brueton M, Staiano A, Dupont C. Guidelines for the diagnosis and management of cow’s milk protein allergy in infants. Arch Dis Child. 2007;92(10):902-908. doi:10.1136/adc.2006.110999. - European Academy of Allergy and Clinical Immunology
Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, Reese I, Vieira MC, Rommel N, Dupont C, Venter C, Cianferoni A, Walsh J, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Allergy. 2024. doi:10.1111/all.16182. - World Allergy Organization
Fiocchi A, Brożek J, Schünemann H, Bahna SL, von Berg A, Beyer K, Bozzola M, Bradsher J, Compalati E, Ebisawa M, et al. World Allergy Organization (WAO) Diagnosis and Rationale for Action against Cow’s Milk Allergy (DRACMA) Guidelines Update. World Allergy Organ J. 2023.









Leave a Reply