ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

TERAPI ANTIHISTAMIN PADA ALERGI MAKANAN, DARI GENERASI LAMA HINGGA TERKINI

TERAPI ANTIHISTAMIN PADA ALERGI MAKANAN, DARI GENERASI LAMA HINGGA TERKINI

Abstrak

Antihistamin merupakan obat yang banyak digunakan untuk mengurangi gejala alergi makanan yang dimediasi imunoglobulin E (IgE), terutama gatal, urtikaria, dan angioedema ringan. Selama beberapa dekade, antihistamin generasi pertama menjadi terapi utama. Namun, perkembangan farmakologi menghasilkan antihistamin generasi kedua yang memiliki efektivitas serupa dengan efek sedasi dan gangguan kognitif yang jauh lebih rendah. Saat ini, berbagai pedoman internasional merekomendasikan antihistamin generasi kedua sebagai pilihan utama untuk sebagian besar penyakit alergi. Meskipun demikian, pada anafilaksis, antihistamin bukan terapi lini pertama. Adrenalin intramuskular tetap menjadi terapi utama, sedangkan antihistamin hanya berperan sebagai terapi tambahan untuk mengurangi gejala kulit. Artikel ini membahas perkembangan antihistamin dari generasi lama hingga terkini berdasarkan bukti ilmiah dan pedoman internasional.

Kata kunci: antihistamin, alergi makanan, histamin, anafilaksis, cetirizine, bilastine.

Pendahuluan

Histamin merupakan mediator utama reaksi alergi yang dilepaskan dari sel mast dan basofil setelah paparan alergen pada individu yang telah tersensitisasi. Ikatan histamin dengan reseptor H1 menimbulkan gatal, kemerahan, urtikaria, bersin, rinore, dan edema jaringan. Oleh karena itu, antagonis reseptor H1 menjadi terapi farmakologis utama untuk mengurangi gejala tersebut.

Sejak tahun 1940-an, antihistamin generasi pertama digunakan secara luas. Obat ini efektif menghambat reseptor H1, tetapi mudah menembus sawar darah otak sehingga sering menyebabkan kantuk, gangguan konsentrasi, penurunan kemampuan mengemudi, dan efek antikolinergik. Perkembangan antihistamin generasi kedua menghasilkan obat yang lebih selektif terhadap reseptor H1 perifer sehingga efek sedasi jauh lebih kecil. Saat ini sebagian besar pedoman alergi dunia lebih memilih antihistamin generasi kedua sebagai terapi lini pertama pada penyakit alergi.

Mekanisme Kerja Antihistamin

Antihistamin H1 bekerja dengan menghambat aktivasi reseptor H1 oleh histamin sehingga menurunkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, stimulasi ujung saraf sensorik, dan kontraksi otot polos. Akibatnya, gejala seperti gatal, bentol, kemerahan, bersin, dan rinore berkurang.

Antihistamin tidak menghambat pelepasan histamin dari sel mast dan tidak mampu membalikkan hipotensi, bronkospasme berat, atau syok pada anafilaksis. Oleh karena itu, antihistamin tidak boleh menggantikan adrenalin pada reaksi alergi berat.

Tabel. Perkembangan Antihistamin

Generasi Contoh Kelebihan Keterbatasan
Generasi pertama Diphenhydramine, Chlorpheniramine, Promethazine, Hydroxyzine Onset cepat, efektif mengurangi gatal Sedasi, gangguan konsentrasi, efek antikolinergik
Generasi kedua awal Loratadine, Cetirizine, Fexofenadine Efektif, sedasi minimal, durasi panjang Cetirizine masih dapat menyebabkan kantuk ringan pada sebagian pasien
Generasi kedua terbaru Desloratadine, Levocetirizine, Bilastine, Rupatadine Sangat selektif, sedasi sangat rendah, keamanan lebih baik Harga lebih tinggi di beberapa negara

Antihistamin Generasi Pertama

Antihistamin generasi pertama merupakan obat yang paling lama digunakan untuk penyakit alergi. Contohnya adalah diphenhydramine, chlorpheniramine, hydroxyzine, dan promethazine.

Obat-obatan ini mudah melewati sawar darah otak sehingga sering menyebabkan kantuk, penurunan kewaspadaan, gangguan memori, mulut kering, retensi urin, dan konstipasi. Efek tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama pada pelajar, pekerja, pengemudi, dan lanjut usia. Karena alasan tersebut, penggunaannya saat ini semakin dibatasi.

Antihistamin Generasi Kedua

Antihistamin generasi kedua dikembangkan agar lebih selektif terhadap reseptor H1 perifer dan memiliki penetrasi minimal ke sistem saraf pusat. Obat ini memberikan kontrol gejala yang baik dengan efek sedasi yang jauh lebih rendah.

Cetirizine memiliki onset kerja cepat, sedangkan loratadine dan desloratadine memberikan efek lebih lama. Fexofenadine hampir tidak menyebabkan kantuk karena tidak menembus sawar darah otak. Bilastine dan rupatadine merupakan antihistamin yang lebih baru dengan profil keamanan dan tolerabilitas yang sangat baik.

Tabel. Antihistamin H1 Generasi Kedua Terkini

Obat Generasi Sedasi Lama kerja Keunggulan Keterbatasan
Bilastine Terbaru Sangat rendah 24 jam Efikasi tinggi, hampir tidak menembus otak, tidak perlu penyesuaian dosis pada gangguan ginjal atau hati, interaksi obat minimal Sebaiknya diminum saat perut kosong, buah dan jus dapat menurunkan absorpsi
Fexofenadine Kedua Sangat rendah 24 jam Hampir tidak menyebabkan kantuk, aman untuk aktivitas yang memerlukan konsentrasi Jus apel, jeruk, dan grapefruit menurunkan absorpsi
Desloratadine Kedua Rendah ≥24 jam Efektif untuk rinitis alergi dan urtikaria, sekali sehari Dapat berinteraksi dengan beberapa obat tertentu
Levocetirizine Kedua Rendah hingga sedang ≥24 jam Onset cepat, efektif untuk urtikaria Sedasi lebih sering dibanding bilastine atau fexofenadine, perlu penyesuaian pada gangguan ginjal
Cetirizine Kedua Sedang ≥24 jam Efikasi sangat baik, harga terjangkau, tersedia luas Lebih sering menyebabkan kantuk dibanding antihistamin generasi kedua lainnya
Loratadine Kedua Rendah 24 jam Sedasi minimal, tersedia luas, biaya relatif murah Memerlukan metabolisme hati
Rupatadine Terbaru Rendah 24 jam Selain menghambat reseptor H1 juga menghambat platelet-activating factor, onset cepat Tidak selalu tersedia di semua negara, perlu perhatian pada interaksi obat
Ebastine Kedua Rendah 24 jam Efektif untuk rinitis alergi dan urtikaria Dapat berinteraksi dengan obat yang memengaruhi enzim CYP3A4

Keterangan:

  • Antihistamin generasi kedua merupakan terapi lini pertama untuk rinitis alergi dan urtikaria menurut pedoman EAACI, ARIA, dan WAO karena efektif dengan efek sedasi yang jauh lebih rendah dibanding generasi pertama.
  • Pada anafilaksis akibat alergi makanan, antihistamin hanya sebagai terapi tambahan. Adrenalin intramuskular tetap merupakan terapi lini pertama.

Antihistamin Terkini

  • Perkembangan terbaru menekankan penggunaan antihistamin generasi kedua sebagai terapi pilihan pertama pada sebagian besar penyakit alergi.
  • Bilastine memiliki afinitas tinggi terhadap reseptor H1, hampir tidak dimetabolisme di hati, dan memiliki risiko interaksi obat yang rendah. Desloratadine dan levocetirizine juga memberikan kontrol gejala yang baik dengan sedasi minimal. Rupatadine memiliki aktivitas tambahan terhadap platelet activating factor sehingga berpotensi memberikan manfaat pada beberapa kondisi alergi.
  • Pemilihan obat disesuaikan dengan usia, penyakit penyerta, fungsi ginjal, fungsi hati, serta kemungkinan interaksi obat.

Peran Antihistamin pada Alergi Makanan

Pada alergi makanan ringan hingga sedang, antihistamin efektif mengurangi gatal, urtikaria, dan angioedema ringan.

Pada anafilaksis, antihistamin tidak dapat mengatasi obstruksi jalan napas, hipotensi, bronkospasme, maupun syok. Pedoman internasional menegaskan bahwa adrenalin intramuskular merupakan terapi lini pertama, sedangkan antihistamin hanya sebagai terapi tambahan setelah pemberian adrenalin.

Tabel. Peran Antihistamin Berdasarkan Derajat Reaksi Alergi

Kondisi Peran antihistamin
Gatal ringan Terapi utama simptomatik
Urtikaria Terapi utama simptomatik
Angioedema ringan Membantu mengurangi gejala
Mual ringan akibat reaksi alergi Dapat membantu bila disertai gejala kulit
Anafilaksis Bukan terapi utama
Syok anafilaksis Tidak efektif, wajib adrenalin intramuskular

Efek Samping

Efek samping antihistamin generasi pertama meliputi kantuk, penurunan refleks, gangguan belajar, gangguan mengemudi, mulut kering, retensi urin, dan hipotensi ortostatik.

Antihistamin generasi kedua jauh lebih aman. Cetirizine masih dapat menyebabkan kantuk ringan pada sebagian pasien, sedangkan fexofenadine, bilastine, desloratadine, dan loratadine memiliki efek sedasi yang sangat rendah.

Kesimpulan

Antihistamin tetap menjadi terapi penting untuk mengurangi gejala alergi makanan yang ringan hingga sedang. Perkembangan farmakologi telah menggeser penggunaan dari antihistamin generasi pertama menuju generasi kedua karena efektivitas yang setara dengan profil keamanan yang lebih baik. Pada praktik klinis modern, antihistamin generasi kedua menjadi pilihan utama untuk sebagian besar pasien. Pada anafilaksis, antihistamin hanya merupakan terapi tambahan dan tidak boleh menggantikan adrenalin intramuskular sebagai terapi penyelamat.

Daftar Pustaka

  1. Richards S, Tang MLK. Pharmacological management of acute food-allergic reactions. Chem Immunol Allergy. 2015;101:96-105. doi:10.1159/000374080.
  2. Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(6 Suppl):S1-S58.
  3. Fein MN, Fischer DA, O’Keefe AW, Sussman GL. CSACI position statement: Newer generation H1-antihistamines are safer than first-generation H1-antihistamines and should be the first-line antihistamines. Allergy Asthma Clin Immunol. 2019;15:61.
  4. Pawankar R, et al. Selecting optimal second-generation antihistamines for allergic rhinitis and urticaria in Asia. Clin Mol Allergy. 2017;15:19.
Visited 2 times, 2 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *