ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Hubungan Alergi dan Overactive Bladder (OAB) pada Anak

Hubungan Alergi dan Overactive Bladder (OAB) pada Anak

Penelitian oleh Yin L dkk. (Frontiers in Pediatrics, 2022) menunjukkan bahwa anak dengan penyakit alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami Overactive Bladder (OAB) dibandingkan anak tanpa alergi. Hubungan ini diduga disebabkan oleh aktivasi sistem imun, pelepasan histamin, serta peradangan kronis yang dapat memengaruhi saraf dan otot kandung kemih.

Beberapa penyakit alergi yang paling sering berhubungan dengan OAB adalah asma, rinitis alergi, dermatitis atopik (eksim), alergi makanan, dan peningkatan kadar IgE. Pada anak-anak dengan alergi, pelepasan mediator inflamasi seperti histamin dan sitokin dapat meningkatkan sensitivitas kandung kemih sehingga muncul rasa ingin berkemih yang mendadak meskipun volume urin belum banyak. Temuan ini menunjukkan bahwa pada sebagian anak, OAB bukan hanya masalah saluran kemih, tetapi juga dapat berkaitan dengan gangguan sistem imun dan alergi.

Gejala Overactive Bladder (OAB) pada Anak

Gejala utama OAB adalah keinginan berkemih yang sangat mendesak (urgency) yang sulit ditahan. Anak sering tiba-tiba berlari ke toilet karena takut tidak sempat menahan kencing.

Gejala lain yang sering ditemukan meliputi:

Frekuensi buang air kecil meningkat (biasanya >8 kali pada siang hari).

Sulit menahan kencing.

Mengompol pada siang hari (daytime urinary incontinence).

Mengompol saat tidur malam (nokturnal enuresis) pada sebagian anak.

Buang air kecil sedikit-sedikit tetapi sering.

Menahan kencing dengan menyilangkan kaki, jongkok, atau memegang area genital (holding maneuver).

Rasa tidak tuntas setelah berkemih.

Tidak ada tanda infeksi saluran kemih pada sebagian besar kasus.

Hubungan OAB dan Alergi

Penelitian Yin L dkk. menemukan bahwa anak dengan OAB memiliki angka kejadian penyakit alergi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Aktivasi sel mast dan pelepasan histamin diduga menyebabkan peningkatan kontraksi otot detrusor kandung kemih dan hipersensitivitas saraf kandung kemih. Pada beberapa anak, pengendalian penyakit alergi dapat membantu memperbaiki gejala OAB, meskipun hubungan sebab-akibat masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Kapan Harus Mencurigai Alergi sebagai Penyebab OAB?

Kemungkinan adanya keterkaitan alergi perlu dipertimbangkan bila anak dengan OAB juga mengalami:

  • Rinitis alergi (bersin, hidung gatal, hidung tersumbat).
  • Asma atau batuk berulang.
  • Dermatitis atopik (eksim).
  • Alergi makanan,malergi pencernaan sembelit, mudah diare, nyeri perut, mual, muntah Gerd
  • Riwayat keluarga dengan penyakit alergi.
  • Kadar IgE yang meningkat atau bukti sensitisasi alergi sesuai indikasi klinis.

Implikasi Klinis

Evaluasi anak dengan OAB sebaiknya tidak hanya berfokus pada saluran kemih, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan adanya penyakit alergi. Penatalaksanaan yang komprehensif mencakup terapi perilaku berkemih (urotherapy), penanganan konstipasi bila ada, pengobatan OAB sesuai indikasi, serta pengendalian penyakit alergi yang menyertai. Pendekatan multidisiplin ini berpotensi memberikan hasil yang lebih baik pada sebagian anak.

Referensi

  • Yin L, Zhang Z, Zheng Y, et al. Clinical Correlation Between Overactive Bladder and Allergy in Children. Front Pediatr. 2022;9:813161. doi:10.3389/fped.2021.813161.
Visited 7 times, 7 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *