
ALERGI MAKANAN DAN INFEKSI SALURAN KEMIH BERULANG PADA ANAK: TINJAUAN ILMIAH BERBASIS BUKTI
ABSTRAK
Infeksi saluran kemih (ISK) berulang merupakan salah satu infeksi bakteri yang sering dijumpai pada anak dan dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal bila tidak ditangani secara tepat. Faktor risiko yang telah terbukti meliputi kelainan anatomi saluran kemih, disfungsi berkemih, konstipasi, refluks vesikoureter, dan gangguan pengosongan kandung kemih. Sejumlah penelitian juga melaporkan kemungkinan hubungan antara alergi makanan, inflamasi mukosa, dan ISK berulang pada sebagian anak. Namun, bukti ilmiah mengenai hubungan sebab akibat masih terbatas dan belum menjadi bagian dari rekomendasi rutin dalam pedoman internasional. Artikel ini membahas mekanisme yang mungkin mendasari hubungan tersebut, bukti penelitian yang tersedia, serta pendekatan diagnosis dan tata laksana yang berbasis bukti.
PENDAHULUAN
Infeksi saluran kemih berulang didefinisikan sebagai dua atau lebih episode ISK dalam enam bulan atau sedikitnya tiga episode dalam satu tahun. Penyebab tersering adalah bakteri Escherichia coli, diikuti bakteri Gram negatif lainnya. Faktor predisposisi yang paling sering adalah refluks vesikoureter, konstipasi kronis, gangguan berkemih, disfungsi kandung kemih dan usus, serta kelainan anatomi saluran kemih.
Dalam beberapa dekade terakhir muncul hipotesis bahwa sebagian anak dengan alergi makanan mengalami inflamasi kronis pada mukosa usus, kandung kemih, atau saluran kemih yang dapat meningkatkan risiko ISK berulang. Hipotesis ini terutama berasal dari laporan kasus dan penelitian observasional. Meskipun menarik, bukti tersebut belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung ISK berulang pada sebagian besar anak.
PATOFISIOLOGI
Alergi makanan menyebabkan aktivasi sel mast, eosinofil, limfosit T, serta pelepasan berbagai sitokin inflamasi. Inflamasi kronis dapat meningkatkan permeabilitas mukosa, mengganggu fungsi sawar epitel, dan memengaruhi respons imun lokal. Mekanisme ini telah terbukti pada saluran cerna dan beberapa organ mukosa lainnya.
Pada sebagian pasien, inflamasi alergi diduga dapat memengaruhi kandung kemih melalui infiltrasi eosinofil, aktivasi mediator inflamasi, dan gangguan fungsi saraf otonom. Akibatnya dapat terjadi urgensi berkemih, gangguan pengosongan kandung kemih, retensi urin ringan, atau disfungsi berkemih yang meningkatkan risiko kolonisasi bakteri.
Alergi makanan juga sering berkaitan dengan konstipasi kronis. Rektum yang penuh akibat konstipasi dapat menekan kandung kemih sehingga pengosongan urin menjadi tidak sempurna. Sisa urin merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri sehingga meningkatkan risiko ISK berulang. Mekanisme ini lebih didukung bukti dibandingkan hubungan langsung alergi terhadap infeksi saluran kemih.
HUBUNGAN ALERGI MAKANAN DAN ISK BERULANG
Laporan Horesh tahun 1976 merupakan salah satu publikasi awal yang mengemukakan kemungkinan hubungan antara alergi dan ISK berulang pada anak. Penelitian tersebut melaporkan bahwa sebagian pasien menunjukkan perbaikan setelah terapi antialergi. Namun desain penelitian pada masa itu memiliki keterbatasan metodologi sehingga hasilnya belum dapat dijadikan bukti kuat.
Penelitian modern lebih banyak menunjukkan bahwa alergi makanan berhubungan dengan inflamasi kronis, dermatitis atopik, asma, rinitis alergi, konstipasi, dan infeksi saluran napas berulang. Bukti mengenai hubungan langsung dengan ISK masih sedikit dan sebagian besar berupa studi observasional atau laporan kasus.
Oleh karena itu, organisasi internasional seperti EAACI, WAO, AAAAI, ESPGHAN, maupun AAP belum merekomendasikan pemeriksaan alergi secara rutin pada semua anak dengan ISK berulang. Evaluasi alergi dipertimbangkan bila disertai gejala klinis yang kuat, seperti dermatitis atopik, gangguan saluran cerna, konstipasi kronis, atau reaksi yang konsisten setelah konsumsi makanan tertentu.
PENJELASAN ILMIAH
Anak dengan ISK berulang tetap harus dievaluasi terlebih dahulu terhadap penyebab yang telah terbukti, termasuk pemeriksaan urin, kultur urin, ultrasonografi ginjal dan saluran kemih, evaluasi refluks vesikoureter bila terdapat indikasi, serta penilaian gangguan berkemih dan konstipasi.
Apabila ditemukan riwayat yang konsisten mengarah pada alergi makanan, evaluasi alergi dilakukan sesuai pedoman. Diagnosis tidak boleh hanya berdasarkan dugaan, hasil IgG makanan, atau pemeriksaan alternatif yang belum tervalidasi.
Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis alergi makanan bila riwayat klinis dan pemeriksaan pendukung belum memberikan kepastian. OFC hanya dilakukan oleh dokter yang berpengalaman dengan fasilitas penanganan reaksi alergi.
Bila alergi makanan telah dipastikan dan makanan pemicu dihindari secara tepat, beberapa pasien dapat mengalami perbaikan gejala alergi, konstipasi, gangguan berkemih, maupun infeksi yang berulang. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti bahwa eliminasi makanan dapat menjadi terapi standar untuk semua kasus ISK berulang.
SARAN
Pada anak dengan ISK berulang, prioritas utama adalah mencari penyebab yang telah terbukti, seperti refluks vesikoureter, konstipasi, gangguan berkemih, atau kelainan anatomi. Evaluasi alergi makanan dilakukan bila terdapat riwayat klinis yang sesuai. Hindari menetapkan alergi makanan hanya berdasarkan dugaan atau pemeriksaan yang tidak tervalidasi. Bila diperlukan, konfirmasi diagnosis dilakukan dengan Oral Food Challenge sesuai indikasi klinis.
KESIMPULAN
Infeksi saluran kemih berulang memiliki banyak penyebab yang telah terbukti secara ilmiah. Alergi makanan diduga dapat berperan pada sebagian kecil pasien melalui mekanisme inflamasi mukosa, konstipasi, dan gangguan fungsi kandung kemih. Namun, bukti yang ada masih terbatas sehingga hubungan sebab akibat belum dapat dipastikan. Pendekatan diagnosis harus tetap mengikuti pedoman berbasis bukti, sedangkan evaluasi alergi dilakukan secara selektif pada pasien dengan riwayat klinis yang mendukung.
DAFTAR PUSTAKA
- Horesh AJ. Allergy and recurrent urinary tract infections in childhood. Ann Allergy. 1976;36(1):16-22.
- Aggarwal N, Leslie SW. Recurrent Urinary Tract Infections. StatPearls Publishing. Updated 2025.
- Subcommittee on Urinary Tract Infection, American Academy of Pediatrics. Urinary Tract Infection Clinical Practice Guideline. Pediatrics.
- European Association of Urology. Guidelines on Urological Infections. 2025.
- National Institute for Health and Care Excellence. Urinary Tract Infection in Children. NICE Guideline.
- Muraro A, et al. EAACI Guidelines on IgE-Mediated Food Allergy. Allergy.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018.
- Fiocchi A, et al. World Allergy Organization Position Paper. Oral Food Challenge Testing.








Leave a Reply