
ALERGI PADA BAYI, EPIDEMIOLOGI DAN INTERPRETASI BERDASARKAN BUKTI ILMIAH
Penyakit alergi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia, terutama pada bayi dan anak. Alergi makanan, dermatitis atopik, asma, dan rinitis alergi menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat memengaruhi pertumbuhan, kualitas hidup, serta meningkatkan beban pelayanan kesehatan. Tinjauan World Allergy Organization Journal tahun 2021 menyimpulkan bahwa peningkatan kejadian alergi tidak hanya dipengaruhi faktor genetik, tetapi juga berbagai faktor lingkungan atau exposome sejak masa prenatal hingga awal kehidupan.
Berbagai faktor yang berhubungan dengan peningkatan risiko alergi meliputi persalinan sesar, urbanisasi, polusi udara, penggunaan antibiotik dini, perubahan mikrobiota usus, pola makan bergaya Barat, serta berkurangnya paparan mikroba alami. Sebaliknya, paparan lingkungan pertanian, keberadaan saudara kandung, keanekaragaman mikrobiota, dan komponen bioaktif dalam ASI diduga memberikan efek protektif terhadap perkembangan alergi. Meskipun ASI terbukti melindungi bayi dari penyakit infeksi, perannya dalam pencegahan alergi makanan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Artikel ini membahas epidemiologi alergi pada bayi, faktor risiko, mekanisme yang mendasari peningkatan kejadian alergi, serta strategi pencegahan berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Pendahuluan
Dalam tiga dekade terakhir terjadi peningkatan tajam prevalensi penyakit alergi di berbagai negara. Organisasi kesehatan internasional memperkirakan bahwa pada tahun 2050 sekitar dua hingga empat miliar penduduk dunia akan mengalami penyakit alergi seperti asma, dermatitis atopik, rinitis alergi, maupun alergi makanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa alergi telah menjadi masalah kesehatan global yang memerlukan strategi pencegahan sejak awal kehidupan.
Periode bayi merupakan masa kritis pembentukan sistem imun. Interaksi antara faktor genetik, lingkungan, mikrobiota usus, nutrisi, serta paparan antigen selama masa prenatal dan awal kehidupan menentukan perkembangan toleransi imun. Perubahan gaya hidup modern diduga mengganggu proses tersebut sehingga meningkatkan risiko penyakit alergi.
Penyakit Alergi pada Bayi
Penyakit alergi merupakan kumpulan gangguan akibat respons imun yang berlebihan terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti protein makanan, tungau debu, serbuk sari, atau bulu hewan. Manifestasi alergi pada bayi dapat mengenai kulit, saluran cerna, saluran napas, maupun beberapa organ sekaligus.
Penyakit alergi yang paling sering ditemukan pada bayi meliputi dermatitis atopik, alergi makanan, rinitis alergi, dan asma. Keempat penyakit tersebut dikenal sebagai bagian dari “allergic march”, yaitu perjalanan alamiah penyakit alergi yang dapat berkembang seiring bertambahnya usia.
Epidemiologi Alergi pada Bayi
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prevalensi alergi makanan meningkat hampir dua kali lipat dalam dua dekade terakhir di beberapa negara. Di Inggris, prevalensi alergi makanan meningkat dari sekitar 3,5% menjadi lebih dari 7% pada bayi yang lahir setelah tahun 2009. Di China, prevalensi alergi makanan yang dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge meningkat dari 3,5% menjadi 7,7% pada bayi usia 0 hingga 24 bulan.
Peningkatan terutama terjadi pada alergi telur, sedangkan prevalensi alergi susu sapi relatif stabil. Di Australia, prevalensi alergi telur pada dua tahun pertama kehidupan mencapai hampir 9%. Di berbagai negara Asia, alergi telur juga lebih sering ditemukan dibandingkan alergi susu sapi.
Tabel 1. Tren Epidemiologi Alergi Makanan pada Bayi
| Temuan | Hasil |
|---|---|
| Inggris 2005 hingga 2007 | Sekitar 3,5% |
| Inggris 2009 hingga 2012 | 7,1 hingga 7,3% |
| China 1990 | 3,5% |
| China 2009 | 7,7% |
| Australia, alergi telur usia kurang dari 2 tahun | 8,9% |
| Alergi susu sapi | Relatif stabil |
Faktor Risiko Terjadinya Alergi
Perkembangan penyakit alergi merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Walaupun faktor genetik berperan, sebagian besar peningkatan prevalensi alergi dijelaskan oleh perubahan lingkungan modern.
Faktor yang meningkatkan risiko alergi meliputi persalinan sesar, penggunaan antibiotik pada awal kehidupan, tinggal di daerah perkotaan, polusi udara, paparan asap rokok, obesitas ibu, stres selama kehamilan, serta pola makan tinggi makanan ultra proses. Faktor-faktor tersebut dapat mengubah mikrobiota usus dan memengaruhi maturasi sistem imun.
Tabel 2. Faktor yang Meningkatkan Risiko Alergi
| Faktor | Pengaruh |
|---|---|
| Persalinan sesar | Meningkatkan risiko alergi |
| Antibiotik dini | Mengganggu mikrobiota usus |
| Urbanisasi | Risiko lebih tinggi |
| Polusi udara | Meningkatkan inflamasi |
| Obesitas ibu | Berhubungan dengan dermatitis atopik |
| Stres saat hamil | Diduga meningkatkan risiko alergi |
| Diet Barat | Berhubungan dengan peningkatan alergi |
Exposome dan Perkembangan Alergi
Konsep exposome menjelaskan seluruh paparan lingkungan yang dialami seseorang sejak sebelum konsepsi hingga sepanjang kehidupan. Faktor-faktor tersebut memengaruhi ekspresi gen, perkembangan sistem imun, serta komposisi mikrobiota usus.
Paparan lingkungan pada awal kehidupan diperkirakan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan faktor genetik semata. Oleh karena itu, strategi pencegahan alergi perlu dimulai sejak masa kehamilan hingga periode bayi.
Mikrobiota Usus dan Hipotesis Higiene
Hipotesis higiene menyatakan bahwa berkurangnya paparan mikroorganisme pada awal kehidupan menyebabkan dominasi respons imun tipe Th2 yang meningkatkan risiko alergi. Bayi yang tumbuh pada lingkungan dengan paparan mikroba yang lebih beragam memiliki risiko alergi lebih rendah.
Disbiosis atau gangguan keseimbangan mikrobiota usus akibat persalinan sesar, antibiotik, maupun pola makan modern dapat mengganggu pembentukan toleransi imun sehingga meningkatkan risiko alergi makanan dan penyakit atopik lainnya.
Faktor Protektif terhadap Alergi
Beberapa faktor diketahui menurunkan risiko alergi. Tinggal di lingkungan pertanian, memiliki saudara kandung lebih banyak, paparan terhadap mikroorganisme alami, serta keberagaman mikrobiota usus berhubungan dengan penurunan kejadian penyakit alergi.
ASI mengandung imunoglobulin, sitokin, oligosakarida, dan berbagai komponen bioaktif yang membantu pembentukan sistem imun bayi. Walaupun manfaat ASI dalam mencegah infeksi telah terbukti, bukti mengenai pencegahan alergi makanan masih belum konsisten.
Tabel 3. Faktor yang Diduga Melindungi terhadap Alergi
| Faktor | Mekanisme yang Diduga |
|---|---|
| Persalinan pervaginam | Kolonisasi mikrobiota normal |
| Lingkungan pertanian | Paparan mikroba lebih tinggi |
| Memiliki saudara kandung | Paparan infeksi lebih beragam |
| ASI | Imunoglobulin, sitokin, prebiotik |
| Mikrobiota usus yang beragam | Meningkatkan toleransi imun |
| Pengenalan MPASI sesuai usia | Membantu perkembangan toleransi oral |
Pencegahan Alergi pada Bayi
Pencegahan alergi dimulai sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan. Ibu dianjurkan menjalani pola makan seimbang tanpa menghindari makanan alergen secara rutin kecuali terdapat indikasi medis. Persalinan normal dipilih bila tidak terdapat kontraindikasi obstetri.
ASI eksklusif selama sekitar enam bulan tetap dianjurkan karena manfaatnya terhadap kesehatan bayi sangat jelas. Setelah usia sekitar enam bulan, makanan pendamping ASI diberikan sesuai kesiapan bayi, termasuk makanan yang berpotensi menjadi alergen, tanpa penundaan yang tidak diperlukan pada sebagian besar bayi. Penggunaan antibiotik harus rasional dan hanya berdasarkan indikasi medis.
Kesimpulan
Prevalensi penyakit alergi pada bayi terus meningkat di berbagai negara dan menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Faktor lingkungan pada awal kehidupan memiliki peran penting dalam perkembangan alergi melalui pengaruhnya terhadap sistem imun dan mikrobiota usus. Persalinan sesar, penggunaan antibiotik dini, urbanisasi, dan pola hidup modern berhubungan dengan peningkatan risiko alergi, sedangkan lingkungan pertanian, keberagaman mikrobiota, serta ASI diduga memberikan efek protektif. Strategi pencegahan perlu difokuskan pada optimalisasi faktor lingkungan sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Daftar Pustaka
- Annesi-Maesano I, Fleddermann M, Hornef M, von Mutius E, Pabst O, Schaubeck M, Fiocchi A. Allergic diseases in infancy. I. Epidemiology and current interpretation. World Allergy Organ J. 2021;14(11):100591.
- Muraro A, Agache I, Clark A, et al. EAACI food allergy and anaphylaxis guidelines. Allergy.
- Fiocchi A, Brozek J, Schünemann H, et al. World Allergy Organization Guidelines for the Diagnosis and Management of Cow’s Milk Allergy.
- Prescott SL, Allen KJ. Food allergy. Riding the second wave of the allergy epidemic. Pediatr Allergy Immunol.
- Nwaru BI, Hickstein L, Panesar SS, et al. The epidemiology of food allergy in Europe. Allergy.







Leave a Reply