FAKTOR RISIKO TERJADINYA ALERGI MAKANAN PADA BAYI DAN ANAK, TINJAUAN SISTEMATIK DAN METAANALISIS BERDASARKAN BUKTI ILMIAH
Abstrak
Alergi makanan merupakan salah satu penyakit alergi dengan peningkatan insidensi tercepat di seluruh dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin penting. Penyakit ini umumnya muncul pada awal kehidupan dan dapat menimbulkan reaksi mulai dari gejala ringan hingga anafilaksis. Selain meningkatkan beban medis, alergi makanan juga berdampak terhadap kualitas hidup anak, keluarga, serta biaya pelayanan kesehatan. Meskipun berbagai faktor telah dikaitkan dengan terjadinya alergi makanan, masih terdapat ketidakpastian mengenai faktor risiko yang paling berperan.
Tinjauan sistematik dan metaanalisis yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics tahun 2026 menganalisis 190 penelitian yang melibatkan sekitar 2,8 juta peserta dari 40 negara. Analisis menunjukkan bahwa insidensi alergi makanan yang dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge (OFC) mencapai sekitar 4,7%. Faktor risiko dengan bukti paling kuat meliputi penyakit alergi sebelumnya seperti dermatitis atopik, peningkatan kehilangan air melalui kulit atau transepidermal water loss, mutasi gen filaggrin, keterlambatan pemberian makanan padat terutama alergen, paparan antibiotik pada bayi dan masa kehamilan, jenis kelamin laki-laki, anak pertama, riwayat alergi dalam keluarga, persalinan sesar, serta beberapa faktor demografi. Sebaliknya, berat badan lahir rendah, kehamilan postterm, pola makan ibu, dan stres selama kehamilan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Pendahuluan
Alergi makanan merupakan penyakit akibat respons imun terhadap protein makanan yang dikonsumsi. Pada bayi dan anak, penyakit ini paling sering dimediasi oleh imunoglobulin E, meskipun mekanisme non-IgE maupun campuran juga dapat terjadi. Manifestasi klinis dapat mengenai kulit, saluran cerna, saluran napas, hingga sistem kardiovaskular. Pada kasus berat dapat terjadi anafilaksis yang memerlukan penanganan segera.
Dalam dua dekade terakhir prevalensi alergi makanan meningkat di berbagai negara. Perubahan gaya hidup, urbanisasi, perubahan pola mikrobiota, paparan antibiotik, perubahan pola makan, serta keterlambatan paparan alergen diduga berkontribusi terhadap peningkatan tersebut. Oleh karena itu, identifikasi faktor risiko menjadi dasar penting dalam upaya pencegahan primer.
Epidemiologi
Metaanalisis terbaru menunjukkan bahwa insidensi alergi makanan yang dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge sekitar 4,7% sebelum usia enam tahun. Angka ini lebih rendah dibanding prevalensi berdasarkan laporan orang tua atau pemeriksaan IgE saja, yang sering kali menyebabkan overdiagnosis.
Sebagian besar kasus muncul pada tahun pertama kehidupan. Alergen tersering meliputi susu sapi, telur, kacang tanah, gandum, kedelai, ikan, dan makanan laut. Pada banyak anak, alergi terhadap susu sapi dan telur dapat menghilang seiring pertumbuhan, sedangkan alergi kacang tanah dan kacang pohon lebih sering menetap hingga dewasa.
Faktor Risiko Terjadinya Alergi Makanan
Perkembangan alergi makanan dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik, fungsi sawar kulit, sistem imun, mikrobiota usus, dan faktor lingkungan. Tidak ada satu faktor tunggal yang menjadi penyebab utama.
Penyakit Alergi Sebelumnya
Dermatitis atopik merupakan faktor risiko terkuat. Bayi dengan eksim pada tahun pertama kehidupan memiliki risiko hampir empat kali lebih tinggi mengalami alergi makanan dibanding bayi tanpa eksim. Risiko meningkat pada dermatitis atopik yang berat akibat gangguan fungsi sawar kulit sehingga alergen lebih mudah masuk melalui kulit.
Selain dermatitis atopik, rinitis alergi dan mengi pada awal kehidupan juga meningkatkan risiko alergi makanan sebagai bagian dari konsep atopic march.
Gangguan Sawar Kulit
Peningkatan transepidermal water loss menunjukkan gangguan fungsi sawar kulit. Kondisi ini mempermudah masuknya alergen melalui kulit sehingga meningkatkan proses sensitisasi. Temuan ini semakin memperkuat pentingnya menjaga integritas kulit bayi sejak dini.
Faktor Genetik
Mutasi gen filaggrin meningkatkan risiko alergi makanan hampir dua kali lipat. Filaggrin berperan mempertahankan fungsi sawar kulit sehingga kelainan gen ini memudahkan penetrasi alergen. Walaupun demikian, faktor genetik tidak bekerja sendiri dan sangat dipengaruhi lingkungan.
Keterlambatan Pengenalan Makanan Alergen
Salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah keterlambatan pemberian makanan padat, terutama makanan alergen. Pengenalan kacang tanah setelah usia 12 bulan meningkatkan risiko alergi dibanding pemberian pada usia yang sesuai.
Temuan ini mendukung rekomendasi internasional untuk memperkenalkan makanan pendamping ASI sekitar usia 4 hingga 6 bulan sesuai kesiapan perkembangan bayi, termasuk makanan yang berpotensi menimbulkan alergi.
Paparan Antibiotik
Penggunaan antibiotik pada masa kehamilan, persalinan, maupun tahun pertama kehidupan berkaitan dengan peningkatan risiko alergi makanan. Antibiotik diduga mengubah komposisi mikrobiota usus sehingga mengganggu perkembangan toleransi imun terhadap makanan.
Riwayat Keluarga
Riwayat alergi pada orang tua maupun saudara kandung meningkatkan risiko alergi makanan pada bayi. Risiko meningkat apabila kedua orang tua memiliki penyakit alergi.
Faktor Persalinan
Persalinan sesar sedikit meningkatkan risiko alergi makanan. Salah satu mekanisme yang diduga adalah perubahan kolonisasi mikrobiota usus akibat tidak terpaparnya bayi terhadap flora normal jalan lahir.
Faktor Demografi
Jenis kelamin laki-laki memiliki risiko sedikit lebih tinggi dibanding perempuan pada awal kehidupan. Anak pertama juga memiliki risiko lebih tinggi dibanding anak berikutnya, sesuai dengan hipotesis higiene yang menyatakan bahwa paparan mikroorganisme pada keluarga besar dapat memberikan efek protektif.
Faktor yang Tidak Terbukti Bermakna
Metaanalisis menunjukkan beberapa faktor yang sebelumnya sering diduga berhubungan ternyata belum memiliki bukti kuat, yaitu berat badan lahir rendah, kehamilan lewat waktu, pola makan ibu selama kehamilan, dan stres ibu selama kehamilan. Bukti yang tersedia masih belum menunjukkan hubungan yang konsisten.
Peran Oral Food Challenge
Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan riwayat, pemeriksaan IgE spesifik, maupun skin prick test. Pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak selalu berarti alergi klinis.
Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis alergi makanan karena mampu memastikan apakah suatu makanan benar-benar menimbulkan reaksi klinis. Pada banyak penelitian, prevalensi alergi makanan yang dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge jauh lebih rendah dibanding diagnosis berdasarkan laporan gejala atau pemeriksaan laboratorium saja. Oleh karena itu, penggunaan Oral Food Challenge sangat penting untuk mencegah overdiagnosis, pembatasan makanan yang tidak diperlukan, gangguan pertumbuhan, serta kekurangan zat gizi.
Implikasi Pencegahan
Pencegahan alergi makanan sebaiknya difokuskan pada faktor yang dapat dimodifikasi. Bayi dengan dermatitis atopik memerlukan pengendalian kelainan kulit sejak dini. Pemberian makanan pendamping tidak perlu ditunda setelah bayi siap makan. Antibiotik digunakan hanya bila terdapat indikasi yang jelas. Persalinan sesar dilakukan berdasarkan indikasi medis. Bayi dengan riwayat keluarga alergi memerlukan pemantauan lebih ketat terhadap gejala alergi pada tahun pertama kehidupan.
Kesimpulan
Metaanalisis terhadap 190 penelitian menunjukkan bahwa sekitar satu dari dua puluh anak mengalami alergi makanan yang telah dikonfirmasi melalui Oral Food Challenge. Faktor risiko terkuat meliputi dermatitis atopik, gangguan sawar kulit, mutasi filaggrin, keterlambatan pengenalan makanan alergen, paparan antibiotik, riwayat alergi keluarga, persalinan sesar, jenis kelamin laki-laki, dan status anak pertama. Sebaliknya, pola makan ibu selama kehamilan, stres maternal, berat badan lahir rendah, dan kehamilan postterm belum terbukti meningkatkan risiko secara bermakna. Identifikasi faktor risiko sejak dini, pencegahan berbasis bukti, serta konfirmasi diagnosis menggunakan Oral Food Challenge merupakan langkah penting untuk menurunkan overdiagnosis dan meningkatkan kualitas penatalaksanaan alergi makanan pada bayi dan anak.
Daftar Pustaka
- Islam N, Chu AWL, Sheriff F, et al. Risk Factors for the Development of Food Allergy in Infants and Children. A Systematic Review and Meta-analysis. JAMA Pediatrics. 2026;180(5):486-499.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018.
- Muraro A, Agache I, Clark A, et al. EAACI Guidelines on the Management of IgE-mediated Food Allergy. Allergy. 2022.
- Fiocchi A, Assa’ad A, Bahna S. World Allergy Organization Diagnosis and Rationale for Action against Cow’s Milk Allergy Guidelines.
- Greenhawt M, Shaker M, Wang J, et al. Food Allergy Prevention Guidelines. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2024.
- NIAID-Sponsored Expert Panel. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. Journal of Allergy and Clinical Immunology.









Leave a Reply