ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Imunoterapi Sublingual Membuka Harapan Baru bagi Anak dengan Alergi Makanan

 

Imunoterapi Sublingual Membuka Harapan Baru bagi Anak dengan Alergi Makanan

Kasus alergi makanan pada anak terus meningkat di berbagai negara dan menjadi tantangan besar bagi keluarga maupun tenaga kesehatan. Selain meningkatkan risiko reaksi alergi berat hingga anafilaksis, penyakit ini juga menimbulkan beban psikologis, pembatasan aktivitas, serta biaya pengobatan yang tidak sedikit. Selama bertahun-tahun, penatalaksanaan alergi makanan hanya berfokus pada penghindaran makanan penyebab dan kesiapan menangani reaksi alergi apabila terjadi paparan. Sebuah artikel tinjauan yang diterbitkan dalam Current Allergy and Asthma Reports pada Januari 2026 memberikan harapan baru melalui perkembangan imunoterapi sublingual atau Sublingual Immunotherapy (SLIT) sebagai salah satu strategi pengobatan yang aman dan efektif pada anak.

SLIT merupakan metode imunoterapi yang dilakukan dengan memberikan ekstrak alergen dalam dosis sangat kecil di bawah lidah secara bertahap. Berbeda dengan oral immunotherapy (OIT) yang mengharuskan pasien menelan alergen dalam jumlah lebih besar, SLIT menggunakan dosis yang jauh lebih rendah sehingga risiko efek samping sistemik menjadi lebih kecil. Alergen akan diserap oleh sel imun pada mukosa rongga mulut yang kemudian merangsang terbentuknya toleransi imun terhadap makanan penyebab alergi. Mekanisme ini diharapkan mampu mengurangi sensitivitas sistem imun sehingga risiko reaksi alergi menurun apabila pasien terpapar makanan tersebut secara tidak sengaja.

Hasil penelitian yang dirangkum dalam review tersebut menunjukkan bahwa SLIT kacang tanah memberikan hasil yang menggembirakan pada anak usia 1 hingga 11 tahun. Berbagai uji klinis memperlihatkan peningkatan ambang toleransi terhadap kacang tanah setelah menjalani terapi secara teratur. Anak yang sebelumnya bereaksi terhadap paparan dalam jumlah sangat kecil mampu mentoleransi dosis yang lebih besar setelah menjalani imunoterapi. Kondisi ini memberikan perlindungan tambahan terhadap paparan yang tidak disengaja dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan yang lebih menarik diperoleh pada kelompok balita usia 1 sampai 4 tahun. Pada kelompok usia ini, tingkat desensitisasi yang dicapai lebih tinggi dibandingkan anak yang lebih besar. Bahkan, sebagian anak tetap mempertahankan toleransi hingga tiga bulan setelah terapi dihentikan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa intervensi pada usia dini kemungkinan memberikan peluang lebih besar untuk memodifikasi perjalanan alami alergi makanan karena sistem imun masih berada pada fase perkembangan yang lebih plastis.

Selain alergi kacang tanah, beberapa penelitian awal juga mengevaluasi penggunaan SLIT pada alergi susu sapi, hazelnut, dan buah persik. Walaupun jumlah penelitian masih terbatas dan ukuran sampel relatif kecil, hasil yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan toleransi terhadap makanan tersebut. Temuan ini membuka peluang bahwa SLIT tidak hanya bermanfaat pada satu jenis alergen, tetapi berpotensi dikembangkan untuk berbagai alergi makanan lain yang sering dijumpai pada anak.

Keunggulan utama SLIT adalah profil keamanannya. Sebagian besar efek samping yang dilaporkan bersifat ringan dan terbatas pada rongga mulut, seperti rasa gatal, kesemutan, atau sedikit iritasi pada bibir dan lidah. Reaksi sistemik maupun anafilaksis jauh lebih jarang dibandingkan beberapa bentuk imunoterapi lain. Profil keamanan tersebut menjadikan SLIT sebagai pilihan yang menarik, terutama bagi anak usia kecil yang memerlukan terapi jangka panjang dengan tingkat kenyamanan yang lebih baik.

Meskipun hasil penelitian sangat menjanjikan, para penulis menekankan bahwa masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan sebelum SLIT menjadi terapi rutin. Diperlukan penelitian jangka panjang untuk menentukan dosis optimal, lama terapi, ketahanan toleransi setelah pengobatan dihentikan, serta karakteristik pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat. Selain itu, diperlukan standardisasi produk alergen dan protokol terapi agar hasil yang diperoleh dapat diterapkan secara konsisten di berbagai pusat pelayanan kesehatan.

Perkembangan SLIT menunjukkan bahwa tata laksana alergi makanan sedang bergeser dari pendekatan pasif berupa penghindaran alergen menuju pendekatan aktif yang bertujuan membentuk toleransi imun. Bersama kemajuan biomarker molekuler, profil genetik, dan pemahaman mengenai mikrobiota usus, imunoterapi sublingual diperkirakan akan menjadi bagian penting dari precision medicine pada alergi makanan. Pendekatan ini memberikan harapan bahwa pada masa depan semakin banyak anak dengan alergi makanan dapat hidup lebih aman, lebih bebas, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Daftar Pustaka

  • Ilyasova AA, Kim EH. Sublingual Immunotherapy for Food Allergy: Updates in Safety, Efficacy, and Future Considerations. Curr Allergy Asthma Rep. 2026;26(1):1. doi:10.1007/s11882-025-01244-3.
Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *