Apakah Adenoid Bisa Muncul Lagi Setelah Operasi? Mengapa Anak Kembali Ngorok, Apa Penyebabnya, dan Bagaimana Menegakkan Diagnosis?
Tanya:
Apakah adenoid yang sudah dioperasi bisa muncul atau membesar lagi? Anak saya setelah operasi sempat membaik, napasnya lega dan ngoroknya hilang. Namun beberapa waktu kemudian kembali mendengkur saat tidur. Apa penyebabnya? Benarkah alergi yang tidak terkendali, termasuk alergi makanan yang memicu infeksi saluran napas berulang, dapat menyebabkan adenoid meradang dan membesar kembali? Bagaimana cara mengetahui apakah adenoid memang membesar lagi dan pemeriksaan apa yang paling akurat untuk menegakkan diagnosisnya?
Jawab:
Ya, adenoid yang telah dioperasi (adenoidektomi) masih dapat membesar kembali, meskipun kejadiannya tidak sering. Saat operasi, dokter umumnya tidak mengangkat seluruh jaringan adenoid hingga benar-benar habis karena sebagian kecil jaringan perlu dipertahankan untuk mengurangi risiko cedera pada struktur di sekitarnya. Pada sebagian anak, sisa jaringan tersebut dapat mengalami pertumbuhan kembali (adenoid regrowth), terutama bila operasi dilakukan pada usia yang masih muda atau bila rangsangan peradangan terus berlangsung dalam waktu lama.
Salah satu penyebab penting pembesaran adenoid kembali adalah peradangan kronis akibat alergi yang tidak terkendali. Rinitis alergi menyebabkan mukosa hidung terus mengalami inflamasi sehingga aliran lendir meningkat, hidung tersumbat, dan jaringan limfoid di nasofaring, termasuk adenoid, terus terstimulasi. Bila kondisi ini berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, sisa jaringan adenoid dapat mengalami hipertrofi kembali sehingga muncul lagi gejala seperti mendengkur, bernapas melalui mulut, tidur gelisah, dan gangguan kualitas tidur.
Selain alergi udara, alergi makanan pada sebagian anak juga dapat berperan secara tidak langsung. Reaksi alergi makanan dapat menimbulkan peradangan sistemik dan gangguan pada saluran cerna yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Pada anak tertentu, kondisi ini dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas atas berulang, seperti pilek, rinitis, atau flu. Episode infeksi yang berulang akan menyebabkan jaringan adenoid terus mengalami aktivasi imun dan inflamasi sehingga berpotensi membesar kembali. Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua anak dengan adenoid besar memiliki alergi makanan, dan hubungan ini harus dievaluasi secara individual oleh dokter berdasarkan riwayat klinis, bukan hanya hasil tes alergi.
Penyebab lain yang dapat menyebabkan adenoid membesar kembali adalah infeksi saluran napas atas yang sering, sinusitis kronis, paparan asap rokok, polusi udara, kualitas udara dalam rumah yang buruk, serta faktor genetik yang menyebabkan jaringan limfoid lebih mudah mengalami pembesaran. Anak yang sering mengalami pilek berkepanjangan atau infeksi telinga berulang juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami inflamasi adenoid yang menetap. Oleh karena itu, keberhasilan operasi tidak hanya bergantung pada tindakan pembedahan, tetapi juga pada pengendalian faktor-faktor yang menyebabkan peradangan kronis.
Bila setelah operasi anak kembali mendengkur, tidak semua kasus berarti adenoid telah tumbuh kembali. Dokter juga harus mempertimbangkan penyebab lain seperti pembesaran amandel (tonsil), rinitis alergi yang belum terkontrol, pembengkakan konka hidung, sinusitis, deviasi septum hidung, obesitas, maupun gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea (OSA). Karena itu, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh agar terapi yang diberikan sesuai dengan penyebab utamanya.
Diagnosis dimulai dari anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dokter THT. Dokter akan menilai frekuensi dengkuran, apakah terdapat henti napas saat tidur, kebiasaan bernapas melalui mulut, gangguan tidur, gangguan makan, infeksi saluran napas berulang, serta riwayat alergi pada anak maupun keluarga. Pemeriksaan rongga hidung dan ukuran tonsil juga penting karena kelainan pada kedua struktur tersebut dapat memberikan gejala yang mirip dengan pembesaran adenoid.
Pemeriksaan penunjang yang sering digunakan adalah foto rontgen lateral nasofaring (rontgen kepala posisi lateral) untuk melihat ukuran adenoid dan derajat penyempitan jalan napas di belakang hidung. Namun, pemeriksaan yang paling akurat (gold standard) adalah nasoendoskopi fleksibel, karena dokter dapat melihat secara langsung ukuran adenoid, lokasi sisa jaringan pascaoperasi, tingkat sumbatan saluran napas, serta adanya kelainan lain seperti pembengkakan konka, sekret kronis, atau tanda-tanda rinitis alergi. Pada anak dengan dugaan gangguan napas saat tidur yang berat, pemeriksaan polisomnografi (sleep study) dapat dilakukan untuk menilai tingkat keparahan obstructive sleep apnea.
Kesimpulannya, adenoid memang dapat membesar kembali setelah operasi, terutama bila masih terdapat peradangan kronis yang tidak teratasi, seperti rinitis alergi, infeksi saluran napas berulang, atau faktor inflamasi lainnya. Pada sebagian anak, alergi makanan yang tidak terdiagnosis atau tidak terkendali dapat berkontribusi secara tidak langsung melalui peningkatan kerentanan terhadap infeksi saluran napas atas dan peradangan berulang, sehingga jaringan adenoid terus terstimulasi. Oleh karena itu, pada anak yang kembali mendengkur setelah operasi, evaluasi tidak hanya berfokus pada ukuran adenoid, tetapi juga mencari dan mengendalikan penyebab inflamasi yang mendasarinya agar hasil terapi dapat bertahan dalam jangka panjang.
Referensi
- Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to future research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018 Feb;18(1):e30-e33. doi: 10.18295/squmj.2018.18.01.005. Epub 2018 Apr 4. PMID: 29666678; PMCID: PMC5892810.
- Yonis MA, Ibrahim MA, Farag FK, El Shennawy AM. Relationship between adenoidal hypertrophy and allergic rhinitis in children. Egypt J Hosp Med. 2019;74(1):94-102.










Leave a Reply