ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

KONSULTASI ALERGI: Apakah Manifestasi Gastrointestinal pada Bayi dengan Alergi Makanan

Manifestasi Gastrointestinal pada Bayi dengan Alergi Makanan: Spektrum Gejala, Mekanisme Patofisiologi, Diagnosis, dan Implikasi Klinis

Tanya

Apa saja manifestasi gangguan saluran cerna yang dapat disebabkan oleh alergi makanan pada bayi? Mengapa bayi dengan alergi makanan dapat mengalami gejala yang sangat beragam, seperti gumoh berlebihan, gastroesophageal reflux disease (GERD), muntah, diare kronis, konstipasi, kolik, hingga gangguan pertumbuhan? Bagaimana mekanisme imunologis yang mendasarinya, bagaimana membedakannya dengan penyakit saluran cerna lainnya, dan mengapa diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala atau hasil tes alergi, melainkan memerlukan evaluasi klinis yang komprehensif serta Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas (gold standard)?


Jawaban

1. Alergi makanan merupakan salah satu penyebab penting gangguan saluran cerna kronis pada bayi

Alergi makanan adalah respons imun yang abnormal terhadap protein makanan pada individu yang memiliki predisposisi genetik. Pada bayi, saluran cerna merupakan organ yang paling sering terkena karena menjadi tempat pertama kontak antara antigen makanan dengan sistem imun mukosa usus atau gut-associated lymphoid tissue (GALT). Protein susu sapi merupakan penyebab tersering, diikuti telur, kedelai, gandum, dan bahan pangan lainnya sesuai usia. Manifestasi klinis dapat dimediasi oleh mekanisme IgE, non-IgE, maupun kombinasi keduanya, sehingga spektrum gejala sangat luas dan sering kali tidak khas.


2. Gejala saluran cerna sangat beragam dan tidak hanya berupa diare

Banyak orang tua mengira alergi makanan hanya menyebabkan ruam kulit atau diare. Padahal, gejala gastrointestinal merupakan salah satu manifestasi tersering, terutama pada bayi. Manifestasi tersebut meliputi gumoh berlebihan, GERD, muntah berulang, diare kronis, konstipasi, BAB keras, BAB berlendir atau berdarah, kolik, perut kembung, nyeri perut, sulit makan, rewel setelah makan, hingga berat badan yang sulit naik. Pada sebagian bayi hanya muncul satu gejala, sedangkan pada bayi lain beberapa gejala dapat terjadi bersamaan sehingga menyerupai berbagai penyakit saluran cerna lainnya.


3. Inflamasi kronis menyebabkan gangguan fungsi saluran cerna

Reaksi alergi memicu pelepasan berbagai mediator inflamasi, seperti histamin, leukotrien, prostaglandin, tumor necrosis factor-α (TNF-α), interleukin (IL)-4, IL-5, IL-13, serta infiltrasi eosinofil pada mukosa saluran cerna. Inflamasi tersebut menyebabkan gangguan motilitas gastrointestinal, peningkatan permeabilitas mukosa usus, gangguan absorpsi nutrisi, serta perubahan fungsi saraf enterik. Akibatnya muncul berbagai gejala seperti refluks, muntah, diare, konstipasi, hingga nyeri perut kronis.


4. GERD dan konstipasi dapat merupakan manifestasi alergi makanan

Salah satu manifestasi yang sering tidak disadari adalah GERD yang menetap. Inflamasi pada esofagus dan lambung dapat memperberat refluks sehingga bayi sering muntah, gumoh berlebihan, menangis setelah menyusu, atau menolak minum. Sebaliknya, pada sebagian bayi justru muncul konstipasi kronis. Inflamasi pada mukosa rektum menyebabkan proses defekasi menjadi nyeri sehingga bayi menahan BAB. Retensi tinja yang berlangsung lama menyebabkan tinja semakin keras dan memperberat konstipasi. Oleh karena itu, alergi makanan dapat memberikan gejala yang tampak saling bertolak belakang, yaitu diare maupun sembelit.


5. Gangguan pertumbuhan merupakan komplikasi yang perlu diwaspadai

Inflamasi kronis pada usus menyebabkan penurunan kemampuan penyerapan zat gizi, disertai penurunan asupan akibat muntah, refluks, atau sulit makan. Akibatnya bayi dapat mengalami failure to thrive, berat badan sulit naik, defisiensi zat besi, anemia, hingga gangguan pertumbuhan linier bila kondisi berlangsung lama. Oleh karena itu, bayi dengan gangguan pencernaan kronis yang disertai perlambatan pertumbuhan harus dievaluasi kemungkinan adanya alergi makanan.


6. Gejalanya sering menyerupai penyakit lain

Manifestasi alergi makanan sangat mirip dengan penyakit lain, seperti gastroenteritis infeksi, intoleransi laktosa, GERD fisiologis, konstipasi fungsional, penyakit celiac, irritable bowel syndrome, maupun kelainan anatomi saluran cerna. Tidak ada satu gejala pun yang benar-benar spesifik untuk alergi makanan. Oleh karena itu, diagnosis harus mempertimbangkan usia bayi, riwayat keluarga atopi, perjalanan penyakit, hubungan gejala dengan makanan, pemeriksaan fisik, serta respons terhadap eliminasi makanan yang dilakukan secara tepat.


7. Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan tes alergi

Kesalahan yang masih sering terjadi adalah menganggap hasil skin prick test (SPT) atau IgE spesifik sebagai bukti pasti alergi makanan. Padahal kedua pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan sensitisasi imunologis, bukan selalu berarti terdapat alergi yang bermakna secara klinis. Sebaliknya, sebagian bayi dengan alergi saluran cerna tipe non-IgE justru memiliki hasil tes alergi yang normal. Oleh karena itu, menurut pedoman internasional, Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan gold standard untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab gejala.


8. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah komplikasi dan diet yang tidak perlu

Penatalaksanaan alergi makanan bertujuan menghilangkan gejala sekaligus mempertahankan status gizi yang optimal. Eliminasi makanan hanya dianjurkan bila diagnosis telah dipastikan melalui evaluasi klinis yang tepat, dan bila perlu dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge (OFC). Sebaliknya, pembatasan makanan tanpa diagnosis yang jelas dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi, gangguan pertumbuhan, serta menurunkan kualitas hidup bayi dan keluarganya. Oleh karena itu, pendekatan berbasis bukti (evidence-based medicine) sangat penting dalam menangani bayi dengan gangguan pencernaan yang dicurigai berkaitan dengan alergi makanan.


Tabel. Manifestasi Gastrointestinal Alergi Makanan pada Bayi dan Mekanisme Patofisiologinya

Manifestasi Klinis Mekanisme Patofisiologi Temuan Klinis Diagnosis Banding Kaitan dengan Alergi Makanan
Gumoh berlebihan Gangguan motilitas lambung dan esofagus akibat inflamasi Gumoh sering setelah menyusu Gumoh fisiologis Dapat membaik setelah eliminasi alergen pada sebagian bayi
GERD Inflamasi mukosa esofagus, gangguan sfingter esofagus bawah Muntah, menangis saat menyusu GERD fisiologis Harus dipertimbangkan terutama bila menetap
Muntah berulang Aktivasi mediator inflamasi Muntah berulang setelah makan Infeksi, stenosis pilorus Dapat terjadi pada alergi IgE maupun non-IgE
Diare kronis Inflamasi mukosa usus, gangguan absorpsi BAB cair >2 minggu Gastroenteritis, intoleransi laktosa Manifestasi klasik alergi gastrointestinal
Konstipasi Inflamasi rektum, gangguan motilitas BAB keras, nyeri, mengejan Konstipasi fungsional Dapat terjadi terutama pada alergi protein susu sapi
BAB berlendir/berdarah Kolitis eosinofilik, proktokolitis alergi Lendir atau darah pada tinja Infeksi, fisura ani Memerlukan evaluasi segera
Kolik Inflamasi usus dan hipersensitivitas visceral Menangis >3 jam/hari Kolik infantil Sebagian kasus berkaitan dengan alergi makanan
Perut kembung Gangguan fermentasi dan motilitas Distensi abdomen Disbiosis, intoleransi Dapat menyertai alergi makanan
Sulit makan Nyeri saluran cerna, refluks Menolak makan atau menyusu Feeding disorder Berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan
Berat badan sulit naik Malabsorpsi, asupan menurun Failure to thrive Penyakit kronis lain Indikasi evaluasi komprehensif
Anemia Inflamasi kronis dan perdarahan mikroskopik Hb rendah Defisiensi besi Dapat ditemukan pada alergi kronis
Hipoalbuminemia (jarang) Kehilangan protein melalui usus Edema, albumin rendah Enteropati lain Terjadi pada enteropati alergi berat

Poin Penting (Clinical Pearls)

  • Tidak semua bayi dengan alergi makanan mengalami ruam kulit; sebagian hanya menunjukkan gejala saluran cerna.
  • Diare dan konstipasi dapat sama-sama merupakan manifestasi alergi makanan.
  • Tes IgE dan Skin Prick Test bukan pemeriksaan baku emas untuk menegakkan alergi makanan gastrointestinal.
  • Oral Food Challenge (OFC) merupakan gold standard untuk konfirmasi diagnosis alergi makanan bila diindikasikan.
  • Diet eliminasi tanpa diagnosis yang tepat dapat meningkatkan risiko malnutrisi dan gangguan pertumbuhan.

Daftar Pustaka 

  • Meyer R, Chebar Lozinsky A, Fleischer DM, et al. Diagnosis and management of non-IgE gastrointestinal food allergies in infancy and childhood. Pediatr Allergy Immunol. 2020;31(1):3-26. doi:10.1111/pai.13141.
  • Fiocchi A, Brożek J, Schünemann H, et al. World Allergy Organization (WAO) Diagnosis and Rationale for Action against Cow’s Milk Allergy (DRACMA) Guidelines Update. World Allergy Organ J. 2023;16(7):100797.
  • Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an Oral Food Challenge: An Update to the 2009 AAAAI Practice Parameter. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17. doi:10.1016/j.jaip.2019.09.029.
Visited 2 times, 2 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *