ALERGI MAKANAN DAN ARTRITIS REUMATOID PADA DEWASA, TINJAUAN BERDASARKAN BUKTI ILMIAH
Artritis reumatoid (Rheumatoid Arthritis, RA) merupakan penyakit autoimun kronis yang ditandai oleh inflamasi sinovium, kerusakan tulang rawan, dan destruksi tulang. Penyakit ini memiliki etiologi multifaktorial yang melibatkan faktor genetik, imunologis, hormonal, lingkungan, dan interaksi dengan berbagai antigen eksternal. Selama beberapa dekade terakhir, alergi makanan diduga berperan sebagai salah satu faktor pencetus pada sebagian kecil pasien RA. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa makanan tertentu, terutama susu sapi, dapat memperburuk gejala artritis pada individu yang memiliki sensitivitas terhadap makanan tersebut. Namun, bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa hubungan ini hanya ditemukan pada sebagian kecil pasien dan tidak dapat digeneralisasikan pada seluruh penderita RA.
Penelitian klinis yang dilakukan oleh Panush dan kolega pada tahun 1986 merupakan salah satu penelitian yang memberikan bukti paling kuat mengenai artritis akibat makanan. Melalui uji provokasi tersamar ganda, susu sapi terbukti memicu kekambuhan artritis inflamasi pada seorang pasien yang sebelumnya mengalami perbaikan setelah menjalani puasa dan diet elemental. Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa kurang dari lima persen pasien RA benar-benar mengalami artritis yang dipicu oleh makanan. Oleh karena itu, evaluasi alergi makanan hanya dianjurkan pada pasien dengan riwayat klinis yang konsisten, sedangkan diet eliminasi tidak direkomendasikan sebagai terapi rutin bagi seluruh pasien RA.
Artritis reumatoid merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis yang menyerang sekitar 0,5 hingga 1 persen populasi dewasa di seluruh dunia. Penyakit ini ditandai oleh peradangan kronis pada membran sinovial yang menyebabkan nyeri, pembengkakan, kekakuan sendi, hingga deformitas permanen apabila tidak ditangani secara optimal. Mekanisme utama penyakit melibatkan aktivasi limfosit T, limfosit B, makrofag, sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1, dan IL-6, serta pembentukan autoantibodi seperti rheumatoid factor dan anti-cyclic citrullinated peptide (anti-CCP).
Selain faktor genetik, berbagai faktor lingkungan diduga berkontribusi terhadap timbulnya penyakit, termasuk infeksi, merokok, perubahan mikrobiota usus, dan paparan antigen makanan. Hipotesis mengenai keterlibatan makanan telah muncul sejak tahun 1950-an ketika beberapa pasien melaporkan kekambuhan nyeri sendi setelah mengonsumsi makanan tertentu. Sejak saat itu berbagai penelitian dilakukan untuk mengevaluasi apakah makanan tertentu benar-benar dapat memicu inflamasi sendi melalui mekanisme imunologis.
Artritis Reumatoid
Artritis reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik yang ditandai oleh inflamasi kronis pada membran sinovial sehingga menyebabkan kerusakan progresif pada tulang rawan dan tulang. Penyakit ini biasanya mengenai sendi-sendi kecil secara simetris, terutama sendi tangan dan kaki, disertai kekakuan pagi hari, nyeri, pembengkakan, dan keterbatasan fungsi.
Diagnosis RA ditegakkan berdasarkan kombinasi manifestasi klinis, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan. Pemeriksaan rheumatoid factor, antibodi anti-CCP, penanda inflamasi seperti LED dan CRP, serta ultrasonografi atau radiografi sendi membantu menegakkan diagnosis dan menentukan aktivitas penyakit.
Alergi Makanan pada Dewasa
Alergi makanan pada dewasa merupakan reaksi imun yang timbul terhadap protein makanan pada individu berusia 18 tahun atau lebih. Kondisi ini dapat merupakan kelanjutan dari alergi yang telah muncul sejak masa kanak-kanak atau berkembang untuk pertama kali pada usia dewasa. Berbeda dengan alergi makanan pada anak yang sering mengalami resolusi spontan, alergi makanan pada dewasa umumnya bersifat menetap dan memerlukan penghindaran jangka panjang terhadap makanan penyebab. Reaksi imun dapat dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE), mekanisme non-IgE, maupun mekanisme campuran yang melibatkan berbagai sel imun dan mediator inflamasi.
Prevalensi alergi makanan pada dewasa diperkirakan berkisar antara 2 hingga 5% populasi, meskipun angka tersebut berbeda antarnegara dan sangat dipengaruhi oleh metode diagnosis yang digunakan. Angka berdasarkan laporan pasien umumnya lebih tinggi dibandingkan diagnosis yang telah dikonfirmasi melalui oral food challenge (OFC). Makanan yang paling sering menyebabkan alergi pada dewasa meliputi susu sapi, telur, ikan, kerang, udang, kacang tanah, kacang pohon, gandum, dan kedelai. Pada beberapa wilayah, buah-buahan dan sayuran tertentu juga dapat menyebabkan sindrom alergi oral akibat reaktivitas silang dengan alergen serbuk sari.
Manifestasi klinis alergi makanan pada dewasa sangat beragam, mulai dari gejala ringan berupa pruritus, urtikaria, angioedema, rinitis, dan gangguan saluran cerna hingga reaksi berat berupa bronkospasme, hipotensi, dan anafilaksis. Sebagian pasien juga mengalami gejala kronis yang lebih sulit dikenali, terutama pada alergi non-IgE, seperti nyeri perut berulang, diare kronis, atau gangguan saluran cerna lainnya. Diagnosis memerlukan anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik, pemeriksaan IgE spesifik atau uji tusuk kulit bila sesuai indikasi, serta konfirmasi melalui oral food challenge sebagai baku emas diagnosis.
Selain menimbulkan manifestasi akut, alergi makanan pada dewasa juga diduga dapat memengaruhi penyakit inflamasi kronis melalui aktivasi sistem imun. Pelepasan sitokin proinflamasi, aktivasi sel mast, eosinofil, limfosit T, serta perubahan permeabilitas mukosa usus diduga berkontribusi terhadap peningkatan inflamasi sistemik. Walaupun demikian, bukti ilmiah menunjukkan bahwa mekanisme tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil individu dan belum dapat dianggap sebagai penyebab utama berbagai penyakit autoimun, termasuk artritis reumatoid.
Karakteristik Alergi Makanan pada Dewasa
| Karakteristik | Keterangan |
|---|---|
| Kelompok usia | Dewasa usia 18 tahun atau lebih |
| Prevalensi | Sekitar 2 hingga 5% populasi dewasa |
| Makanan tersering | Susu sapi, telur, ikan, udang, kerang, kacang tanah, kacang pohon, gandum, kedelai |
| Mekanisme | IgE, non-IgE, atau campuran |
| Manifestasi kulit | Urtikaria, angioedema, pruritus |
| Manifestasi saluran cerna | Mual, muntah, nyeri perut, diare |
| Manifestasi saluran napas | Rinitis alergi, mengi, bronkospasme |
| Manifestasi sistemik | Anafilaksis |
| Baku emas diagnosis | Oral Food Challenge setelah evaluasi klinis |
| Penatalaksanaan | Eliminasi makanan yang terbukti sebagai alergen, edukasi, terapi reaksi alergi sesuai derajat keparahan |
Hubungan Alergi Makanan pada Dewasa dengan Artritis Reumatoid
Hubungan antara alergi makanan dan artritis reumatoid masih menjadi perdebatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa protein makanan tertentu dapat meningkatkan respons imun pada individu yang memiliki predisposisi genetik. Peningkatan permeabilitas usus memungkinkan antigen makanan masuk ke sirkulasi dan memicu pembentukan kompleks imun yang selanjutnya mengaktifkan proses inflamasi pada sinovium.
Disbiosis mikrobiota usus juga diduga berperan dalam memperkuat hubungan tersebut. Perubahan komposisi bakteri usus dapat memengaruhi regulasi limfosit T regulator, meningkatkan produksi sitokin proinflamasi, serta memperkuat aktivasi sistem imun. Akan tetapi, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa mekanisme tersebut hanya ditemukan pada sebagian kecil pasien RA sehingga tidak dapat dianggap sebagai mekanisme utama penyakit.
Hubungan antara alergi makanan dan artritis reumatoid pada dewasa telah menjadi perhatian selama beberapa dekade, meskipun hingga saat ini bukti yang tersedia menunjukkan bahwa hubungan tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil pasien. Secara teoritis, antigen makanan yang melewati sawar mukosa usus dapat memicu pembentukan kompleks imun, aktivasi limfosit, pelepasan sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1, IL-6, dan IL-17, serta meningkatkan inflamasi sistemik. Perubahan mikrobiota usus juga diduga memengaruhi regulasi sistem imun sehingga memperkuat proses inflamasi pada individu yang rentan secara genetik.
Penelitian klinis oleh Panush dan kolega menunjukkan bahwa sekitar 30% pasien artritis reumatoid menghubungkan kekambuhan nyeri sendi dengan makanan tertentu. Namun, setelah dilakukan uji provokasi makanan tersamar ganda, kurang dari 5% pasien terbukti benar-benar mengalami artritis yang dipicu oleh makanan. Susu sapi merupakan makanan dengan bukti klinis paling kuat sebagai pencetus pada individu yang sensitif, sedangkan bukti mengenai telur, udang, gandum, dan nitrat masih sangat terbatas dan hanya berasal dari laporan kasus atau penelitian dengan jumlah subjek kecil.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa dugaan hubungan antara makanan dan artritis reumatoid tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan riwayat subjektif atau pemeriksaan laboratorium yang belum tervalidasi. Diagnosis harus dilakukan melalui pendekatan berbasis bukti yang meliputi anamnesis rinci, diet eliminasi terkontrol, dan konfirmasi menggunakan oral food challenge atau uji provokasi makanan tersamar ganda bila memungkinkan. Pendekatan ini penting untuk mencegah overdiagnosis, menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan, mempertahankan status gizi pasien, dan memastikan bahwa terapi utama artritis reumatoid tetap mengikuti pedoman reumatologi yang berlaku.
PENELITIAN ILMIAH
Penelitian Panush Tahun 1986
Panush dan kolega melaporkan seorang perempuan berusia 52 tahun yang menderita artritis inflamasi selama sebelas tahun dan mengaku gejalanya memburuk setelah mengonsumsi susu, daging, dan kacang-kacangan. Pasien kemudian menjalani penelitian prospektif menggunakan diet normal, puasa, diet elemental, dan uji provokasi tersamar ganda.
Selama menjalani puasa dan diet elemental, seluruh gejala artritis hampir menghilang. Kekakuan pagi menghilang, jumlah sendi nyeri dan bengkak menurun drastis, serta penilaian klinis menunjukkan perbaikan bermakna. Setelah dilakukan uji provokasi tersamar menggunakan kapsul yang berisi susu sapi, pasien kembali mengalami peningkatan kekakuan pagi, peningkatan jumlah sendi nyeri dan bengkak, serta penurunan kondisi klinis dalam waktu 24 hingga 48 jam. Sebaliknya, pemberian plasebo, wortel, maupun selada tidak menimbulkan kekambuhan. Penelitian ini menjadi bukti bahwa susu sapi dapat memicu artritis inflamasi pada individu tertentu.
Penelitian Panush Tahun 1990
Dalam penelitian lanjutan, Panush mengevaluasi pasien RA yang mengaku mengalami artritis akibat makanan menggunakan uji provokasi tersamar ganda. Sekitar tiga puluh persen pasien melaporkan bahwa makanan memperburuk gejala mereka. Namun setelah dilakukan evaluasi objektif, hanya tiga dari enam belas pasien yang benar-benar menunjukkan kekambuhan setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Makanan yang terbukti memicu gejala meliputi susu sapi, udang, dan nitrat. Ketiga pasien tersebut mengalami perbaikan hampir sempurna ketika menjalani diet eliminasi atau diet elemental. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diperkirakan kurang dari lima persen pasien RA benar-benar memiliki artritis yang dipicu oleh makanan.
Penelitian van de Laar dan Penelitian Lain
Tinjauan pustaka yang dilakukan van de Laar menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian mengenai hubungan makanan dan RA masih memiliki kualitas metodologi yang rendah. Walaupun terdapat laporan mengenai perbaikan gejala setelah diet eliminasi, sebagian besar penelitian belum memenuhi standar penelitian modern sehingga belum dapat dijadikan dasar rekomendasi klinis.
Pada penelitian tahun 1992, van de Laar melaporkan bahwa empat dari enam pasien RA menunjukkan intoleransi terhadap makanan tertentu setelah menjalani diet hipoalergenik dan uji provokasi. Dua pasien juga mengalami penurunan jumlah sel mast pada membran sinovial dan usus halus selama diet eliminasi. Temuan tersebut mendukung kemungkinan adanya mekanisme imunoalergi pada sebagian kecil pasien.
Sebaliknya, penelitian Felder terhadap pasien RA di Swiss menunjukkan bahwa sebagian besar dugaan alergi makanan tidak dapat dibuktikan melalui pemeriksaan alergi maupun evaluasi klinis. Hasil ini memperkuat bahwa tidak semua keluhan yang dikaitkan dengan makanan merupakan alergi makanan yang sebenarnya.
Penelitian eksperimental oleh Li dan kolega pada model hewan juga menunjukkan peningkatan antibodi IgE dan IgG terhadap susu dan telur, disertai peningkatan TNF-α, IL-1, IL-6, IL-17, dan kompleks imun pada tikus artritis. Temuan ini mendukung adanya hubungan biologis antara alergi makanan dan inflamasi autoimun, meskipun masih memerlukan konfirmasi pada manusia.
Penanganan
Pendekatan terhadap pasien artritis reumatoid (RA) yang diduga memiliki alergi makanan harus dilakukan secara sistematis dan berbasis bukti. Anamnesis yang rinci mengenai hubungan waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala merupakan langkah pertama. Riwayat harus mencakup jenis makanan yang dicurigai, waktu timbulnya gejala, pola kekambuhan, manifestasi alergi lain seperti urtikaria atau sesak napas, serta respons terhadap penghindaran makanan tersebut. Pemeriksaan alergi seperti uji tusuk kulit atau IgE spesifik dapat dipertimbangkan pada pasien dengan dugaan alergi yang dimediasi IgE, namun hasilnya harus selalu diinterpretasikan bersama gambaran klinis karena tidak dapat menegakkan diagnosis secara mandiri.
Apabila terdapat kecurigaan klinis yang kuat, pasien dapat menjalani diet eliminasi terkontrol selama 2 hingga 6 minggu dengan pemantauan gejala secara objektif. Perbaikan gejala selama diet eliminasi belum cukup untuk memastikan adanya alergi makanan karena dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. Oleh sebab itu, diagnosis memerlukan konfirmasi melalui uji provokasi makanan.
Oral Food Challenge (OFC) merupakan baku emas untuk menegakkan maupun menyingkirkan diagnosis alergi makanan. OFC dilakukan dengan memberikan makanan yang dicurigai secara bertahap dalam dosis yang meningkat di bawah pengawasan tenaga medis yang berpengalaman serta dilengkapi fasilitas penanganan reaksi alergi. Pada penelitian mengenai hubungan alergi makanan dengan RA, bentuk yang paling kuat adalah Double-Blind Placebo-Controlled Food Challenge (DBPCFC), yaitu pasien maupun pemeriksa tidak mengetahui apakah makanan yang diberikan merupakan alergen atau plasebo. Metode ini mampu mengurangi bias subjektif dan memberikan bukti kausal yang paling kuat mengenai hubungan antara makanan dan kekambuhan artritis. Namun, dalam praktik klinis sehari-hari, Open Oral Food Challenge dapat digunakan bila risiko reaksi berat rendah dan tujuan utamanya adalah mengonfirmasi diagnosis.
Diet eliminasi tidak dianjurkan sebagai terapi rutin pada seluruh pasien RA karena sebagian besar pasien tidak memiliki alergi makanan yang dapat dibuktikan. Terapi utama tetap mengikuti pedoman reumatologi menggunakan disease-modifying antirheumatic drugs (DMARD), obat biologik, kortikosteroid, maupun terapi suportif sesuai indikasi. Eliminasi makanan hanya dilakukan terhadap makanan yang telah terbukti sebagai pencetus melalui evaluasi klinis dan Oral Food Challenge. Pembatasan makanan tanpa bukti yang kuat dapat menyebabkan kekurangan zat gizi, menurunkan kualitas hidup, serta meningkatkan risiko overdiagnosis dan terapi yang tidak diperlukan.
Kesimpulan
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa alergi makanan bukan merupakan penyebab utama artritis reumatoid. Namun pada sebagian kecil pasien, terutama yang memiliki sensitivitas terhadap makanan tertentu seperti susu sapi, makanan dapat memicu kekambuhan inflamasi sendi melalui mekanisme imunologis. Penelitian dengan uji provokasi tersamar ganda menunjukkan bahwa kurang dari lima persen pasien RA benar-benar mengalami artritis akibat makanan. Oleh karena itu, diagnosis harus ditegakkan menggunakan pendekatan berbasis bukti melalui anamnesis, diet eliminasi yang terkontrol, dan uji provokasi. Pendekatan ini dapat mencegah overdiagnosis sekaligus menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
Daftar Pustaka
- Panush RS, Stroud RM, Webster EM. Food-induced (allergic) arthritis. Inflammatory arthritis exacerbated by milk. Arthritis Rheum. 1986;29(2):220-226.
- Panush RS. Food induced (“allergic”) arthritis: clinical and serologic studies. J Rheumatol. 1990;17(3):291-294.
- van de Laar MA, van der Korst JK. Rheumatoid arthritis, food, and allergy. Semin Arthritis Rheum. 1991;21(1):12-23.
- Felder M, De Blecourt AC, Wüthrich B. Food allergy in patients with rheumatoid arthritis. Clin Rheumatol. 1987;6(2):181-184.
- van de Laar MA, Aalbers M, Bruins FG, van Dinther-Janssen AC, van der Korst JK, Meijer CJ. Food intolerance in rheumatoid arthritis. II. Clinical and histological aspects. Ann Rheum Dis. 1992;51(3):303-306.
- Li J, Yan H, Chen H, Ji Q, Huang S, Yang P, Liu Z, Yang B. The Pathogenesis of Rheumatoid Arthritis is Associated with Milk or Egg Allergy. N Am J Med Sci. 2016;8(1):40-46.








Leave a Reply