ALERGI MAKANAN DAN AUTISME, TINJAUAN BERDASARKAN BUKTI ILMIAH TERKINI
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh gangguan komunikasi sosial, interaksi sosial, serta perilaku repetitif. Penyebab ASD bersifat multifaktorial, melibatkan faktor genetik, epigenetik, imunologis, lingkungan, dan interaksi gut-brain axis. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap hubungan alergi makanan dan ASD semakin meningkat karena tingginya prevalensi gangguan saluran cerna dan penyakit alergi pada anak ASD.
Penelitian epidemiologi berskala besar menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami ASD dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Penelitian eksperimental pada hewan juga menunjukkan bahwa alergi susu sapi dapat menimbulkan perilaku menyerupai autisme melalui perubahan mikrobiota usus, aktivasi jalur mTOR di otak, perubahan neurotransmiter, dan respons inflamasi. Walaupun demikian, bukti yang ada masih menunjukkan hubungan asosiasi, bukan hubungan sebab akibat. Diagnosis alergi makanan pada anak ASD tetap harus menggunakan pendekatan berbasis bukti dengan Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis. Diet eliminasi hanya diberikan bila alergi makanan telah terbukti.
Autism Spectrum Disorder merupakan salah satu gangguan perkembangan yang prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia. Selain gangguan komunikasi sosial dan perilaku, sekitar 40 hingga 70 persen anak ASD mengalami gangguan saluran cerna seperti konstipasi, diare, refluks gastroesofageal, nyeri perut, dan gangguan makan. Kondisi tersebut mengarahkan perhatian pada kemungkinan keterlibatan usus dalam patogenesis ASD melalui mekanisme gut-brain axis.
Alergi makanan merupakan salah satu gangguan sistem imun yang paling sering ditemukan pada anak. Aktivasi imun akibat alergi dapat meningkatkan produksi sitokin proinflamasi, mengubah permeabilitas usus, memengaruhi komposisi mikrobiota, dan mengubah fungsi neurotransmiter otak. Berbagai penelitian terbaru mencoba menjelaskan apakah proses tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya gejala autisme pada sebagian anak yang rentan secara genetik.
Definisi Autisme
Autism Spectrum Disorder adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh gangguan komunikasi sosial, interaksi sosial, serta perilaku, aktivitas, atau minat yang terbatas dan berulang. Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria DSM-5 melalui evaluasi klinis multidisiplin.
ASD merupakan spektrum yang luas sehingga manifestasi klinis sangat bervariasi. Sebagian anak mengalami keterlambatan bicara, gangguan sensorik, gangguan tidur, epilepsi, gangguan saluran cerna, serta penyakit alergi sebagai komorbiditas.
Definisi Alergi Makanan
Alergi makanan adalah reaksi imun yang timbul secara konsisten setelah paparan protein makanan tertentu. Mekanisme alergi dapat dimediasi oleh IgE, non-IgE, maupun kombinasi keduanya.
Gejala dapat mengenai kulit, saluran napas, saluran cerna, hingga sistem kardiovaskular. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis, pemeriksaan alergi yang sesuai, dan konfirmasi menggunakan Oral Food Challenge bila diperlukan.
Hubungan Alergi Makanan dan Autisme
Hubungan antara alergi makanan dan ASD diduga melibatkan interaksi kompleks antara sistem imun, mikrobiota usus, sawar usus, serta sistem saraf pusat.
Pada tahun 2022, Cao dan kolega mengembangkan model tikus alergi susu sapi. Tikus yang mengalami alergi menunjukkan penurunan interaksi sosial, peningkatan perilaku repetitif, serta gangguan memori yang menyerupai ASD. Penelitian tersebut juga menemukan beberapa perubahan biologis penting, yaitu:
- • Aktivasi jalur mTOR di otak meningkat.
- • Penurunan reseptor serotonin 1A pada korteks prefrontal dan amigdala.
- • Peningkatan ekspresi 5-hydroxymethylcytosine di hipotalamus.
- • Aktivasi neuron pada korteks orbitofrontal.
- • Perubahan komposisi mikrobiota usus, terutama penurunan beberapa spesies Lactobacillus.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa alergi makanan dapat memengaruhi otak melalui mekanisme gut-brain axis, aktivasi sistem imun, perubahan mikrobiota, dan gangguan neurotransmiter. Namun penelitian tersebut merupakan penelitian pada hewan sehingga hasilnya belum dapat langsung diterapkan pada manusia.
Bukti pada Manusia
Xu dan kolega menganalisis 199.520 anak usia 3 hingga 17 tahun dari National Health Interview Survey Amerika Serikat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
| Kondisi | Odds Ratio ASD |
|---|---|
| Alergi makanan | 2,29 |
| Alergi kulit | 1,50 |
| Alergi saluran napas | 1,28 |
Prevalensi alergi makanan pada anak ASD mencapai 11,25%, sedangkan pada anak tanpa ASD hanya 4,25%.
Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara alergi makanan dan ASD. Namun karena menggunakan desain potong lintang, penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa alergi makanan menyebabkan autisme.
Mekanisme yang Diduga Berperan
Beberapa mekanisme biologis yang diduga menghubungkan alergi makanan dengan ASD meliputi:
| Mekanisme | Dampak |
|---|---|
| Aktivasi sistem imun | Peningkatan sitokin inflamasi |
| Gangguan sawar usus | Meningkatkan paparan antigen makanan |
| Disbiosis mikrobiota | Mengubah metabolit usus dan komunikasi usus-otak |
| Aktivasi jalur mTOR | Memengaruhi perkembangan dan fungsi neuron |
| Gangguan serotonin | Memengaruhi perilaku sosial dan regulasi emosi |
| Perubahan epigenetik | Mengubah ekspresi gen pada otak |
Gejala yang Mengarah pada Alergi Makanan pada Anak ASD
| Sistem | Gejala |
|---|---|
| Kulit | Dermatitis atopik, biduran, gatal |
| Saluran cerna | Konstipasi, diare, muntah, refluks, nyeri perut |
| Pernapasan | Batuk berulang, mengi, rinitis alergi |
| Tidur | Tidur gelisah, sering terbangun |
| Perilaku | Gelisah setelah makan, iritabilitas, hiperaktivitas pada sebagian anak |
| Nutrisi | Pilih-pilih makanan, gangguan pertumbuhan |
Penanganan
- Anak ASD tidak memerlukan diet eliminasi secara rutin.
- Bila terdapat riwayat yang mengarah pada alergi makanan, evaluasi dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan alergi sesuai indikasi.
- Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas untuk memastikan diagnosis alergi makanan.
- Diet eliminasi hanya diberikan bila alergi telah terbukti. Diet bebas susu sapi atau bebas gluten tanpa indikasi medis tidak direkomendasikan karena dapat meningkatkan risiko kekurangan protein, kalsium, vitamin D, zat besi, dan mikronutrien lainnya.
- Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, ahli alergi-imunologi, ahli gizi, psikolog, dan terapis perkembangan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pemberian diet eliminasi semata.
Kesimpulan
Bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan antara alergi makanan dan Autism Spectrum Disorder, tetapi hubungan tersebut masih berupa asosiasi dan belum membuktikan sebab akibat. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa alergi susu sapi dapat menimbulkan perilaku menyerupai autisme melalui perubahan mikrobiota usus, aktivasi jalur mTOR, gangguan serotonin, dan aktivasi sistem imun. Penelitian epidemiologi pada hampir 200.000 anak juga menunjukkan bahwa alergi makanan berhubungan dengan peningkatan risiko ASD sekitar 2,3 kali.
Meskipun demikian, tidak semua anak ASD mengalami alergi makanan dan tidak semua anak dengan alergi makanan akan mengalami ASD. Diagnosis alergi makanan harus ditegakkan secara akurat menggunakan pendekatan berbasis bukti dengan Oral Food Challenge sebagai standar emas. Diet eliminasi hanya dianjurkan pada anak yang telah terbukti mengalami alergi makanan untuk menghindari overdiagnosis dan risiko malnutrisi.
Daftar Pustaka
- Cao LH, He HJ, Zhao YY, Wang ZZ, Jia XY, Srivastava K, Miao MS, Li XM. Food Allergy-Induced Autism-Like Behavior is Associated with Gut Microbiota and Brain mTOR Signaling. J Asthma Allergy. 2022 May 16;15:645-664.
- Xu G, Snetselaar LG, Jing J, Liu B, Strathearn L, Bao W. Association of Food Allergy and Other Allergic Conditions With Autism Spectrum Disorder in Children. JAMA Netw Open. 2018 Jun 1;1(2):e180279. doi: 10.1001/jamanetworkopen.2018.0279. PMID: 30646068; PMCID: PMC6324407.
- Lucarelli S, Frediani T, Zingoni AM, Ferruzzi F, Giardini O, Quintieri F, Barbato M, D’Eufemia P, Cardi E. Food allergy and infantile autism. Panminerva Med. 1995 Sep;37(3):137-41. PMID: 8869369.
- Khakzad MR, Javanbakht M, Soltanifar A, Hojati M, Delgosha M, Meshkat M. The evaluation of food allergy on behavior in autistic children. Rep Biochem Mol Biol. 2012 Oct;1(1):37-42. PMID: 26989707; PMCID: PMC4757079.









Leave a Reply