ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi Makanan dan Gangguan Hormonal. Tinjauan Patofisiologi Molekuler, Manifestasi Endokrin, dan Peran Oral Food Challenge dalam Diagnosis serta Penatalaksanaan

 

Alergi Makanan dan Gangguan Hormonal. Tinjauan Patofisiologi Molekuler, Manifestasi Endokrin, dan Peran Oral Food Challenge dalam Diagnosis serta Penatalaksanaan

Abstrak

Alergi makanan merupakan penyakit imunologis yang prevalensinya terus meningkat dan memiliki interaksi kompleks dengan sistem endokrin. Hormon seks, hormon stres, hormon pertumbuhan, hormon tiroid, serta berbagai mediator neuroendokrin berperan dalam mengatur respons imun, permeabilitas mukosa, aktivasi sel mast, dan diferensiasi limfosit T. Perubahan hormonal pada masa pubertas, kehamilan, penggunaan kontrasepsi hormonal, dan menopause dapat memengaruhi perjalanan klinis alergi makanan, sedangkan inflamasi kronis akibat alergi makanan dapat mengganggu pertumbuhan, status gizi, metabolisme, dan fungsi hormonal. Estrogen meningkatkan respons imun tipe T helper 2 dan produksi IgE, sedangkan progesteron dan androgen memiliki efek imunomodulator yang berbeda. Oral Food Challenge (OFC) merupakan baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala sehingga eliminasi makanan dilakukan secara tepat tanpa meningkatkan risiko gangguan nutrisi maupun hormonal. Artikel ini membahas hubungan molekuler antara alergi makanan dan sistem endokrin berdasarkan bukti ilmiah terkini.

Pendahuluan

Sistem imun dan sistem endokrin memiliki hubungan yang sangat erat melalui jaringan sitokin, hormon, neurotransmiter, dan faktor pertumbuhan. Berbagai hormon seperti estrogen, progesteron, testosteron, kortisol, hormon tiroid, hormon pertumbuhan, insulin, leptin, adiponektin, dan vitamin D memengaruhi aktivasi sel imun, produksi imunoglobulin E, serta intensitas inflamasi alergi. Sebaliknya, inflamasi kronis akibat alergi makanan juga dapat mengubah fungsi endokrin melalui aktivasi sitokin proinflamasi.

Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis kelamin memengaruhi prevalensi alergi makanan. Pada masa anak, alergi makanan lebih sering ditemukan pada laki-laki, sedangkan setelah pubertas dan pada usia dewasa lebih banyak dijumpai pada perempuan. Perubahan hormonal pada kehamilan, penggunaan estrogen eksogen, kontrasepsi hormonal, dan menopause juga berpengaruh terhadap manifestasi penyakit alergi sehingga faktor hormonal perlu dipertimbangkan dalam evaluasi klinis pasien.

Patofisiologi Molekuler

Alergen makanan dipresentasikan oleh sel dendritik kepada limfosit T CD4 sehingga mengaktifkan jalur T helper 2. Selanjutnya terjadi peningkatan produksi interleukin-4, interleukin-5, interleukin-13, thymic stromal lymphopoietin, interleukin-25, dan interleukin-33 yang menginduksi pembentukan IgE spesifik.

Estrogen meningkatkan ekspresi reseptor FcεRI pada sel mast, meningkatkan degranulasi sel mast, memperkuat produksi IgE, meningkatkan permeabilitas vaskular, serta memperkuat respons T helper 2. Progesteron memodulasi fungsi limfosit T regulator dan dapat mengubah toleransi imun terhadap antigen makanan. Androgen cenderung menekan respons T helper 2 sehingga memiliki efek protektif terhadap alergi pada sebagian individu.

Xenoestrogen dari lingkungan, termasuk bisfenol A, ftalat, dan beberapa pestisida, dapat berikatan dengan reseptor estrogen sehingga mengganggu toleransi imun usus, mengubah fungsi enterosit, mengganggu aktivitas protease pencernaan protein, menurunkan fungsi sel T regulator, serta meningkatkan risiko sensitisasi terhadap protein makanan.

Inflamasi kronis akibat alergi makanan menyebabkan peningkatan tumor necrosis factor alfa, interleukin-1β, dan interleukin-6 yang memengaruhi aksis hipotalamus, hipofisis, adrenal, mengganggu sekresi growth hormone dan insulin-like growth factor-1, serta berpotensi menyebabkan gangguan pertumbuhan dan metabolisme pada anak.

Dua Puluh Gangguan Hormonal yang Berkaitan dengan Alergi Makanan

1. Gangguan pertumbuhan linier.
2. Berat badan sulit meningkat.
3. Failure to thrive.
4. Malnutrisi kronis.
5. Defisiensi mikronutrien.
6. Defisiensi vitamin D.
7. Defisiensi zat besi.
8. Gangguan metabolisme kalsium.
9. Gangguan aksis growth hormone dan IGF-1.
10. Pubertas terlambat akibat malnutrisi kronis.
11. Gangguan siklus menstruasi akibat inflamasi kronis.
12. Perburukan alergi pada fase pramenstruasi.
13. Perubahan manifestasi alergi selama kehamilan.
14. Perubahan alergi pada masa menopause.
15. Angioedema yang dipengaruhi estrogen.
16. Urtikaria yang dipicu kontrasepsi hormonal.
17. Gangguan metabolisme glukosa akibat inflamasi kronis.
18. Gangguan fungsi adrenal akibat stres inflamasi kronis.
19. Gangguan regulasi leptin dan adiponektin.
20. Gangguan metabolisme tulang akibat eliminasi makanan yang tidak tepat.

Penanganan dengan Oral Food Challenge

Penatalaksanaan dimulai dengan anamnesis yang menilai hubungan antara konsumsi makanan dan munculnya gejala alergi maupun gangguan hormonal. Pemeriksaan IgE spesifik dan skin prick test hanya menunjukkan sensitisasi sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar tunggal eliminasi makanan.

Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis yang berpengalaman. Eliminasi makanan hanya diberikan apabila OFC menunjukkan hasil positif. Pendekatan ini mempertahankan asupan protein, energi, vitamin, mineral, dan mikronutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan, fungsi hormonal, serta metabolisme normal.

Pada anak, evaluasi pertumbuhan, status gizi, kadar hemoglobin, vitamin D, zat besi, dan mikronutrien lain perlu dilakukan secara berkala. Pada perempuan, perubahan hormonal seperti pubertas, kehamilan, penggunaan kontrasepsi hormonal, dan menopause perlu dipertimbangkan dalam penatalaksanaan alergi makanan karena dapat memengaruhi beratnya manifestasi penyakit.

Kesimpulan

Alergi makanan dan sistem endokrin memiliki hubungan dua arah yang kompleks melalui interaksi hormon, sitokin, sel mast, eosinofil, dan limfosit T helper 2. Perubahan hormonal dapat memengaruhi perjalanan penyakit alergi makanan, sedangkan inflamasi kronis akibat alergi makanan dapat mengganggu pertumbuhan, metabolisme, status gizi, dan fungsi hormonal. Pada pasien dengan gangguan hormonal yang disertai manifestasi alergi, evaluasi alergi makanan perlu dipertimbangkan. Oral Food Challenge tetap menjadi baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala sehingga terapi eliminasi dapat dilakukan secara tepat, aman, dan berbasis bukti.

Daftar Pustaka

  • Valerieva E, Vasileva M, Baynova K, et al. Women hormones and hypersensitivity: allergic diseases in menopause. Front Allergy. 2026;7:1777688. doi:10.3389/falgy.2026.1777688.
  • Guo TL. (Xeno)estrogen regulation of food allergy. J Immunotoxicol. 2008;5(3):259-270. doi:10.1080/15376510802312290.
  • Kelly C, Gangur V. Sex disparity in food allergy: evidence from the PubMed database. J Allergy (Cairo). 2009;2009:159845. doi:10.1155/2009/159845.
  • André F, Veysseyre-Balter C, Rousset H, Descos L, André C. Exogenous oestrogen as an alternative to food allergy in the aetiology of angioneurotic oedema. Toxicology. 2003;185(1-2):155-160. doi:10.1016/S0300-483X(02)00584-X.
Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *