Alergi Makanan dan Gangguan Telinga, Hidung, Tenggorok. Tinjauan Patofisiologi Molekuler, Manifestasi Klinis, dan Peran Oral Food Challenge dalam Diagnosis serta Penatalaksanaan
Abstrak
Alergi makanan merupakan penyakit imunologis yang semakin meningkat prevalensinya dan dapat menimbulkan manifestasi sistemik pada berbagai organ, termasuk telinga, hidung, dan tenggorok (THT). Meskipun kulit, saluran cerna, dan saluran napas merupakan organ target yang paling sering dikenali, berbagai penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan juga berkontribusi terhadap sejumlah penyakit inflamasi kronis pada saluran aerodigestif atas. Aktivasi respons imun yang dimediasi imunoglobulin E, eosinofil, sel mast, limfosit T helper 2, serta berbagai sitokin menyebabkan inflamasi mukosa yang persisten sehingga memengaruhi fungsi tuba eustachius, mukosa hidung, sinus, faring, laring, dan esofagus. Manifestasi klinis dapat berupa rinitis alergi, otitis media efusi, sinusitis kronis, polip hidung, gangguan pendengaran konduktif, hingga eosinophilic esophagitis. Oral Food Challenge (OFC) merupakan baku emas dalam menegakkan diagnosis alergi makanan sehingga hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala dapat dipastikan. Pendekatan berbasis OFC memungkinkan eliminasi makanan secara tepat, mengurangi overdiagnosis, mencegah pembatasan diet yang tidak diperlukan, dan meningkatkan luaran klinis pasien.
Pendahuluan
Alergi makanan memengaruhi sekitar 6 hingga 8 persen anak dan 3 hingga 4 persen orang dewasa. Dalam dua dekade terakhir prevalensinya terus meningkat sehingga menjadi salah satu masalah kesehatan global. Manifestasi alergi makanan bersifat multisistem dan tidak hanya mengenai kulit, saluran cerna, maupun saluran napas bawah, tetapi juga saluran aerodigestif atas yang menjadi ruang lingkup ilmu THT.
Berbagai penyakit THT kronis yang sulit diterapi dilaporkan memiliki hubungan dengan alergi makanan. Ramakrishnan menunjukkan bahwa telinga tengah, telinga dalam, mukosa hidung, sinus, dan esofagus memiliki aktivitas imunologis yang mampu merespons hipersensitivitas makanan. Oleh karena itu, pada pasien dengan gangguan THT kronis yang tidak membaik dengan terapi standar, alergi makanan perlu dipertimbangkan sebagai salah satu diagnosis banding.
Patofisiologi Molekuler
Protein makanan yang bersifat alergen dikenali oleh sel penyaji antigen kemudian dipresentasikan kepada limfosit T CD4. Pada individu yang memiliki predisposisi genetik, respons imun bergeser menuju dominasi sel T helper 2 yang menghasilkan interleukin-4, interleukin-5, interleukin-9, interleukin-13, thymic stromal lymphopoietin, dan interleukin-33.
Interleukin-4 dan interleukin-13 menginduksi pergantian kelas imunoglobulin menjadi IgE. IgE kemudian berikatan dengan reseptor FcεRI pada permukaan sel mast dan basofil. Pajanan ulang terhadap alergen menyebabkan degranulasi sel mast dan pelepasan histamin, triptase, leukotrien C4, prostaglandin D2, platelet activating factor, serta berbagai kemokin inflamasi.
Interleukin-5 berperan penting dalam aktivasi dan migrasi eosinofil ke mukosa saluran napas atas. Eosinofil melepaskan major basic protein, eosinophilic cationic protein, eosinophil-derived neurotoxin, dan eosinophil peroxidase yang menyebabkan kerusakan epitel, gangguan fungsi mukosilier, edema mukosa, peningkatan produksi mukus, hiperplasia jaringan limfoid, dan remodeling kronis.
Pada telinga tengah, inflamasi menyebabkan disfungsi tuba eustachius sehingga terbentuk efusi kronis. Pada mukosa hidung dan sinus terjadi infiltrasi eosinofil, hiperplasia sel goblet, pembentukan polip, dan obstruksi ostium sinus. Pada esofagus, inflamasi eosinofilik menyebabkan fibrosis subepitel, penyempitan lumen, dan gangguan motilitas.
Dua Puluh Gangguan THT yang Berkaitan dengan Alergi Makanan
1. Rinitis alergi.
2. Rinitis kronis persisten.
3. Hidung tersumbat kronis.
4. Rinore kronis.
5. Bersin berulang.
6. Hipertrofi adenoid.
7. Sinusitis kronis.
8. Polip hidung.
9. Disfungsi tuba eustachius.
10. Otitis media dengan efusi.
11. Otitis media kronis berulang.
12. Penurunan pendengaran konduktif.
13. Tinnitus yang berkaitan dengan inflamasi alergi.
14. Penyakit Meniere pada sebagian pasien yang berkaitan dengan hipersensitivitas makanan.
15. Faringitis kronis.
16. Laringitis kronis.
17. Disfonia akibat edema laring alergi.
18. Globus pharyngeus akibat inflamasi kronis.
19. Eosinophilic esophagitis.
20. Gangguan menelan akibat eosinophilic esophagitis.
Penanganan dengan Oral Food Challenge
Penatalaksanaan dimulai dengan anamnesis rinci mengenai hubungan konsumsi makanan dengan munculnya gejala THT. Pemeriksaan skin prick test dan IgE spesifik dapat membantu mengidentifikasi sensitisasi, namun tidak dapat memastikan bahwa makanan tersebut merupakan penyebab penyakit.
Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap di fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan menangani reaksi alergi. Apabila OFC positif, makanan penyebab dieliminasi secara individual dengan tetap mempertahankan kecukupan nutrisi. Bila OFC negatif, makanan dapat dikonsumsi kembali sehingga pembatasan diet yang tidak diperlukan dapat dihindari.
Pada pasien dengan otitis media kronis, rinitis alergi, atau eosinophilic esophagitis yang berkaitan dengan alergi makanan, eliminasi berdasarkan hasil OFC dapat menurunkan inflamasi mukosa, memperbaiki gejala klinis, mengurangi kekambuhan penyakit, serta menurunkan kebutuhan terapi jangka panjang.
Kesimpulan
Alergi makanan merupakan salah satu penyebab penting penyakit inflamasi kronis pada telinga, hidung, dan tenggorok yang masih sering tidak dikenali. Aktivasi respons imun yang dimediasi IgE, sel mast, eosinofil, dan sitokin Th2 menyebabkan inflamasi kronis pada mukosa saluran aerodigestif atas sehingga memunculkan berbagai manifestasi THT. Pada pasien dengan gangguan THT yang persisten atau berulang dan tidak respons terhadap terapi konvensional, alergi makanan harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding. Oral Food Challenge tetap menjadi baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala sehingga terapi eliminasi dapat dilakukan secara tepat, aman, dan berbasis bukti.
Daftar Pustaka
1. Ramakrishnan JB. The role of food allergy in otolaryngology disorders. Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg. 2010;18(3):195-199. doi:10.1097/MOO.0b013e328337b2ca.
2. Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI Guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023.
3. Greenhawt M, Shaker M, Wang J, et al. An update on oral food challenge in the diagnosis and management of food allergy. J Allergy Clin Immunol Pract. 2024.
4. Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2024.









Leave a Reply