ALERGI MAKANAN PADA BAYI: DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN BERBASIS BUKTI
Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara
ABSTRAK
Alergi makanan merupakan salah satu penyakit alergi yang paling sering terjadi pada bayi, terutama pada tahun pertama kehidupan. Manifestasi klinis sangat beragam, meliputi kelainan kulit, saluran cerna, saluran napas, hingga reaksi sistemik yang berat. Diagnosis yang tepat sangat penting karena banyak gejala alergi makanan menyerupai penyakit lain sehingga sering terjadi salah diagnosis maupun overdiagnosis. Pendekatan diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis yang cermat, pemeriksaan penunjang sesuai indikasi, serta Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas untuk mengonfirmasi alergi makanan. Penatalaksanaan yang tepat bertujuan menghilangkan gejala, mempertahankan status gizi, dan mencegah pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
Alergi makanan pada bayi merupakan masalah kesehatan yang semakin banyak ditemukan di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 2 sampai 10 persen anak mengalami alergi makanan, meskipun prevalensi yang telah dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge lebih rendah dibandingkan angka yang dilaporkan berdasarkan kuesioner atau dugaan orang tua. Makanan yang paling sering menjadi penyebab pada bayi adalah susu sapi, telur, kacang tanah, gandum, kedelai, ikan, dan makanan laut.
Sistem imun dan saluran cerna bayi masih berkembang pada tahun pertama kehidupan sehingga lebih rentan mengalami reaksi terhadap protein makanan tertentu. Sebagian besar alergi makanan pada bayi akan membaik seiring bertambahnya usia, terutama alergi susu sapi, telur, gandum, dan kedelai. Sebaliknya, alergi terhadap kacang tanah, kacang pohon, ikan, dan makanan laut lebih sering menetap hingga usia dewasa.
Alergi makanan merupakan respons sistem imun yang abnormal terhadap protein makanan. Berdasarkan mekanismenya, alergi makanan dibedakan menjadi reaksi yang dimediasi IgE, non-IgE, dan campuran keduanya. Reaksi IgE biasanya muncul dalam beberapa menit hingga dua jam setelah mengonsumsi makanan, sedangkan reaksi non-IgE umumnya muncul lebih lambat dan terutama mengenai saluran cerna.
Gejala alergi makanan pada bayi sangat bervariasi. Kelainan kulit berupa dermatitis atopik, biduran, kemerahan, atau bengkak merupakan manifestasi yang paling sering dijumpai. Keluhan saluran cerna meliputi muntah, diare, konstipasi, kolik, darah pada tinja, refluks, dan sulit makan. Sebagian bayi mengalami batuk berulang, mengi, hidung tersumbat, atau gejala saluran napas lainnya. Pada kasus berat dapat terjadi anafilaksis yang memerlukan penanganan segera.
TABEL. GEJALA ALERGI MAKANAN PADA BAYI BERDASARKAN SISTEM TUBUH
| Sistem tubuh | Gejala yang dapat ditemukan |
|---|---|
| Kulit | Dermatitis atopik, ruam merah, biduran, gatal, bentol, bengkak pada bibir atau kelopak mata, angioedema |
| Saluran cerna | Muntah, gumoh berlebihan, refluks, kolik, nyeri perut, kembung, diare, konstipasi, lendir atau darah pada tinja, sulit makan, menolak makan, pertumbuhan berat badan kurang |
| Saluran napas atas | Bersin berulang, hidung tersumbat, pilek berulang tanpa infeksi, hidung gatal, berdeham, suara sengau, pembesaran adenoid, mendengkur |
| Saluran napas bawah | Batuk kronis, batuk malam, mengi, sesak napas, asma, napas berbunyi |
| Mata | Mata gatal, mata merah, mata berair, bengkak pada kelopak mata |
| Telinga, hidung, tenggorok | Otitis media berulang, tenggorok gatal, suara serak, napas melalui mulut |
| Rongga mulut | Gatal pada bibir atau lidah, bengkak bibir, bengkak lidah, rasa kesemutan di mulut |
| Sistem saraf dan perilaku | Bayi rewel, sulit tidur, sering terbangun, iritabel, menangis terus, gangguan konsentrasi pada anak yang lebih besar |
| Pertumbuhan dan nutrisi | Berat badan sulit naik, tinggi badan terhambat, gagal tumbuh, kekurangan zat gizi akibat pembatasan makanan yang tidak tepat |
| Sistem imun | Infeksi saluran napas berulang, meskipun hubungan sebab akibatnya belum terbukti pada semua kasus dan perlu dievaluasi penyebab lain |
| Kardiovaskular | Pucat, tekanan darah menurun, syok pada anafilaksis |
| Reaksi sistemik | Anafilaksis dengan kombinasi gejala kulit, saluran napas, saluran cerna, dan gangguan sirkulasi yang memerlukan penanganan darurat |
Catatan:
• Gejala alergi makanan berbeda pada setiap bayi dan tidak semua gejala muncul bersamaan.
K• Diagnosis harus berdasarkan riwayat klinis yang sesuai dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis..Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala atau hasil pemeriksaan laboratorium. Riwayat hubungan antara konsumsi makanan dan timbulnya gejala merupakan dasar utama. Pemeriksaan IgE spesifik atau uji tusuk kulit dapat membantu pada alergi yang dimediasi IgE, tetapi tidak dapat memastikan diagnosis bila digunakan sendiri. Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab alergi.
Penatalaksanaan alergi makanan meliputi eliminasi makanan yang telah terbukti menjadi penyebab, edukasi keluarga, pemantauan status gizi, serta evaluasi berkala untuk mengetahui apakah toleransi telah berkembang. Eliminasi makanan yang tidak perlu harus dihindari karena dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, kekurangan zat gizi, dan menurunkan kualitas hidup. Pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, ibu tidak perlu menjalani diet eliminasi kecuali terdapat indikasi yang jelas. Formula hipoalergenik digunakan bila diperlukan sesuai rekomendasi dokter.
Pencegahan alergi makanan saat ini lebih menekankan pada pemberian ASI, pemberian makanan pendamping sesuai usia, serta pengenalan makanan alergen pada waktu yang tepat. Tidak terdapat bukti bahwa menunda pemberian makanan alergen setelah usia enam bulan dapat mencegah alergi. Sebaliknya, pada bayi dengan risiko tinggi, pengenalan dini beberapa makanan alergen dalam kondisi yang tepat justru dapat membantu terbentuknya toleransi.
KESIMPULAN
Alergi makanan pada bayi merupakan penyakit yang memerlukan diagnosis yang cermat karena gejalanya sering menyerupai berbagai penyakit lain. Riwayat klinis tetap menjadi dasar diagnosis, sedangkan Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan makanan penyebab. Penatalaksanaan yang tepat bertujuan menghindari reaksi alergi tanpa membatasi makanan secara berlebihan sehingga pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas hidup bayi tetap optimal.
DAFTAR PUSTAKA
- Muraro A, et al. EAACI Guidelines on the Diagnosis and Management of IgE-Mediated Food Allergy. Allergy.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018.
- Boyce JA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2010.
- World Allergy Organization. DRACMA Guidelines for Cow’s Milk Allergy.
- Fiocchi A, et al. World Allergy Organization Position Paper. Oral Food Challenge Testing.
- NIAID-Sponsored Expert Panel. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy.
- ESPGHAN Committee on Nutrition. Complementary Feeding: A Position Paper.









Leave a Reply