ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

ALOPECIA AREATA, KERONTOKAN RAMBUT, ALERGI MAKANAN, DAN INFEKSI BERULANG PADA ANAK. TINJAUAN ILMIAH BERBASIS BUKTI

ALOPECIA AREATA, ALERGI MAKANAN, DAN INFEKSI BERULANG PADA ANAK. TINJAUAN ILMIAH BERBASIS BUKTI

ABSTRAK

Alopecia areata (AA) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan kerontokan rambut berbatas tegas tanpa jaringan parut. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian menunjukkan adanya hubungan antara alopecia areata dengan penyakit atopi seperti dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, konjungtivitis alergi, dan alergi makanan. Penelitian kohort multicenter terbaru tahun 2024 menunjukkan bahwa pasien dengan alergi makanan maupun alergi musiman memiliki risiko lebih tinggi mengalami alopecia areata dibandingkan populasi umum. Aktivasi inflamasi tipe 2, peningkatan IgE, eosinofil, gangguan sawar epitel, serta disregulasi sistem imun diduga menjadi mekanisme yang menghubungkan kedua penyakit tersebut. Pada sebagian anak, alopecia areata juga disertai infeksi saluran napas berulang, walaupun hubungan kausal langsung masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Diagnosis harus dilakukan secara komprehensif untuk mencari penyakit penyerta yang dapat memengaruhi perjalanan penyakit.

Alopecia areata merupakan salah satu penyebab tersering kerontokan rambut non-sikatrisial pada anak dan dewasa. Penyakit ini terjadi akibat serangan sistem imun terhadap folikel rambut yang sedang berada pada fase pertumbuhan (anagen), sehingga rambut mengalami kerontokan mendadak berbentuk bulat atau oval. Prevalensi diperkirakan sekitar 0,1 sampai 0,2 persen populasi dengan risiko seumur hidup mendekati 2 persen.

Selama bertahun-tahun alopecia areata dianggap hanya sebagai penyakit autoimun. Namun penelitian imunologi modern menunjukkan bahwa penyakit ini juga berkaitan erat dengan inflamasi tipe 2 yang menjadi dasar berbagai penyakit alergi. Beberapa studi populasi besar melaporkan peningkatan kejadian dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, urtikaria kronik, dan alergi makanan pada pasien alopecia areata. Temuan tersebut membuka peluang pendekatan yang lebih komprehensif terhadap pasien dengan alopecia areata.

ALOPECIA AREATA, ALERGI MAKANAN, DAN INFEKSI BERULANG PADA ANAK. TINJAUAN ILMIAH BERBASIS BUKTI

Alopecia areata merupakan penyakit inflamasi autoimun yang menyerang folikel rambut tanpa merusak sel punca folikel sehingga rambut masih dapat tumbuh kembali. Gambaran klinis bervariasi mulai dari satu bercak pitak kecil hingga kehilangan seluruh rambut kepala (alopecia totalis) atau seluruh rambut tubuh (alopecia universalis).

Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit alergi lebih sering ditemukan pada pasien alopecia areata dibandingkan populasi umum. Dermatitis atopik merupakan komorbid yang paling konsisten, diikuti rinitis alergi, asma, urtikaria kronik spontan, konjungtivitis alergi, dan alergi makanan. Hubungan ini diduga disebabkan oleh jalur imun yang saling berhubungan, terutama aktivasi sitokin Th2.

Penelitian Garate dan kolega tahun 2024 menunjukkan bahwa pasien dengan alergi makanan maupun alergi musiman memiliki risiko lebih tinggi mengalami alopecia areata dibandingkan kelompok tanpa alergi. Studi All of Us NIH tahun 2024 juga mengonfirmasi peningkatan hubungan alopecia areata dengan berbagai penyakit alergi pada populasi multietnis. Penelitian Lee dan kolega tahun 2020 menunjukkan bahwa keberadaan penyakit alergi berhubungan dengan perjalanan klinis alopecia areata yang lebih berat.

PATOFISIOLOGI

Alopecia areata terjadi akibat hilangnya immune privilege pada folikel rambut. Aktivasi limfosit T sitotoksik CD8+, sel NK, interferon-γ, IL-15, dan jalur JAK-STAT menyebabkan serangan terhadap folikel rambut sehingga rambut berhenti tumbuh dan memasuki fase kerontokan.

Penelitian imunologi terbaru menunjukkan bahwa selain jalur Th1, alopecia areata juga melibatkan aktivasi jalur Th2 yang ditandai peningkatan IL-4, IL-5, IL-13, IgE, eosinofil, serta mediator alergi lainnya. Jalur inflamasi yang sama juga berperan pada dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, dan alergi makanan sehingga menjelaskan tingginya komorbiditas.

Gangguan sawar kulit, perubahan mikrobiota, predisposisi genetik, dan inflamasi kronik diperkirakan memperkuat aktivasi sistem imun sehingga alopecia areata dan penyakit alergi sering muncul bersamaan pada individu yang sama.

HUBUNGAN ALERGI MAKANAN, KERONTOKAN RAMBUT, DAN INFEKSI BERULANG

Pada sebagian anak dengan alergi makanan ditemukan manifestasi multisistem berupa dermatitis atopik, gangguan saluran cerna, rinitis alergi, asma, serta alopecia areata. Walaupun hubungan sebab akibat belum sepenuhnya dipastikan, penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan lebih sering ditemukan pada pasien alopecia areata dibandingkan populasi umum.

Inflamasi kronik akibat penyakit alergi dapat meningkatkan aktivasi sitokin tipe 2, eosinofil, dan mediator inflamasi yang berperan dalam proses autoimun. Keadaan ini diduga meningkatkan kerentanan folikel rambut terhadap serangan sistem imun sehingga alopecia areata lebih mudah terjadi pada individu dengan penyakit atopi.

Sebagian pasien juga mengalami infeksi saluran napas berulang. Saat ini belum terdapat bukti kuat bahwa alergi makanan secara langsung menyebabkan infeksi berulang. Namun rinitis alergi, pembesaran adenoid, gangguan fungsi tuba eustachius, gangguan tidur, dan inflamasi mukosa kronik dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi pada sebagian anak. Oleh karena itu evaluasi klinis harus dilakukan secara menyeluruh untuk mencari seluruh faktor yang berkontribusi.

TANDA DAN GEJALA

Sistem Manifestasi
Rambut Pitak berbatas tegas, rambut mudah tercabut, rambut tanda seru, kerontokan mendadak
Kulit Dermatitis atopik, urtikaria, kulit kering, gatal
Saluran napas atas Bersin, pilek, hidung tersumbat, rinitis alergi, adenoid
Saluran napas bawah Batuk kronis, mengi, asma
Mata Mata gatal, konjungtivitis alergi
Saluran cerna Nyeri perut, muntah, diare, konstipasi, alergi makanan
Sistem imun Riwayat penyakit atopi, eosinofil meningkat, IgE meningkat pada sebagian pasien
Penyakit penyerta Vitiligo, penyakit tiroid autoimun, urtikaria kronik, penyakit autoimun lain

PENANGANAN

  1. Penatalaksanaan alopecia areata pada anak harus dimulai dengan evaluasi menyeluruh terhadap penyakit penyerta yang dapat memengaruhi perjalanan penyakit, termasuk dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, alergi makanan, penyakit autoimun, gangguan tiroid, infeksi kronis, dan status gizi. Terapi tidak hanya berfokus pada pertumbuhan kembali rambut, tetapi juga mengendalikan inflamasi yang mendasari, memperbaiki kualitas hidup, serta mengurangi faktor yang dapat memperberat aktivitas penyakit.
  2. Bila dari riwayat klinis ditemukan dugaan alergi makanan, diagnosis tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan gejala, uji tusuk kulit, kadar IgE spesifik, maupun panel alergi. Pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak selalu berarti makanan tersebut benar menjadi penyebab penyakit. Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan oleh dokter berpengalaman tetap merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar memicu reaksi alergi. Pendekatan ini sesuai dengan rekomendasi EAACI, WAO, AAAAI, dan NIAID.
  3. Apabila OFC membuktikan adanya alergi makanan, eliminasi hanya dilakukan terhadap makanan yang telah terkonfirmasi sebagai pemicu. Diet eliminasi yang terlalu luas tanpa konfirmasi diagnosis harus dihindari karena dapat menyebabkan kekurangan protein, zat besi, seng, vitamin D, serta gangguan pertumbuhan dan feeding difficulties. Setelah makanan penyebab dieliminasi secara tepat, pasien perlu dipantau secara berkala untuk menilai perbaikan gejala alergi, status gizi, frekuensi infeksi, dan perjalanan alopecia areata. Evaluasi ulang dengan OFC dapat dilakukan sesuai indikasi untuk mengetahui apakah toleransi terhadap makanan telah berkembang.
  4. Penatalaksanaan alopecia areata tetap mengikuti pedoman dermatologi, meliputi kortikosteroid topikal atau intralesi, imunoterapi topikal, inhibitor JAK pada indikasi tertentu, serta dukungan psikologis bila diperlukan. Pada pasien yang juga memiliki penyakit alergi, pengendalian dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, atau alergi makanan yang telah terbukti dapat menjadi bagian dari pendekatan komprehensif. Hingga saat ini belum terdapat bukti bahwa eliminasi makanan tanpa alergi yang terkonfirmasi dapat menyembuhkan alopecia areata, sehingga setiap intervensi diet harus didasarkan pada diagnosis berbasis bukti, idealnya melalui Oral Food Challenge.

SARAN

Pasien alopecia areata, terutama anak yang disertai dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, atau dugaan alergi makanan, sebaiknya menjalani evaluasi alergi secara menyeluruh berdasarkan riwayat klinis. Pemeriksaan alergi harus menggunakan metode yang tervalidasi. Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan alergi makanan bila terdapat indikasi. Diet eliminasi tanpa diagnosis yang pasti tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan gangguan nutrisi dan feeding difficulties.

KESIMPULAN

Alopecia areata merupakan penyakit autoimun yang memiliki hubungan erat dengan penyakit atopi, termasuk alergi makanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasien dengan alergi makanan memiliki risiko lebih tinggi mengalami alopecia areata. Jalur inflamasi tipe 2 diduga menjadi mekanisme yang menghubungkan kedua penyakit tersebut. Pada sebagian anak juga ditemukan infeksi saluran napas berulang, meskipun hubungan kausal langsung masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Pendekatan multidisiplin dan diagnosis berbasis bukti sangat penting untuk memperoleh hasil terapi yang optimal.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Lee HJ, Hong NS, Kim SH, Jang YH. Association between Alopecia Areata and Comorbid Allergies: Implications for Its Clinical Course. Ann Dermatol. 2020;32(6):523-525.
  2. Garate D, Thang CJ, Murphy TL, et al. Evaluating Alopecia Areata Risk among Patients with Seasonal and Food Allergies: A Multicenter Cohort Study. Allergy. 2024;79(12):3525-3528.
  3. Tsutsui E, Piontkowski AJ, Sharma D, et al. Association between Alopecia Areata and Allergic Diseases: An All of Us Database Study. Ann Allergy Asthma Immunol. 2024;132(6):772-774.
  4. Magen E, Chikovani T, Waitman DA, Kahan NR. Association of Alopecia Areata with Atopic Dermatitis and Chronic Spontaneous Urticaria. Allergy Asthma Proc. 2018;39(2):96-102.
  5. Suarez-Fariñas M, Ungar B, Noda S, et al. Alopecia Areata Profiling Shows TH1, TH2, and IL-23 Cytokine Activation without Parallel TH17/TH22 Skewing. J Allergy Clin Immunol. 2015;136(5):1277-1287.
  6. Czarnowicki T, He HY, Wen HC, et al. Alopecia Areata Is Characterized by Expansion of Circulating Th2/Tc2/Th22 Cell Populations. Allergy. 2018;73(3):713-723.
Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *