Antibodi Susu dan Telur Meningkat pada Artritis Reumatoid. Temuan Penelitian Hewan yang Membuka Arah Baru
Hubungan antara alergi makanan dan artritis reumatoid (rheumatoid arthritis, RA) kembali menjadi perhatian setelah sekelompok peneliti dari Tiongkok menerbitkan penelitian eksperimental di North American Journal of Medical Sciences pada tahun 2016. Berbeda dengan penelitian klinis sebelumnya yang mengevaluasi pasien, studi ini menggunakan model hewan berupa collagen-induced arthritis (CIA) pada tikus Wistar untuk menyelidiki apakah pembentukan artritis autoimun berkaitan dengan respons imun terhadap makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama perkembangan artritis terjadi peningkatan kadar sitokin proinflamasi, yaitu TNF-α, IL-1, IL-6, dan IL-17, disertai peningkatan circulating immune complexes (CIC). Menariknya, peneliti juga menemukan peningkatan antibodi IgG dan IgE yang spesifik terhadap protein susu dan telur pada tikus yang mengalami artritis. Berdasarkan temuan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa patogenesis artritis pada model hewan berkorelasi dengan meningkatnya respons imun terhadap alergen susu dan telur.
Meskipun hasil penelitian ini menarik, para ahli menekankan bahwa temuan tersebut belum dapat diartikan bahwa konsumsi susu atau telur menyebabkan artritis reumatoid pada manusia. Penelitian ini merupakan studi laboratorium menggunakan model tikus, sehingga hanya menunjukkan adanya hubungan biologis, bukan hubungan sebab akibat pada pasien. Peningkatan antibodi terhadap susu dan telur dapat mencerminkan perubahan regulasi sistem imun akibat proses autoimun yang sedang berlangsung, bukan bukti bahwa kedua makanan tersebut memicu penyakit. Selain itu, antibodi IgG terhadap makanan bukan merupakan penanda alergi makanan yang tervalidasi secara klinis. Berbagai pedoman internasional menyatakan bahwa diagnosis alergi makanan harus ditegakkan berdasarkan riwayat klinis yang sesuai dan dikonfirmasi melalui oral food challenge bila diperlukan, bukan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan antibodi.
Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami kemungkinan interaksi antara sistem imun, usus, dan antigen makanan pada artritis reumatoid. Temuan tersebut memperkuat hipotesis bahwa faktor lingkungan, termasuk makanan, mungkin memengaruhi respons imun pada individu yang memiliki kerentanan genetik. Namun, hingga saat ini bukti klinis masih menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pasien artritis reumatoid yang benar-benar mengalami gejala akibat makanan tertentu yang dapat dibuktikan melalui uji tantangan makanan tersamar ganda. Oleh karena itu, hasil penelitian ini sebaiknya dipandang sebagai dasar untuk penelitian lanjutan, bukan sebagai alasan untuk menghindari susu atau telur secara rutin pada seluruh pasien artritis reumatoid.
Daftar pustaka
- Li J, Yan H, Chen H, Ji Q, Huang S, Yang P, Liu Z, Yang B. The Pathogenesis of Rheumatoid Arthritis is Associated with Milk or Egg Allergy. N Am J Med Sci. 2016;8(1):40-46. doi:10.4103/1947-2714.175206. PMID: 27011946. PMCID: PMC4784182.











Leave a Reply