
DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN ALERGI MAKANAN PADA ANAK MENURUT REKOMENDASI AAAAI, WAO, EAACI, DAN CSACI
Diagnosis alergi makanan harus dilakukan secara sistematis berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang telah terbukti secara ilmiah. Berbagai organisasi internasional seperti American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), World Allergy Organization (WAO), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), dan Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology (CSACI) menegaskan bahwa tidak ada satu pun tes laboratorium yang dapat berdiri sendiri untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas diagnosis. Sebaliknya, berbagai pemeriksaan alternatif seperti IgG makanan, bioresonance, hair analysis, electrodermal testing, kinesiology, dan VEGA testing tidak direkomendasikan karena tidak memiliki bukti ilmiah yang memadai.
Alergi makanan merupakan penyakit yang sering mengalami salah diagnosis maupun overdiagnosis. Banyak pasien menjalani diet eliminasi hanya berdasarkan hasil tes laboratorium tanpa mempertimbangkan riwayat klinis maupun konfirmasi melalui Oral Food Challenge. Pendekatan tersebut dapat menyebabkan pembatasan makanan yang tidak perlu, gangguan pertumbuhan, kekurangan zat gizi, serta penurunan kualitas hidup.
Pedoman internasional menekankan bahwa diagnosis alergi makanan merupakan kombinasi antara riwayat klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang yang tepat, dan bila diperlukan konfirmasi menggunakan Oral Food Challenge. Pemeriksaan laboratorium hanya membantu memperkirakan kemungkinan alergi dan tidak dapat menggantikan evaluasi klinis.
PEMERIKSAAN ALERGI YANG TELAH TERBUKTI (PROVEN TESTS)
| Pemeriksaan | Status ilmiah | Keterangan |
|---|---|---|
| Riwayat klinis | Sangat direkomendasikan | Dasar utama diagnosis |
| Pemeriksaan fisik | Sangat direkomendasikan | Menilai manifestasi alergi |
| Skin Prick Test (SPT) | Direkomendasikan | Membantu mendeteksi sensitisasi IgE |
| Serum Specific IgE | Direkomendasikan | Membantu bila sesuai riwayat klinis |
| Component Resolved Diagnostics (CRD) | Direkomendasikan pada indikasi tertentu | Meningkatkan akurasi pada beberapa alergen |
| Atopy Patch Test | Terbatas | Tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin |
| Oral Food Challenge (OFC) | Baku emas | Pemeriksaan paling akurat untuk memastikan diagnosis |
PEMERIKSAAN ALERGI YANG TELAH TERBUKTI (PROVEN TESTS)
| Pemeriksaan | Status ilmiah | Keterangan |
|---|---|---|
| Riwayat klinis | Sangat direkomendasikan | Dasar utama diagnosis |
| Pemeriksaan fisik | Sangat direkomendasikan | Menilai manifestasi alergi |
| Skin Prick Test (SPT) | Direkomendasikan | Pemeriksaan awal untuk alergi yang dimediasi IgE |
| Serum Specific IgE | Direkomendasikan | Mengukur IgE spesifik terhadap alergen tertentu |
| Panel Alergi IgE | Direkomendasikan hanya pada indikasi tertentu | Berisi beberapa pemeriksaan serum specific IgE sekaligus. Pemilihan alergen harus berdasarkan riwayat klinis, bukan sebagai skrining umum. |
| Component-Resolved Diagnostics (CRD) | Direkomendasikan pada indikasi tertentu | Membantu membedakan sensitisasi primer dan reaktivitas silang serta memperkirakan risiko reaksi pada beberapa alergen |
| Basophil Activation Test (BAT) | Direkomendasikan terbatas | Digunakan di pusat rujukan atau penelitian untuk kasus tertentu, belum menjadi pemeriksaan rutin |
| Atopy Patch Test | Terbatas | Tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin untuk alergi makanan |
| Oral Food Challenge (OFC) | Baku emas | Pemeriksaan paling akurat untuk memastikan diagnosis alergi makanan |
Keterangan mengenai Panel Alergi IgE:
Panel alergi IgE bukan merupakan pemeriksaan yang berdiri sendiri, melainkan kumpulan pemeriksaan serum specific IgE terhadap beberapa alergen sekaligus. Pemeriksaan ini hanya bermanfaat bila alergen yang diperiksa dipilih berdasarkan riwayat klinis pasien. Pemeriksaan panel yang dilakukan tanpa indikasi dapat menghasilkan positif palsu akibat sensitisasi tanpa alergi klinis sehingga berisiko menyebabkan overdiagnosis dan pembatasan makanan yang tidak diperlukan. Oleh karena itu, AAAAI, EAACI, WAO, dan CSACI menekankan bahwa hasil panel IgE harus selalu diinterpretasikan bersama riwayat klinis, dan bila masih meragukan perlu dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis.
PEMERIKSAAN YANG TIDAK TERBUKTI (UNPROVEN TESTS)
| Pemeriksaan | Rekomendasi |
|---|---|
| IgG atau IgG4 makanan | Tidak direkomendasikan |
| Bioresonance | Tidak direkomendasikan |
| Electrodermal atau VEGA Test | Tidak direkomendasikan |
| Applied Kinesiology | Tidak direkomendasikan |
| Hair Analysis | Tidak direkomendasikan |
| Iridology | Tidak direkomendasikan |
| Leukocytotoxic Test | Tidak direkomendasikan |
| Pulse Testing | Tidak direkomendasikan |
| Provocation Neutralization Test | Tidak direkomendasikan |
Skin Prick Test dan pemeriksaan serum specific IgE hanya menunjukkan adanya sensitisasi terhadap suatu alergen. Hasil positif tidak selalu berarti seseorang mengalami alergi makanan secara klinis. Sebaliknya, sebagian penderita alergi makanan dapat memiliki hasil pemeriksaan negatif. Oleh karena itu, hasil pemeriksaan harus selalu diinterpretasikan bersama riwayat klinis.
Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis alergi makanan karena secara langsung membuktikan apakah suatu makanan benar menyebabkan reaksi alergi. Pemeriksaan ini dilakukan secara bertahap di bawah pengawasan dokter yang berpengalaman sehingga aman dan memiliki akurasi tertinggi.
Pemeriksaan IgG makanan sering disalahartikan sebagai tes alergi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa IgG terhadap makanan lebih mencerminkan paparan atau toleransi terhadap makanan tersebut, bukan alergi. Karena itu AAAAI, EAACI, WAO, dan CSACI secara konsisten tidak merekomendasikan penggunaan IgG makanan untuk mendiagnosis alergi.
Berbagai metode alternatif seperti bioresonance, hair analysis, electrodermal testing, iridology, dan applied kinesiology juga tidak memiliki validitas ilmiah. Penggunaan pemeriksaan tersebut berisiko menyebabkan salah diagnosis, diet eliminasi yang tidak perlu, biaya tinggi, serta keterlambatan diagnosis penyakit yang sebenarnya.
SARAN
Diagnosis alergi makanan harus dilakukan secara bertahap berdasarkan riwayat klinis yang teliti, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang yang sesuai indikasi. Jangan menetapkan diagnosis hanya berdasarkan hasil laboratorium atau pemeriksaan alternatif yang belum terbukti. Bila terdapat keraguan, lakukan Oral Food Challenge sesuai indikasi di bawah pengawasan dokter yang berpengalaman karena pemeriksaan ini merupakan baku emas diagnosis alergi makanan.
KESIMPULAN
Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu jenis pemeriksaan. Riwayat klinis tetap merupakan dasar utama, sedangkan Skin Prick Test dan serum specific IgE berfungsi sebagai pemeriksaan penunjang. Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan diagnosis. Sebaliknya, pemeriksaan seperti IgG makanan, bioresonance, hair analysis, electrodermal testing, dan metode alternatif lainnya tidak direkomendasikan oleh AAAAI, WAO, EAACI, maupun CSACI karena tidak didukung bukti ilmiah yang memadai.
DAFTAR PUSTAKA
- Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018.
- Muraro A, et al. EAACI Guidelines on IgE-Mediated Food Allergy. Allergy. 2022.
- World Allergy Organization. DRACMA Guidelines Update. World Allergy Organization Journal. 2023.
- Wang J, et al. AAAAI Practice Parameter Update. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2020.
- Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology. CSACI Position Statement Against Food-Specific IgG Testing. Allergy, Asthma & Clinical Immunology.
- Boyce JA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2010.









Leave a Reply