Hubungan Overactive Bladder dengan Penyakit Alergi pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Bukti Klinis Terkini
Overactive bladder (OAB) atau kandung kemih hiperaktif merupakan salah satu gangguan saluran kemih bawah yang paling sering ditemukan pada anak. OAB ditandai oleh rasa ingin berkemih yang mendadak (urgency), peningkatan frekuensi buang air kecil, nokturia, dengan atau tanpa inkontinensia urgensi, tanpa adanya infeksi saluran kemih atau kelainan anatomis maupun neurologis yang dapat menjelaskan gejala tersebut. Selama bertahun-tahun, etiologi OAB lebih banyak dikaitkan dengan gangguan fungsi otot detrusor, maturasi sistem saraf, konstipasi, dan gangguan perilaku berkemih. Namun, penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa penyakit alergi juga berperan penting dalam patogenesis OAB melalui mekanisme inflamasi tipe 2, aktivasi sel mast, pelepasan histamin, dan inflamasi neurogenik. Penelitian retrospektif oleh Yin dkk. yang melibatkan 918 anak dengan OAB menunjukkan adanya hubungan bermakna antara OAB dan penyakit alergi, terutama batuk alergi dan rhinitis alergika. Selain itu, terapi antihistamin desloratadin memberikan perbaikan gejala pada sekitar 90% pasien dengan OAB yang disertai alergi. Temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi penyakit alergi perlu menjadi bagian dari pendekatan diagnostik dan terapeutik pada anak dengan OAB.
Overactive bladder (OAB) merupakan sindrom klinis yang didefinisikan oleh International Children’s Continence Society (ICCS) sebagai adanya rasa ingin berkemih yang mendadak (urgency), yang biasanya disertai peningkatan frekuensi berkemih pada siang hari dan nokturia, dengan atau tanpa inkontinensia urgensi, tanpa adanya infeksi saluran kemih atau kelainan patologis lain yang dapat menjelaskan gejala tersebut. OAB termasuk salah satu bentuk disfungsi saluran kemih bawah yang paling sering dijumpai pada anak usia prasekolah dan usia sekolah, serta dapat memberikan dampak yang besar terhadap kualitas hidup anak maupun keluarganya.
Prevalensi OAB pada anak cukup tinggi dan bervariasi antarnegara. Penelitian di Jepang melaporkan prevalensi sekitar 17,8%, di Korea Selatan sebesar 16,6%, sedangkan survei populasi di lima provinsi di Tiongkok menunjukkan prevalensi sekitar 9,0%. Variasi ini dipengaruhi oleh perbedaan definisi, karakteristik populasi, usia anak, serta metode diagnosis yang digunakan. Walaupun demikian, seluruh penelitian tersebut menunjukkan bahwa OAB merupakan masalah kesehatan anak yang cukup sering ditemukan dalam praktik klinis.
Selama bertahun-tahun, penyebab OAB dianggap terutama berkaitan dengan hiperaktivitas otot detrusor, hipersensitivitas kandung kemih, gangguan koordinasi dasar panggul, keterlambatan maturasi sistem saraf, konstipasi, gangguan psikologis, maupun gangguan metabolisme hormonal. Namun, pada sebagian besar pasien penyebab pasti tidak dapat diidentifikasi sehingga OAB dikategorikan sebagai gangguan multifaktorial dengan mekanisme patofisiologi yang kompleks.
Perkembangan penelitian dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa penyakit alergi merupakan salah satu faktor yang diduga berperan dalam timbulnya OAB pada anak. Anak dengan dermatitis atopik, rhinitis alergika, batuk alergi, asma, maupun alergi makanan lebih sering mengalami gangguan berkemih dibandingkan anak tanpa penyakit alergi. Kondisi ini diduga terjadi akibat aktivasi sel mast, peningkatan kadar IgE, pelepasan histamin, eosinofil, leukotrien, dan sitokin inflamasi tipe 2 yang meningkatkan sensitivitas saraf sensorik kandung kemih sehingga memicu kontraksi otot detrusor yang berlebihan.
Bukti yang semakin kuat berasal dari penelitian Yin dan kolega yang dipublikasikan dalam Frontiers in Pediatrics tahun 2022. Penelitian tersebut menganalisis 918 anak dengan OAB dan menemukan bahwa penyakit alergi berhubungan erat dengan OAB. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemberian antihistamin desloratadin pada pasien OAB dengan penyakit alergi memberikan perbaikan klinis yang bermakna, sehingga membuka perspektif baru mengenai peran inflamasi alergi dalam patogenesis OAB pada anak.
Definisi Overactive Bladder
Overactive bladder (OAB) atau kandung kemih hiperaktif adalah sindrom klinis yang ditandai oleh rasa ingin berkemih yang mendadak dan sulit ditahan (urgency), biasanya disertai peningkatan frekuensi berkemih pada siang hari dan nokturia, dengan atau tanpa inkontinensia urgensi, tanpa adanya infeksi saluran kemih ataupun kelainan anatomis dan neurologis yang dapat menjelaskan gejala tersebut. Pada anak, kondisi ini umumnya berkaitan dengan kontraksi involunter otot detrusor selama fase pengisian kandung kemih sehingga kapasitas penyimpanan urin menjadi berkurang.
Tabel 1. Karakteristik Overactive Bladder pada Anak
| Karakteristik | Keterangan |
|---|---|
| Gejala utama | Urgency |
| Gejala penyerta | Frekuensi berkemih meningkat |
| Nokturia | Sering ditemukan |
| Inkontinensia urgensi | Dapat ada atau tidak |
| Infeksi saluran kemih | Tidak ada |
| Kelainan anatomi | Tidak ditemukan |
| Kelainan neurologis | Tidak ditemukan |
Hubungan OAB dengan Penyakit Alergi
Penelitian Yin dkk. menunjukkan bahwa penyakit alergi merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan OAB pada anak. Anak dengan batuk alergi maupun rhinitis alergika ditemukan lebih sering mengalami OAB dibandingkan populasi umum. Selain itu, beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa dermatitis atopik, eksim, dan penyakit atopik lainnya meningkatkan risiko gangguan fungsi kandung kemih.
Mekanisme hubungan tersebut diduga melibatkan inflamasi sistemik tipe 2. Aktivasi sel mast menyebabkan pelepasan histamin, leukotrien, prostaglandin, serta sitokin IL-4, IL-5, dan IL-13 yang meningkatkan sensitivitas saraf kandung kemih. Histamin juga meningkatkan kontraksi otot detrusor sehingga muncul gejala urgency dan frekuensi berkemih yang meningkat.
Tabel 2. Penyakit Alergi yang Berhubungan dengan OAB
| Penyakit alergi | Hubungan dengan OAB |
|---|---|
| Rhinitis alergika | Faktor risiko |
| Batuk alergi | Faktor risiko |
| Dermatitis atopik | Faktor risiko |
| Asma | Diduga meningkatkan risiko |
| Alergi makanan | Diduga berperan melalui inflamasi sistemik |
Penelitian retrospektif dilakukan terhadap 918 anak yang didiagnosis OAB selama periode Januari 2020 hingga Maret 2021. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor risiko, mengevaluasi hasil pemeriksaan urodinamik, serta menilai efektivitas terapi antihistamin desloratadin.
Pasien dengan OAB ringan lebih sering memiliki riwayat batuk alergi atau rhinitis alergika dibandingkan kelompok OAB sedang hingga berat. Pemeriksaan urodinamik menunjukkan bahwa kandung kemih hipersensitif lebih banyak ditemukan pada kelompok dengan overaktivitas otot detrusor.
Tabel 3. Ringkasan Penelitian Yin dkk. (2022)
| Parameter | Hasil |
|---|---|
| Jumlah pasien | 918 anak |
| Desain penelitian | Retrospektif |
| Faktor alergi tersering | Batuk alergi dan rhinitis alergika |
| Pemeriksaan urodinamik | Kandung kemih sensitif lebih sering pada detrusor overaktif |
| Efektivitas desloratadin | 90,14% |
| Faktor risiko kegagalan terapi | Kadar IgE tinggi |
Hubungan Rinitis Alergi, Overactive Bladder, dan Mengompol Saat Tidur Malam
Rinitis alergi merupakan penyakit alergi yang paling sering ditemukan pada anak dengan Overactive Bladder (OAB). Penelitian Yin L dkk. yang dipublikasikan dalam Frontiers in Pediatrics menunjukkan bahwa rinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi yang paling kuat berhubungan dengan OAB pada anak. Anak dengan rinitis alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami urgensi berkemih, frekuensi buang air kecil yang meningkat, serta mengompol pada siang maupun malam hari dibandingkan anak tanpa rinitis alergi.
Hubungan tersebut diperkirakan terjadi melalui beberapa mekanisme. Paparan alergen menyebabkan aktivasi sel mast pada mukosa hidung yang diikuti pelepasan histamin, leukotrien, prostaglandin, serta berbagai sitokin proinflamasi seperti interleukin-4, interleukin-5, dan interleukin-13. Mediator inflamasi tersebut tidak hanya bekerja pada saluran napas, tetapi juga dapat memengaruhi kandung kemih melalui aktivasi saraf sensorik dan peningkatan kontraktilitas otot detrusor. Akibatnya, kandung kemih menjadi lebih sensitif sehingga anak lebih sering merasakan keinginan berkemih walaupun volume urin masih sedikit.
Selain efek inflamasi sistemik, rinitis alergi juga menyebabkan hidung tersumbat kronis yang mengganggu kualitas tidur. Tidur menjadi lebih dangkal, sering terbangun, atau disertai mendengkur dan obstructive sleep apnea pada sebagian anak. Gangguan tidur tersebut dapat menurunkan ambang rangsang untuk bangun ketika kandung kemih penuh sehingga meningkatkan risiko nokturnal enuresis atau mengompol saat tidur malam. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengobatan rinitis alergi dapat memperbaiki kualitas tidur dan pada sebagian anak diikuti dengan berkurangnya frekuensi mengompol.
Dalam praktik klinis, kemungkinan keterkaitan rinitis alergi perlu dipertimbangkan apabila anak dengan OAB atau nokturnal enuresis juga mengalami gejala seperti bersin berulang terutama pada pagi hari, hidung gatal, hidung tersumbat kronis, pilek bening yang berulang, mata gatal atau berair, kebiasaan menggosok hidung (allergic salute), lipatan hidung melintang (allergic crease), lingkaran hitam di bawah mata (allergic shiners), batuk malam hari, atau mendengkur saat tidur. Kehadiran gejala-gejala tersebut meningkatkan kemungkinan bahwa inflamasi alergi berperan terhadap gangguan berkemih.
Tabel. Hubungan Penyakit Alergi dengan Overactive Bladder dan Nokturnal Enuresis
| Penyakit alergi | Mekanisme yang diduga | Manifestasi saluran kemih |
|---|---|---|
| Rinitis alergi | Histamin, sitokin, gangguan tidur, hipoksia intermiten | Urgency, frekuensi berkemih meningkat, OAB, nokturnal enuresis |
| Asma | Inflamasi sistemik dan gangguan tidur | OAB, mengompol malam |
| Dermatitis atopik | Aktivasi sel mast | OAB |
| Alergi makanan | Inflamasi sistemik | Urgency, OAB |
| Alergi non-IgE saluran cerna | Aktivasi limfosit T dan sitokin | OAB disertai gangguan saluran cerna |
| Konstipasi kronis | Penekanan mekanis kandung kemih | OAB, mengompol siang dan malam |
Pada setiap anak dengan Overactive Bladder atau mengompol saat tidur malam, dokter sebaiknya tidak hanya mengevaluasi saluran kemih. Riwayat rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, alergi makanan, alergi non-IgE saluran cerna, konstipasi kronis, refluks gastroesofageal, serta kualitas tidur perlu dinilai secara sistematis. Pendekatan multidisiplin yang mengendalikan penyakit alergi, mengatasi konstipasi, memperbaiki kualitas tidur, dan menangani gangguan kandung kemih sesuai pedoman memberikan peluang lebih besar untuk memperbaiki gejala dibandingkan terapi yang hanya berfokus pada kandung kemih.
Peran Desloratadin
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah tingginya keberhasilan terapi menggunakan desloratadin pada pasien OAB yang disertai penyakit alergi. Sekitar 90,14% pasien menunjukkan perbaikan gejala setelah mendapatkan desloratadin. Sebaliknya, pasien dengan kadar IgE yang tinggi memiliki kemungkinan lebih besar mengalami respons terapi yang kurang optimal.
Hasil ini menunjukkan bahwa histamin kemungkinan berperan penting dalam patogenesis OAB pada sebagian anak. Namun demikian, antihistamin belum menjadi terapi rutin untuk semua pasien OAB. Penggunaannya terutama dipertimbangkan pada pasien yang memiliki bukti klinis penyakit alergi.
Tabel 4. Peran Desloratadin pada OAB
| Parameter | Hasil |
|---|---|
| Mekanisme | Antagonis reseptor H1 |
| Efektivitas | 90,14% |
| Manfaat | Menurunkan urgency dan frekuensi berkemih |
| Pasien yang paling diuntungkan | OAB dengan penyakit alergi |
| Faktor yang menurunkan respons | IgE tinggi |
Implikasi Klinis
- Temuan penelitian ini memberikan perspektif baru bahwa evaluasi penyakit alergi sebaiknya menjadi bagian dari pemeriksaan rutin pada anak dengan OAB. Riwayat rhinitis alergika, batuk alergi, dermatitis atopik, asma, maupun alergi makanan perlu digali secara sistematis. Pada pasien dengan gejala alergi yang jelas, pengendalian alergen dan terapi penyakit alergi dapat menjadi bagian dari tata laksana komprehensif OAB.
- Namun demikian, hubungan antara alergi dan OAB belum membuktikan bahwa alergi merupakan penyebab tunggal OAB. OAB tetap merupakan penyakit multifaktorial sehingga penyebab lain, seperti konstipasi, gangguan neurologis, infeksi saluran kemih, maupun kelainan anatomis, harus tetap dievaluasi.
Kesimpulan
Overactive bladder merupakan salah satu gangguan saluran kemih bawah yang sering ditemukan pada anak. Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa penyakit alergi memiliki hubungan yang bermakna dengan OAB melalui mekanisme inflamasi tipe 2, aktivasi sel mast, dan pelepasan histamin yang meningkatkan sensitivitas kandung kemih. Penelitian Yin dkk. pada 918 anak menunjukkan bahwa batuk alergi dan rhinitis alergika berhubungan dengan OAB serta bahwa pemberian desloratadin memberikan perbaikan gejala pada sekitar 90% pasien dengan penyakit alergi. Temuan ini mendukung perlunya evaluasi penyakit alergi pada setiap anak dengan OAB, meskipun diagnosis dan tata laksana tetap harus dilakukan secara komprehensif berdasarkan pedoman urologi anak dan alergi terkini.
Daftar Pustaka
- Yin L, Zhang Z, Zheng Y, Hou L, Zhao CG, Wang XL, Jiang KL, Du Y. Clinical Correlation Between Overactive Bladder and Allergy in Children. Front Pediatr. 2022;9:813161. doi:10.3389/fped.2021.813161.
- Austin PF, Bauer SB, Bower W, et al. The Standardization of Terminology of Lower Urinary Tract Function in Children and Adolescents. Neurourol Urodyn. 2016.
- Franco I. Overactive Bladder in Children. Part 1. Pathophysiology. J Urol. 2007.
- European Association of Urology. EAU Guidelines on Paediatric Urology. 2025.
- International Children’s Continence Society (ICCS). Standardization Documents on Pediatric Lower Urinary Tract Dysfunction. 2023.
- Chang SJ, Van Laecke E, Bauer SB, et al. Treatment of Bladder Dysfunction in Children. J Pediatr Urol. 2017.
- Basha S, Surisetti BK, Bansal D. Allergic rhinitis and its association with sleep disorders and nocturnal enuresis in children. Curr Allergy Asthma Rep. 2021.








Leave a Reply