ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Hubungan Rinitis Alergi dan Alergi Makanan pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Bukti Klinis

 

Hubungan Rinitis Alergi dan Alergi Makanan pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Bukti Klinis

Abstrak

Rinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi kronis yang paling sering dijumpai pada anak dan menjadi penyebab utama sumbatan hidung, gangguan tidur, penurunan kualitas hidup, serta infeksi saluran napas berulang. Selain dipicu oleh alergen inhalan, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan pada awal kehidupan berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya rinitis alergi di kemudian hari. Hubungan tersebut dijelaskan melalui konsep allergic march, yaitu perkembangan bertahap penyakit alergi dari alergi makanan dan dermatitis atopik menuju asma serta rinitis alergi. Sensitisasi makanan diduga memicu inflamasi sistemik yang meningkatkan kerentanan mukosa saluran napas terhadap reaksi alergi. Artikel ini mengulas hubungan antara alergi makanan dan rinitis alergi berdasarkan bukti epidemiologi, mekanisme imunologi, dan implikasi klinis. Meskipun hubungan kausal secara langsung belum sepenuhnya terbukti, berbagai penelitian kohort menunjukkan bahwa alergi makanan pada masa bayi merupakan faktor risiko penting berkembangnya rinitis alergi pada masa kanak-kanak. Oleh karena itu, evaluasi alergi makanan dapat dipertimbangkan pada anak dengan rinitis alergi yang disertai riwayat penyakit atopi atau gejala saluran cerna yang mengarah ke alergi makanan.

Kata kunci: rinitis alergi, alergi makanan, allergic march, IgE, anak.

Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis mukosa hidung yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) setelah pajanan terhadap alergen. Penyakit ini memengaruhi sekitar 20 hingga 30 persen populasi dunia dan paling sering muncul pada anak usia sekolah serta remaja. Manifestasi klinis berupa bersin berulang, rinore, hidung tersumbat, dan hidung gatal dapat mengganggu tidur, prestasi belajar, fungsi kognitif, serta kualitas hidup. Rinitis alergi juga sering berkaitan dengan penyakit atopi lain seperti dermatitis atopik dan asma.

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap hubungan antara alergi makanan dan rinitis alergi semakin meningkat. Berbeda dengan hubungan rinitis alergi dan asma yang telah banyak diteliti, hubungan alergi makanan dengan rinitis alergi masih relatif terbatas. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan pada awal kehidupan meningkatkan risiko berkembangnya penyakit alergi saluran napas pada usia berikutnya. Hubungan tersebut diduga melibatkan interaksi faktor genetik, gangguan sawar epitel, aktivasi sistem imun tipe 2, serta konsep allergic march.

Patogenesis Alergi Makanan

Alergi makanan merupakan respons imun abnormal terhadap protein makanan yang dapat dimediasi oleh IgE, non-IgE, maupun kombinasi keduanya. Pada individu yang memiliki predisposisi genetik, gangguan integritas sawar usus memungkinkan alergen makanan menembus mukosa sehingga dikenali oleh sel penyaji antigen. Aktivasi limfosit T helper tipe 2 akan merangsang produksi sitokin seperti IL-4, IL-5, dan IL-13 yang menginduksi pembentukan IgE spesifik. Paparan ulang terhadap makanan tersebut menyebabkan aktivasi sel mast dan basofil dengan pelepasan histamin serta mediator inflamasi lain yang menimbulkan gejala alergi.

Selain reaksi akut, inflamasi kronis akibat alergi makanan juga dapat memengaruhi organ di luar saluran cerna melalui aktivasi sistem imun sistemik. Sensitisasi makanan pada masa bayi diduga meningkatkan kecenderungan berkembangnya penyakit alergi saluran napas pada usia berikutnya, terutama pada anak dengan predisposisi atopi.

Hubungan Alergi Makanan, Alergi Saluran Cerna, Rinitis Alergi, dan Infeksi Saluran Napas Berulang

Hubungan antara alergi makanan dan rinitis alergi dijelaskan melalui konsep allergic march, yaitu perjalanan penyakit atopi yang berkembang secara bertahap sejak usia dini. Manifestasi awal biasanya berupa alergi makanan dan dermatitis atopik, kemudian diikuti oleh asma dan rinitis alergi pada usia yang lebih besar. Beberapa penelitian kohort menunjukkan bahwa bayi dengan alergi makanan memiliki risiko lebih tinggi mengalami rinitis alergi dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Hubungan ini diduga dipengaruhi oleh predisposisi genetik, gangguan fungsi sawar epitel, serta aktivasi respons imun tipe 2 yang berlangsung kronis.

Alergi makanan, terutama yang mengenai saluran cerna, menyebabkan inflamasi mukosa usus yang dapat mengganggu integritas sawar epitel. Peningkatan permeabilitas usus mempermudah masuknya alergen dan antigen lain ke dalam sirkulasi sehingga memicu aktivasi limfosit T helper tipe 2, eosinofil, dan produksi sitokin seperti interleukin-4, interleukin-5, dan interleukin-13. Respons imun ini meningkatkan kadar IgE serta mempertahankan inflamasi sistemik yang dapat memengaruhi mukosa saluran napas. Kondisi tersebut menyebabkan mukosa hidung menjadi lebih sensitif terhadap alergen inhalan sehingga mempermudah terjadinya rinitis alergi dan inflamasi saluran napas atas.

Selain memicu penyakit alergi, inflamasi kronis pada mukosa saluran cerna dan saluran napas dapat mengganggu fungsi pertahanan imun bawaan di permukaan mukosa. Secara klinis, anak dengan penyakit alergi sering mengalami infeksi saluran napas atas berulang, seperti common cold, rinofaringitis, dan influenza, bukan karena mengalami defisiensi sistem imun primer, tetapi karena fungsi sawar mukosa, pembersihan mukosiliar, dan respons imun lokal menjadi kurang efektif akibat inflamasi alergi yang berlangsung terus-menerus. Inflamasi mukosa juga meningkatkan kolonisasi virus dan bakteri serta memperpanjang proses penyembuhan sehingga episode infeksi tampak lebih sering atau berlangsung lebih lama.

Rinitis alergi yang tidak terkendali selanjutnya menyebabkan sumbatan hidung kronis, edema mukosa, hipersekresi mukus, serta gangguan ventilasi sinus dan tuba Eustachius. Keadaan ini meningkatkan risiko rinitis berulang, rinosinusitis, otitis media, dan hipertrofi adenoid. Oleh karena itu, pada anak dengan rinitis berulang yang disertai gangguan saluran cerna, dermatitis atopik, pertumbuhan kurang optimal, atau riwayat reaksi terhadap makanan tertentu, kemungkinan adanya alergi makanan perlu dipertimbangkan. Diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada riwayat klinis yang sesuai dan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis, sehingga dapat menghindari overdiagnosis maupun pembatasan makanan yang tidak diperlukan. Penting untuk ditekankan bahwa sebagian besar anak dengan alergi tidak mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh secara umum. Kerentanan terhadap infeksi berulang lebih banyak disebabkan oleh gangguan fungsi pertahanan mukosa akibat inflamasi alergi kronis daripada oleh defisiensi imun sistemik.

Bukti Klinis

Beberapa penelitian kohort mendukung hubungan antara alergi makanan dan rinitis alergi. Studi kohort prospektif di Swedia melaporkan bahwa sekitar 40 persen anak dengan alergi makanan pada masa bayi mengalami rinitis alergi pada usia delapan tahun. Pada penelitian tersebut, alergi makanan umumnya muncul sebelum usia satu tahun, sedangkan rinitis alergi baru berkembang beberapa tahun kemudian. Temuan ini mendukung konsep bahwa alergi makanan merupakan salah satu faktor risiko penting dalam perjalanan penyakit atopi.

Hill dan kolega melaporkan bahwa sekitar 35 persen anak dengan alergi makanan berkembang menjadi rinitis alergi selama masa tindak lanjut. Risiko tersebut lebih tinggi pada anak dengan alergi terhadap susu sapi, telur, dan kacang tanah dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Selain itu, anak dengan lebih dari satu alergi makanan memiliki risiko lebih besar mengalami rinitis alergi dibandingkan mereka yang hanya memiliki satu jenis alergi makanan.

Penelitian pada anak sekolah di Prancis juga menunjukkan bahwa sensitisasi makanan dan riwayat alergi makanan berhubungan secara bermakna dengan kejadian rinitis alergi. Hubungan tersebut tetap ditemukan meskipun gejala alergi makanan tidak selalu melibatkan saluran napas, sehingga menunjukkan adanya mekanisme inflamasi sistemik yang menghubungkan kedua kondisi tersebut.

Implikasi Klinis

Sebagian besar penderita rinitis alergi tidak memerlukan evaluasi rutin terhadap alergi makanan. Namun, pada anak dengan rinitis alergi yang disertai dermatitis atopik, asma, gangguan pertumbuhan, gejala saluran cerna kronis, atau riwayat reaksi setelah mengonsumsi makanan tertentu, kemungkinan adanya alergi makanan perlu dipertimbangkan. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis yang konsisten dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan yang sesuai. Hasil skin prick test atau kadar IgE spesifik hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak cukup untuk menegakkan diagnosis alergi makanan.

Apabila terdapat dugaan kuat alergi makanan, eliminasi makanan dilakukan secara terarah dan selanjutnya dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge (OFC) yang merupakan baku emas diagnosis alergi makanan. Pendekatan ini membantu menghindari overdiagnosis, pembatasan makanan yang tidak diperlukan, serta risiko gangguan nutrisi pada anak.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan rinitis alergi meliputi edukasi, pengendalian pajanan alergen, irigasi saline, antihistamin generasi kedua, dan kortikosteroid intranasal sebagai terapi utama. Pada pasien dengan penyakit yang tidak terkontrol, imunoterapi alergen dapat dipertimbangkan sesuai indikasi. Bila alergi makanan telah dikonfirmasi melalui OFC, eliminasi hanya dilakukan terhadap makanan yang terbukti menyebabkan reaksi klinis. Pendekatan yang komprehensif terhadap penyakit alergi yang menyertai diharapkan dapat mengurangi inflamasi kronis, memperbaiki kualitas hidup, dan menurunkan risiko komplikasi saluran napas.

Kesimpulan

Rinitis alergi dan alergi makanan merupakan dua manifestasi penyakit atopi yang saling berhubungan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa alergi makanan pada awal kehidupan meningkatkan risiko berkembangnya rinitis alergi pada masa kanak-kanak melalui mekanisme allergic march dan inflamasi imun tipe 2. Meskipun hubungan sebab akibat secara langsung masih memerlukan penelitian lebih lanjut, riwayat alergi makanan merupakan faktor risiko penting yang perlu dipertimbangkan pada anak dengan rinitis alergi. Evaluasi yang tepat, konfirmasi diagnosis menggunakan Oral Food Challenge bila diindikasikan, serta penatalaksanaan alergi secara menyeluruh diharapkan dapat memberikan luaran klinis yang lebih baik.

Daftar Pustaka

  1. Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to Future Research. Sultan Qaboos University Medical Journal. 2018;18(1).
  2. Cianferoni A, Spergel JM. Food Allergy: Review, Classification and Diagnosis. Allergology International. 2009;58:457-466.
  3. Hill DA, Spergel JM. The Atopic March: Critical Evidence and Clinical Relevance. Annals of Allergy, Asthma and Immunology. 2018;120:131-137.
  4. Bousquet J, Khaltaev N, Cruz AA, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA). Allergy. 2008;63(Suppl 86):8-160.
  5. Brożek JL, Bousquet J, Agache I, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) Guideline 2020 Revision. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2020;145:70-80.
Visited 2 times, 2 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *