ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Makanan, Alergi, dan Artritis Reumatoid. Apa Kata Bukti Ilmiah Internasional?

Makanan, Alergi, dan Artritis Reumatoid. Apa Kata Bukti Ilmiah Internasional?

Pada awal dekade 1990-an, ketika penelitian mengenai penyakit autoimun berkembang pesat, perhatian para ilmuwan mulai tertuju pada kemungkinan bahwa faktor lingkungan, termasuk makanan, ikut memengaruhi perjalanan artritis reumatoid (rheumatoid arthritis, RA). Salah satu tinjauan ilmiah yang banyak dikutip diterbitkan dalam Seminars in Arthritis and Rheumatism tahun 1991 oleh M.A. van de Laar dan J.K. van der Korst. Artikel ini mengulas secara kritis seluruh bukti ilmiah yang tersedia saat itu mengenai hubungan antara makanan, alergi, dan artritis reumatoid. Alih-alih menyimpulkan bahwa makanan merupakan penyebab RA, para penulis menunjukkan bahwa hubungan tersebut jauh lebih kompleks dan hanya mungkin terjadi pada sebagian kecil pasien.

Landasan biologis yang menjadi perhatian para peneliti berasal dari peran molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas II, terutama Human Leukocyte Antigen (HLA) kelas II, yang telah lama diketahui berhubungan dengan kerentanan genetik terhadap RA. Molekul ini berfungsi menyajikan antigen kepada sel T helper, yaitu salah satu langkah utama dalam aktivasi sistem imun. Karena antigen yang dipresentasikan tidak hanya berasal dari mikroorganisme, tetapi juga dapat berasal dari lingkungan, termasuk protein makanan, muncul hipotesis bahwa pada individu dengan predisposisi genetik tertentu, makanan tertentu mungkin berperan sebagai pemicu respons imun yang akhirnya memperburuk peradangan sendi.

Dalam telaah tersebut, van de Laar dan van der Korst menganalisis berbagai penelitian mengenai diet eliminasi, alergi makanan, sensitivitas terhadap protein makanan, serta perubahan aktivitas penyakit setelah modifikasi pola makan. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian pasien memang melaporkan perbaikan gejala setelah menghindari makanan tertentu. Namun, sebagian besar penelitian yang tersedia memiliki keterbatasan metodologis, seperti jumlah sampel yang kecil, tidak adanya kelompok kontrol, tidak dilakukan secara tersamar ganda, dan tidak menggunakan uji tantangan makanan sebagai konfirmasi. Dengan demikian, bukti yang tersedia saat itu belum mampu membedakan apakah perbaikan tersebut benar-benar disebabkan oleh eliminasi makanan atau dipengaruhi faktor lain, termasuk efek plasebo maupun variasi alami perjalanan penyakit.

Para penulis juga menyoroti bahwa berbagai penelitian imunologi belum berhasil menemukan penanda laboratorium yang konsisten untuk mengidentifikasi pasien RA yang benar-benar memiliki sensitivitas terhadap makanan. Pemeriksaan antibodi terhadap makanan menunjukkan hasil yang sangat bervariasi dan tidak dapat digunakan sebagai alat diagnosis yang andal. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan antibodi terhadap makanan tidak selalu berarti seseorang mengalami alergi makanan yang bermakna secara klinis ataupun bahwa antibodi tersebut berperan dalam proses peradangan sendi.

Meskipun demikian, tinjauan ini tidak sepenuhnya menolak kemungkinan adanya hubungan antara makanan dan artritis reumatoid. Berdasarkan bukti yang tersedia, penulis berpendapat bahwa beberapa makanan atau komponen makanan mungkin memengaruhi subkelompok kecil pasien dengan karakteristik imunologis tertentu. Dengan kata lain, makanan kemungkinan bukan penyebab utama RA, tetapi dapat bertindak sebagai faktor pencetus atau faktor yang memperberat penyakit pada individu yang memiliki kerentanan genetik dan imunologis.

Kesimpulan tersebut kemudian menjadi dasar bagi penelitian-penelitian berikutnya yang menggunakan metode lebih ketat, terutama double-blind placebo-controlled food challenge sebagai standar emas untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala klinis. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pasien penyakit rematik yang benar-benar mengalami kekambuhan gejala setelah paparan makanan tertentu yang telah dikonfirmasi melalui uji tantangan terkontrol. Sebaliknya, sebagian besar pasien yang meyakini dirinya mengalami “artritis akibat makanan” tidak menunjukkan kekambuhan ketika diuji secara tersamar.

Lebih dari tiga dekade setelah tinjauan ini diterbitkan, pandangan tersebut masih konsisten dengan pedoman internasional modern. Organisasi alergi dan reumatologi tidak menganggap alergi makanan sebagai penyebab utama artritis reumatoid. Diet eliminasi tidak dianjurkan sebagai terapi rutin bagi semua pasien RA karena manfaatnya belum terbukti secara konsisten dan pembatasan makanan yang tidak perlu dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi. Sebaliknya, evaluasi hubungan antara makanan dan gejala sendi perlu dilakukan secara individual, berdasarkan riwayat klinis yang kuat, pemeriksaan yang sesuai, dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan oral food challenge di bawah pengawasan tenaga kesehatan.

Tinjauan van de Laar dan van der Korst menjadi salah satu laporan ilmiah penting yang mengubah cara pandang terhadap hubungan makanan dan artritis reumatoid. Artikel ini menegaskan bahwa hipotesis biologis yang masuk akal belum tentu menjadi bukti klinis yang kuat. Dalam kedokteran berbasis bukti, dugaan bahwa makanan memengaruhi penyakit harus dibuktikan melalui penelitian yang dirancang dengan baik, bukan hanya berdasarkan pengalaman individu atau laporan kasus. Pendekatan ini tetap menjadi prinsip utama dalam penelitian alergi makanan dan penyakit autoimun hingga saat ini.

Referensi

  • van de Laar MA, van der Korst JK. Rheumatoid arthritis, food, and allergy. Semin Arthritis Rheum. 1991 Aug;21(1):12-23. doi: 10.1016/0049-0172(91)90052-2. PMID: 1948097.
Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *