ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Prevalensi dan Faktor Risiko Overdiagnosis Alergi Susu Sapi pada Kohort Uji Klinis BEEP

 

Prevalensi dan Faktor Risiko Overdiagnosis Alergi Susu Sapi pada Kohort Uji Klinis BEEP

Abstrak

  • Latar belakang: Overdiagnosis alergi susu sapi (CMA) pada bayi tampak meningkat tetapi belum terkarakterisasi sepenuhnya. Tujuan studi ini adalah menggambarkan prevalensi dan karakteristik overdiagnosis CMA serta mengidentifikasi faktor risiko pada tingkat individu dan praktik layanan primer menggunakan data kohort uji klinis BEEP.
    Metode: Analisis sekunder kohort BEEP mencakup 1.394 anak yang lahir di Inggris pada 2014–2016. Semua peserta menjalani evaluasi formal untuk diagnosis CMA pada usia ≤2 tahun. Overdiagnosis didefinisikan dengan tiga indikator terpisah: (1) reaksi terhadap susu yang dilaporkan orangtua; (2) catatan layanan primer mengenai hipersensitivitas susu; dan (3) resep formula rendah‑alergi (low‑allergy) tercatat di layanan primer. Analisis deskriptif menggambarkan frekuensi, onset gejala, durasi resep, dan estimasi volume konsumsi; regresi logistik multivariat digunakan untuk mengevaluasi faktor risiko individu dan tingkat praktik.
  • Hasil: Dari 1.394 peserta, 19 (1,4%) memiliki diagnosis CMA terkonfirmasi pada usia ≤2 tahun. Overdiagnosis umum: 16,1% anak memiliki laporan orangtua mengenai hipersensitivitas susu, 11,3% tercatat di layanan primer, dan 8,7% menerima resep formula low‑allergy. Pada anak tanpa CMA terkonfirmasi, gejala yang dikaitkan dengan hipersensitivitas susu umumnya bersifat gastrointestinal dan mulai pada median usia 49 hari. Resep formula low‑allergy pada anak tanpa CMA berlangsung median 10 bulan (IQR 1–16) dengan estimasi konsumsi median ~272 liter (IQR 26–448). Faktor risiko yang signifikan meliputi tingginya tingkat resep formula low‑allergy pada praktik layanan primer pada tahun sebelumnya dan laporan ibu menerima resep antibiotik selama kehamilan. Pemberian susu formula eksklusif sejak lahir terkait dengan peningkatan kemungkinan menerima resep formula low‑allergy. Tidak terdapat bukti hubungan antara overdiagnosis dan tingkat resep auto‑injector adrenalin pediatrik atau obat antirefluks, maupun karakteristik ibu seperti kecemasan, usia, paritas, dan status sosioekonomi.
  • Kesimpulan: Overdiagnosis CMA pada masa bayi dini adalah umum dalam kohort ini. Fokus intervensi sebaiknya mencakup praktik resep di layanan primer dan penyuluhan klinis untuk mengurangi diagnosis dan pemberian formula yang tidak perlu.

Kata kunci: alergi susu sapi, overdiagnosis, low‑allergy formula, praktik layanan primer, bayi

 

Alergi susu sapi (CMA) diperkirakan memengaruhi sekitar 1% anak di bawah dua tahun. Namun, observasi di berbagai negara menunjukkan tingkat resep formula khusus (hypoallergenic/low‑allergy) jauh melebihi prevalensi yang diharapkan, menunjukkan kemungkinan overdiagnosis. Overdiagnosis memiliki potensi dampak luas termasuk paparan pada infant terhadap formula yang mengandung pengganti laktosa (mis. glukosa syrup, maltodekstrin) yang berisiko terhadap kesehatan gigi dan obesitas, pemborosan sumber daya kesehatan, tekanan psikologis pada orangtua, dan pengurangan durasi menyusui. Studi ini menggunakan data kohort uji klinis Barrier Enhancement for Eczema Prevention (BEEP) untuk menilai prevalensi overdiagnosis CMA, karakteristik klinisnya, dan faktor risiko baik pada tingkat individu maupun praktik layanan primer.

Metode Desain dan populasi Analisis sekunder pada data kohort uji klinis BEEP (ISRCTN21528841). Sampel meliputi 1.394 anak lahir di Inggris pada periode 2014–2016 yang menjalani evaluasi prospektif hingga usia dua tahun.

Definisi dan pengukuran Diagnosis CMA terkonfirmasi: diagnosis formal yang tercatat/ditetapkan pada usia ≤2 tahun menurut protokol studi. Overdiagnosis didefinisikan menurut tiga indikator terpisah: (1) laporan orangtua mengenai reaksi terhadap susu sapi; (2) catatan layanan primer yang menyatakan hipersensitivitas susu; (3) resep formula low‑allergy tercatat di layanan primer.

Pengumpulan data Data berasal dari kombinas i laporan orangtua prospektif, catatan medis primer, dan data resep. Variabel tambahan yang dianalisis termasuk usia onset gejala, tipe gejala (mis. gastrointestinal), durasi resep formula, estimasi volume konsumsi formula, karakteristik maternal (usia, paritas, kecemasan, penggunaan antibiotik selama kehamilan), dan indikator praktik layanan primer (tingkat resep low‑allergy pada tahun sebelumnya, tingkat resep auto‑injector adrenalin, resep antirefluks).

Analisis statistik Analisis deskriptif untuk prevalensi dan karakteristik klinis. Regresi logistik multivariat digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko yang berkaitan dengan tiap definisi overdiagnosis, menyesuaikan potensi perancu. Hasil disajikan sebagai odds ratio (OR) dengan interval kepercayaan 95%. (Catatan: angka numerik dan statistik inferensial diambil dari temuan yang dilaporkan dalam publikasi asal.)

Hasil Populasi studi Total 1.394 anak dianalisis. Diagnosis CMA terkonfirmasi ditemukan pada 19 anak (1,4%).

Prevalensi overdiagnosis

  • Laporan orangtua mengenai hipersensitivitas susu: 16,1%
  • Catatan layanan primer hipersensitivitas susu: 11,3%
  • Resep formula low‑allergy tercatat: 8,7%

Karakteristik gejala dan penggunaan formula Pada anak tanpa CMA terkonfirmasi, gejala yang dikaitkan dengan susu umumnya gastrointestinal (mis. muntah, regurgitasi, perubahan tinja) dan muncul pada median usia 49 hari. Resep formula low‑allergy pada kelompok non‑CMA berlangsung median 10 bulan (IQR 1–16) dan estimasi konsumsi median ~272 liter (IQR 26–448), menunjukkan paparan jangka panjang dan volume yang substansial.

Faktor risiko Faktor risiko yang diidentifikasi meliputi:

  • Tingginya tingkat resep formula low‑allergy di praktik layanan primer pada tahun sebelum kelahiran (faktor tingkat praktik).
  • Laporan maternal pemberian antibiotik selama kehamilan.
    Pemberian susu formula eksklusif sejak lahir terkait peningkatan kemungkinan mendapatkan resep formula low‑allergy. Tidak ada bukti hubungan antara overdiagnosis dan: praktik resep auto‑injector adrenalin, resep obat antirefluks, serta karakteristik maternal seperti kecemasan, usia, paritas, atau status sosioekonomi.

Pembahasan Temuan utama Analisis kohort BEEP menunjukkan bahwa overdiagnosis CMA pada masa bayi dini relatif sering terjadi: banyak orangtua melaporkan reaksi terhadap susu tanpa konfirmasi formal, dan sebagian dari anak‑anak ini menerima resep formula low‑allergy jangka panjang dengan estimasi konsumsi besar. Faktor paling kuat terkait overdiagnosis adalah perilaku resep pada level praktik layanan primer, menandakan peran budaya klinis dan kebijakan resep lokal. Hubungan antara pemberian antibiotik selama kehamilan dan overdiagnosis mungkin mencerminkan kompleksitas interaksi mikrobiota, gejala gastrointestinal bayi, atau perilaku konsultasi medis yang berbeda, namun mekanisme kausal tidak dapat ditentukan dari analisis ini.

Implikasi klinis dan kesehatan masyarakat Overdiagnosis berpotensi menyebabkan paparan bayi non‑alergi terhadap formula yang mengandung substitusi karbohidrat (free sugars) dalam jumlah besar, dengan implikasi kesehatan jangka panjang seperti risiko obesitas dan masalah dental. Selain itu, penggunaan resep yang tidak perlu menimbulkan beban ekonomi dan kemungkinan dampak negatif pada praktek menyusui. Intervensi yang menargetkan praktik resep layanan primer (mis. panduan klinis, audit dan feedback, pendidikan klinisi) serta peningkatan akses ke penilaian alergi yang terstandarisasi (termasuk uji eliminasi dan tantang) dapat membantu mengurangi overdiagnosis.

Keterbatasan Analisis ini bergantung pada definisi overdiagnosis yang tidak tunggal dan menggunakan indikator surrogat (laporan orangtua, catatan layanan primer, resep) yang mungkin mengandung bias pelaporan dan pengkodean. Data juga berasal dari kohort uji klinis yang mungkin tidak sepenuhnya mewakili populasi umum. Analisis kausal terbatas karena desain observasional pada data sekundernya.

Kesimpulan Overdiagnosis alergi susu sapi di masa bayi awal umum dalam kohort BEEP, dengan faktor risiko yang mencakup pola resep di tingkat praktik layanan primer dan riwayat penggunaan antibiotik selama kehamilan. Upaya untuk memperbaiki praktik diagnosis dan resep di layanan primer serta edukasi orangtua dan klinisi diperlukan untuk mengurangi pemberian formula low‑allergy yang tidak perlu dan dampak terkait.

Referensi

  1. Allen HI, Wing O, Milkova D, et al. Prevalence and risk factors for milk allergy overdiagnosis in the BEEP trial cohort. Allergy. 2024 Jun 20;80(1):148–160. doi:10.1111/all.16203. PMCID: PMC11724250.
  2. World Health Organization. Guideline: Sugars intake for adults and children. 2015. (disarankan untuk rujukan terkait rekomendasi pembatasan free sugars).
  3. Referensi tambahan tentang implikasi formula berbasis glucose syrup dan obesitas anak (mis. studi observasional AS) dapat ditambahkan sesuai kebutuhan pembaca.
Visited 2 times, 2 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *