Rhinitis Alergika: Tinjauan Ilmiah Terkini Mengenai Patofisiologi, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Berbasis Bukti
Rhinitis alergika merupakan penyakit inflamasi kronis pada mukosa hidung yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) setelah pajanan terhadap alergen pada individu yang telah tersensitisasi. Penyakit ini ditandai oleh bersin berulang, rinore, hidung tersumbat, dan gatal pada hidung yang sering disertai konjungtivitis alergika. Rhinitis alergika merupakan salah satu penyakit alergi paling sering dijumpai pada anak maupun dewasa dengan prevalensi global sekitar 10 hingga 40% populasi. Dampaknya tidak hanya terbatas pada gejala hidung, tetapi juga memengaruhi kualitas tidur, prestasi belajar, produktivitas kerja, fungsi kognitif, hingga meningkatkan risiko sinusitis, otitis media, dan asma.
Patogenesis melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, lingkungan, epitel saluran napas, mikrobiota, serta respons imun tipe 2 yang didominasi oleh sel Th2, IL-4, IL-5, IL-13, eosinofil, dan IgE. Diagnosis terutama ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, kemudian dikonfirmasi dengan skin prick test atau pemeriksaan IgE spesifik bila diperlukan. Penatalaksanaan meliputi edukasi pasien, pengendalian pajanan alergen, terapi farmakologis, dan imunoterapi alergen pada kasus yang sesuai. Kortikosteroid intranasal tetap menjadi terapi paling efektif untuk gejala sedang hingga berat. Artikel ini mengulas perkembangan terbaru mengenai epidemiologi, imunopatogenesis, diagnosis, serta tata laksana rhinitis alergika berdasarkan pedoman ARIA, EAACI, AAAAI, WAO, dan bukti ilmiah terkini.
Rhinitis alergika merupakan salah satu penyakit alergi kronis yang paling sering ditemukan di seluruh dunia. Penyakit ini terjadi akibat reaksi hipersensitivitas tipe I yang dimediasi IgE terhadap alergen inhalan seperti tungau debu rumah, serbuk sari, bulu hewan, jamur, dan kecoak. Gejala khas berupa bersin berulang, rinore encer, hidung gatal, serta sumbatan hidung yang muncul setelah pajanan alergen.
Walaupun sering dianggap penyakit ringan, rhinitis alergika memberikan dampak yang luas terhadap kesehatan. Gangguan tidur, kelelahan pada siang hari, penurunan konsentrasi, gangguan belajar pada anak, penurunan produktivitas kerja, hingga gangguan kualitas hidup merupakan konsekuensi yang sering terjadi. Rhinitis alergika juga memiliki hubungan erat dengan asma bronkial sehingga dikenal sebagai bagian dari konsep one airway one disease.
Kemajuan penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa kerusakan sawar epitel, gangguan mikrobiota saluran napas, serta inflamasi tipe 2 berperan penting dalam perjalanan penyakit. Pemahaman tersebut membuka peluang berkembangnya terapi biologik pada kasus tertentu yang tidak responsif terhadap terapi konvensional.
Definisi
Menurut Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA), rhinitis alergika adalah inflamasi mukosa hidung yang dimediasi IgE setelah pajanan terhadap alergen pada individu yang telah mengalami sensitisasi sebelumnya. Diagnosis ditegakkan bila terdapat dua atau lebih gejala berikut selama lebih dari satu jam pada sebagian besar hari:
- • Bersin berulang
- • Rinore encer
- • Hidung gatal
- • Hidung tersumbat
Gejala dapat disertai mata merah, mata gatal, lakrimasi, gatal tenggorokan, batuk, maupun gangguan penciuman.
Epidemiologi
Rhinitis alergika merupakan penyakit alergi tersering di dunia.
Berbagai studi menunjukkan bahwa:
- • Prevalensi global mencapai 10 sampai 40%.
- • Sekitar 500 juta orang di dunia menderita rhinitis alergika.
- • Insidensi terus meningkat terutama di negara berkembang.
- • Awitan penyakit paling sering terjadi sebelum usia 20 tahun.
- • Sebagian besar penderita memiliki riwayat keluarga dengan penyakit atopi.
Pada anak, prevalensi meningkat seiring bertambahnya usia sekolah akibat meningkatnya paparan alergen lingkungan.
Faktor Risiko
Faktor genetik
- • Riwayat asma.
- • Riwayat dermatitis atopik.
- • Riwayat rhinitis alergika dalam keluarga.
- Faktor lingkungan
- • Tungau debu rumah.
- • Bulu kucing.
- • Bulu anjing.
- • Jamur.
- • Serbuk sari.
- • Kecoak.
- • Polusi udara.
- • Asap rokok.
- • Urbanisasi.
- Faktor host
- • Gangguan sawar epitel.
- • Disbiosis mikrobiota.
- • Defisiensi vitamin D.
- • Obesitas.
Imunopatogenesis
Sensitisasi
Alergen masuk melalui mukosa hidung dan ditangkap oleh sel dendritik.
Sel dendritik mempresentasikan antigen kepada limfosit T naif.
Selanjutnya terbentuk respons Th2.
Th2 menghasilkan:
- • IL-4
- • IL-5
- • IL-13
Sitokin tersebut merangsang limfosit B menghasilkan IgE spesifik.
IgE kemudian berikatan pada reseptor FcεRI mast cell dan basofil.
Individu kini berada dalam keadaan tersensitisasi.
Pajanan Ulang
Saat alergen kembali masuk, terjadi cross-linking IgE pada permukaan mast cell.
Mast cell mengalami degranulasi dan melepaskan mediator:
- • Histamin
- • Leukotrien
- • Prostaglandin D2
- • Platelet activating factor
- Akibatnya muncul:
- • Bersin
- • Rinore
- • Gatal
- • Vasodilatasi
- • Edema mukosa
Fase Lambat
Empat hingga delapan jam kemudian terjadi infiltrasi:
- • Eosinofil
- • Basofil
- • Sel Th2
- • ILC2
Mediator yang dilepaskan menyebabkan inflamasi kronis dan hiperreaktivitas mukosa.
Konsep One Airway One Disease
Saluran napas atas dan bawah merupakan satu kesatuan anatomi dan imunologi.
Sekitar:
- • 80% pasien asma memiliki rhinitis alergika.
- • 20 sampai 40% pasien rhinitis alergika mengalami asma.
- Inflamasi tipe 2 yang sama terjadi pada hidung maupun bronkus.
- Pengobatan rhinitis yang optimal terbukti membantu mengendalikan gejala asma.
Manifestasi Klinis
Gejala Hidung
- • Bersin berulang.
- • Rinore encer.
- • Gatal hidung.
- • Hidung tersumbat.
- • Postnasal drip.
Gejala Mata
- • Mata gatal.
- • Mata merah.
- • Lakrimasi.
- • Kelopak bengkak.
Gejala Tidur
- • Mendengkur.
- • Tidur gelisah.
- • Mengantuk pada siang hari.
Gejala pada Anak
- • Allergic salute.
- • Allergic shiner.
- • Dennie-Morgan line.
- • Napas melalui mulut.
- • Gangguan konsentrasi.
- • Prestasi belajar menurun.
Klasifikasi Menurut ARIA
| Berdasarkan Durasi | Definisi |
|---|---|
| Intermiten | Kurang dari 4 hari per minggu atau kurang dari 4 minggu |
| Persisten | Lebih dari 4 hari per minggu dan lebih dari 4 minggu |
| Berdasarkan Keparahan | Definisi |
|---|---|
| Ringan | Tidak mengganggu aktivitas atau tidur |
| Sedang sampai berat | Mengganggu aktivitas, tidur, sekolah, atau pekerjaan |
Diagnosis
Diagnosis terutama berdasarkan:
Anamnesis
- • Pola gejala.
- • Musiman atau sepanjang tahun.
- • Hubungan dengan pajanan alergen.
- • Riwayat keluarga.
Pemeriksaan Fisik
- • Mukosa hidung pucat.
- • Edema konka.
- • Sekret encer.
- • Allergic shiner.
- • Allergic salute.
Pemeriksaan Penunjang
- Skin Prick Test
- Merupakan pemeriksaan pilihan pertama untuk mendeteksi sensitisasi IgE.
- IgE Spesifik Serum
- Digunakan bila skin prick test tidak dapat dilakukan.
Pemeriksaan yang Tidak Direkomendasikan
- • IgG makanan.
- • Hair analysis.
- • Bioresonance.
- • Vega test.
Pemeriksaan tersebut tidak memiliki validitas ilmiah untuk diagnosis alergi.
Diagnosis Banding
| Penyakit | Pembeda |
|---|---|
| Rhinitis virus | Demam, sekret berubah menjadi kental |
| Rhinitis nonalergi | Tidak ada sensitisasi IgE |
| Sinusitis | Nyeri wajah, sekret purulen |
| Deviasi septum | Obstruksi unilateral |
| Polip hidung | Massa intranasal |
| Rhinitis medikamentosa | Riwayat penggunaan dekongestan lama |
Penatalaksanaan
Edukasi
Pasien perlu memahami:
- • Penyakit bersifat kronis.
- • Pengobatan bertujuan mengendalikan gejala.
- • Kepatuhan terapi sangat menentukan hasil.
Pengendalian Alergen
Tindakan meliputi:
- • Mengurangi tungau debu.
- • Membersihkan tempat tidur.
- • Menggunakan sarung antitungau.
- • Mengurangi kelembapan ruangan.
- • Menghindari asap rokok.
- • Mengurangi kontak dengan alergen yang telah terbukti menjadi pencetus.
Terapi Farmakologis
Kortikosteroid Intranasal
Merupakan terapi lini pertama untuk gejala sedang hingga berat.
Contoh:
- • Fluticasone.
- • Mometasone.
- • Budesonide.
Efektif mengurangi:
- • Sumbatan hidung.
- • Bersin.
- • Rinore.
- • Gatal.
Antihistamin Generasi Kedua
Contoh:
- • Cetirizine.
- • Loratadine.
- • Fexofenadine.
- • Bilastine.
- Lebih sedikit menyebabkan sedasi dibanding antihistamin generasi pertama.
Antagonis Leukotrien
Montelukast dapat dipertimbangkan pada pasien dengan asma bersamaan, tetapi efektivitasnya terhadap rhinitis umumnya lebih rendah dibanding kortikosteroid intranasal.
Irigasi Salin
Membantu membersihkan sekret dan alergen serta memperbaiki fungsi mukosilia.
Imunoterapi Alergen
Imunoterapi merupakan satu-satunya terapi yang dapat memodifikasi perjalanan alami penyakit alergi.
Tersedia dalam bentuk:
- • Subcutaneous Immunotherapy (SCIT).
- • Sublingual Immunotherapy (SLIT).
Indikasi:
- • Sensitisasi yang telah terbukti.
- • Gejala menetap meskipun terapi optimal.
- • Sulit menghindari alergen.
Manfaat:
- • Mengurangi gejala.
- • Mengurangi penggunaan obat.
- • Menurunkan risiko berkembangnya asma pada sebagian pasien.
Komplikasi
Rhinitis alergika yang tidak terkontrol dapat menyebabkan:
- • Sinusitis kronis.
- • Otitis media dengan efusi.
- • Gangguan tidur.
- • Sleep-disordered breathing.
- • Penurunan kualitas hidup.
- • Penurunan prestasi sekolah.
- • Eksaserbasi asma.
Prognosis
Sebagian besar pasien memiliki prognosis yang baik bila diagnosis ditegakkan secara tepat dan terapi diberikan sesuai pedoman. Kombinasi edukasi, penghindaran alergen yang realistis, penggunaan kortikosteroid intranasal secara teratur, serta imunoterapi pada pasien yang memenuhi indikasi dapat memberikan kontrol gejala jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup secara bermakna.
Kesimpulan
Rhinitis alergika merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas atas yang dimediasi IgE dengan prevalensi tinggi di seluruh dunia. Diagnosis didasarkan pada kombinasi anamnesis yang khas, pemeriksaan fisik, dan konfirmasi sensitisasi menggunakan skin prick test atau IgE spesifik bila diperlukan. Pendekatan terapi harus bersifat komprehensif, meliputi edukasi, pengendalian pajanan alergen, farmakoterapi sesuai tingkat keparahan, dan imunoterapi pada pasien terpilih. Penatalaksanaan yang tepat tidak hanya mengendalikan gejala hidung, tetapi juga memperbaiki kualitas hidup, kualitas tidur, fungsi sehari-hari, serta membantu mengurangi risiko komplikasi dan perburukan penyakit saluran napas bawah.
Referensi
- Bousquet J, Khaltaev N, Cruz AA, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) Guidelines.
- Brożek JL, Bousquet J, Agache I, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) Guidelines 2020.
- European Academy of Allergy and Clinical Immunology. EAACI Guidelines on Allergic Rhinitis.
- World Allergy Organization. WAO White Book on Allergy.
- Dykewicz MS, Wallace DV, Baroody F, et al. Rhinitis 2020 Practice Parameter Update.
- Wise SK, Lin SY, Toskala E, et al. International Consensus Statement on Allergy and Rhinology.
- Meltzer EO. Allergic rhinitis: Burden of illness, quality of life, comorbidities, and control.
- Greiner AN, Hellings PW, Rotiroti G, Scadding GK. Allergic rhinitis. Lancet. 2011.
- Bousquet J, Schünemann HJ, Togias A, et al. Next-generation ARIA care pathways for allergic rhinitis.
- Global Allergy and Asthma European Network (GA²LEN). Recommendations for allergic rhinitis management.










Leave a Reply