Terapi Kortikosteroid pada Alergi Makanan, Dari Penggunaan Lama hingga Rekomendasi Terkini
Abstrak
Kortikosteroid telah lama digunakan sebagai terapi tambahan pada reaksi alergi makanan, terutama pada reaksi sedang hingga berat. Dahulu, steroid hampir selalu diberikan pada pasien anafilaksis dengan harapan dapat mencegah reaksi bifasik. Namun, bukti ilmiah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa manfaat tersebut belum terbukti secara meyakinkan. Pedoman internasional terbaru tidak lagi menganjurkan penggunaan kortikosteroid secara rutin pada anafilaksis. Adrenalin intramuskular tetap menjadi terapi lini pertama, sedangkan kortikosteroid hanya diberikan pada indikasi tertentu, seperti eksaserbasi asma, reaksi berkepanjangan, atau sebagai terapi tambahan setelah kondisi akut terkendali.
Pendahuluan
Kortikosteroid bekerja dengan menekan proses inflamasi melalui penghambatan transkripsi sitokin proinflamasi, migrasi eosinofil, serta aktivasi limfosit T. Efek antiinflamasi tersebut berkembang dalam beberapa jam sehingga steroid tidak bekerja cukup cepat untuk mengatasi fase awal reaksi alergi akut yang dimediasi IgE. Oleh karena itu, peran steroid pada alergi makanan berbeda dengan adrenalin yang bekerja dalam hitungan menit.
Perkembangan Penggunaan Kortikosteroid
Pada dekade 1980 hingga 2015, metilprednisolon, hidrokortison, dan prednison hampir selalu diberikan pada pasien anafilaksis sebagai terapi tambahan. Tujuannya adalah mengurangi inflamasi lanjutan dan mencegah reaksi bifasik.
Sejak sekitar tahun 2020, berbagai tinjauan sistematik dan pedoman internasional menunjukkan bahwa belum terdapat bukti kuat bahwa kortikosteroid mampu mencegah reaksi bifasik atau menurunkan mortalitas akibat anafilaksis. Karena onset kerjanya lambat, steroid tidak boleh menunda pemberian adrenalin.
Mekanisme Kerja
Kortikosteroid bekerja dengan:
- Menekan produksi sitokin inflamasi.
- Mengurangi aktivasi eosinofil dan limfosit.
- Mengurangi edema jaringan.
- Menghambat fase lambat respons alergi.
- Tidak menghentikan pelepasan histamin yang sedang berlangsung.
- Tidak memperbaiki hipotensi atau bronkospasme akut.
Tabel. Kortikosteroid yang Digunakan pada Alergi Makanan
| Obat | Lama digunakan | Rute | Onset | Peran saat ini |
|---|---|---|---|---|
| Hidrokortison | Sejak lama | IV | 4 hingga 6 jam | Terapi tambahan pada reaksi berat tertentu |
| Metilprednisolon | Sejak lama | IV atau oral | 4 hingga 6 jam | Terapi tambahan bila diperlukan |
| Prednison | Sejak lama | Oral | 4 hingga 6 jam | Reaksi berkepanjangan atau eksaserbasi asma |
| Prednisolon | Sejak lama | Oral | 4 hingga 6 jam | Alternatif prednison |
| Deksametason | Lebih baru | IV atau oral | 4 hingga 6 jam | Durasi panjang, bukan terapi utama anafilaksis |
Indikasi Kortikosteroid Saat Ini
Kortikosteroid dapat dipertimbangkan pada:
- Anafilaksis dengan eksaserbasi asma.
- Bronkospasme yang menetap setelah terapi awal.
- Reaksi alergi yang berkepanjangan.
- Reaksi bifasik yang telah terjadi.
- Angioedema berat sebagai terapi tambahan.
Kortikosteroid tidak dianjurkan sebagai terapi tunggal pada anafilaksis.
Kondisi yang Tidak Dianjurkan
Kortikosteroid tidak dianjurkan untuk:
- Menggantikan adrenalin.
- Menunda pemberian adrenalin.
- Mengobati hipotensi akut.
- Mengatasi syok anafilaksis.
- Digunakan rutin pada semua pasien anafilaksis.
Tabel. Perbandingan Rekomendasi Lama dan Terkini
| Aspek | Rekomendasi Lama | Rekomendasi Terkini |
|---|---|---|
| Pemberian steroid pada semua anafilaksis | Dianjurkan | Tidak dianjurkan rutin |
| Mencegah reaksi bifasik | Diperkirakan bermanfaat | Bukti tidak meyakinkan |
| Terapi utama anafilaksis | Adrenalin ditambah steroid | Adrenalin tetap terapi utama |
| Peran steroid | Hampir selalu diberikan | Hanya pada indikasi tertentu |
| Prioritas | Antihistamin dan steroid sering diberikan dini | Adrenalin harus diberikan segera |
Efek Samping
Penggunaan jangka pendek umumnya aman, tetapi dapat menyebabkan:
- Hiperglikemia.
- Gangguan tidur.
- Perubahan suasana hati.
- Peningkatan tekanan darah.
- Gangguan lambung.
Penggunaan berulang atau jangka panjang dapat menyebabkan osteoporosis, supresi adrenal, infeksi oportunistik, katarak, glaukoma, dan gangguan pertumbuhan pada anak.
Kesimpulan
Peran kortikosteroid pada alergi makanan telah berubah seiring berkembangnya bukti ilmiah. Dahulu steroid hampir selalu diberikan pada anafilaksis, tetapi pedoman modern tidak lagi menganjurkan penggunaannya secara rutin. Kortikosteroid hanya berfungsi sebagai terapi tambahan pada kondisi tertentu dan tidak boleh menggantikan atau menunda pemberian adrenalin. Pada anafilaksis, adrenalin intramuskular tetap merupakan terapi lini pertama yang terbukti menyelamatkan nyawa.
Daftar Pustaka
- Richards S, Tang MLK. Pharmacological management of acute food-allergic reactions. Chem Immunol Allergy. 2015;101:96-105. doi:10.1159/000374080.
- Golden DBK, Wang J, Waserman S, et al. Anaphylaxis: A 2023 practice parameter update. Ann Allergy Asthma Immunol. 2024;132(2):124-176.
- Shaker MS, Wallace DV, Golden DBK, et al. Evidence update for the treatment of anaphylaxis. Resuscitation. 2021.
- Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI Guidelines on the Management of IgE-Mediated Food Allergy. Allergy. 2024.









Leave a Reply