ALERGI MAKANAN DAN SINDROM NEFROTIK PADA ANAK. ADAKAH HUBUNGAN ANTARA MAKANAN, SISTEM IMUN, DAN KEBOCORAN PROTEIN GINJAL?
Sindrom nefrotik pada anak ditandai oleh proteinuria berat, hipoalbuminemia, dan sering disertai edema. Pada sebagian besar anak, terutama sindrom nefrotik sensitif steroid, gangguan fungsi sawar filtrasi glomerulus berkaitan dengan mekanisme imunologis dan perubahan fungsi podosit. Hubungan antara atopi, alergi makanan, dan sindrom nefrotik telah dilaporkan selama beberapa dekade. Penelitian lama menemukan peningkatan manifestasi atopi dan kadar IgE pada sebagian anak dengan sindrom nefrotik, sementara beberapa laporan kasus menunjukkan proteinuria dapat berubah bersamaan dengan paparan makanan tertentu. Namun, tinjauan literatur menunjukkan bukti bahwa alergi tertentu secara langsung menyebabkan sindrom nefrotik masih lemah. Studi kasus tahun 2023 melaporkan seorang anak dengan glomerulonefritis pascainfeksi yang mengalami proteinuria persisten dan menunjukkan hubungan temporal antara konsumsi produk susu dengan peningkatan proteinuria, kemudian mengalami perbaikan setelah diet hipoalergenik. Temuan ini menarik secara klinis, tetapi satu laporan kasus tidak dapat membuktikan hubungan sebab akibat. Literatur modern lebih mendukung kemungkinan adanya hubungan melalui disregulasi imun, termasuk jalur T-helper 2, interleukin-13, IgE, dan fungsi podosit. Karena itu, alergi makanan dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu dengan pola klinis yang kuat, tetapi tidak boleh menggantikan diagnosis, pemantauan, dan terapi standar sindrom nefrotik.
Sindrom nefrotik merupakan salah satu penyakit glomerulus yang penting pada anak. Manifestasi utamanya adalah kehilangan protein melalui urin dalam jumlah besar, penurunan albumin serum, dan edema. Pada anak, sebagian besar kasus idiopatik memberikan respons terhadap kortikosteroid. Sindrom nefrotik sensitif steroid merupakan kelompok yang paling sering dijumpai dan sering berkaitan dengan minimal change disease, meskipun diagnosis histologis tidak selalu diperlukan pada anak yang memberikan respons khas terhadap steroid.
Hubungan antara sindrom nefrotik dan penyakit alergi sudah lama menjadi perhatian. Sejumlah laporan menggambarkan asma, dermatitis atopik, rinitis alergi, peningkatan IgE, serta paparan alergen yang terjadi bersamaan dengan timbulnya atau kambuhnya proteinuria. Namun, hubungan tersebut tidak otomatis berarti bahwa alergi merupakan penyebab sindrom nefrotik. Tinjauan besar oleh Abdel-Hafez dan kolega menyimpulkan bahwa hubungan atopi dengan sindrom nefrotik memang terlihat pada sebagian pasien, tetapi bukti bahwa sindrom nefrotik merupakan penyakit alergi atau dapat dipicu secara konsisten oleh satu alergen tertentu masih lemah.
Dari sinilah pertanyaan mengenai alergi makanan menjadi menarik. Apakah makanan tertentu dapat memicu proteinuria pada sebagian anak? Apakah hubungan tersebut merupakan alergi langsung terhadap makanan? Atau justru keduanya merupakan manifestasi dari gangguan regulasi sistem imun yang sama?
Sindrom Nefrotik dan Sawar Filtrasi Ginjal
- Ginjal normal mempertahankan protein penting, terutama albumin, agar tetap berada dalam sirkulasi. Glomerulus bekerja sebagai sawar filtrasi yang sangat selektif. Podosit merupakan salah satu komponen penting dari sawar tersebut.
- Pada sindrom nefrotik, permeabilitas glomerulus terhadap protein meningkat. Akibatnya, albumin keluar melalui urin. Bila kehilangan protein cukup besar, kadar albumin darah turun dan cairan berpindah ke jaringan sehingga muncul edema.
- Pada minimal change disease, perubahan fungsi podosit dapat terjadi tanpa kerusakan struktural glomerulus yang mencolok pada pemeriksaan mikroskop cahaya. Mekanisme penyakit diyakini melibatkan gangguan imun dan mediator yang memengaruhi fungsi podosit. Rekomendasi modern untuk sindrom nefrotik anak terus menekankan pentingnya membedakan kelompok steroid-sensitif dan steroid-resisten karena pendekatan diagnosis dan terapinya berbeda.
Mengapa Alergi Pernah Dikaitkan dengan Sindrom Nefrotik?
Hubungan ini pertama kali mendapat perhatian dari laporan klinis sejak pertengahan abad ke-20. Dalam berbagai penelitian, sebagian anak dengan sindrom nefrotik memiliki penyakit atopik seperti asma, dermatitis atopik, atau rinitis alergi.
Tinjauan Abdel-Hafez dan kolega menemukan bahwa sebagian besar seri yang mereka kaji menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit atopik pada anak dengan sindrom nefrotik sensitif steroid. Namun besarannya sangat bervariasi. Beberapa penelitian menemukan sekitar 30% sampai 40% anak dengan sindrom nefrotik sensitif steroid memiliki manifestasi alergi.
- Kadar IgE juga sering ditemukan meningkat pada sebagian pasien.
- Namun terdapat masalah penting.
- IgE tinggi tidak membuktikan alergi makanan.
- Atopi tidak membuktikan bahwa alergen menyebabkan proteinuria.
- Skin prick test positif tidak membuktikan bahwa makanan tersebut menyebabkan kekambuhan sindrom nefrotik.
- Karena itu, hubungan tersebut perlu dipahami sebagai hubungan imunologis yang mungkin saling beririsan, bukan bukti bahwa alergi adalah penyebab utama sindrom nefrotik.
- Hipotesis IL-13 dan Podosit
Salah satu mekanisme yang banyak dibahas adalah jalur imun tipe 2.
- Pada kondisi atopik, sel T-helper 2 dapat menghasilkan sitokin seperti IL-4 dan IL-13. IL-13 berperan dalam regulasi respons IgE. Penelitian eksperimental dan klinis juga mengaitkan IL-13 dengan perubahan fungsi podosit pada minimal change disease.
- Menurut hipotesis yang dibahas dalam tinjauan Abdel-Hafez dan kolega, peningkatan IL-13 dapat berhubungan dengan peningkatan IgE sekaligus perubahan ekspresi CD80 pada podosit. Perubahan tersebut dapat berkontribusi terhadap gangguan sawar filtrasi glomerulus.
- Model ini menarik karena memberikan penjelasan mengapa seorang anak dapat mengalami dua kondisi sekaligus, yaitu kecenderungan alergi dan sindrom nefrotik.
- Namun, mekanisme imunologis tersebut belum membuktikan bahwa suatu makanan tertentu menjadi penyebab sindrom nefrotik.
Penelitian Lagrue 1989
Salah satu penelitian yang sering dibahas dalam hubungan alergi makanan dan sindrom nefrotik berasal dari Lagrue, Laurent, dan Rostoker. Penelitian tersebut mengevaluasi 42 pasien dengan idiopathic nephrotic syndrome, terutama pasien dengan kegagalan respons steroid atau perjalanan penyakit yang sulit. Pemeriksaan menunjukkan berbagai tanda sensitisasi terhadap makanan. Skin test positif ditemukan pada 16 dari 42 pasien, kadar IgE total meningkat pada 12 pasien, specific IgE positif pada 8 pasien, dan basophil histamine release test positif pada 20 pasien. Peneliti kemudian melakukan beberapa pendekatan diet eliminasi dan challenge. Pada sebagian pasien, proteinuria menurun setelah diet tertentu. Pada kelompok tertentu, remisi lengkap dilaporkan setelah eliminasi satu atau beberapa makanan.
Namun penelitian ini memiliki keterbatasan besar.
- Jumlah pasien kecil.
- Populasi sangat selektif.
- Sebagian pasien memiliki penyakit yang sulit ditangani.
- Metode pemeriksaan alergi yang digunakan juga berbeda dengan standar diagnosis alergi makanan modern.
- Karena itu, hasil penelitian ini lebih tepat dipandang sebagai bukti awal yang menghasilkan hipotesis, bukan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa alergi makanan merupakan penyebab sindrom nefrotik pada anak secara umum.
Studi Kasus 2023: Proteinuria Berubah Setelah Konsumsi Produk Susu
- Sebuah laporan kasus yang diterbitkan dalam Oxford Medical Case Reports pada 2023 memberikan gambaran klinis yang menarik. Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun mengalami hematuria, edema, penurunan jumlah urin, dan proteinuria berat setelah episode demam ringan serta gejala saluran napas. Pemeriksaan awal mendukung diagnosis post-infectious glomerulonephritis.
- Proteinuria dan hematuria menetap sehingga dilakukan biopsi ginjal. Hasil biopsi menunjukkan gambaran yang sesuai dengan fase resolusi post-infectious glomerulonephritis, dengan deposit IgG dan C3 pada kapiler serta mesangium.
- Pada perjalanan berikutnya, proteinuria tetap berfluktuasi meskipun anak mendapat prednisolon. Orang tua kemudian memperhatikan pola yang menarik. Setiap kali anak mengonsumsi produk susu, hasil dipstick urin menunjukkan peningkatan proteinuria dari 1+ menjadi 2+. Konsultasi alergi kemudian dilakukan dan diet hipoalergenik diberikan.
- Setelah diet tersebut dimulai dan prednisolon dihentikan, kadar albumin meningkat, kreatinin menurun, proteinuria berkurang, dan akhirnya proteinuria tidak lagi ditemukan. Pada pemantauan satu tahun, urinalisis dilaporkan normal.
Penulis menyimpulkan bahwa hubungan temporal antara konsumsi produk susu dan proteinuria membantu mengidentifikasi kemungkinan alergi makanan sebagai faktor yang berkontribusi pada proteinuria pada pasien tersebut.
- Tetapi kasus ini harus dibaca secara hati-hati.
- Ini adalah satu laporan kasus.
- Pasien juga mengalami post-infectious glomerulonephritis.
- Karena itu, kasus tersebut tidak dapat membuktikan bahwa alergi susu menyebabkan sindrom nefrotik.
- Temuan ini lebih tepat menjadi sinyal klinis yang dapat mendorong penelitian lebih lanjut.
- Apa yang Sebenarnya Dapat Disimpulkan?
Bila seluruh literatur dibaca bersama, terdapat tiga tingkat bukti.
| Temuan | Kekuatan kesimpulan |
|---|---|
| Sindrom nefrotik sering disertai manifestasi atopi pada sebagian penelitian | Ada asosiasi |
| IgE dan jalur imun tipe 2 dapat meningkat pada sebagian pasien | Mendukung kemungkinan hubungan imunologis |
| Alergen tertentu dapat mendahului kekambuhan pada sebagian laporan | Bukti terbatas |
| Diet eliminasi menyebabkan remisi pada sebagian laporan lama | Bukti terbatas dan tidak konsisten |
| Alergi makanan merupakan penyebab utama sindrom nefrotik | Belum terbukti |
| Semua anak dengan sindrom nefrotik perlu diet bebas alergen | Tidak didukung bukti saat ini |
Tabel ini penting karena literatur lama mudah disalahartikan. Hubungan antara dua kondisi tidak sama dengan hubungan sebab akibat.
Atopi dan Sindrom Nefrotik: Dua Kondisi atau Satu Jalur Imun?
- Salah satu kemungkinan yang lebih masuk akal adalah adanya predisposisi imun yang membuat sebagian anak rentan terhadap kedua kondisi. Anak dengan atopi memiliki kecenderungan respons imun tipe 2. Pada minimal change disease, disregulasi imun juga diduga memengaruhi fungsi podosit.
- IL-13 menjadi salah satu kandidat mediator yang menarik karena berhubungan dengan respons IgE dan dapat memengaruhi podosit.
- Dalam model ini, makanan tertentu mungkin menjadi pemicu pada sebagian individu, tetapi bukan penyebab universal sindrom nefrotik. Perbedaan ini sangat penting.
- Jika seorang anak mengalami proteinuria setelah konsumsi makanan tertentu secara konsisten, hubungan tersebut layak dievaluasi. Namun jika seorang anak mengalami sindrom nefrotik, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa makanan merupakan penyebabnya.
Apa Kata Pedoman Modern?
- Pedoman KDIGO 2025 merupakan acuan modern penting dalam tata laksana sindrom nefrotik anak. Pedoman tersebut mencakup sindrom nefrotik steroid-sensitif dan steroid-resisten, termasuk keputusan mengenai biopsi ginjal, pemeriksaan genetik, kortikosteroid, serta terapi penghemat steroid.
- Rekomendasi IPNA juga menempatkan respons terhadap glukokortikoid sebagai bagian penting dalam klasifikasi sindrom nefrotik anak. Pada sindrom nefrotik steroid-resisten, evaluasi dapat mencakup pemeriksaan genetik dan biopsi ginjal sesuai kondisi klinis.
- Tidak ada dasar dari pedoman modern tersebut untuk mengganti terapi standar sindrom nefrotik dengan diet eliminasi karena dugaan alergi makanan.
- Diet dapat menjadi bagian dari evaluasi individual pada kasus tertentu, terutama jika terdapat riwayat klinis alergi yang kuat.
- Tetapi diet tidak boleh menggantikan terapi nefrologi yang telah terbukti.
Kapan Alergi Makanan Layak Dipertimbangkan?
Kecurigaan terhadap alergi makanan lebih masuk akal bila terdapat pola yang konsisten.
Misalnya:
- Gejala muncul berulang setelah makanan tertentu.
- Terdapat manifestasi alergi lain seperti urtikaria, angioedema, muntah segera, mengi, atau gejala oral yang khas.
- Proteinuria atau gejala lain menunjukkan pola temporal yang konsisten dengan paparan makanan tertentu.
- Terdapat riwayat penyakit atopik.
- Pemeriksaan alergi mendukung dugaan klinis.
- Perubahan setelah eliminasi dapat diamati secara objektif.
Namun, keputusan eliminasi harus dilakukan secara terarah. Pada anak dengan sindrom nefrotik, diet yang terlalu luas dapat memperburuk kecukupan nutrisi dan kualitas hidup.
Mengapa Diet Eliminasi Tidak Boleh Sembarangan?
- Anak dengan sindrom nefrotik sedang berada pada fase pertumbuhan. Mereka membutuhkan energi dan protein yang cukup sesuai kondisi klinis.
- Jika orang tua menghilangkan susu, telur, gandum, ikan, kacang, buah, dan berbagai makanan lain sekaligus, anak dapat mengalami pembatasan diet yang tidak diperlukan.
- Selain risiko kekurangan nutrisi, eliminasi tanpa diagnosis juga dapat membuat keluarga semakin sulit menentukan makanan mana yang sebenarnya berkaitan dengan gejala.
- Karena itu, bila eliminasi dilakukan, sebaiknya terdapat target klinis yang jelas dan pemantauan dokter serta ahli gizi bila diperlukan.
Hubungan Alergi Makanan dengan Sindrom Nefrotik dalam Perspektif Klinis
| Pertanyaan | Jawaban berdasarkan bukti |
|---|---|
| Apakah anak dengan sindrom nefrotik lebih sering memiliki atopi? | Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan tersebut |
| Apakah IgE dapat meningkat pada sindrom nefrotik? | Ya, pada sebagian pasien |
| Apakah IL-13 mungkin berperan? | Ada dasar biologis dan penelitian yang mendukung hipotesis tersebut |
| Apakah alergi makanan dapat memicu proteinuria pada sebagian pasien? | Pernah dilaporkan, tetapi buktinya terbatas |
| Apakah alergi makanan terbukti menjadi penyebab sindrom nefrotik? | Belum |
| Apakah semua anak dengan sindrom nefrotik perlu menghindari makanan tertentu? | Tidak |
| Apakah diet eliminasi dapat menggantikan steroid atau terapi nefrologi? | Tidak |
| Apakah kasus dengan pola makanan-proteinuria yang konsisten layak dievaluasi? | Ya |
Implikasi untuk Praktik Pediatri
- Temuan mengenai hubungan alergi dan sindrom nefrotik tidak berarti semua proteinuria harus dicari penyebab makanannya.
- Namun, pada kasus tertentu, dokter perlu melihat pasien secara utuh.
- Anak dengan sindrom nefrotik yang juga memiliki dermatitis atopik, alergi makanan yang jelas, atau pola proteinuria yang berulang setelah paparan makanan tertentu dapat membutuhkan evaluasi alergi tambahan.
- Pendekatan seperti ini lebih rasional daripada melakukan pemeriksaan alergi secara luas tanpa indikasi.
- Diagnosis harus berangkat dari riwayat klinis.
- Pemeriksaan harus menjawab pertanyaan klinis.
- Hasil pemeriksaan harus ditafsirkan bersama gejala.
- Dan keputusan diet harus mempertimbangkan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Kesimpulan
Hubungan antara alergi, atopi, dan sindrom nefrotik telah dilaporkan selama puluhan tahun. Sejumlah penelitian menunjukkan prevalensi penyakit atopik dan peningkatan IgE pada sebagian anak dengan sindrom nefrotik. Jalur imun yang melibatkan IL-13 dan perubahan fungsi podosit memberikan dasar biologis yang menarik untuk hubungan tersebut.
Penelitian Lagrue pada 1989 dan beberapa laporan kasus kemudian memberikan sinyal bahwa makanan tertentu mungkin berhubungan dengan perubahan proteinuria pada sebagian pasien. Studi kasus 2023 bahkan melaporkan hubungan temporal antara konsumsi produk susu dan proteinuria pada anak dengan post-infectious glomerulonephritis, dengan perbaikan setelah diet hipoalergenik. Namun, bukti tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa alergi makanan merupakan penyebab sindrom nefrotik.
Pesan klinis yang paling tepat adalah mempertahankan dua prinsip sekaligus. Sindrom nefrotik harus ditangani berdasarkan pedoman nefrologi modern. Pada pasien tertentu dengan riwayat alergi yang kuat atau pola makanan-proteinuria yang konsisten, kemungkinan kontribusi alergi dapat dievaluasi secara individual.
- Pertanyaan yang penting bukan sekadar, “Apakah anak ini alergi makanan?”
- Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Apakah terdapat hubungan klinis yang konsisten antara makanan tertentu, respons imun, dan perjalanan proteinuria pada anak ini?”
Daftar Pustaka
- Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Nephrotic Syndrome in Children Work Group. KDIGO 2025 Clinical Practice Guideline for the Management of Nephrotic Syndrome in Children. Kidney International. 2025;107(5S):S241-S289. doi:10.1016/j.kint.2024.11.007.
- Trautmann A, Boyer O, Hodson E, et al. IPNA clinical practice recommendations for the diagnosis and management of children with steroid-sensitive nephrotic syndrome. Pediatric Nephrology. 2023;38(3):877-919. doi:10.1007/s00467-022-05739-3.
- Trautmann A, Vivarelli M, Samuel S, et al. IPNA clinical practice recommendations for the diagnosis and management of children with steroid-resistant nephrotic syndrome. Pediatric Nephrology. 2020;35(8):1529-1561. doi:10.1007/s00467-020-04519-1.
- Abdel-Hafez M, Shimada M, Lee PY, Johnson RJ, Garin EH. Idiopathic Nephrotic Syndrome and Atopy: Is There a Common Link? American Journal of Kidney Diseases. 2009;54(5):945-953. doi:10.1053/j.ajkd.2009.03.019.
- Lagrue G, Laurent J, Rostoker G. Food allergy and idiopathic nephrotic syndrome. Kidney International Supplement. 1989;27:S147-S151. PMID:2484004. (
- Mohkam M, Jamee M, Mortazavi N, Mirzaee M, Mansouri M. Food allergy masquerading as persistent proteinuria in post-infectious glomerulonephritis: a case report. Oxford Medical Case Reports. 2023;2023(8):omad087. doi:10.1093/omcr/omad087.
- Shalhoub RJ. Pathogenesis of lipoid nephrosis: a disorder of T-cell function. Lancet. 1974;2:556-560.
- Koyama A, Fujisaki M, Kobayashi M, Igarashi M, Narita M. A glomerular permeability factor produced by human T cell hybridomas. Kidney International. 1991;40:453-460.













Leave a Reply