ALERGI MAKANAN, DEPRESI, KEINGINAN BUNUH DIRI, DAN GUT-BRAIN AXIS PADA REMAJA: IMPLIKASI KLINIS DAN PERAN ORAL FOOD CHALLENGE
Sandiaz Yudhasmara¹, Widodo Judarwanto², Audi Yudhasmara³
¹RSIA Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia
²Child Health, Rumah Sakit Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia
³Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia; Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Alergi makanan pada remaja merupakan kondisi imunologis yang dapat memengaruhi kesehatan fisik, status nutrisi, kehidupan sosial, dan kesejahteraan psikologis. Keharusan menghindari makanan tertentu, kewaspadaan terhadap pajanan tidak disengaja, pengalaman reaksi alergi, keterbatasan dalam kegiatan sosial, serta bullying dapat meningkatkan beban psikososial. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara alergi makanan dengan gejala kecemasan dan depresi. Penelitian berbasis Youth Risk Behavior Survey di Amerika Serikat terhadap 22.017 remaja berusia 14 sampai 18 tahun menemukan bahwa 15,6% peserta melaporkan alergi makanan. Alergi makanan berhubungan dengan peningkatan odds percobaan bunuh diri yang memerlukan intervensi medis, dengan adjusted odds ratio 1,63 dan 95% confidence interval 1,23 sampai 2,16. Namun, penelitian tersebut bersifat observasional dan tidak membuktikan bahwa alergi makanan menyebabkan depresi atau perilaku bunuh diri. (PubMed)
Gut-brain axis memberikan kerangka biologis untuk memahami komunikasi dua arah antara saluran gastrointestinal, sistem imun, mikrobiota, sistem saraf enterik, dan sistem saraf pusat. Pada alergi makanan, perubahan respons imun, fungsi barrier intestinal, mikrobiota, dan neuroimmune signaling menjadi bidang penelitian yang berkembang. Namun, mekanisme tersebut belum dapat digunakan untuk menjelaskan secara langsung terjadinya depresi atau keinginan bunuh diri pada individu tertentu. Diagnosis alergi makanan tetap harus didasarkan pada riwayat klinis, pemeriksaan sensitisasi yang sesuai, dan oral food challenge (OFC) ketika diagnosis masih tidak pasti. OFC tidak digunakan untuk mendiagnosis depresi atau keinginan bunuh diri. Perannya adalah menentukan apakah pajanan terhadap makanan tertentu benar-benar menimbulkan reaksi klinis. Dengan menghindari eliminasi makanan yang tidak diperlukan, diagnosis yang tepat dapat membantu mengurangi beban nutrisi dan psikososial. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan alergologi, pediatri, gastroenterologi, nutrisi, psikologi, dan psikiatri diperlukan pada remaja dengan alergi makanan yang disertai distress psikologis atau risiko bunuh diri.
Kata kunci: alergi makanan, remaja, depresi, keinginan bunuh diri, gut-brain axis, mikrobiota, oral food challenge
PENDAHULUAN
Alergi makanan merupakan kondisi imunologis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Pada sebagian pasien, pengelolaan tidak berhenti pada penghindaran makanan yang terbukti menyebabkan reaksi. Pasien juga harus memahami komposisi makanan, membaca label, mengenali risiko pajanan tidak disengaja, dan menyesuaikan aktivitas sosial dengan kondisi alerginya. Pada remaja, tuntutan tersebut berlangsung pada periode perkembangan ketika hubungan dengan teman sebaya, kemandirian, penerimaan sosial, dan identitas diri menjadi semakin penting.
Beban tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup. Sistematik review pada anak dan remaja menunjukkan bahwa riwayat anafilaksis, jumlah makanan yang harus dihindari, adanya alergi tambahan, serta jumlah dan keparahan gejala merupakan faktor yang berkaitan dengan penurunan kualitas hidup. (PubMed) Penelitian lain juga menunjukkan bahwa remaja dengan alergi makanan dapat mengalami lebih banyak masalah psikologis, meskipun hasil penelitian tidak selalu konsisten dan besarnya hubungan dapat dipengaruhi faktor keluarga, sosial, serta kondisi kesehatan lain. (PubMed)
Hubungan antara alergi makanan dan kesehatan mental menjadi semakin penting ketika pasien mengalami depresi, hopelessness, atau pikiran untuk mengakhiri hidup. Penelitian Kalra dan kolega memberikan data epidemiologis yang relevan dari 22.017 remaja Amerika Serikat berusia 14 sampai 18 tahun. Sebanyak 3.435 peserta atau 15,6% melaporkan alergi makanan, sedangkan 501 peserta atau 2,3% melaporkan percobaan bunuh diri serius. Setelah penyesuaian terhadap berbagai kovariat, alergi makanan berhubungan dengan adjusted odds ratio 1,63 untuk percobaan bunuh diri yang memerlukan intervensi medis. (PubMed)
Temuan tersebut penting untuk praktik klinis, tetapi harus ditafsirkan secara hati-hati. Hubungan statistik tidak sama dengan hubungan sebab akibat. Alergi makanan dapat berinteraksi dengan depresi, kecemasan, bullying, gangguan tidur, masalah keluarga, kondisi sosial, dan faktor perkembangan remaja. Karena itu, evaluasi klinis perlu memandang pasien secara utuh dan tidak menjelaskan gangguan psikologis hanya melalui diagnosis alergi.
ALERGI MAKANAN DAN BEBAN PSIKOSOSIAL PADA REMAJA
Remaja dengan alergi makanan harus mengambil keputusan mengenai makanan hampir setiap hari. Pilihan makanan di sekolah, restoran, rumah teman, perjalanan, pesta, dan kegiatan olahraga dapat menimbulkan situasi yang berbeda dari teman sebayanya. Kekhawatiran terhadap pajanan tidak disengaja dapat membuat sebagian pasien lebih waspada terhadap lingkungan makanan.
Vigilance diperlukan pada alergi makanan karena reaksi dapat terjadi setelah pajanan terhadap alergen yang relevan. Namun, vigilance dapat berubah menjadi hypervigilance ketika ketakutan terhadap makanan menjadi berlebihan dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa remaja dengan alergi makanan dapat mengalami peningkatan gejala kecemasan dan depresi, walaupun tidak selalu memenuhi kriteria gangguan psikiatri. (PubMed)
Dampak psikososial juga berkaitan dengan pengalaman sosial. Remaja dapat merasa berbeda ketika harus menolak makanan yang tersedia untuk teman-temannya. Mereka dapat menghadapi pertanyaan, ejekan, bullying, atau kekhawatiran bahwa orang lain tidak memahami risiko alerginya. Kondisi ini dapat memengaruhi rasa aman dan kenyamanan dalam aktivitas sosial.
Karena itu, pengelolaan alergi makanan pada remaja perlu mempertimbangkan kualitas hidup sebagai bagian dari outcome klinis. Diagnosis yang akurat, edukasi yang sesuai, dukungan keluarga, dukungan sekolah, dan dukungan psikologis dapat membantu pasien menjalani penghindaran makanan secara proporsional tanpa mengurangi partisipasi sosial secara tidak perlu.
ALERGI MAKANAN, DEPRESI, DAN KECEMASAN
Hubungan alergi makanan dengan depresi dan kecemasan telah dilaporkan dalam beberapa penelitian. Studi pada remaja dan dewasa muda menemukan hubungan antara alergi makanan dan gejala kecemasan yang menetap, sedangkan penelitian lain menunjukkan hubungan dengan gejala depresi dan kecemasan berdasarkan laporan orang tua. (PubMed)
Namun, bukti tersebut tidak sepenuhnya konsisten. Penelitian berbasis populasi yang lebih baru menunjukkan peningkatan risiko beberapa masalah kesehatan mental pada anak dengan alergi makanan dibandingkan anak tanpa alergi makanan, tetapi analisis dengan kontrol terhadap faktor keluarga menunjukkan bahwa sebagian hubungan dapat dipengaruhi oleh familial confounding. (PubMed)
Perbedaan hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara alergi makanan dan kesehatan mental kemungkinan bersifat multifaktorial. Keparahan alergi, jumlah makanan yang dihindari, kualitas hidup, pengalaman bullying, gangguan tidur, status nutrisi, kecemasan keluarga, kondisi sosial ekonomi, dan penyakit penyerta dapat berkontribusi terhadap kondisi psikologis pasien.
Depresi pada remaja perlu dinilai sebagai masalah klinis tersendiri. Gejalanya dapat mencakup suasana perasaan sedih atau iritabel, kehilangan minat, menarik diri dari aktivitas, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, gangguan konsentrasi, perasaan tidak berharga, hopelessness, serta pikiran mengenai kematian atau bunuh diri. Gejala tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai manifestasi alergi makanan.
KEINGINAN BUNUH DIRI DAN PERCOBAAN BUNUH DIRI
Istilah keinginan bunuh diri perlu dibedakan dari percobaan bunuh diri. Keinginan atau pikiran bunuh diri merujuk pada pikiran mengenai kematian atau mengakhiri hidup. Percobaan bunuh diri merupakan perilaku yang dilakukan dengan tujuan atau kemungkinan menimbulkan kematian. Non-suicidal self-injury merupakan perilaku melukai diri tanpa tujuan bunuh diri. Perbedaan terminologi ini penting karena setiap kondisi memiliki implikasi penilaian dan penanganan yang berbeda.
Data dari Youth Risk Behavior Survey memberikan salah satu bukti epidemiologis terbaru mengenai hubungan alergi makanan dengan perilaku bunuh diri pada remaja. Dari 22.017 peserta berusia 14 sampai 18 tahun, 15,6% melaporkan alergi makanan. Pada kelompok yang melaporkan percobaan bunuh diri serius, 31,9% juga melaporkan alergi makanan, dibandingkan 15,2% pada peserta yang tidak melaporkan percobaan bunuh diri serius. Setelah penyesuaian terhadap sejumlah kovariat, adjusted odds ratio untuk percobaan bunuh diri yang memerlukan intervensi medis adalah 1,63 dengan 95% confidence interval 1,23 sampai 2,16. Analisis sensitivitas terhadap seluruh percobaan bunuh diri menghasilkan adjusted odds ratio 1,35 dengan 95% confidence interval 1,09 sampai 1,68. (PubMed)
Data tersebut menunjukkan adanya asosiasi, bukan kausalitas. Penelitian menggunakan data survei dan tidak dapat menentukan apakah alergi makanan mendahului perubahan kesehatan mental atau apakah faktor lain menjelaskan sebagian hubungan tersebut. Karena itu, hasil penelitian lebih tepat diterapkan sebagai dasar peningkatan clinical awareness daripada sebagai bukti bahwa alergi makanan menyebabkan perilaku bunuh diri.
Pada praktik klinis, remaja dengan alergi makanan perlu mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman psikologisnya. Pertanyaan mengenai suasana hati, kecemasan, bullying, kualitas tidur, perubahan aktivitas, hopelessness, dan pikiran mengenai kematian dapat menjadi bagian dari evaluasi ketika terdapat indikasi klinis.
TABEL. MANIFESTASI KLINIS DAN IMPLIKASI PSIKOSOSIAL PADA REMAJA DENGAN ALERGI MAKANAN
| Kondisi atau domain | Manifestasi yang dapat ditemukan | Implikasi klinis |
| Alergi makanan IgE-mediated | Urtikaria, pruritus, angioedema, muntah, nyeri abdomen, batuk, wheezing, hingga anafilaksis | Hubungan temporal dengan pajanan perlu dievaluasi |
| Alergi gastrointestinal non-IgE-mediated | Muntah tertunda, diare, nyeri abdomen, gejala gastrointestinal, feeding difficulties, penolakan makanan, gangguan pertumbuhan pada kondisi tertentu | Diagnosis memerlukan pendekatan berdasarkan fenotipe klinis |
| FPIES | Muntah berulang, pucat, letargi, hipotensi atau dehidrasi pada kasus berat, dapat diikuti diare | Memerlukan pengenalan pola klinis dan tata laksana spesifik |
| Dampak nutrisi | Variasi makanan terbatas, asupan energi tidak adekuat, berat badan sulit meningkat | Memerlukan evaluasi pertumbuhan dan diet |
| Dampak psikososial | Takut terhadap makanan, kecemasan, penghindaran aktivitas sosial, bullying, ketergantungan pada orang tua | Evaluasi kualitas hidup dan dukungan psikososial diperlukan |
| Gejala depresi | Mood sedih atau iritabel, anhedonia, menarik diri, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, gangguan konsentrasi, hopelessness | Perlu evaluasi kesehatan mental secara terpisah dari diagnosis alergi |
| Keinginan bunuh diri | Pikiran tentang kematian atau mengakhiri hidup | Memerlukan penilaian risiko bunuh diri oleh tenaga profesional |
| Percobaan bunuh diri | Perilaku dengan tujuan atau kemungkinan menyebabkan kematian | Memerlukan evaluasi dan intervensi keselamatan segera |
| Oral food challenge | Reaksi atau tidak adanya reaksi setelah pajanan makanan yang terkontrol | Membantu memastikan hubungan klinis antara makanan dan reaksi |
GUT-BRAIN AXIS DAN ALERGI MAKANAN
Gut-brain axis menggambarkan komunikasi dua arah antara saluran gastrointestinal dan sistem saraf pusat. Sistem ini melibatkan sistem saraf enterik, saraf vagus, mediator imun, hormon, metabolit mikrobiota, barrier intestinal, serta berbagai jalur neuroendokrin.
Pada alergi makanan, saluran gastrointestinal merupakan salah satu lokasi penting terjadinya interaksi antara makanan, epitel, sistem imun, mikrobiota, dan jaringan saraf. Penelitian mengenai mikrobiota menunjukkan adanya perbedaan komposisi mikrobiota usus pada anak dengan alergi makanan dibandingkan kontrol sehat. Review tahun 2024 yang mencakup 34 penelitian menemukan pola perubahan mikrobiota pada populasi anak dengan alergi makanan, meskipun heterogenitas penelitian masih menjadi masalah. (PubMed)
Hubungan tersebut tidak dapat disederhanakan menjadi konsep bahwa dysbiosis menyebabkan depresi. Mikrobiota berinteraksi dengan sistem imun dan epitel intestinal, sementara sistem imun dan mediator neuroimun dapat memengaruhi fungsi saraf. Review mengenai neuroimmune interactions dalam alergi makanan menunjukkan bahwa hubungan antara respons imun, sistem saraf, dan perilaku merupakan bidang penelitian yang berkembang. (PubMed)
Dengan demikian, gut-brain axis lebih tepat dipandang sebagai jaringan komunikasi biologis yang mungkin ikut menjembatani kondisi gastrointestinal, imunologis, dan psikologis. Bukti saat ini belum cukup untuk menggunakan pemeriksaan mikrobiota atau biomarker gut-brain axis sebagai alat diagnosis depresi atau prediksi perilaku bunuh diri pada pasien alergi makanan.
INFLAMASI DAN NEUROIMMUNOLOGY
Sistem imun dan sistem saraf tidak bekerja secara terpisah. Mediator inflamasi dapat berinteraksi dengan jaringan saraf melalui jalur humoral, neural, dan seluler. Pada saluran gastrointestinal, interaksi antara neuron, sel imun, epitel, dan mikrobiota berperan dalam mempertahankan homeostasis dan mengatur respons terhadap inflamasi. (PubMed)
Dalam alergi makanan, penelitian eksperimental dan translasi menunjukkan adanya perubahan mediator imun serta interaksi neuroimun. Namun, keberadaan perubahan imunologis tidak otomatis berarti terdapat gangguan neurologis atau psikiatri. Hubungan biologis antara inflamasi perifer dan mood pada manusia bersifat kompleks.
Hal yang sama berlaku untuk depresi dan perilaku bunuh diri. Kondisi tersebut memiliki etiologi multifaktorial. Faktor psikologis, sosial, biologis, perkembangan, keluarga, dan lingkungan dapat berinteraksi. Karena itu, mekanisme inflamasi tidak dapat digunakan sebagai penjelasan tunggal pada seorang remaja yang mengalami keinginan bunuh diri.
PEMBATASAN MAKANAN DAN RISIKO NUTRISI
Eliminasi makanan merupakan bagian penting dalam pengelolaan alergi makanan yang telah terkonfirmasi. Namun, eliminasi yang tidak memiliki dasar diagnosis yang kuat dapat meningkatkan beban pasien. Semakin banyak makanan yang dihindari, semakin sulit mempertahankan variasi diet yang memadai.
Pada masa remaja, kebutuhan energi dan zat gizi tetap tinggi karena pertumbuhan dan perubahan komposisi tubuh. Pembatasan diet yang luas dapat meningkatkan risiko asupan yang tidak adekuat. Masalah tersebut menjadi lebih kompleks apabila pasien juga mengalami feeding difficulties, selective eating, food refusal, atau kecemasan terhadap makanan.
Karena itu, setiap diet eliminasi perlu memiliki tujuan klinis yang jelas. Evaluasi berkala diperlukan untuk menentukan apakah makanan masih perlu dihindari. Pendekatan ini dapat mencegah pembatasan diet yang berlangsung bertahun-tahun tanpa konfirmasi apakah alergi masih ada.
ORAL FOOD CHALLENGE SEBAGAI ALAT DIAGNOSTIK
Diagnosis alergi makanan harus dimulai dengan riwayat klinis yang terarah. Pemeriksaan skin prick test dan serum-specific IgE digunakan untuk menilai sensitisasi ketika sesuai dengan riwayat klinis. Hasil positif menunjukkan sensitisasi dan tidak selalu berarti pasien akan mengalami alergi klinis setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Pedoman EAACI 2023 menempatkan oral food challenge sebagai reference standard dalam diagnosis alergi makanan. OFC terutama dipertimbangkan ketika riwayat klinis dan pemeriksaan sensitisasi belum memberikan kepastian. Reassessment secara berkala dapat membantu menentukan apakah toleransi oral telah berkembang sehingga makanan dapat diperkenalkan kembali. (PubMed)
Pembaruan AAAAI-EAACI PRACTALL 2024 menekankan bahwa keselamatan merupakan komponen utama pelaksanaan food challenge. Prosedur, dosis bertahap, interval pemberian, kriteria penghentian, dan kesiapan menangani reaksi harus disesuaikan dengan jenis reaksi yang dicurigai. (PubMed)
OFC tidak boleh dilakukan sebagai pemeriksaan untuk mencari penyebab depresi atau keinginan bunuh diri. Fungsi utamanya adalah menentukan respons klinis terhadap makanan dalam kondisi terkontrol.
ORAL FOOD CHALLENGE DAN BEBAN PSIKOLOGIS
Hubungan antara OFC dan kesehatan psikologis bersifat tidak langsung. Diagnosis alergi yang tidak tepat dapat menyebabkan penghindaran makanan yang tidak diperlukan. Sebaliknya, hasil OFC yang menunjukkan toleransi dapat membuka kemungkinan perluasan diet sesuai rekomendasi klinis.
Perluasan diet dapat memiliki arti penting bagi remaja. Makanan yang sebelumnya dihindari mungkin dapat dikonsumsi kembali jika dokter menyatakan aman. Hal tersebut berpotensi meningkatkan pilihan makanan, mengurangi pembatasan dalam aktivitas sosial, dan mengurangi kekhawatiran terhadap makanan tertentu.
Namun, OFC sendiri dapat menjadi pengalaman yang menegangkan bagi pasien dan keluarga. Pasien yang memiliki kecemasan tinggi terhadap reaksi alergi memerlukan komunikasi yang jelas mengenai tujuan, prosedur, kemungkinan reaksi, dan rencana setelah challenge. Dukungan psikologis dapat dipertimbangkan ketika kecemasan terhadap alergi mengganggu fungsi sehari-hari. Pedoman EAACI mengenai tata laksana alergi makanan juga menekankan pentingnya dukungan psikologis pada pasien dengan kecemasan yang bermakna. (PubMed)
SCREENING KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA DENGAN ALERGI MAKANAN
Evaluasi kesehatan mental tidak perlu menunggu sampai muncul krisis. Perubahan perilaku, penarikan diri, penurunan prestasi sekolah, gangguan tidur, perubahan pola makan, kecemasan berlebihan terhadap makanan, hopelessness, atau hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai dapat menjadi alasan untuk melakukan evaluasi lebih lanjut.
Pendekatan tersebut perlu dilakukan secara sensitif. Remaja membutuhkan ruang untuk berbicara tanpa merasa dihakimi. Pertanyaan mengenai kesehatan mental sebaiknya disampaikan secara langsung, jelas, dan sesuai usia.
Jika seorang remaja menyampaikan bahwa ia ingin mati, ingin mengakhiri hidup, atau memiliki rencana untuk bunuh diri, kondisi tersebut memerlukan penilaian profesional segera. Evaluasi perlu mencakup keberadaan pikiran bunuh diri, intensi, rencana, akses terhadap sarana yang dapat digunakan untuk melukai diri, riwayat perilaku bunuh diri, faktor protektif, serta kondisi psikologis yang menyertai.
Pada risiko keselamatan yang segera, prioritas klinis adalah keselamatan pasien dan akses terhadap layanan medis atau psikiatri darurat. Pasien tidak boleh dibiarkan sendirian ketika terdapat risiko bunuh diri yang akut.
PENDEKATAN MULTIDISIPLIN
Remaja dengan alergi makanan dan masalah psikologis membutuhkan pendekatan yang mengintegrasikan aspek medis dan psikososial. Dokter anak dan dokter alergi berperan dalam memastikan diagnosis dan menilai perjalanan penyakit. Gastroenterolog dapat dilibatkan ketika gejala gastrointestinal dominan atau diagnosis banding gastrointestinal diperlukan.
Ahli gizi memiliki peran penting pada pasien dengan diet eliminasi, gangguan pertumbuhan, atau variasi makanan yang terbatas. Evaluasi diet perlu memastikan kebutuhan energi, protein, mikronutrien, dan kebutuhan pertumbuhan tetap terpenuhi.
Psikolog atau psikiater berperan dalam menilai depresi, kecemasan, gangguan makan, distress terkait alergi, serta keinginan atau perilaku bunuh diri. Kolaborasi dengan keluarga dan sekolah dapat diperlukan ketika masalah psikososial berhubungan dengan lingkungan pendidikan atau hubungan teman sebaya.
Pendekatan multidisiplin juga membantu menghindari attribution bias. Gejala gastrointestinal pada pasien dengan alergi makanan tidak selalu disebabkan oleh alergi. Sebaliknya, depresi atau keinginan bunuh diri pada pasien alergi makanan tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai akibat respons imun terhadap makanan.
IMPLIKASI KLINIS
Beberapa implikasi dapat diterapkan dalam praktik klinis. Diagnosis alergi makanan perlu menggunakan pendekatan berbasis bukti dan tidak hanya berdasarkan hasil pemeriksaan sensitisasi. Diet eliminasi perlu memiliki indikasi yang jelas dan dievaluasi secara berkala.
Pada pasien dengan diagnosis yang belum pasti, OFC dapat membantu menentukan apakah makanan tertentu benar-benar menimbulkan reaksi. Pedoman EAACI menempatkan OFC sebagai reference standard dalam diagnosis, terutama ketika hasil pemeriksaan sebelumnya tidak memberikan kepastian. (PubMed)
Pada saat yang sama, klinisi perlu memperhatikan kualitas hidup dan kesehatan mental. Penelitian sistematik menunjukkan bahwa beban alergi makanan pada anak dan remaja mencakup aspek psikologis dan sosial, bukan hanya gejala alergi. (PubMed)
Pada remaja dengan gejala depresi, hopelessness, atau keinginan bunuh diri, evaluasi kesehatan mental harus dilakukan secara langsung. Gut-brain axis dapat menjadi kerangka biologis untuk penelitian, tetapi tidak boleh menggantikan penilaian psikologis dan psikiatri.
KESENJANGAN PENELITIAN
Hubungan antara alergi makanan, kesehatan mental, perilaku bunuh diri, dan gut-brain axis masih memerlukan penelitian longitudinal. Penelitian mendatang perlu membedakan alergi IgE-mediated dan non-IgE-mediated serta mempertimbangkan jenis makanan, jumlah makanan yang dieliminasi, riwayat anafilaksis, kualitas hidup, status nutrisi, gangguan tidur, bullying, kecemasan, depresi, dan kondisi keluarga.
Penelitian juga perlu menggunakan definisi alergi makanan yang lebih objektif. Diagnosis yang hanya berdasarkan self-report dapat menghasilkan salah klasifikasi. Penggunaan riwayat klinis terstruktur, pemeriksaan sensitisasi, dan OFC ketika sesuai dapat meningkatkan validitas fenotipe alergi.
Studi mikrobiota perlu dikaitkan dengan outcome klinis yang jelas. Perubahan komposisi mikrobiota tidak cukup untuk menyatakan adanya hubungan dengan depresi atau perilaku bunuh diri. Penelitian prospektif perlu mengevaluasi apakah perubahan mikrobiota, mediator imun, kualitas hidup, atau faktor psikososial mendahului perubahan kesehatan mental.
Penelitian intervensi juga diperlukan. Pertanyaan penting mencakup apakah diagnosis alergi yang lebih akurat, pengurangan eliminasi yang tidak diperlukan, intervensi nutrisi, dukungan psikologis, atau peningkatan kualitas hidup dapat memperbaiki outcome kesehatan mental pada remaja dengan alergi makanan.
KESIMPULAN
Alergi makanan pada remaja dapat memberikan beban yang melibatkan aspek fisik, nutrisi, sosial, dan psikologis. Penelitian epidemiologis menunjukkan adanya hubungan antara alergi makanan dan percobaan bunuh diri pada remaja, tetapi hubungan tersebut tidak membuktikan bahwa alergi makanan menyebabkan depresi atau perilaku bunuh diri. (PubMed)
Gut-brain axis memberikan kerangka biologis untuk memahami komunikasi antara saluran gastrointestinal, mikrobiota, sistem imun, sistem saraf, dan otak. Penelitian neuroimunologi menunjukkan bahwa interaksi tersebut nyata dan kompleks, tetapi belum dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku bunuh diri pada pasien secara individual. (PubMed)
Diagnosis alergi makanan harus tetap berdasarkan bukti klinis. Riwayat klinis, pemeriksaan SPT atau serum-specific IgE, serta OFC digunakan sesuai indikasi. OFC memiliki peran penting ketika diagnosis masih tidak pasti dan dapat membantu mencegah eliminasi makanan yang tidak diperlukan. (PubMed)
Pada remaja dengan alergi makanan, perhatian terhadap kesehatan mental merupakan bagian dari pelayanan yang menyeluruh. Depresi, hopelessness, dan keinginan bunuh diri harus dinilai sebagai kondisi klinis tersendiri. Ketika terdapat risiko keselamatan, penilaian dan intervensi profesional perlu dilakukan segera. Pendekatan yang menggabungkan alergologi, pediatri, nutrisi, gastroenterologi, psikologi, psikiatri, keluarga, dan sekolah dapat memberikan perawatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan remaja.
DAFTAR PUSTAKA
- Kalra S, Kleiman EM, Rizvi SL, Grafova IB, Duberstein PR, Kalra D. Increased Risk of Suicide Attempts Among Adolescents With Food Allergy in the United States. JAACAP Open. 2024;3(3):548-556. doi:10.1016/j.jaacop.2024.11.005. (PubMed)
- Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902. (PubMed)
- Sampson HA, Arasi S, Bahnson HT, et al. AAAAI-EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges, 2024 Update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(11):e14276. doi:10.1111/pai.14276. (PubMed)
- Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an oral food challenge: an update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17. doi:10.1016/j.jaip.2019.09.029.
- Houghton V, Eiwegger T, Borges Florsheim E, Knibb RC, Thuret S, Santos AF. From bite to brain: Neuro-immune interactions in food allergy. Allergy. 2024;79(12):3326-3340. doi:10.1111/all.16366. (PubMed)
- Aaneland H, et al. Quality Appraisal of Quality of Life Research in Children and Adolescents with Food Allergy: A Systematic Review. Int Arch Allergy Immunol. 2024. (PubMed)
- Morou-Bermudez E, et al. Food Allergies and Quality of Life among School-Aged Children and Adolescents: A Systematic Review. Nutrients. 2023. (PubMed)
- DunnGalvin A, et al. The burden of food allergy on children and teens: A systematic review. Pediatr Allergy Immunol. 2022;33. doi:10.1111/pai.13743. (PubMed)
- Cummings AJ, Knibb RC, King RM, Lucas JS. The psychosocial impact of food allergy and food hypersensitivity in children, adolescents and their families: a review. Allergy. 2010;65(8):933-945. (PubMed)
- Sicherer SH, et al. Emotional and behavioral problems in adolescents and young adults with food allergy. Allergy. 2016;71(4):532-540. doi:10.1111/all.12829. (PubMed)
- Herbert LJ, et al. Are children and adolescents with food allergies at increased risk for psychopathology? J Psychosom Res. 2014. (PubMed)
- Bender BG, et al. Condition-specific associations of symptoms of depression and anxiety in adolescents and young adults with asthma and food allergy. J Asthma. 2016. doi:10.3109/02770903.2015.1104694. (PubMed)
- Farnetano R, Carucci L, Coppola S, et al. Gut microbiome features in pediatric food allergy: a scoping review. Front Allergy. 2024;5:1438252. doi:10.3389/falgy.2024.1438252. (PubMed)
- Wallrapp A, Chiu IM. Neuroimmune Interactions in the Intestine. Annu Rev Immunol. 2024. (PubMed)
- EAACI. EAACI guidelines on the management of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2024. (PubMed)













Leave a Reply