ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

GENETIKA DAN EPIGENETIKA ALERGI MAKANAN: PERAN GENOME-WIDE ASSOCIATION STUDIES DALAM MEMAHAMI RISIKO, PATOGENESIS, DAN MASA DEPAN DIAGNOSIS PRESISI

GENETIKA DAN EPIGENETIKA ALERGI MAKANAN: PERAN GENOME-WIDE ASSOCIATION STUDIES DALAM MEMAHAMI RISIKO, PATOGENESIS, DAN MASA DEPAN DIAGNOSIS PRESISI

Sandiaz Yudhasmara¹, Widodo Judarwanto², Audi Yudhasmara³

¹RSIA Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia

²Child Health, Rumah Sakit Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia

³Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia; Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia

 

Abstrak

Alergi makanan merupakan penyakit imunologis kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor genetik, epigenetik, sistem imun, fungsi sawar epitel, dan lingkungan. Berbeda dari kelainan Mendelian dengan pola pewarisan sederhana, alergi makanan dipandang sebagai penyakit poligenik dengan penetransi yang relatif rendah. Bukti dari studi keluarga dan kembar menunjukkan kontribusi genetik yang bermakna, tetapi variasi lingkungan tetap berperan dalam menentukan fenotipe klinis. Perkembangan genome-wide association studies atau GWAS telah mengidentifikasi sejumlah lokus genetik yang berhubungan dengan alergi makanan terdiagnosis secara klinis. Review Arnau-Soler dan kolega yang diterbitkan dalam Allergy pada 2025 mengidentifikasi 16 varian genetik yang mencapai signifikansi genome-wide. Lokus tersebut terutama berkaitan dengan fungsi sawar epitel dan regulasi imun, termasuk FLG, SERPINB7, wilayah HLA, IL4, dan C11orf30/LRRC32. Sebagian lokus tersebut juga berhubungan dengan dermatitis atopik, asma, rinitis alergi, dan eosinophilic esophagitis, menunjukkan adanya mekanisme biologis yang saling beririsan dalam penyakit atopik. Di sisi lain, studi epigenome-wide association studies atau EWAS menemukan perubahan metilasi DNA pada sejumlah lokus, termasuk RPS6KA2, CAMTA1, CTBP2, RYR2, TRAPPC9, DOCK1, GALNTL4, HDAC4, UMODL1, ZAK, dan TNS3. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kerentanan genetik dapat berinteraksi dengan lingkungan melalui mekanisme epigenetik. Meskipun demikian, pemeriksaan genetik dan epigenetik belum dapat digunakan sebagai pemeriksaan klinis rutin untuk memastikan alergi makanan. Masa depan penelitian diarahkan pada identifikasi biomarker yang mampu membedakan sensitisasi dari alergi klinis, memprediksi perjalanan penyakit, memperkirakan kemungkinan toleransi alami, serta menentukan respons terhadap imunoterapi.

Kata kunci: alergi makanan, genetika, epigenetika, genome-wide association study, epigenome-wide association study, FLG, HLA, IgE, biomarker, precision medicine

Pendahuluan

Alergi makanan merupakan respons imun abnormal terhadap protein makanan yang dapat menimbulkan manifestasi mulai dari gejala kulit dan gastrointestinal hingga anafilaksis. Penyakit ini sering muncul bersama kondisi atopik lain, termasuk dermatitis atopik, asma, rinitis alergi, dan eosinophilic esophagitis. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa alergi makanan tidak berdiri sebagai penyakit yang sepenuhnya terpisah, melainkan dapat menjadi bagian dari spektrum gangguan atopik yang memiliki mekanisme imunologis dan genetik yang saling beririsan [1,2].

Variasi kejadian alergi makanan antarpopulasi menunjukkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup untuk menjelaskan terjadinya penyakit. Pola diet, paparan lingkungan, integritas sawar kulit dan mukosa, mikrobioma, serta karakteristik sistem imun dapat memengaruhi munculnya fenotipe klinis. Karena itu, alergi makanan lebih tepat dipahami sebagai penyakit kompleks yang muncul dari interaksi antara predisposisi genetik dan faktor lingkungan [1].

Review komprehensif Arnau-Soler dan kolega, yang diterbitkan dalam Allergy pada 2025, memberikan gambaran terbaru mengenai penelitian genetika dan epigenetika alergi makanan. Para penulis mengidentifikasi 16 lokus genetik yang mencapai tingkat signifikansi genome-wide pada alergi makanan. Sepuluh di antaranya juga berhubungan dengan penyakit atopik lain. Temuan ini memperkuat konsep bahwa sebagian mekanisme biologis alergi makanan memiliki dasar bersama dengan dermatitis atopik, asma, dan rinitis alergi [1].

Heritabilitas dan agregasi keluarga

Bukti mengenai kontribusi genetik telah muncul sebelum era GWAS. Studi keluarga menunjukkan adanya agregasi alergi makanan dalam keluarga. Risiko anak juga meningkat ketika terdapat anggota keluarga dengan penyakit alergi. Dalam review terbaru, riwayat penyakit alergi pada satu anggota keluarga dikaitkan dengan odds ratio sekitar 1,4 terhadap alergi makanan pada keturunan, sedangkan keberadaan penyakit alergi pada dua atau lebih anggota keluarga dikaitkan dengan odds ratio sekitar 1,8 [1].

Studi kembar memberikan informasi tambahan. Penelitian pada kembar dengan alergi kacang tanah menemukan tingkat konkordansi yang jauh lebih tinggi pada kembar monozigot dibandingkan kembar dizigot. Estimasi heritabilitas alergi kacang tanah pada penelitian tersebut mencapai sekitar 82% [3]. Namun, angka heritabilitas tidak berarti bahwa 82% kasus pada individu tertentu disebabkan oleh gen. Heritabilitas menggambarkan proporsi variasi fenotip dalam populasi tertentu yang dapat dikaitkan dengan variasi genetik dalam kondisi lingkungan tertentu.

Studi kembar pada sensitisasi terhadap berbagai alergen makanan juga menunjukkan kontribusi genetik dan lingkungan. Pada kohort kembar di Tiongkok, estimasi heritabilitas untuk sensitisasi terhadap makanan secara keseluruhan sekitar 56%, sedangkan untuk kacang tanah sekitar 51%. Sisa variasi terutama berkaitan dengan faktor lingkungan individual [4]. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa faktor genetik dapat memberikan kerentanan, tetapi lingkungan tetap memiliki peran besar dalam menentukan manifestasi akhir.

Alergi makanan sebagai penyakit poligenik

Alergi makanan tidak mengikuti pola pewarisan sederhana seperti penyakit akibat satu gen dengan penetransi tinggi. Sebaliknya, penyakit ini melibatkan banyak varian genetik dengan efek individual yang relatif kecil. Kombinasi berbagai varian tersebut dapat memengaruhi fungsi sawar epitel, presentasi antigen, diferensiasi sel T, produksi sitokin, aktivasi sel efektor, dan regulasi respons IgE [1,5].

Konsep penyakit poligenik menjelaskan mengapa seseorang dapat membawa varian yang berhubungan dengan risiko alergi tetapi tidak mengalami alergi makanan. Faktor lingkungan dapat mengubah ekspresi gen dan respons imun sehingga menghasilkan fenotipe yang berbeda pada individu dengan latar belakang genetik yang serupa. Karena itu, keberadaan satu varian genetik tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa seorang anak akan mengalami alergi makanan.

Genome-wide association studies

GWAS memungkinkan peneliti memindai jutaan variasi genetik pada genom tanpa harus menentukan terlebih dahulu gen kandidat tertentu. Dalam penelitian alergi makanan, metode ini membantu menemukan lokus yang memiliki hubungan statistik dengan fenotipe penyakit. Signifikansi genome-wide umumnya ditetapkan pada p <5 × 10⁻⁸ untuk mengurangi kemungkinan temuan positif palsu akibat pengujian terhadap sejumlah besar varian [1].

Keunggulan penting penelitian GWAS alergi makanan adalah penggunaan fenotipe yang lebih ketat. Studi Marenholz dan kolega menggunakan diagnosis alergi makanan yang dibuktikan dengan oral food challenge pada 497 kasus dan 2.387 kontrol. Penelitian tersebut mengidentifikasi lima wilayah genom dengan signifikansi genome-wide, yaitu klaster SERPINB pada kromosom 18q21.3, klaster sitokin pada 5q31.1, wilayah FLG pada 1q21.3, C11orf30/LRRC32 pada 11q13.5, dan wilayah HLA [5].

Penggunaan oral food challenge sebagai dasar fenotipe memiliki arti penting. Riwayat reaksi makanan atau hasil pemeriksaan sensitisasi dapat menghasilkan klasifikasi kasus yang kurang tepat. Dengan menggunakan fenotipe yang lebih terstandar, GWAS dapat lebih dekat menggambarkan hubungan antara variasi genetik dan alergi makanan klinis [5].

Tabel. Lokus genetik utama yang berhubungan dengan alergi makanan

Lokus atau gen Fungsi biologis utama Hubungan dengan alergi makanan
FLG Integritas sawar epitel dan kulit Berhubungan dengan alergi makanan dan penyakit atopik
SERPINB7 Fungsi epitel dan proteksi terhadap proteolisis Lokus risiko alergi makanan
SERPINB2 Regulasi protease dan respons imun Berhubungan terutama dengan alergi telur
HLA Presentasi antigen dan regulasi respons imun Hubungan kuat dengan beberapa fenotipe, termasuk alergi kacang tanah
IL4/KIF3A Regulasi respons Th2 dan fungsi epitel Lokus risiko alergi makanan
C11orf30/EMSY-LRRC32 Regulasi imun dan fungsi Treg Berhubungan dengan alergi makanan dan penyakit atopik
ANGPT4 Regulasi vaskular dan fungsi jaringan Lokus yang ditemukan dalam studi GWAS
ITGA6 Adhesi sel dan interaksi sel-matriks Berhubungan dengan alergi kacang tanah
SKAP1 Sinyal aktivasi limfosit T Kandidat dalam GWAS alergi kacang tanah
CTNNA3 Adhesi sel Berhubungan dengan fenotipe alergi dalam studi genomik
MMP12/MMP13 Remodeling matriks ekstraseluler Lokus yang dilaporkan pada penelitian alergi kacang tanah

Sumber: Arnau-Soler et al. [1], Marenholz et al. [5], Asai et al. [6].

FLG dan sawar epitel

FLG merupakan salah satu gen yang paling menarik dalam hubungan antara genetika dan alergi makanan. Gen ini mengkode filaggrin, protein penting dalam diferensiasi epidermis dan pembentukan sawar kulit. Loss-of-function mutations pada FLG dapat mengurangi fungsi sawar kulit dan telah lama diketahui berhubungan dengan dermatitis atopik [1,7].

Hubungan FLG dengan alergi makanan memberikan dukungan terhadap konsep bahwa kulit dapat berperan dalam sensitisasi terhadap alergen. Pada anak dengan gangguan sawar kulit, paparan protein lingkungan melalui kulit yang mengalami kerusakan dapat memfasilitasi sensitisasi. Review Arnau-Soler dan kolega mencatat bahwa varian loss-of-function FLG berhubungan dengan alergi makanan pada beberapa populasi dan juga dikaitkan dengan persistensi alergi telur dan susu sapi serta alergi makanan yang lebih berat pada anak dengan dermatitis atopik [1].

Temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap anak dengan mutasi FLG akan mengalami alergi makanan. FLG merupakan salah satu komponen risiko dalam jaringan biologis yang jauh lebih kompleks. Faktor paparan lingkungan, penyakit kulit, respons imun, dan faktor genetik lainnya tetap berperan.

SERPINB7 dan integritas epitel

Wilayah SERPINB pada kromosom 18q21.3 menjadi salah satu penemuan penting dalam GWAS alergi makanan. Varian intronik pada SERPINB7 dikaitkan dengan alergi makanan pada studi yang menggunakan diagnosis berdasarkan oral food challenge [5]. Gen tersebut termasuk keluarga serpin dan berkaitan dengan fungsi proteksi sel terhadap proses proteolitik.

Penemuan SERPINB7 memperkuat dugaan bahwa gangguan sawar epitel merupakan salah satu komponen penting dalam patogenesis alergi makanan. Lokus ini juga menarik karena SERPINB7 berkaitan dengan gangguan sawar kulit pada penyakit lain. Dengan demikian, hubungan antara sawar epitel dan alergi tidak hanya bergantung pada FLG [1,5].

Wilayah HLA dan presentasi antigen

Human leukocyte antigen atau HLA memiliki fungsi utama dalam presentasi antigen kepada sel T. Variasi HLA dapat memengaruhi bagaimana sistem imun mengenali fragmen protein tertentu. Dalam penelitian genetika alergi makanan, wilayah HLA menunjukkan hubungan yang konsisten dengan beberapa fenotipe, terutama alergi kacang tanah [1,5,6].

Studi Marenholz dan kolega menunjukkan bahwa hubungan wilayah HLA lebih spesifik terhadap alergi kacang tanah, sedangkan beberapa lokus lain seperti FLG, SERPINB, dan wilayah sitokin berhubungan dengan alergi makanan secara lebih umum [5]. Temuan ini memberikan contoh bahwa dasar genetik alergi makanan dapat berbeda menurut makanan pencetus.

IL4, KIF3A dan respons Th2

Wilayah kromosom 5q31.1 yang mencakup klaster sitokin juga berhubungan dengan alergi makanan. Salah satu sinyal utama berada di sekitar IL4 dan KIF3A. IL-4 merupakan sitokin penting dalam diferensiasi respons imun tipe 2 dan produksi IgE [5].

Hubungan antara wilayah ini dengan alergi makanan menunjukkan bahwa kecenderungan respons imun tipe 2 dapat dipengaruhi oleh variasi genetik. KIF3A juga menarik karena memiliki hubungan dengan fungsi epitel dan telah dikaitkan dengan penyakit atopik lain. Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana satu wilayah genom dapat memengaruhi beberapa jalur biologis sekaligus.

C11orf30, EMSY dan LRRC32

Lokus 11q13.5 yang melibatkan C11orf30 atau EMSY dan LRRC32 merupakan salah satu wilayah genetik yang berulang kali muncul dalam penelitian penyakit atopik. Studi GWAS dan meta-analisis menunjukkan bahwa C11orf30 merupakan faktor risiko genetik untuk alergi makanan dan alergi kacang tanah [6].

LRRC32 memiliki hubungan dengan regulasi transforming growth factor beta pada permukaan regulatory T cells. Sementara itu, EMSY berkaitan dengan regulasi kromatin. Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa risiko alergi dapat muncul melalui kombinasi perubahan regulasi imun dan regulasi ekspresi gen [1].

Epigenetika sebagai penghubung gen dan lingkungan

Genom manusia relatif stabil sepanjang hidup, tetapi ekspresi gen dapat berubah. Epigenetika mempelajari mekanisme yang mengatur aktivitas gen tanpa mengubah urutan DNA. Mekanisme utama meliputi metilasi DNA, modifikasi histon, dan regulasi oleh non-coding RNA [1,8].

Konsep ini penting dalam alergi makanan karena lingkungan dapat memengaruhi sistem imun sejak masa prenatal dan awal kehidupan. Nutrisi, paparan mikroba, polusi, asap rokok, obat tertentu, serta faktor lingkungan lainnya dapat berhubungan dengan perubahan epigenetik. Namun, hubungan antara faktor lingkungan tertentu dan perubahan epigenetik pada alergi makanan masih membutuhkan penelitian longitudinal untuk menentukan sebab dan akibat [8].

Epigenome-wide association studies

EWAS memungkinkan peneliti memeriksa pola metilasi DNA pada skala genom secara luas. Berbeda dengan GWAS yang mencari variasi urutan DNA, EWAS mencari perbedaan epigenetik yang berhubungan dengan fenotipe penyakit.

Review sistematis Safar dan kolega yang mencakup penelitian hingga Juli 2022 menemukan 16 penelitian yang memenuhi kriteria. Sebelas lokus menunjukkan perubahan metilasi yang dilaporkan dalam setidaknya dua penelitian, termasuk RPS6KA2, CAMTA1, CTBP2, RYR2, TRAPPC9, DOCK1, GALNTL4, HDAC4, UMODL1, ZAK, dan TNS3 [8].

Review Arnau-Soler dan kolega kemudian merangkum 32 lokus yang mencapai signifikansi epigenome-wide serta 14 lokus tambahan dengan false discovery rate kurang dari 1 × 10⁻⁴ [1]. Salah satu contoh yang menarik adalah RPS6KA2. Perubahan metilasi pada gen ini dilaporkan pada alergi susu sapi dan juga muncul dalam penelitian mengenai sensitisasi makanan [1,8].

Tabel. Temuan epigenetik yang berulang pada penelitian alergi makanan

Gen atau lokus Proses yang terkait Fenotipe yang dilaporkan
RPS6KA2 Regulasi sinyal dan diferensiasi sel Alergi susu sapi dan sensitisasi makanan
CAMTA1 Regulasi transkripsi Alergi kacang tanah dan sensitisasi
CTBP2 Regulasi transkripsi dan diferensiasi imun Alergi makanan
RYR2 Regulasi sinyal intraseluler Alergi makanan dan sensitisasi
TRAPPC9 Fungsi sel dan sinyal imun Alergi kacang tanah dan susu sapi
DOCK1 Regulasi migrasi dan fungsi sel imun Sensitisasi makanan
GALNTL4 Modifikasi protein Alergi kacang tanah dan sensitisasi
HDAC4 Modifikasi kromatin Sensitisasi makanan
UMODL1 Fungsi seluler dan regulasi imun Alergi kacang tanah
ZAK Sinyal stres seluler Sensitisasi makanan
TNS3 Adhesi dan migrasi sel Alergi kacang tanah

Sumber: Safar et al. [8] dan Arnau-Soler et al. [1].

Hubungan genetika, epigenetika dan sawar epitel

Salah satu konsep yang berkembang dari penelitian genomik adalah hubungan antara sawar epitel dan respons imun. Gen seperti FLG dan SERPINB7 menunjukkan bahwa perubahan struktur dan fungsi sawar dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya sensitisasi. Setelah sensitisasi terjadi, jalur imun tipe 2 dan IgE dapat berperan dalam pembentukan reaksi alergi klinis [1,5].

Model tersebut membantu menjelaskan mengapa dermatitis atopik pada masa awal kehidupan sering berhubungan dengan perkembangan alergi makanan. Namun, hubungan tersebut tetap bersifat kompleks. Tidak semua anak dengan dermatitis atopik mengalami alergi makanan dan tidak semua alergi makanan disebabkan oleh gangguan sawar kulit. Faktor genetik dan lingkungan bekerja secara bersamaan.

Genetika tidak sama dengan diagnosis

Penemuan lokus genetik tidak berarti bahwa pemeriksaan genetik dapat digunakan untuk mendiagnosis alergi makanan. Saat ini, diagnosis klinis tetap membutuhkan riwayat reaksi, evaluasi sensitisasi bila sesuai, dan oral food challenge pada kondisi tertentu.

Hal ini menjadi penting karena sebagian varian yang berhubungan dengan alergi makanan juga ditemukan pada penyakit atopik lain. Satu varian dapat meningkatkan kerentanan terhadap beberapa penyakit, tetapi tidak dapat menentukan apakah seorang individu akan mengalami alergi makanan tertentu.

Demikian pula, perubahan metilasi DNA belum dapat digunakan sebagai pemeriksaan rutin untuk menentukan alergi makanan. Banyak penelitian EWAS masih bersifat observasional dan menggunakan ukuran sampel terbatas. Perbedaan jenis sel, usia, jaringan yang diperiksa, waktu pengambilan sampel, serta metode analisis dapat memengaruhi hasil. Karena itu, temuan epigenetik perlu direplikasi dalam kohort independen dan dikonfirmasi melalui penelitian fungsional [1,8].

Implikasi terhadap precision medicine

Genetika dan epigenetika berpotensi memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai perjalanan alergi makanan. Salah satu tujuan penelitian adalah menemukan biomarker yang dapat membedakan individu yang hanya mengalami sensitisasi dari pasien dengan alergi klinis. Tujuan lain adalah memprediksi pasien yang akan mengalami toleransi alami terhadap makanan tertentu atau pasien yang mungkin memberikan respons terhadap imunoterapi [1].

Pendekatan tersebut dapat menjadi dasar precision medicine. Pada masa depan, kombinasi data genomik, epigenomik, profil IgE, component-resolved diagnostics, fenotipe klinis, dan data lingkungan mungkin dapat digunakan untuk membentuk profil risiko individual.

Namun, penggunaan klinis membutuhkan standar validasi yang tinggi. Biomarker harus menunjukkan reproduktibilitas, sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif, serta manfaat klinis yang lebih besar dibandingkan pemeriksaan yang sudah tersedia. Penemuan asosiasi statistik saja belum cukup untuk membawa biomarker ke praktik klinis.

Keterbatasan penelitian saat ini

Sebagian besar penelitian genetika alergi makanan masih menghadapi keterbatasan ukuran sampel, keragaman etnis, perbedaan definisi fenotipe, dan variasi makanan pencetus. Studi yang menggunakan oral food challenge memiliki kualitas fenotipe lebih baik, tetapi pelaksanaannya membutuhkan sumber daya yang besar. Sebaliknya, penelitian dengan diagnosis berdasarkan laporan pasien atau orang tua dapat mencakup populasi lebih besar tetapi berisiko mengalami salah klasifikasi fenotipe [1,5].

Representasi populasi juga menjadi persoalan. Sebagian besar penelitian genomik alergi makanan berasal dari populasi Eropa atau negara berpendapatan tinggi. Variasi genetik pada populasi Asia, Afrika, Amerika Latin, dan kelompok dengan latar belakang campuran belum dipelajari secara proporsional. Hal ini dapat membatasi penerapan hasil GWAS secara universal.

Penelitian epigenetik menghadapi masalah tambahan. Metilasi DNA sangat bergantung pada jenis sel dan jaringan yang diperiksa. Darah perifer tidak selalu mencerminkan perubahan epigenetik yang terjadi pada kulit, mukosa usus, atau jaringan imun tertentu. Karena itu, interpretasi hasil EWAS membutuhkan perhatian terhadap sumber sampel dan komposisi sel [1,8].

This paper contributes to the literature

Artikel ini berkontribusi terhadap literatur dengan mengintegrasikan bukti genetika dan epigenetika alergi makanan ke dalam satu kerangka biologis yang menghubungkan fungsi sawar epitel, presentasi antigen, respons imun tipe 2, regulasi sel T, dan pengaruh lingkungan. Bukti GWAS menunjukkan bahwa alergi makanan memiliki dasar poligenik dengan sejumlah lokus yang juga ditemukan pada penyakit atopik lain, sedangkan penelitian EWAS menunjukkan bahwa regulasi epigenetik dapat menjadi salah satu mekanisme yang menghubungkan predisposisi genetik dengan paparan lingkungan. Integrasi kedua bidang tersebut membuka peluang pengembangan biomarker yang dapat membedakan sensitisasi dari alergi klinis, memperkirakan perjalanan alami penyakit, dan membantu pemilihan terapi imunologis pada masa mendatang [1,8].

Perspektif masa depan

Arah penelitian selanjutnya perlu bergerak dari sekadar menemukan hubungan genetik menuju pemahaman mekanisme biologis. Peneliti perlu menentukan varian mana yang benar-benar memiliki efek fungsional, jaringan mana yang terpengaruh, dan bagaimana perubahan tersebut berinteraksi dengan lingkungan.

Studi longitudinal sejak kehamilan hingga masa kanak-kanak juga penting. Pendekatan tersebut dapat membantu menentukan apakah perubahan epigenetik muncul sebelum alergi berkembang atau justru merupakan konsekuensi dari inflamasi dan paparan alergen. Penelitian multi-omics yang menggabungkan genomik, epigenomik, transkriptomik, proteomik, metabolomik, mikrobiom, dan data klinis berpotensi memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai heterogenitas alergi makanan.

Dalam jangka panjang, tujuan penelitian bukan sekadar menemukan gen “penyebab alergi”. Alergi makanan merupakan hasil interaksi kompleks antara genom, epigenom, sistem imun, sawar epitel, lingkungan, dan waktu perkembangan. Pemahaman terhadap interaksi tersebut dapat membantu mengembangkan strategi diagnosis dan terapi yang lebih individual.

Kesimpulan

Alergi makanan memiliki komponen genetik yang kuat, tetapi penyakit ini tidak mengikuti pola pewarisan sederhana. Bukti dari studi keluarga, kembar, GWAS, dan EWAS menunjukkan bahwa kerentanan alergi makanan terbentuk melalui interaksi berbagai faktor genetik dan lingkungan [1,3,4].

GWAS telah mengidentifikasi 16 lokus yang mencapai signifikansi genome-wide pada alergi makanan. Banyak lokus tersebut berkaitan dengan fungsi sawar epitel dan regulasi imun. FLG, SERPINB7, HLA, IL4, dan C11orf30/LRRC32 menjadi contoh penting dari jalur biologis yang terlibat [1,5,6].

Penelitian epigenetik memperluas pemahaman tersebut dengan menunjukkan perubahan metilasi DNA pada berbagai lokus yang berhubungan dengan alergi makanan dan sensitisasi. Namun, temuan ini masih berada pada tahap penelitian dan belum dapat digunakan sebagai pemeriksaan rutin untuk diagnosis alergi makanan [1,8].

Masa depan penelitian terletak pada integrasi genetika, epigenetika, imunologi, fenotipe klinis, dan faktor lingkungan. Pendekatan tersebut berpotensi menghasilkan biomarker untuk diagnosis yang lebih presisi, prediksi perjalanan penyakit, serta pemilihan terapi yang lebih individual.

Daftar pustaka

  1. Arnau-Soler A, Tremblay BL, Sun Y, Madore AM, Simard M, Kersten ETG, et al. Food Allergy Genetics and Epigenetics: A Review of Genome-Wide Association Studies. Allergy. 2025;80(1):106-131. doi:10.1111/all.16429.
  2. Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
  3. Sicherer SH, Furlong TJ, Maes HH, Desnick RJ, Sampson HA, Gelb BD. Genetics of peanut allergy: a twin study. J Allergy Clin Immunol. 2000;106(1 Pt 1):53-56. doi:10.1067/mai.2000.108105.
  4. Liu X, Beaty TH, Noguchi E, Hsu Y, Bleecker ER, Meyers DA, et al. Genetic and environmental contributions to allergen sensitization in a Chinese twin study. J Allergy Clin Immunol. 2009;124(6):1212-1218.e5. doi:10.1016/j.jaci.2009.09.008.
  5. Marenholz I, Grosche S, Kalb B, Rüschendorf F, Schreiber S, et al. Genome-wide association study identifies the SERPINB gene cluster as a susceptibility locus for food allergy. Nat Commun. 2017;8:1056. doi:10.1038/s41467-017-01220-0.
  6. Asai Y, Eslami A, van Ginkel CD, Akhabir L, Wan M, Ellis G, et al. Genome-wide association study and meta-analysis in multiple populations identifies new loci for peanut allergy and establishes C11orf30/EMSY as a genetic risk factor for food allergy. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(3):991-1000. doi:10.1016/j.jaci.2017.09.028.
  7. Irvine AD, McLean WHI, Leung DYM. Filaggrin mutations associated with skin and allergic diseases. N Engl J Med. 2011;365:1315-1327. doi:10.1056/NEJMra1011040.
  8. Safar R, Monnereau A, de Blay F, et al. Epigenome alterations in food allergy: A systematic review of candidate gene and epigenome-wide association studies. Clin Exp Allergy. 2023;53(4):397-411. doi:10.1111/cea.14277.
  9. Wang T, et al. Epigenome-wide association study reveals longitudinally stable DNA methylation differences in CD4+ T cells from children with IgE-mediated food allergy. Epigenetics. 2014. doi:10.4161/epi.28945.
  10. Sampath V, Abrams EM, Adlou B, Akdis C, Akdis M, Brough HA, et al. Food allergy across the globe. J Allergy Clin Immunol. 2021;148(6):1347-1364. doi:10.1016/j.jaci.2021.08.011.
  11. Warren CM, Sehgal S, Sicherer SH, Gupta RS. Epidemiology and the growing epidemic of food allergy in children and adults across the globe. Curr Allergy Asthma Rep. 2024;24:95-106.
  12. Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: Epidemiology, pathogenesis, diagnosis, and treatment. J Allergy Clin Immunol. 2014;133(2):291-307. doi:10.1016/j.jaci.2013.11.020.

 

Visited 2 times, 2 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *