ALERGI MAKANAN PADA ANAK SEKOLAH: APA YANG TERUNGKAP DARI STUDI NASIONAL KOREA 2026?
Studi nasional Korea Selatan yang diterbitkan dalam Allergy, Asthma & Immunology Research pada Mei 2026 memberikan gambaran terbaru mengenai beban alergi makanan pada anak usia sekolah. Penelitian ini melibatkan 12.558 siswa dari 213 sekolah dasar dan 103 sekolah menengah di Korea. Peneliti menilai alergi makanan yang dirasakan sendiri, reaksi alergi tipe segera, alergi yang telah didiagnosis dokter, serta anafilaksis akibat makanan. (PubMed)
Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan besar antara anak yang merasa memiliki alergi makanan dan anak yang memenuhi kriteria alergi makanan berdasarkan riwayat reaksi segera atau diagnosis dokter. Sekitar 15,3% anak melaporkan pernah atau sedang mengalami alergi makanan yang mereka rasakan sendiri. Namun, prevalensi reaksi alergi makanan tipe segera yang berulang dalam waktu kurang dari 4 jam mencapai 7,8%, sedangkan alergi makanan yang telah didiagnosis dokter mencapai 5,5%. Anafilaksis akibat makanan dilaporkan pada 0,7% anak. (PubMed)
TEMUAN UTAMA PENELITIAN
| Parameter | Prevalensi |
|---|---|
| Alergi makanan yang dirasakan sendiri | 15,3% |
| Reaksi alergi tipe segera berulang | 7,8% |
| Alergi makanan yang didiagnosis dokter | 5,5% |
| Anafilaksis akibat makanan | 0,7% |
| Alergi terhadap beberapa jenis makanan | 29,9% dari anak dengan alergi makanan |
Angka tersebut tidak boleh dibaca sebagai satu prevalensi alergi makanan yang sama. Setiap kategori menggunakan definisi yang berbeda. Perbedaan ini penting karena persepsi terhadap alergi makanan dapat lebih luas daripada alergi yang telah dikonfirmasi secara klinis.
POLA ALERGEN BERBEDA MENURUT USIA
Buah menjadi kelompok makanan yang paling sering dikaitkan dengan reaksi alergi tipe segera dalam penelitian ini. Prevalensinya mencapai 3,67%. Kelompok berikutnya adalah krustasea sebesar 1,20% dan kacang pohon sebesar 1,18%. (PubMed)
Pada tingkat makanan individual, pemicu yang paling sering dilaporkan adalah persik, susu, telur, kiwi, walnut, kacang tanah, apel, kepiting, udang, dan nanas.
| Makanan | Prevalensi reaksi alergi tipe segera |
|---|---|
| Persik | 1,13% |
| Susu | 0,82% |
| Telur | 0,79% |
| Kiwi | 0,65% |
| Walnut | 0,62% |
| Kacang tanah | 0,62% |
| Apel | 0,61% |
| Kepiting | 0,59% |
| Udang | 0,54% |
| Nanas | 0,33% |
Pola ini menarik karena profil alergi makanan tidak selalu sama antarnegara. Faktor genetik, pola konsumsi, lingkungan, paparan serbuk sari, serta kebiasaan makan dapat memengaruhi spektrum alergen suatu populasi.
ANAFILAKSIS MEMILIKI POLA YANG BERBEDA
Ketika peneliti melihat anafilaksis, beberapa makanan menjadi perhatian khusus. Telur merupakan pemicu yang paling sering dilaporkan, diikuti susu, walnut, kacang tanah, dan persik. (PubMed)
| Pemicu | Prevalensi anafilaksis akibat makanan |
|---|---|
| Telur | 0,19% |
| Susu | 0,11% |
| Walnut | 0,10% |
| Kacang tanah | 0,09% |
| Persik | 0,06% |
Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi alergi dan risiko reaksi berat merupakan dua pertanyaan yang berbeda. Makanan yang sering menimbulkan gejala tidak otomatis menjadi makanan yang paling sering menyebabkan anafilaksis.
ALERGI BUAH MENINGKAT PADA ANAK YANG LEBIH BESAR
- Salah satu temuan penting penelitian Korea adalah perubahan pola alergi berdasarkan usia.
- Alergi buah lebih sering ditemukan pada kelompok usia yang lebih tua. Gejala oral juga meningkat pada kelompok tersebut. Peneliti mengaitkan pola ini dengan pollen-food allergy syndrome, yaitu reaksi silang antara alergen serbuk sari dan protein tertentu pada makanan.
- Kondisi tersebut dapat menyebabkan rasa gatal atau tidak nyaman pada mulut dan tenggorokan setelah mengonsumsi buah atau sayuran tertentu, terutama dalam keadaan mentah.
- Karena itu, evaluasi alergi pada anak yang lebih besar perlu mempertimbangkan hubungan antara alergi makanan dan sensitisasi terhadap alergen inhalan.
WALNUT MENONJOL DI ANTARA KACANG POHON
- Di antara kelompok tree nuts, walnut merupakan alergen yang paling sering ditemukan dalam penelitian tersebut. Walnut juga termasuk pemicu anafilaksis yang cukup menonjol.
- Temuan ini memiliki implikasi praktis. Anak dengan dugaan alergi kacang tidak seharusnya langsung diasumsikan memiliki alergi terhadap seluruh jenis kacang pohon. Evaluasi harus mempertimbangkan makanan tertentu, riwayat reaksi, hasil pemeriksaan IgE, serta kebutuhan pemeriksaan lanjutan.
PERILLA SEED, ALERGEN KHAS KOREA
- Penelitian ini juga menemukan perilla seed sebagai salah satu alergen yang menarik secara regional.
- Prevalensi alergi terhadap perilla seed mencapai 0,11%, sedangkan anafilaksis akibat perilla seed mencapai 0,02%. Temuan ini memperlihatkan pentingnya karakteristik pola makan lokal dalam penelitian epidemiologi alergi makanan. (PubMed)
- Data dari satu negara tidak selalu dapat langsung diterapkan pada populasi negara lain. Indonesia memiliki pola konsumsi, paparan lingkungan, serta jenis makanan yang berbeda sehingga penelitian epidemiologi lokal tetap diperlukan.
HAMPIR 1 DARI 3 ANAK DENGAN ALERGI MEMILIKI MULTIPLE FOOD ALLERGY
- Sebanyak 29,9% anak dengan alergi makanan dalam penelitian ini dilaporkan memiliki alergi terhadap lebih dari satu makanan. (PubMed)
- Temuan ini penting dalam praktik klinis karena semakin banyak makanan yang dieliminasi, semakin besar kemungkinan diet anak menjadi terbatas.
- Pedoman EAACI menekankan bahwa setelah alergi IgE-mediated terkonfirmasi, makanan pemicu perlu dihindari. Namun makanan yang masih dapat ditoleransi tetap dianjurkan untuk dikonsumsi. Diet eliminasi yang tidak diperlukan dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi dan menurunkan kualitas hidup anak. (PubMed Central (PMC))
FAKTOR RISIKO YANG DITEMUKAN
- Penelitian Korea menemukan beberapa faktor yang berhubungan dengan alergi makanan.
- Faktor tersebut meliputi riwayat penyakit alergi pada ayah, riwayat alergi makanan pada orang tua, pengenalan makanan pendamping yang terlambat hingga usia 7 bulan atau lebih, pemberian ASI selama 7 bulan atau lebih, serta adanya penyakit alergi lain pada anak.
- Dermatitis atopik menjadi salah satu kondisi yang paling kuat hubungannya dengan alergi makanan dalam penelitian tersebut. (PubMed)
- Namun, hubungan statistik tidak otomatis membuktikan hubungan sebab akibat. Faktor-faktor tersebut perlu dipahami sebagai faktor yang berasosiasi dalam penelitian, bukan sebagai penyebab tunggal alergi makanan.
ALERGI MAKANAN TIDAK DAPAT DITENTUKAN DARI SATU HASIL TES
- Studi ini juga harus dipahami dalam konteks perkembangan diagnosis alergi makanan modern.
- Pedoman EAACI 2023 menyatakan bahwa diagnosis alergi IgE-mediated harus dimulai dengan riwayat klinis yang berfokus pada alergi. Pemeriksaan skin prick test dan serum-specific IgE digunakan untuk mendeteksi sensitisasi. Pada kasus tertentu, pemeriksaan component-resolved diagnosis atau basophil activation test dapat membantu. (PubMed)
- Yang penting, sensitisasi IgE tidak selalu sama dengan alergi klinis.
- Anak dapat memiliki hasil IgE positif terhadap suatu makanan tetapi tetap dapat mengonsumsinya tanpa gejala. Sebaliknya, hasil pemeriksaan harus dibaca bersama riwayat reaksi dan konteks klinis.
- Ketika diagnosis masih tidak jelas, oral food challenge atau OFC yang dilakukan dengan pengawasan medis tetap menjadi standar rujukan untuk memastikan alergi makanan. (PubMed)
MENGAPA INI PENTING BAGI ANAK DI INDONESIA?
Data Korea tidak dapat langsung dianggap sebagai angka prevalensi alergi makanan pada anak Indonesia. Namun penelitian ini memberikan beberapa pelajaran penting.
- Pertama, alergi makanan pada anak sekolah merupakan masalah klinis yang nyata.
- Kedua, pola alergen dapat berubah sesuai usia.
- Ketiga, buah, susu, telur, kacang pohon, kacang tanah, dan makanan laut perlu diperhatikan dalam evaluasi klinis, tetapi daftar tersebut tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis alergi pada seorang anak tanpa melihat riwayat individual.
- Keempat, anafilaksis perlu dibedakan dari reaksi alergi makanan yang lebih ringan.
- Kelima, semakin banyak makanan yang dieliminasi tanpa indikasi yang jelas, semakin besar tantangan nutrisi anak.
- Keenam, diagnosis harus diarahkan pada hubungan antara makanan tertentu dan gejala tertentu, bukan sekadar mengejar hasil pemeriksaan laboratorium.
IMPLIKASI UNTUK ORANG TUA
- Jika anak mengalami reaksi setelah makan, catat makanan yang dikonsumsi, jumlahnya, bentuk makanan, waktu munculnya gejala, jenis gejala, durasi, serta apakah gejala muncul kembali setelah paparan berikutnya.
- Dokter kemudian dapat menentukan apakah pola tersebut konsisten dengan alergi IgE-mediated, kondisi non-IgE-mediated, intoleransi makanan, pollen-food syndrome, atau kondisi lain.
- Hindari membuat daftar panjang makanan pantangan hanya berdasarkan dugaan atau hasil pemeriksaan yang tidak tervalidasi. Pedoman EAACI menekankan pentingnya diagnosis yang akurat karena diet eliminasi yang tidak diperlukan dapat menyebabkan pembatasan nutrisi dan berdampak pada kualitas hidup. (DOI)
TATA LAKSANA ALERGI MAKANAN TERUS BERKEMBANG
- Setelah diagnosis alergi IgE-mediated dikonfirmasi, tata laksana mencakup penghindaran alergen yang terbukti, edukasi mengenai gejala, rencana tindakan tertulis, serta obat yang sesuai untuk menangani reaksi alergi. Pada pasien dengan risiko anafilaksis, adrenalin auto-injector menjadi bagian penting dari rencana penanganan sesuai rekomendasi klinis. (EAACI)
- Perkembangan terapi juga semakin luas. Pedoman EAACI terbaru memasukkan omalizumab sebagai pilihan terapi pada anak mulai usia 1 tahun dan dewasa dengan alergi IgE-mediated dalam konteks yang sesuai. Imunoterapi oral juga memiliki rekomendasi tertentu, terutama untuk alergi kacang tanah pada anak dan remaja, serta dapat dipertimbangkan pada alergi susu dan telur pada kelompok usia tertentu. (PubMed Central (PMC))
- Namun terapi tersebut membutuhkan seleksi pasien dan pengawasan dokter. Tidak semua anak dengan alergi makanan memerlukan imunoterapi.
PESAN KLINIS UTAMA
- Alergi makanan pada anak sekolah merupakan kondisi yang heterogen. Studi nasional Korea 2026 menemukan prevalensi reaksi alergi tipe segera berulang sebesar 7,8% dan anafilaksis akibat makanan sebesar 0,7%. Buah menjadi kelompok makanan yang paling sering dikaitkan dengan reaksi alergi, sementara telur, susu, walnut, kacang tanah, dan persik termasuk pemicu penting anafilaksis. (PubMed)
- Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan alergi makanan harus semakin presisi. Diagnosis perlu menggabungkan riwayat klinis, pemeriksaan sensitisasi yang tepat, dan bila diperlukan oral food challenge. Tujuan akhirnya bukan membuat sebanyak mungkin makanan menjadi pantangan. Tujuannya adalah mengidentifikasi makanan yang benar-benar bermasalah, mencegah reaksi berat, mempertahankan kecukupan nutrisi, dan menjaga kualitas hidup anak.
RUJUKAN UTAMA
- Jeon YH, et al. Prevalence of Immediate-Type Food Allergy and Food-Induced Anaphylaxis in Korean Schoolchildren. Allergy Asthma Immunol Res. 2026;18(3):428-439. doi:10.4168/aair.2026.18.3.428. (PubMed)
- Santos AF, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902. (PubMed)
- Santos AF, et al. EAACI guidelines on the management of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2025;80(1):14-36. doi:10.1111/all.16345. (PubMed Central (PMC))
- AAAAI-EAACI PRACTALL. Standardizing oral food challenges: 2024 Update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35:e14276. (EAACI)














Leave a Reply