ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

PENYAKIT AUTOIMUN PADA ANAK: DARI HILANGNYA TOLERANSI IMUN HINGGA TERAPI PRESISI

 

PENYAKIT AUTOIMUN PADA ANAK: DARI HILANGNYA TOLERANSI IMUN HINGGA TERAPI PRESISI

Penyakit autoimun merupakan kelompok penyakit yang terjadi ketika sistem imun kehilangan kemampuan mempertahankan toleransi terhadap jaringan tubuh sendiri. Akibatnya, sel imun dan mediator inflamasi dapat menyerang organ atau jaringan yang seharusnya dilindungi. Penyakit autoimun memiliki manifestasi yang sangat beragam, mulai dari kelainan organ tertentu seperti tiroiditis autoimun, diabetes melitus tipe 1 dan miastenia gravis hingga penyakit sistemik seperti lupus eritematosus sistemik. Autoimmune hemolytic anemia merupakan salah satu bentuk autoimunitas yang menyerang sistem hematologis melalui antibodi terhadap eritrosit.

Review Song dan kolega yang diterbitkan dalam MedComm pada 2025 menegaskan bahwa patogenesis penyakit autoimun merupakan hasil interaksi antara predisposisi genetik, faktor lingkungan dan kegagalan regulasi sistem imun. Gangguan toleransi sel T dan sel B, aktivasi sitokin serta terbentuknya autoantibodi menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Perkembangan terapi bergerak dari imunosupresi luas menuju terapi yang lebih terarah, termasuk antibodi monoklonal, inhibitor jalur JAK-STAT dan pendekatan berbasis sel. (Wiley Online Library)

Pada anak, pendekatan diagnosis harus tetap berbasis pola klinis. Pemeriksaan autoantibodi bukan pemeriksaan skrining universal. Hasil laboratorium harus ditafsirkan dalam konteks gejala, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan organ terkait. Pemahaman mengenai mekanisme penyakit membuka peluang menuju diagnosis lebih dini, pemilihan terapi yang lebih tepat dan pendekatan precision medicine.

  • Sistem imun memiliki tugas yang sangat sulit. Ia harus mampu mengenali bakteri, virus dan benda asing, tetapi pada saat yang sama harus mampu mengenali tubuh sendiri sebagai sesuatu yang harus dilindungi.
  • Kemampuan tersebut disebut toleransi imun.
  • Pada keadaan normal, sistem imun mempunyai berbagai mekanisme untuk mencegah limfosit menyerang jaringan sendiri. Toleransi terjadi melalui mekanisme sentral dan perifer. Sel T autoreaktif dieliminasi atau dikendalikan terutama di timus, sedangkan sel B autoreaktif mengalami proses seleksi di sumsum tulang. Di jaringan perifer, mekanisme regulasi seperti regulatory T cells atau Treg, anergi dan kontrol terhadap aktivasi limfosit membantu mempertahankan toleransi. (DOI)
  • Penyakit autoimun muncul ketika sistem pengamanan tersebut tidak lagi bekerja secara efektif. Sel T atau sel B yang mampu mengenali antigen tubuh sendiri dapat lolos dari kontrol, kemudian berkembang menjadi respons imun patologis.
  • Namun, autoimunitas tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal.
  • Review Song dan kolega menggambarkan penyakit autoimun sebagai hasil interaksi kompleks antara kerentanan genetik, faktor lingkungan dan gangguan regulasi imun. Infeksi, perubahan lingkungan dan berbagai faktor biologis dapat berinteraksi dengan predisposisi genetik sehingga memicu respons imun yang menyimpang pada individu tertentu.

Autoimun pada Anak

  • Penyakit autoimun pada anak mencakup berbagai organ dan sistem.
  • Secara sederhana, penyakit tersebut dapat dikelompokkan menjadi penyakit yang terutama mengenai satu organ dan penyakit sistemik yang melibatkan banyak organ. Contohnya adalah tiroiditis autoimun dan diabetes melitus tipe 1 sebagai penyakit yang terutama mengenai organ tertentu. Sebaliknya, lupus eritematosus sistemik dapat mengenai kulit, sendi, ginjal, sistem darah dan organ lainnya. (PubMed Central (PMC))
  • Kelompok hematologis juga penting. Autoimmune hemolytic anemia atau AIHA merupakan keadaan ketika sistem imun menyerang eritrosit sehingga terjadi penghancuran sel darah merah sebelum waktunya.
  • Karena manifestasinya sangat luas, penyakit autoimun pada anak dapat muncul sebagai demam berkepanjangan, kelelahan, penurunan berat badan, nyeri sendi, ruam, anemia, gangguan ginjal, gangguan neurologis atau kelainan fungsi organ tertentu.
  • Tidak ada satu gejala yang secara langsung memastikan diagnosis autoimun.

Ketika Toleransi Imun Gagal

  • Patogenesis autoimun dapat dipahami sebagai kegagalan sistem pertahanan terhadap autoreaktivitas.
  • Pada keadaan normal, limfosit autoreaktif dikendalikan melalui toleransi sentral dan perifer. Ketika mekanisme tersebut terganggu, sel T dan sel B autoreaktif dapat bertahan dan menjadi aktif.
  • Sel T dapat mengenali antigen tubuh sendiri dan menghasilkan respons seluler sekaligus membantu aktivasi sel B.
  • Sel B kemudian dapat mengalami diferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan autoantibodi.
  • Autoantibodi dapat menjadi penanda penyakit sekaligus berperan dalam kerusakan jaringan pada penyakit tertentu. Pada penyakit autoimun lain, kerusakan lebih banyak diperantarai oleh respons sel T, kompleks imun atau aktivasi jalur inflamasi.
  • Karena mekanismenya berbeda, satu jenis autoantibodi tidak dapat digunakan untuk menjelaskan seluruh penyakit autoimun.

Peran Sel T

  • Sel T merupakan salah satu pusat regulasi respons imun adaptif.
  • Sel T helper dapat membantu aktivasi sel B dan mengatur respons inflamasi melalui berbagai mediator. Sebaliknya, regulatory T cells berfungsi mempertahankan toleransi terhadap antigen tubuh sendiri.
  • Gangguan keseimbangan antara respons efektor dan regulasi dapat menyebabkan lingkungan imun yang mendukung autoimunitas.
  • Dengan demikian, penyakit autoimun bukan sekadar masalah “antibodi yang salah”. Gangguan komunikasi antara sel T, sel B, sel penyaji antigen dan jaringan target dapat membentuk lingkaran inflamasi yang terus berlangsung.

Peran Sel B dan Autoantibodi

  • Sel B mempunyai dua peran penting dalam autoimunitas.
  • Pertama, sel B menghasilkan autoantibodi.
  • Kedua, sel B juga dapat berperan sebagai antigen-presenting cell dan menghasilkan mediator yang memengaruhi respons sel T.
  • Autoantibodi mempunyai nilai diagnostik yang berbeda-beda.
  • Beberapa autoantibodi sangat membantu mengarahkan diagnosis tertentu. Namun, keberadaan autoantibodi tidak selalu berarti seorang anak menderita penyakit autoimun aktif.
  • Karena itu, hasil pemeriksaan autoantibodi harus selalu dibaca bersama gambaran klinis.

Genetik dan Lingkungan

  • Genetik memberikan kerentanan, tetapi tidak selalu menentukan bahwa penyakit autoimun pasti terjadi.
  • Variasi gen tertentu, termasuk variasi pada human leukocyte antigen atau HLA, dapat memengaruhi kemampuan sistem imun mengenali antigen dan mengatur respons imun.
  • Lingkungan kemudian dapat berperan sebagai pemicu atau pengubah risiko.
  • Infeksi merupakan salah satu faktor yang banyak dipelajari. Interaksi antara mikroorganisme, sistem imun dan lingkungan jaringan dapat mengubah keseimbangan imun pada individu yang sudah mempunyai predisposisi tertentu.
  • Konsep ini menjelaskan mengapa dua anak dapat mengalami paparan lingkungan yang sama tetapi hanya salah satu yang kemudian mengalami penyakit autoimun.

Dari Autoimunitas hingga Kerusakan Organ

Proses penyakit dapat digambarkan sebagai rangkaian:

Kerentanan genetik

↓

Pemicu lingkungan

↓

Gangguan toleransi imun

↓

Aktivasi sel T dan sel B autoreaktif

↓

Produksi autoantibodi dan mediator inflamasi

↓

Aktivasi jalur inflamasi

↓

Kerusakan jaringan

↓

Manifestasi klinis

Rangkaian ini tidak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama. Pada beberapa penyakit, autoimunitas dapat berkembang sebelum munculnya manifestasi klinis yang jelas.

Karena itu, pemahaman tentang fase awal penyakit menjadi salah satu bidang penting dalam penelitian autoimun modern.

Manifestasi Klinis

Sistem Contoh penyakit autoimun Manifestasi yang dapat ditemukan
Hematologi AIHA Anemia, ikterus, lemah, takikardia
Endokrin Diabetes tipe 1 Poliuria, polidipsia, penurunan berat badan
Tiroid Tiroiditis Hashimoto Gangguan fungsi tiroid, pembesaran tiroid
Reumatologi Lupus Demam, ruam, artritis, kelainan ginjal
Neuromuskular Miastenia gravis Kelemahan otot, ptosis
Gastrointestinal Penyakit autoimun tertentu Nyeri perut, diare, gangguan nutrisi
Dermatologi Alopecia areata Kerontokan rambut berbatas tegas

Tabel tersebut hanya memberikan gambaran umum. Manifestasi klinis dapat tumpang tindih dan suatu penyakit dapat melibatkan lebih dari satu sistem.

Diagnosis

Diagnosis penyakit autoimun tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu hasil laboratorium.

Pendekatan yang lebih aman dimulai dari pola klinis.

  • Pertama, tentukan organ atau sistem yang mengalami gangguan.
  • Kedua, cari bukti adanya proses inflamasi atau kerusakan organ.
  • Ketiga, pertimbangkan penyakit autoimun berdasarkan kombinasi gejala, pemeriksaan fisik dan perjalanan penyakit.
  • Keempat, pilih pemeriksaan imunologi yang relevan dengan kecurigaan klinis.

Autoantibodi kemudian berfungsi sebagai bagian dari keseluruhan proses diagnostik, bukan sebagai pengganti diagnosis klinis.

Pemeriksaan Autoantibodi

Pemeriksaan autoantibodi mempunyai nilai yang berbeda untuk setiap penyakit.

Pemeriksaan Contoh kegunaan
ANA Evaluasi penyakit jaringan ikat tertentu
Anti-dsDNA Mendukung evaluasi SLE
Anti-Sm Mendukung diagnosis SLE
Anti-TPO Evaluasi autoimunitas tiroid
Anti-TG Evaluasi penyakit tiroid autoimun
Antibodi sel β pankreas Evaluasi diabetes autoimun
Antibodi reseptor asetilkolin Evaluasi miastenia gravis
DAT Menilai mekanisme imun pada hemolisis

Pemeriksaan tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai panel skrining universal.

Semakin luas pemeriksaan dilakukan tanpa dasar klinis, semakin besar kemungkinan ditemukan hasil positif yang tidak mempunyai makna klinis.

Autoimmune Hemolytic Anemia

  • AIHA merupakan contoh penting bagaimana mekanisme autoimun dapat menyebabkan kerusakan langsung terhadap sel tubuh sendiri.
  • Pada AIHA, sistem imun membentuk respons terhadap antigen pada permukaan eritrosit. Antibodi dan sistem komplemen kemudian dapat mempercepat penghancuran eritrosit.
  • Secara klinis, AIHA harus dipikirkan ketika terdapat anemia yang disertai bukti hemolisis.
  • Pemeriksaan biasanya meliputi hemoglobin, retikulosit, bilirubin indirek, LDH, haptoglobin, apusan darah tepi dan direct antiglobulin test atau DAT.
  • DAT membantu menunjukkan adanya IgG dan atau komplemen yang melekat pada eritrosit.
  • Namun, DAT positif saja tidak sama dengan diagnosis AIHA. Hasil tersebut harus dihubungkan dengan bukti hemolisis dan gambaran klinis.
  • AIHA juga menunjukkan bahwa penyakit autoimun dapat terjadi pada sistem hematologi, bukan hanya pada sendi, kulit atau ginjal. Review Song dan kolega secara eksplisit memasukkan AIHA dalam kelompok penyakit autoimun hematologis. (PubMed Central (PMC))

Dari Imunosupresi Menuju Terapi Presisi

  • Perkembangan terapi autoimun mengalami perubahan besar.
  • Terapi tradisional banyak menggunakan obat yang menekan respons imun secara luas, termasuk kortikosteroid dan obat imunosupresif lainnya.
  • Pendekatan tersebut dapat efektif, tetapi efeknya tidak selalu terbatas pada jalur imun yang menyebabkan penyakit.
  • Perkembangan biologi molekuler kemudian memungkinkan terapi yang menargetkan molekul atau jalur tertentu.
  • Salah satu contohnya adalah inhibitor JAK yang memengaruhi jalur JAK-STAT. Antibodi monoklonal juga dapat diarahkan terhadap molekul atau populasi sel tertentu. (Wiley Online Library)
  • Arah penelitian berikutnya bergerak lebih jauh menuju pemulihan toleransi imun.
  • Pendekatan eksperimental yang sedang berkembang mencakup terapi berbasis sel, termasuk CAR-T dan transfer regulatory T cells. Namun, terapi tersebut masih membutuhkan validasi klinis lebih lanjut, terutama terkait keamanan jangka panjang, efektivitas dan pemilihan pasien. (Wiley Online Library)

Precision Medicine

  • Penyakit autoimun tidak mempunyai satu mekanisme yang identik pada semua pasien.
  • Dua anak dengan diagnosis yang sama dapat mempunyai pola imunologis, organ target dan respons terapi yang berbeda.
  • Karena itu, masa depan pengobatan tidak hanya berfokus pada nama penyakit.

Pertanyaan berikutnya adalah:

  • Apa mekanisme imun yang dominan pada pasien ini?
  • Biomarker apa yang dapat menggambarkan aktivitas penyakit?
  • Jalur imun mana yang paling relevan?
  • Terapi apa yang mampu mengendalikan penyakit dengan gangguan imun minimal?

Inilah dasar berkembangnya precision medicine dalam penyakit autoimun. Multiomics, biomarker, analisis molekuler dan kecerdasan artifisial berpotensi membantu mengidentifikasi subkelompok pasien dan memprediksi respons terapi. Namun, pendekatan tersebut masih terus dikembangkan dan belum semuanya siap diterapkan sebagai pemeriksaan rutin. (Wiley Online Library)

Apa yang Berubah dalam Pemahaman Autoimun?

  • Dulu penyakit autoimun sering dipandang sederhana sebagai keadaan ketika “sistem imun menyerang tubuh sendiri”.
  • Pemahaman tersebut benar sebagai gambaran dasar, tetapi tidak lagi cukup.
  • Kini autoimunitas dipahami sebagai jaringan interaksi yang melibatkan genetik, lingkungan, toleransi imun, sel T, sel B, autoantibodi, sitokin, jaringan target dan berbagai jalur molekuler.
  • Perubahan cara pandang ini penting dalam pediatri.
  • Anak dengan gejala yang tampak tidak spesifik dapat berada pada fase awal penyakit. Sebaliknya, hasil pemeriksaan autoantibodi yang positif belum tentu berarti penyakit aktif.
  • Karena itu, diagnosis tetap harus kembali kepada pasien secara utuh.

Kesimpulan

  • Penyakit autoimun pada anak merupakan kelompok penyakit kompleks yang muncul ketika mekanisme toleransi terhadap jaringan sendiri terganggu. Predisposisi genetik, faktor lingkungan dan gangguan regulasi imun dapat berinteraksi sehingga memungkinkan aktivasi sel T dan sel B autoreaktif, pembentukan autoantibodi dan inflamasi yang akhirnya menyebabkan kerusakan jaringan.
  • Review Song dan kolega tahun 2025 memperkuat pemahaman bahwa masa depan penelitian autoimun bergerak dari sekadar menekan sistem imun menuju pengenalan mekanisme penyakit secara lebih spesifik. Terapi berbasis molekul dan sel membuka peluang baru, tetapi sebagian pendekatan masih berada pada tahap penelitian dan membutuhkan bukti klinis lebih panjang. (Wiley Online Library)
  • Pada praktik pediatri, prinsip terpenting tetap sama. Jangan mendiagnosis penyakit autoimun hanya dari satu gejala atau satu autoantibodi. Diagnosis harus dibangun dari pola klinis, bukti objektif kerusakan organ dan pemeriksaan imunologi yang dipilih secara rasional.
  • AIHA menjadi salah satu contoh penting. Ketika eritrosit dihancurkan oleh mekanisme imun, diagnosis harus dibangun dari tiga komponen utama yaitu anemia, bukti hemolisis dan bukti keterlibatan mekanisme imun.
  • Semakin baik kita memahami mekanisme autoimunitas, semakin besar peluang untuk menemukan penyakit lebih dini, memilih pemeriksaan yang tepat dan memberikan terapi yang semakin terarah.

Referensi Utama

  • Song X, Liang H, Nan F, et al. Autoimmune Diseases: Molecular Pathogenesis and Therapeutic Targets. MedComm (2020). 2025;6(7):e70262. doi:10.1002/mco2.70262. PMID: 40529617. PMCID: PMC12171081. (PubMed)
  • Pisetsky DS. Pathogenesis of autoimmune disease. Nature Reviews Nephrology. 2023;19:509-524.
  • Barcellini W, Fattizzo B. How I treat warm autoimmune hemolytic anemia. Blood. 2021;137(10):1283-1294.
  • Kuter DJ. Warm autoimmune hemolytic anemia and the best treatment strategies. Hematology. 2022;2022(1):105-113.
  • Childhood autoimmune hemolytic anemia: a scoping review. European Journal of Haematology. 2024;113(3):273-282.

 

 

Visited 2 times, 2 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *